08 Membujuk

1764 Kata
“Aku serius, pilih salah satu! Minta maaf atau perjanjian kita batal?” Ara terus mengancam dan ia sungguh tidak sedang bermain-main. Juna menghela napasnya kasar. Ia yang sudah cukup lama tak menghadapi makhluk berjenis kelamin perempuan selain lawan mainnya itupun merasa cukup kebingungan. Sikap Ara sangat sulit untuk bisa Juna pahami. “Oke, gue minta maaf udah nyinggung perasaan lo! Sekarang pakai lagi sabuk pengamannya, Bell. Bahaya!” pintanya dengan nada frustrasi. “Dimaafkan!” balas Ara cepat. Ia juga langsung menuruti permintaan Juna untuk kembali memasang sabuk pengamannya. “Sekarang antar aku pulang!” “Nanti dulu, masih ada satu tempat yang harus kita datangi!” “Kemana sih? Bukannya kata kak Raka kita udah gak ada jadwal lagi?” Ara mengernyit penuh tanda tanya. “Gue beneran gak bakal macem-macem sama lo, jadi gak usah khawatir dan ikutin ada kemana gue pergi!” Juna memerintah. “Sebentar lagi juga sampek kok.” “Jangan lama-lama!” “Iya-iya, berisik!” Kesunyian kembali menyapa keduanya. Hanya iringan musik berirama lembut yang menemani keduanya membelah jalanan ibukota. Tak lama kemudian mobil berwarna hitam itu memasuki area gedung bertingkat cukup tinggi yang Ara tahu sebagai kompleks apartemen mewah dengan harga sewa yang akan membuat gaji Ara menguap setiap bulannya. Mobil Juna berhenti di area parkir basemen yang hampir penuh. Ia kemudian memerintahkan Ara untuk mengikutinya memasuki area apartemen dengan tingkat keamanan yang tinggi tersebut. Keduanya juga masih menutup mulut mereka selama perjalanan menuju lantai 20 tujuan Juna. Begitu lift terbuka, seorang wanita paruh baya menyambut keduanya dengan senyum merekah dan sapaan sopan. Ara mengangguk memberikan kesan bersahabat sementara Juna tak menanggapi dan langsung melenggang menuju unit dengan nomor 2001 dibagian pintunya. Ia berhenti sejenak sambil menunggu wanita paruh baya tadi membukakan pintu dengan kartu akses yang dimilikinya. “Silahkan pak!” wanita paruh baya bernama Marni tersebut mengulurkan tangan mempersilahkan Juna serta Ara masuk terlebih dahulu. Juna memandangi isi apartemen dengan seksama. Unit itu telah diisi furniture yang nyaman dan siap dihuni. Dibagian ujung ruang tamu terhubung dengan jendela kaca super luas yang menampilkan skyline kota Jakarta dari atas. Disebelah kanan ruang tamu terdapat sebuah kamar tidur, kamar mandi, serta dapur kecil yang dilengkapi dengan mini bar. Ukuran apartemen tersebut tidak terlalu besar karena hanya memiliki satu kamar, namun fasilitasnya membuat unit itu terlihat sangat mewah dan berkelas. Belum lagi sistem keamanan serta lokasinya yang berada di tengah kota. Tak heran jika kompleks apartemen ini disebut sebagai kompleks para elit dengan uang berlebih. Namun Ara tidak paham mengapa Juna mengajaknya ke tempat itu. Jelas sekali jika apartemen tersebut bukan milik Juna, mengingat ibu-ibu tadi lah yang memiliki akses masuk unit ini. Belum lagi tempat ini tidak memiliki jejak-jejak penghuni saat Ara masuk tadi. “Apartemen siapa ini? Kenapa kita disini?” Ara mendekat pada Juna dan mengucapkan kalimat tersebut sambil berbisik. “Gimana? Lo suka gak?” Juna justru balik bertanya. “Hah?” Ara mengernyit bingung. “Kalau lo suka, gue tanda tangan kontrak sewa tempat ini sekarang.” Tambah Juna yang semakin membuat Ara tak paham. “Gue udah bilang kan kalau lo harus pindah dari kontrakan kumuh lo itu!” “Jadi maksud kamu tempat ini,-” “Iya. Suka gak?” Ara menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Aku gak mau pindah!” Tegas Ara tajam dengan rahang yang mengetat. “Gue gak mau dibantah!” Juna tak kalah keras kepala. “Seenggaknya selama kita masih ada hubungan, lo harus ikutin peraturan gue!” “Nggak!” “Harus!” “Nggak mau. Titik!” Juna menghela napas kasar sekali lagi. Kesabarannya selalu diuji saat sedang bersama gadis super polos dihadapannya itu. “Aku udah nyaman di kontrakanku!” tambah Ara. “Bell, please!” kalimat permohonan Juna terdengar begitu frustrasi hingga mampu melembutkan tatapan tajam Ara. “Ara!” gadis itu kembali mengoreksi cara Juna memanggilnya. “Apa kita harus berdebat lagi hanya karena masalah nama panggilan?” pria itu benar-benar terlihat memelas. “Dia acting gak sih?” batin Ara bingung. “Mau ya, Bell! Gue yang bayarin kok, lo cuma perlu pindahin barang aja gak perlu mikirin yang lain. Demi harga diri gue, Bell!” “Tapi kamu menginjak-injak harga diri aku dengan berlaku kayak gini, mas!” Ara tetap kukuh pada pendiriannya. “Maaf.” Hanya satu kata yang mampu Juna ucapkan sambil menundukkan kepala. “Gue gak bermaksud jatuhin harga diri lo. Gue cuma gak mau orang-orang tahu lo tinggal di tempat kayak gitu dan dihujat. Lo tahu sendiri gimana pedesnya jari netizen kalau udah ketik-ketik. Selain itu juga buat keamanan lo sendiri. Terkadang ada fans yang suka nekat sampek datengin tempat tinggal orang yang mereka incar. Kalau lo sampek kenapa-kenapa, lo sendiri yang bakal rugi.” Juna menjelaskan panjang lebar dengan harapan Ara mau menuruti permintaannya. Dan sepertinya penjelasan itu berhasil mengetuk pintu hati Ara. Terlihat dari sikapnya yang seperti sedang menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya. “Bu, harga sewa apartemen ini sebulan berapa?” Ara tak menanggapi penjelasan Juna, namun pria itu tahu jika Ara telah berhasil ia yakinkan. “Yes! Gue berhasil. Ternyata segampang itu ngebujuk dia!” Juna bersorak dalam hatinya. Tak percuma penghargaan actor terbaik yang sering ia peroleh, ternyata bisa sangat menguntungkan dalam kehidupan sehari-harinya. “Enam juta lima ratus ribu sudah termasuk biaya perawatan, bu. Tapi kalau ibu tanda tangan hari ini, kami ada promo diskon 20% untuk bulan pertama.” Jelas Marni mantap. Ara menghela napasnya panjang. Ia kemudian berbalik dan menatap Juna dengan pandangan sayu yang terlihat menggemaskan di mata Juna. Hanya saja pria itu terlalu pandai memainkan ekspresinya hingga tak terbaca oleh lawan bicaranya. “Aku mau pindah mas, tapi jangan disini. Ini kemahalan.” Ujar Ara lemah. “Kan gue yang bayar. Lo tinggal tempatin aja!” balas Juna kembali meyakinkan Ara. “Tetep aja ini kemahalan. Kalau bisa yang setengah harga sewa disini deh, sayang uangnya mas.” “Bener nih lo gak mau karena harganya, bukan karena mau ngelak?” Ara mengangguk pasti dengan bibir yang sedikit mengerucut. Jika saja Juna tak bisa menahan diri, mungkin ia akan memakan bibir yang terlihat menggiurkan tersebut. “Yaudah. Gue ada satu lagi pilihan gak jauh dari sini yang kayaknya sesuai sama permintaan lo. Kita kesana sekarang!” Juna hendak melangkah keluar melewati Ara, namun gadis itu menahan lengannya. Netra Juna menatap Ara dengan pandangan bertanya-tanya. “Besok aja gimana? Sekarang udah kemaleman, mas. Aku ada meeting jam 8 pagi besok.” Ara menatap Juna dengan mata memelasnya hingga membuat Juna merasa iba. “Beneran ya besok! Gak boleh nolak lagi!” Juna memperingatkan. “Iya, janji. Asal gak mahal-mahal aku mau kok.” Juna setuju. Ia kemudian meminta maaf pada bu Marni karena tidak jadi mengambil apartemen yang mereka lihat saat ini. ===== Karena waktu yang sudah cukup malam, jalanan pun menjadi lebih lengang daripada saat Juna dan Ara berangkat tadi. Perjalanan mereka juga lebih lancar hingga tak perlu menghabiskan berjam-jam dijalanan untuk bisa sampai ke kontrakan Ara. Namun karena gadis itu sudah terlalu lelah, ia pun tertidur sejak beberapa menit mobil mulai berjalan. Terlebih Juna juga memasang musik dengan alunan lembut yang menjadi pengantar tidur gadis itu. “Bell, bangun! Udah sampek!” Juna menepuk pelan pipi Ara namun gadis itu tak kunjung membuka matanya. “Bella!” panggil Juna sekali lagi. Sayangnya Arabella sudah terlalu lelap tidur dikursi penumpang. Juna pun segan untuk terus mencoba membangunkannya hingga ia memilih untuk membiarkan Ara begitu saja. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kemudi dengan kedua lengan yang melingkarinya. Wajahnya ia miringkan hingga menatap wajah lelap Ara yang tertidur dengan pulas meski posisinya sudah pasti sangat tidak nyaman. Sesekali lengan kiri Juna terangkat untuk menyelipkan rambut liar Ara ke belakang telinga gadis itu. Netranya sama sekali tak melepaskan pandangannya dari teduhnya wajah Ara. “Cantik.” Gumam Juna lirih. Ia terus menikmati wajah Ara hingga rasa kantuk pun mulai menyerangnya. Tanpa terasa Juna pun ikut tertidur dalam posisi memeluk kemudi disamping Ara. Untung saja tempat parkir didepan kontrakan Ara cukup luas, sehingga ia tak harus segera pergi untuk bergantian dengan mobil lainnya. ===== Waktu telah menunjukkan lewat tengah malam saat Ara mulai menggeliatkan badannya yang terasa pegal. Beberapa kali matanya mengerjam menyesuaikan dengan cahaya temaram yang berasal dari luar. Kesadarannya mulai pulih dan Ara baru menyadari jika ia masih berada didalam mobil didepan kontrakannya. Netra gadis itu membesar dengan sempurna saat mengetahui posisinya saat ini. Tangannya dengan segera hendak membuka kaitan sabuk pengaman, namun urung ia lakukan saat melihat sosok yang kini terlelap disebelahnya. Ara berhenti bergerak dan fokus menatap Juna dengan napas teraturnya. Lirih ia mendengar dengkuran lembut pertanda jika pria itu memang sedang terlelap. Perlahan-lahan Ara melepas sabuk pengamannya tanpa mengeluarkan suara yang sekiranya akan mengganggu Juna. Meski demikian, matanya tak sedikitpun lepas dari menatap pacar bohongannya itu. Setelah sabuk pengamannya terlepas, Ara terdiam di tempatnya. Tangan kanannya terangkat menelusuri rahang Juna yang tajam. “Kalau saja kamu tidak begitu pemaksa dan arogan!” gumam Ara lirih. Namun kegiatannya memperhatikan Juna itu tak berlangsung lama, karena Ara merasakan gerakan lembut pipi Juna. Pria itu mulai terbangun dan Ara kembali menarik tangannya dengan cepat, seolah ia tak pernah membelai wajah pria itu. Juna mengerjab-ngerjabkan matanya sambil mengucek dengan punggung tangan. Ia juga mulai menegakkan punggungnya dan segera menyadari Ara sudah terbangun. Sebuah senyum samar sekilas tampak dari wajah tegasnya. “Kenapa gak bangunin?” tanya Juna dengan suara seraknya. “Aku juga baru bangun.” Jawab Ara cepat. “Kenapa gak bangunin?” “Udah. Tapi lo keenakan tidur di mobil gue.” Jawab Juna dengan nada acuh. “Cepet keluar, biar gue bisa balik dan istirahat!” “Yakin udah bisa nyetir?” “Lo khawatir sama gue?” “Aku khawatir sama orang yang mungkin bakalan kamu tabrak.” Juna mendecih. “Gak usah ngeles kalau khawatir.” Pria itu mengacak rambut Ara namun segera ditepis. “Jangan pegang-pegang!” sahut Ara sinis. “Cuma pegang doang, belum gue cium!” “Kamu lebih baik pas lagi tidur!” “Eh, merhatiin gue tidur rupanya?” Ara memutar bola matanya kesal. Baru saja bangun, namun pria itu sudah bisa mengajaknya berdebat. Dosa apa yang pernah gadis itu buat hingga bisa bertemu dengan pria seperti Arjuna? Akhirnya dengan perasaan gondok, Ara keluar dari mobil Juna tergesa-gesa. “Hati-hati dijalan!” “Jangan lupa sepulang kerja gue jemput buat liat apartemen baru!” Pekikan Arjuna hanya dibalas lambaian tangan Ara yang sedang melenggang masuk kedalam bilik kontrakannya. Juna tersenyum simpul sambil memastikan gadis itu aman hingga tubuhnya menghilang dibalik pintu. Baru setelahnya ia menstarter mobil dan meninggalkan area kontrakan Ara untuk segera beristirahat dengan benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN