Hanya sekejap untuk meletakkan piring berisi nasi goreng kemudian pria itu berlalu dengan cangkir ditangannya menuju keluar ruangan, tepatnya ke meja tempat Damar berada. Aku masih sempat melihatnya bertegur sapa sebelum mengalihkan pandanganku pada mamaku sendiri. Aku bertanya lewat tatapan mata untuk memastikan ucapannya barusan yang tidak bisa kudengar dengan jelas.
" Lain kali kamu yang nyiapin sarapan buat suamimu, bukan malah sebaliknya." ulang Mamaku mulai berpetuah.
Meski berbicara dengan nada pelan tapi sepertinya didengar jelas oleh sesosok makhluk yang sedari tadi terlihat begitu tertarik dengan keberadaanku. Hal itu tampak jelas dengan tatapan dan senyum meremehkan yang dia berikan setelah mamaku selesai bicara.
" Tidak apa- apa jeng Mala, biasa saja itu. Sudah seharusnya Vincent melakukan kewajibannya sebagai suami. Sasi, kamu jangan sungkan- sunkan untuk meminta tolong padanya. Suami isteri memang harus begitu." balas Mama Velia," Mama malah senang lihat pasangan yang saling melayani." bisiknya dengan tubuh sedikit mendekat padaku tapi suaranya tetap terdengar jelas bagi kami.
Mau tidak mau aku terpaksa tersenyum jadinya. Senyum puas melihat perubahan muka wanita itu.
" Kalau bukan sama suami sendiri, sama siapa lagikan? masa sama suami orang?" ujar mama Velia sambil tertawa ringan. Sejak kemarin sepertinya Mama Velia terlihat bahagia. Ralat, setiap bertemu dia memang selalu tampak bahagia. Tapi kali ini auranya benar- benar berbeda. Apakah sebegitu senangnya dia melihat anaknya menikah? Padahalkan anaknya laki- laki dan usianya juga masih relatif muda. Jelas tidak sama dengan kondisi mamaku. Jika nyonya Kamala terlihat senang dan bahagia karena sejak kemarin selalu menyunggingkan senyumnya pada semua orang tentu sangat wajar sekali rasanya mengingat anaknya yang katanya sudah kelewat matang ini, akhirnya menikah juga. Dapat suami yang sesuai dengan spek mereka lagi!
Dasar Mama! padahal mungkin saja dengan paksaan darinya ini justru dia telah menghambat peluangku untuk mendapatkan suami yang punya spek lebih bagus dari pilihannya sekarang.
Astaghfirullah ...
Kenapa aku jadi merasa bersalah dengan fikiranku sendiri?
Tanpa sadar mataku kembali menatap ke luar sana. Disana, ternyata pria itu juga sedang menatap kearahku. Buru- buru kualihkan pandanganku pada Mama.
" Tapi Tan, sebagai wanita dan seorang isteri kodratnya melayani, bukan dilayani." ucap Mbak Ana yang sepertinya tidak puas dengan perkataan Mama Velia," tapi tante juga tidak perlu khawatir, pastinya Sasi juga sudah tahu soal itu secara dia juga sudah dewasakan..?"
Mau bawa- bawa soal umur si dia. Dih, nggak sadar kalau dia lebih senior...??
Apa yang mau dibanggakan dengan statusnya sekarang. Aneh!
" Bagi tante tidak ada yang begituan Ana. kodrat wanita dalam pernikahan itu cuma mengandung dan melahirkan saja. Selebihnya adalah kompromi saja. Dasarnya kasih sayang. untuk menyusui sajapun tidak bisa disamakan pada semua orang. Ada beberapa kondisi yang berbeda pada setiap wanita. Pernikahan yang sehat itu dilandasi oleh saling bukan siapa yang paling." nasehatnya masih dengan wajah tersenyum tapi tetap terdengar menohok. buktinya kembali aku melihat wajah masam mbak Ana.
Meski terdengar berpetuah tapi rasanya terdengar pantas mengingat usia pernikahannya yang sudah lama dan setidaknya seperti pernikahan mama dan papaku, pernikahan tante Velia juga terlihat harmonis.
Tbc