Seluruh murid padipura berlarian menuju kantin, bahkan kantin sudah dipenuhi hampir seluruh murid padipura, dan tak lain lagi alasannya adalah untuk melihat tontonan gratis dari Aldino beserta kawan-kawan.
Aldino tersenyum puas kearah laki-laki dihadapannya kini.
Beni tengah menahan perutnya sakit dan juga bibirnya yang sudah berdarah karena ulah Aldino.
"Masih mau lo gangguin Abel?"tanya Aldino sarkatis sembari tersenyum menyeringai.
Beni hanya diam tak menjawab, ia tidak tahu kalau Aldino benar-benar menyukai sosok Abel.
"Gue ... gue minta maaf,"lirih Beni sembari memohon kearah Aldi.
Aldi terkekeh sejenak, kemudian duduk untuk menatap wajah b******k milik Beni, Aldi menatap lekat wajah Abel dengan emosinya yang kalap.
"SETELAH GUE TAU SEMUA HAL YANG LO LAKUIN KE ABEL? LO KIRA GUE BAKAL MAAFIN LO? b*****t?!"
Aldi menarik kerah Beni, kemudian menyeret laki-laki itu untuk menuju lapangan sekolah.
Emosinya benar-benar meluap kali ini, ia tidak tahan lagi ingin menghabisi nyawa Beni, sekarang juga!
Aldi sangat overprotectif, ia tidak akan segan-segan berhadapan dengan semua orang yang telah menganggui keluarga tersayang ataupun seseorang istimewa baginya.
Beni menatap mata Aldi dengan tatapan memohon,"Gue minta maaf, tolong jangan habisin gue."
"Woy kutukupret, tu anak orang entar mati lo gituin, dah bonyok tu,"Shawn berteriak sembari melepaskan tangan Aldi yang hendak mendorong tubuh Beni agar bersujud dihadapanya.
Shawn memang tipikal badboy, sama kayak Aldi, tapi tipe badboy Shawn beda. Shawn lebih cenderung untuk tidak peduli dengan orang lain selain sahabat atau orang terdekatnya sendiri. Prinsipnya itu biar dia yang ngerasain semuanya tapi orang yang ia sayang jangan.
"Lanjutin Di,"hasut Derick dari pinggir lapangan yang tengah membaca buku Biologi, karena akan ada ulangan Biologi setelah ini, lumayan dapat tontonan siaran langsung.
"MINGGIR SHAWN! Ni anak harus diberi pelajaran,"peringat Aldi kepada Shawn, seharusnya Shawn tau. Kalau Aldi sedang marah ia bisa menjadi sangat keras kepala, sama sih kayak biasanya.
"Aldi, Abel datang!"Nathan berjalan keatah Aldi sembari menarik tangan Abel, Aldi memutar bola matanya malas kearah Nathan yang benar-benar bego.
Disuruh ngejaga-jaga digerbang buat ngasih informasi kalau entar Abel sudah datang, si geblek malah lari kelapangan sambil teriak-teriak, ngajak Abel lagi.
"Ck! Bego!"Derrick memiringkan senyum kecilnya sembari berdecak, kemudian kembali fokus ke bukunya.
Shawn menyikut lengan Aldi sembari berbisik,"temen lo tu."
Abel sudah berdiri dihadapan Aldi dengan wajah merah padamnya, semua murid padipura mulai bergosip tentang mereka. Mulai dari gosipan yang berbau positif sampai ke negatif.
Aldi tersenyum kikuk, kemudian memegang kedua pundak Abel berniat untuk menjelaskan semuanya,"Aldi cuma pengen ngasih pelajaran kok Bel,"jelas Aldi dan Abel memutar bola matanya jengah.
"Ngasih pelajarannya harus sampe kayak gini ya Di? Sampe kapan lo berenti buat masalah? Ini urusan gue Di, masalah gue, kenapa lo yang ribet?"
Beni tersenyum menyeringai kemudian berdiri disamping Abel, Abel menatap jijik kearah Beni, ia memang benci Beni, tapi bukan berarti Aldi bebas untuk menghakimi Beni.
Aldi menatap Abel sembari tersenyum,"Masalah lo, masalah gue juga Bel, lo kan calon pacar gue."
"Gue buk-."
Belum sempat Abel melanjutkan pembicaraannya, Aldi langsung memeluk tubuh Abel dihadapan murid padipura.
"Ck, pamer kemesraan!"umpat Derrick.
Sedangkan Nathan langsung memeluk Shawn, yang membuat laki-laki itu langsung menoyor kepala Nathan,"Gue normal njing."
"Will you be my lover?"
Abel diam seketika didalam dekapan Aldi, apa yang Aldi katakan? Abel berbisik dihatinya sendiri, bahwa ia tidak akan jatuh cinta lagi, karena percuma cinta hanya manis diawal tapi hambar di akhir, kayak ampas kelapa.
'Anjir, bang Aldi sweet banget.'
'Ya allah kapan nemu yang begituan.'
'Tembak dedek bang.'
"Aldi!"suara pak Afrinal menggema dipinggir lapangan, karena kedatangan guru BK itu, membuat Aldi langsung melepaskan pelukannya, pak Afrinal adalah guru killer yang terkenal seantero sekolah, bapak yang sering dijuluki dengan beruang madu, dengan ikat pinggangnya yang kedodoran, kumisnya yang tipis dan rambutnya tengah botak.
Tu guru emang perusak kebahagian orang, lagi adegan romatis malah dateng marah-marah. Kagak tau situasi emang.
Adaw!
Bapak itu berjalan sembari menjewer telinga Aldino, semua murid tertawa melihat hal itu.
"Aldi dan kawan-kawan, Beni, Derick dan juga Abel, ikut saya kekantor!"perintah pak Afrinal dengan suara khas lantang miliknya.
Derrick yang sibuk membaca buku langsung menutup bukunya,"gue juga yang kena."
Sekarang mereka tengah berada di ruangan pak Afrinal, Aldi menyandar dibalkon dengan santai, laki-laki itu menanti apa yang akan ia dengar dari reinkarnasi beruang madu itu.
"Jelaskan kenapa kalian bisa berantem?"tanya pak Afrinal kepada mereka semua.
Aldi dan kawan-kawan saling menatap satu sama lain.
"Aldi tiba-tiba nyerang pas gue lagi makan bakso pak,"jelas Beni dan sukses mendapatkan hadiah jitakan gratis dari Aldi.
"Eh ANJING, gue enggak bakal ganggu kalau lo enggak buat masalah,"bantah Aldi tak terima.
"Diamm!"teriak pak Afrinal, semuanya sontak terdiam.
Aldi mendenguskan nafasnya kesal, Abel sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan panas diruangan tersebut, karena Abel tau maksud Aldi itu baik tapi cara menyampaikanya yang salah.
Pak Afrinal kini menatap kearah Abel, Abel terkenal sebagai murid yang teladan, jujur dan tak pernah buat masalah.
"Semuanya salah saya pak, saya yang membuat semua kekacauan ini,"jelas Abel kepada pak Afrinal, dan semuanya kini menatap kearah Abel dengan tatapan serius.
Seharusnya Abel tau, kalau ia mengaku salah ia bakalan kena skor.
"Kamu saya skor 3 hari!"vonis pak Afrinal tanpa menindak lanjuti lebih dalam lagi masalah ini, tanpa mempertimbangkanya matang-matang.
"Saya yang salah pak,"celetuk Aldi kepada pak Afrinal.
"Beni yang salah pak!"sambung Nathan lagi yang mulai angkat bicara.
"Shawn yang salah pak,"potong Shawn lagi.
"Nathan yang bego pak,"lanjut Aldi lagi.
"Sudah sudah! Abel, mulai besok kamu saya skor,"ulang pak Afrinal dan Abel mengangguk pelan.
Abel pergi meninggalkan kantor pak Afrinal sang guru BK nan galak itu.
Abel menusuri koridor dengan wajah yang ia tundukkan, kemudian duduk dipinggiran koridor.
Abel sangat kecewa, selama ini ia tidak pernah membuat masalah. Semenjak ia kenal Aldi hidupnya selalu dipenuhi dengan masalah.
Aldi duduk disebelah Abel sedangkan Abel hanya diam.
"Gue minta maaf,"lirih Aldi yang sama sekali tak mendapat respon dari Abel.
Aldi menatap wajah abel yang hampir tertutupi oleh rambut panjangnya.
Laki-laki itu menghela nafasnya pelan,"lagian lo ngapain ngaku salah sih sama tu beruang madu, yang salah itu Beni, mau gue hajar lagi kayaknya tu anak,"celoteh Aldi yang mulai emosi.
"Lo ngapain belagak sok jadi jagoan sih didepan semua murid? Mau ngebuat gue tertarik? Gue bukan tipikal cewek kayak mantan lo, yang dengan mudahnya suka sama lo karena sikap manis lo itu,"jelas Abel yang meluapkan semua emosinya kepada Aldi.
Aldi menggenggam tangan Abel kemudian mengarahkannya kedada bidang miliknya,"pukul gue Bel, terserah mau seberapa lama lo mukul cowok b******k kayak gue, tapi lo enggak bisa maksa gue buat berhenti cinta sama lo Bel."
Abel langsung menarik paksa tangannya,"gue terlalu lugu buat percaya sama cinta seorang player Di."
Abel langsung meninggalkan Aldi yang lagi-lagi hanya menatap kepergian Abel.
"Kurang tampan apalagi gue coba?"gumam Aldi sembari menatap punggung Abel yang mula menghilang dari pandangannya.