Menjadi duda selama empat tahun membuatnya haus akan belaian kasih sayang seorang perempuan. Sejauh ini, Kara cukup bisa membuatnya b*******h. Ia ingin sekali bercinta dengan wanita yang belum genap sebulan menjadi asisten pribadinya. Tapi, ia tak ingin menyakiti Kara. Adrey sendiri belum yakin tentang perasaannya. "Pak?" Kara memanggil Adrey yang melamun. "Eh... Iya. Maaf. Saya memikirkan sesuatu." Adrey tersenyum. Kara mengangguk-angguk saja."Kalau begitu kita pulang saja, Pak. Besok juga harus kerja, kan." "Iya benar. Tapi, sebelum itu...." Adrey menarik Kara ke dalam pelukannya. Ditangkupnya wajah Kara dengan kedua tangannya. Mereka kembali berciuman. Hanya ciuman, tidak lebih. "Bibirmu manis sekali, Kara. Ayo kuantar pulang." Adrey mengusap bibir Kara, kemudian memeluk pundak Kar

