02: Oh Kam Pret!

1623 Kata
Mengapa dia begitu berubah? Aku mengamati wajahnya dengan intens.  Dia juga memandang wajahku mulu, jadilah kami saling meneliti. "Woi... Chacha Maricha!" panggilnya ceria. Cih, enak aja sembarangan ganti nama orang!  Emang udah bikin syukuran bubur merah putih apa?! "Gak sopan, Paman muda.  Keponakanmu yang sweet ini namanya Chacha Meisya, " ralatku berusaha menelan kekesalanku. Paman mudaku nyengir tanpa rasa bersalah. "Aku suka manggil Chacha Maricha.  Kayak syair lagu yang sering dinyanyikan Nanay.  Hatiku seakan berdendang tiap memanggilmu, Ponakan!" Heleh, rayuan gombal!  Tapi kenapa aku jadi tersipu-sipu pilu?   "Chacha Maricha, kalau mau lihat sini.. dekat dikit biar jelas," dia melambaikan tangannya ramah.  Bukan RAjin menjaMAH lho!  I hope so.. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, demikian pula sebaliknya dia melakukan hal yang sama.  Jadinya wajah kita cuma berjarak tiga senti doang.  Saat kulihat bibirnya mulai monyong maju lagi, spontan aku menjitak kepalanya. Dia menjerit kaget, "kok kepalaku dipukul?" "Supaya roh m***m lu keluar!" jawabku asal. Dia mencebik kesal. "Bukan salahku, ekspresimu seolah minta dicium.  Yah, aku amalin deh." Alasan! "Wajah lu ekspresinya minta ditabok.  Mau diamalin?!" sarkasku. Paman mudaku sontak memegang pipinya, belum juga kuapa-apain! "Kok sadis gitu sih, Cha?  Kalau ditabok pakai bibir sih gapapa lah," dia terkekeh m***m. "Boleh, tapi bibir meja," balasku sadis. "Ck!"  Paman mudaku mendecih manja. "Lah terus, dari tadi kamu dekat-dekatin wajahmu mau apa coba?!" pancingnya. "Mau memeriksa keotentikkan wajah lu.  Itu operasi plastik ya?" sindirku.  Abis dia tambah ganteng kuadrat begini.  Mencurigakan! Dia tersenyum manis, matanya melirik manja kepadaku. "Aku ganteng demi dirimu.  Chacha Maricha, kau boleh menikmati kegantenganku sepuasnya." "Aih.  Narsisnya Oh Kam Pret," godaku. "Oh Kang Pek," ralatnya dengan menyebutkan nama aslinya. "Oh Kam Pret.  Itu panggilan kesayangan dariku lagiiii," kilahku, mengerjainya. Wajahnya berubah sumringah ketika tahu aku memberinya nama kesayangan.  Aku jadi merasa sedikit bersalah.  Andai dia tahu arti namanya.. "Chacha Maricha, kau memberiku nama kesayangan.. berarti kau cinta aku dong?!" "Yeah, so pasti aku cinta keluargaku.  Termasuk kamu, Paman mudaku." "Yeeeeee!" dasar bocah, dia bersorak kegirangan. Lalu mendorong tubuhku ke ranjangnya, menindihku, lalu mencium bibirku.  Ini sih sudah bukan dasar bocah lagi!  Ini mesummmm! Dia melumat bibirku penuh gairah, tangannya mengelus sekujur lenganku.  Mestinya aku protes kan?  Atau gamparin dia!  Ini kenapa aku diam saja?!  Malah hatiku ser ser ser..  Berdesir aneh. Dia terus menciumku andai tidak mendengar teriakan Mamah di lantai bawah.  Kamarku dan kamar Oh Kam Pret ada di lantai dua.  Kamar Mamah di lantai dasar. "Chacha, ajak Paman muda makan dulu!" Aku menjawab jeritan Mama setelah Oh Kam Pret melepas ciumannya. "Iya Mah!  Bentar, Paman lagi be a be!" "Kok BAB?  Aku disini lho," protes Paman Mudaku. "Kita harus bicara dulu sebelum turun," ucapku serius. Aku harus meluruskan beberapa hal pada Paman brondongku yang m***m ini! "Oh Kam Pret, aku tak tahu di Korea budayanya seperti apa.  Tapi disini, di Indonesia, masih kental adat ketimurannya.  Jadi perbuatanmu itu tak boleh diulangi lagi." "Perbuatan yang mana?" dia bertanya polos. Dih, masih gak merasa!  Sebel gak sih jadi aku? "Ya itu, perbuatan mesummu.  Cium sana-sini itu!" seruku sebal. "Bukan cium sana-sini.  Cuma cium sini aja kok," sahutnya dengan mata mengedip kenes.  Dia menunjukku. "Gak boleh, Paman!" "Masa disini ciuman itu dilarang?!" protesnya. "Ciuman itu cuma untuk sepasang kekasih," jelasku. "Oh begitu?  Ya udah, kita jadi sepasang kekasih aja!" ucap Oh Kam Pret enteng. Gilak!  Gilak!  Gilak! Susah amat ngomong ama brondong satu ini!  Saking frustasinya aku jadi pengin gigit sandal..   ===== >*~*   Ting tong. Aku memencet bel di depanku.  Moga-moga, dia muncul dengan baju lengkap.  Bukan sok muna sih.  Cuma kalau dia tampil topless seperti kapan hari,  itu kan godaan besar.  Aku kasihan ama imronku... eh, imanku. Untung saat membuka pintu, Boss memakai baju sopan.  Aku menyodorkan rantang kedepan wajah gantengnya. "Boss, ini rantang.... " "Bagus kau disini, cepat masuk!" potongnya tak sabar sembari menarik tanganku. Blammmm!  Boss menutup pintu apartemennya. "Boss, tapi.." "Sudahlah, cuma sebentar saja.  Jangan terlalu perhitungan!" "Tapi Boss... " "Setrika beberapa lembar baju saya.  Stok kemeja kerja sudah habis.  Pakaian dari laundry belum datang." "Iya Boss, tapi... " "Masa setrika saja kamu tak bisa?" tanyanya tak suka. "Bisa Boss.  Tapi.." "Tak ada tapi-tapian.  Ayo kerjakan!" perintah Boss tegas sambil mendorongku ke meja setrika. "Loh..  Tapi boss.. " Ting tong!  Ting tong!  Ting tong! Terdengar suara seseorang memencet bel dengan tak sabar.  Boss mengernyitkan dahi heran. "Siapa yang datang?  Atau, kamu datang dengan siapa?" tanyanya padaku. Akhirnya!  Aku menghembuskan napas panjang sebelum menjawab. "Dari tadi saya mau ngomong Boss gak kasih kesempatan.  Itu Paman muda saya tertinggal di luar." Boss mengangkat alisnya tanda tak suka. "Kamu mengajak pamanmu cuma sekedar untuk mengembalikan rantang kemari?" desisnya tak percaya. "Bukan saya mengajak, Boss.  Dia yang memaksa ikut!" sahutku membela diri. "Dasar bocah pemaksa!" gerutu Boss. Ting tong!  Ting tong!  Ting tong!  Terdengar suara bel yang dipencet lebih full power. "Dan tak sabaran!" imbuh Boss sebal. Dia membuka pintu apatemennya dan langsung berhadapan dengan Oh Kam Pret, paman mudaku.  Njirrrr, mereka saling menatap tajam.  Dapat kurasakan udara bermuatan aliran listrik di sekitar mereka.  Bukan gegara mereka jatuh cinta seperti di yang ada anime.  Ini murni karena hawa permusuhan yang mendadak muncul diantara mereka. "Woi.. Chacha Maricha!  Rantangnya udah dibalikin?" tanya Paman mudaku. "Udah Paman.. " "Bagus!  Ayo kita cabut," ajak Paman mudaku. Oh Kam Pret menarik lenganku, tapi tanganku yang satu ditahan oleh Boss mantanku. "Dia masih ada tugas dariku."  Boss menarikku kearahnya. "Ini liburan, bukan jam kerja buat Chachaku!"  Paman muda menarikku kearahnya. "Jam kerja Chacha fleksibel selama aku membutuhkannya!"  Boss menarikku lagi kearahnya. "Tak ada aturan kerja seperti itu!  Bahkan ini bukan tempat kerjanya!"  Paman kembali menarikku kearahnya.             Terombang-ambing diantara dua cowok ganteng, ditarik sana-sini seperti ini membuatku seolah menjelma menjadi tokoh wanita di film india.  Tapi tidak sama persis sih, yang sono diperebutkan gegara cinta.  Kalau aku ditarik sana-sini gegara kasus per’babu’an. Huh.  Kepalaku jadi pusing! "Stop!  Stop!  Lepas!" teriakku kesal. Mereka berdua spontan melepas tanganku hingga aku kehilangan keseimbangan dan jatuh diantara mereka.  Anjrittt, pose jatuhku nggak asik banget lagi!  Kakiku mengangkang sempurna hingga celana dalamku mejeng tanpa malu. "Merah," gumam mereka bersamaan. Aku melotot geram pada mereka berdua sambil berusaha menutup celana dalamku dengan sisa-sisa harga diri yang ada. .. "Kalian puas, hah?!  Aku terjatuh diantara kalian dan tak bisa menentukan arah," aku berseru sambil meneteskan air mata. "Maafkan aku, Chacha.  Tapi aku sungguh-sungguh menyukaimu.  Beri aku kesempatan, bukalah hatimu untukku," Boss menghiba perhatianku. Wajah tampannya terlihat memelas. "Woi Chacha Maricha!  Aku tak setuju kau bersamanya," protes Paman mudaku. "Kenapa?!" "Aku...  Aku...  Aku menyukaimu.  Cinta padamu!"   Deg.  Aku terkejut.  Wajahku merona mendengarnya. .. "Woi Chacha Maricha!  Kamu gak bisa bangun sendiri?!"  Paman mudaku bertanya heran hingga membuyarkan lamunan indahku. "Kenapa pipi kamu merona?" imbuh Boss mantanku dengan dahi mengerut. Oh Kam Pret tersenyum m***m, tatapannya nampak nakal. "Kamu melamun kotor hingga h***y kan?" tuduhnya kurang ajar. Jiahhhhh!!  Nih bocah perlu diplakban mulut lancangnya.  Spontan aku memukul kakinya yang ada di depanku.  Dia langsung mengaduh sambil mengangkat satu kakinya.  Rasain!   ===== >*~*   Author pov   Dua pria itu duduk bersebelahan di satu sofa panjang.  Mereka saling menatap tak suka. "Kamu masih saja keranjingan menguntit keponakanmu ya," sindir Zello pada cowok remaja didepannya. "Om juga masih suka merusuhin hidup Chacha Maricha aku kan," Oh Kang Pek balas menyindir. "Dia bawahan saya sekarang.  Terserah saya dong!" "Yeah.. dia bawahanmu, tapi bukan babumu, Om!  Om punya maksud khusus ngerecokin dia kan?" selidik Oh Kang Pek. "Bukan urusan kamu!" "Tentu saja urusanku, aku pamannya!  Jangan-jangan Om punya misi khusus?  Ingat, kalian udah putus lama!" seru Oh Kang Pek tak rela. Zello tersenyum sinis. "Tentu saya masih mengingatnya jelas.  Kamu yang membuat saya berpisah dari Chacha!" Oh Kang Pek mengangkat bahunya cuek. "Om yang mutusin dia, kenapa aku yang disalahin?!" "Come on, Paman muda.  Kalau bukan hasutan kamu, saya tak akan memutuskan Chacha!  Kamu bilang keluarga Chacha akan mendesak saya agar menikahinya khan?!" "Itu bukan hasutan.  Memang kenyataan, keluarga mereka nikah muda semua," bantah Oh Kang Pek. "Tapi mereka tak mungkin mendesak saya supaya menikahi Chacha saat itu khan?  Saat kami masih di bangku SMA!" sindir Zello. "Salah sendiri Om salah mengartikan ucapanku, terus langsung mutusin Chacha," sahut Oh Kang Pek tanpa rasa bersalah.             "Saya masih remaja saat itu, masih polos.  Tentu saja jadi ketakutan, khawatir dipaksa menikah muda dan kamu sengaja meracuni pikiran saya dengan cerita penderitaan para suami mama dan neneknya Chacha hingga mati muda semua!" Oh Kang Pek nyengir kuda sambil berkata, "aku gak pinter cerita kali ya, maklum saat itu umurku sepuluh tahun!  Iyes, mereka mati muda.  Tapi bukan gegara makan hati akibat menderita hidup ama pasangannya kok." Zello menatap tajam Oh Kang Pek.  Bocah ini licik sekali!  Dia yakin bocah ini dulu sengaja melakukan itu semua supaya dia putus dengan Chacha!  Dan bodohnya Zello termakan umpannya..   Author pov end   ===== >*~*   Mereka gak lagi berantem kan? Aku menyetrika kemeja Boss mantanku sambil mengkhawatirkan itu dalam hati.  Sebenarnya tak ada suara mencurigakan sih.  Tapi, apa aku intip sebentar untuk memastikannya ya? Aku mengendap-ngendap dari belakang tanpa sepengetahuan mereka.  Kudengar mereka asik membicarakan sesuatu yang amat serius. "Ada sesuatu dibalik tindakan kamu mendorong saya putus dengan Chacha kan?" terdengar suara Boss menginterogasi. Astagah!  Apa-apaan ini?  Masa Paman mudaku yang jadi biang kerok putusnya hubunganku dengan Zello?  Gak mungkin!  Saat itu usianya baru sepuluh tahun kan.. Oh Kam Pret tertawa sinis. "Om terus saja menyalahkanku.  Menurut Om apa ada sesuatu dibalik kejadian itu?" "Tentang cinta kamu kan?  Cinta terlarangmu yang membuat saya menderita!" Wajah Paman mudaku berubah pias mendengar ucapan Boss.  Aku ikutan syok.  Cinta terlarang Oh Kam Pret?  Siapa yang dicintainya?  Aku melihat mereka saling menatap intens hingga terbit kecurigaanku.  Jangan-jangan, mereka itu saling menyukai dibalik sikap permusuhan mereka!   Jiahhhhhh!!  Mereka kan sama-sama cowok!  Pasti itu yang dimaksud dengan cinta terlarang.  Berarti tebakanku betul! "Andaikan itu betul.  Bagaimana pendapat Om tentang cinta terlarangku?" Paman mudaku nekat menyatakan isi hatinya.  Gilak! Boss tersenyum. "Saya bisa memahaminya.  Berjuanglah, saya juga akan berjuang.  Kita lihat apa yang akan terjadi!" Omo, omo, omo.  Aku mau pingsan rasanya!  Ini artinya apa?  Cinta Oh Kam Pret diterima Boss?  Dan mereka akan memperjuangkan cinta terlarang mereka?! Oh My God!  Aku gak rela sama sekali.  Aku akan menghalangi cinta mereka!   ===== >*~* Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN