ADIBEL 7

1147 Kata
Nathan tengah duduk disebuah cafe sembari memandang dua insan yang tengah bermesraan tak jauh dari hadapannya kini. Nathan memakai kaca mata hitam gelap, dengan topi dan jaket, mungkin tak ada yang akan mengenalinya kecuali Luna yang tadinya ingin makan di cafe tersebut tapi semua meja sudah terpenuhi. Karena cacing di perut Luna tak bisa diajak kerja sama lagi, Luna akhirnya memutuskan untuk duduk dimeja pojokan dengan laki-laki aneh macam teroris. "Ehem,"dehem Luna yang membuat Nathan mendongakkan kepalanya kaget. 'Anjir! Itu Luna ngapain sih,'decak Nathan dalam hati. "Boleh enggak gue duduk disini?"tanya Luna sesopan mungkin, Nathan hanya diam dan mengangguk, karena kalau ia berbicara Luna akan mengacaukan aksi Nathan memata-matai mantannya. "Lo ngapain pake kaca mata hitam? Sakit mata lo?"tanya Luna kepada laki-laki itu dan Nathan hanya menggeleng. Pesanan Luna tak lama kemudian sampai, Luna akhirnya menyantap makanannya dengan lahap. Nathan meneguk salivanya kasar sembari menggeleng, ketika melihat porsi makan Luna yang tidak seperti cewek biasanya. Luna menatap Nathan yang memperhatikannya. "Ngapain liat-liat?!"tanya Luna sembari memukul meja cafe dan pengunjung cafe sontak kaget, begitu juga dengan Viola. Viola menyipitkan matanya kearah gadis familiar baginya. "Luna? Ngapain?"tanya Viola heran. Nathan yang kaget langsung membersihkan sisa makanan ditepi bibir Luna,yang membuat gadis itu semakim emosi. Nathan geblek sih orang lagi marah dibuat tambah emosi. "Ngapain lo pegang-pegang gue?"tanya Luna lagi yang tak terima. "Oh lo mau macem-macem ya sama gue! Gue tonjok ya lo,"ancam Luna sembari membuka kaca mata milik Nathan. Luna seketika diam ketika tau seseorang yang duduk dihadapannya kini adalah Nathan, cowok most wanted yang terkenal tampan, badboy dan juga bolot. Nathan hanya menyengir kuda kearah Luna,"Hehehe Luna." "Nathan?"tanya Viola memastikan sembari mendekat kearah Nathan. "Lo masih ngarepin pacar gue ya?"tanya Bagas pacar Viola. "Ngarepin mantan? Ck, ya kali kurang kerjaan gue. Gue cuma mau dinner sama pacar gue. Emang salah ya?"tanya Nathan sembari merangkul erat tubuh mungil Luna. Luna melototkan matanya kearah Nathan namun Nathan langsung mengedipkan sebelah matanya sehingga membuat Luna mengerti. Luna juga sangat membenci Viola, mengingat kejadian dikantin siang kemarin. Akhirnya Luna iseng untuk membuat Viola cemburu kepada dirinya dan Nathan. "Hehe iya nih sayang, ganggu suasana ya mereka,"celoteh Luna yang memulai aksi dramanya. Viola menatap Luna dan Nathan tak percaya. "Ck, sejak kapan lo pacaran?"tanya Luna kepo. "Sayang kamu kok peduli sama mereka?"bantah Bagas kepada Luna. "Sejak tadi, kenapa emang?"tanya Nathan penuh kemenangan. Viola memasang raut wajahnya kesal, sedangkan Luna merasa puas karena sudah membuat Viola menjadi sangat kesal. "Pulang yuk sayang, mereka ganggu deh,"ajak Nathan dan Luna mengangguk setuju. Nathan menggenggam tangan Luna untuk keluar dari Cafe, Luna mencibir kearah Viola dan Viola merasa benar-benar kesal. Sesampainya didalam mobil Nathan, Nathan dan Luna langsung tertawa geli,"Hahahaha sumpah ya, gue rasanya pengen motret wajah kesal nya Viola." Nathan ikut tertawa,"gue merasa seneng karena Viola percaya kalau gue pacaran sama lo." Tawa Luna terhenti, Luna menatap kearah Nathan sembari berkacak pinggang,"kalau ini kesebar di padipura gimana? Gue enggak mau digosip pacaran sama lo." Nathan mengacak rambutnya sejenak kemudian menatap kearah Luna dengan wajah memelas,"jadi pacar pura-pura gue ya Lun." Luna memicingkan matanya kearah Nathan,"enggak!" "Satu bulan aja, gue enggak mau malu didepan mantan Lun, please. Masa lo tega sama gue sih,"ujar Nathan memelas kearah Luna. "Lo sih ngapain masih ngarepin mantan!"cetus Luna yang kesal. "Bukan berharap Lun, tapi move on itu enggak gampang, mangkanya bantuin gue buat Move on,"pinta Nathan lagi. "Satu bulan kan?"tanya Luna sembari menaik turunkan sebelah alisnya dan Nathan mengangguk cepat. Luna menarik napasnya panjang,"okee." Aldi tengah memakai trainingnya, sepatu olahraga dan juga earphone di telinganya. Hari ini Aldi memutuskan untuk tidak bersekolah. Karena ia ingin menghabiskan waktunya bersama Abel. Sekolah juga percuma baginya kalau pikirannya selalu tertuju pada Abel. Kalau ia malas sekolah, kemarin-kemarin setidaknya kan ada Abel disekolah yang selalu jadi penyemangat baginya. "Abel ada tan?"tanya Aldi kepada wanita paruh baya, tak terlalu tua namun masih sangat cantik mirip dengan Abel. Bukannya menjawab mama Abel malah bengong menatap wajah Aldi. "Tan, Abel ada?"ulang Aldi lagi dan Sena mengangguk pelan. "Kamu siapanya Abel? Ya ampun cakep bener, Abel pinter yah milih cowok,"celoteh mamanya Abel dan Aldi tersenyum kikuk. "Saya Aldi tan, saya calon pacarnya Abel, aminin ya tan. Bukan Abel yang pinter nyari cowok tapi Aldi yang beruntung dekat Abel." "Ihh kamu bisa aja,"ucap Sena sembari memukul lengan Aldi genit. 'Ingat umur tan, masya allah." Abel yang baru saja selesai mandi dan bersiap-siap langsung turun untuk mengahampiri Aldi diruang tamu. "Abel kok enggak bilang punya pacar kayak beginian?"tanya Sena kepada Abel sedangkan Abel hanya menatap Sena datar. "Calon tan,"koreksi Aldi. "Cuma temen,"timbrung Abel lagi yang membuat Aldi mengerucutkan bibirnya kesal. "Pergi yuk Di,"ajak Abel yang langsung menarik tangan Aldi. Sena hanya menatap kepergian putrinya dengan senyuman tak lepas dari bibirnya. "Kamu kok gitu sama mama kamu?"tanya Aldi sembari joging begitu juga dengan Abel. "Lo enggak tau apa-apa,"jawab Abel ketus. Aldi terkekeh sembari mengacak rambut Abel,"justru gue enggak tau makanya gue nanya Abel sayang." "Lo ketularan bolotnya Nathan ya,"lanjut Aldi lagi. "Paan sih." Abel merasa jengkel karena Aldi, gadis itu bisa-bisa naik darah kalau dia selalu berada di dekat Aldi. Abel joging mendahului Aldi, sedangkan Aldi tersenyum kearah Abel,"Abel malu-malu ya, Aldi suka." Abel menatap Aldi yang tersenyum sendiri dibelakangnya kesal. "Enggak usah diliatin mulu Bel, gue tau gue tampan." Brukkk Abel tidak sempat melihat ada lubang didepanya, sehingga gadis itu terjatuh dan meringis kesakitan. Aldi langsung menghampiri Abel yang terjatuh,"sakit Bel?"tanya Aldi dan dihadiahi jitakan oleh Abel. "Ya allah di, lo ketularan begonya Nathan ya? ya sakitlah!"celoteh Abel dan Aldi tersenyum manis dihadapan Abel. Aldi berjongkok dihadapan Abel sembari menepuk pundaknya,"Naik Bel." Abel hanya diam ragu,"Naik bel,"ulang Aldi lagi. Dengan ragu Abel akhirnya naik keatas pundak Aldi. Abel mengaitkan lengannya dileher Aldi. "Lain kali, kalau jalan itu pake kaki bel,kalo ngeliat pake mata." "Namanya juga musibah Di, gue berat enggak Di?"tanya Abel dan Aldi tersenyum jahil. "Berat sih Bel, lo makan apa sih?" Abel memanyunkan bibirnya,"seriusan berat?" Aldi menggeleng pelan,"Masih berat cinta gue ke lo kok Bel." "Ck, alay." Aldi merasakan ponsel disaku celananya bergetar,"Bel tolong ambilin handphone gue dong."pinta Aldi kepada Abel. "Dimana Di?"tanya Abel kepada Aldi. "Di saku celana Bel." "Ahh gila lo, enggak ah. Entar gue salah pegang gimana?" "Yaelah, kagak gigit orang punya gue Bel,"goda Aldi jahil. "Tolonglah Bel, itu pasti dari nyokap gue yang tergalak,"pinta Aldi lagi. Abel akhirnya menuruti Aldi, Abel meraba-raba saku celana Aldi untuk mengambil ponsel milik Aldi. "Dari siapa Bel? Bacain tolong." "Dari mama tergalak Di, katanya, Aldi kamu dimana? Kenapa enggak sekolah? Kamar berantakan? Uang jajan Derrick kamu ambil. Pulang sekarang,"ucap Abel membaca isi pesan dari Angel. Abel rasanya ingin tertawa ketika membaca pesan tersebut. "Balesin Bel, bilangin entar lagi Ma, lagi ngedate sama pacar lagian Derrick banyak uang." "Ishh ngambilin uang orang lain dosa lo di,"tegur Abel kepada Aldi. Aldi hanya berdecak kearah Abel,"uang Derrick dari papa Bel, papa kerja buat anaknya. Ya berarti buat gue juga kan Bel? Gue kan anaknya juga." Abel mendenguskan nafasnya kasar,"serah deh Di."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN