Chapter 4

1223 Kata
Dalam perjalanan pulang papa menanyakan kapan aku libur karena ia hendak menjenguk ibunya Damar. Sebenarnya aku tidak keberatan kalau hanya mengantarnya, tapi ia memintaku untuk ikut serta ke sana dengan alasan aku sudah lama tak bertemu dengan orang tua Damar. “Ya udah nanti Asha kabarin Papa lagi kapan bisanya” Kataku akhirnya mengalah. “Nah gitu dong” Kata Papa terlihat senang. “Papa masih mau cari rumah lagi? Kalau mau nanti aku coba cari-cari lagi di internet” Tanyaku mengenai tempat tinggal Papa sementara. Karena sepertinya ia masih belum menemukan yang cocok. “Gak usah. Kayaknya Papa mau ambil rumah yang tiga kamar aja. Nanti bisa sekalian tinggal sama Budi dan Bayu. Lokasinya juga gak jauh dari ruko” Ucap Papa setelah menentukan dimana ia akan tinggal sementara nanti. “Nanti kabarin aja kapan mau pindahannya, Pa” Kataku sebelum Papa turun dari mobilku. “Iya. Nanti biar dibantu sama karyawan yang lain. Kamu gak mau mampir dulu?” Tanya Papa. “Lain kali aja, Pa. Besok aku praktek pagi soalnya” Jawabku. “Ya sudah hati-hati. Kabarin kalau sudah sampai rumah ya” Kata Papa. Aku mencium tangannya sebagai tanda hormat dan Papa mencium pipiku sebelum turun dari mobil. Setelahnya aku langsung menuju apartemen. Ditengah perjalanan ponselku berdering. Terlihat nama salah satu sahabatku di layar. Segera ku geser layar ponsel dan menyalahkan loudspeaker karena aku sedang mengendarai mobil. Sophie Calling… “Halo, Soph.. gue lagi nyetir nih. Kenapa?” Kataku agak sedikit berteriak agar sahabatku mendengarnya. “Gue sama Rayyan besok mau dinner bareng? Wanna join us?” Tanyanya dari seberang sana. “Boleh. Kirimin aja alamatnya” Jawabku. “Ok I’ll send you the address later. Hati-hati ya. See ya” Kata Sophie mengakhiri sambungan teleponnya. Sophie Call End… Tak lama setelah telepon ditutup terdengar bunyi beberapa bunyi pesan masuk berturut-turut. Ku biarkan dulu pesan masuk itu dan akan k*****a saat sampai di rumah. Dan setelah menempuh hampir satu jam perjalanan akhirnya aku sampai di apartemen. Aku segera mandi setelah sampai karena hampir seharian aku beraktifitas di luar. Setelah mandi aku merasa lebih segar. Lalu lanjut untuk membereskan beberapa barang belanjaan yang tadi sempat aku beli sebelum kembali ke rumah. Setelah selesai aku mengirimi Papa pesan yang isinya memberitahu kalau aku sudah sampai rumah. Dan melanjutkan mengecek pesan singkat yang tadi dikirim oleh Sophie. Triangle Bar and Lounge. Jam tujuh malam. Rayyan mau ngenalin seseorang sama kita. Kelihatannya mereka lagi dekat. If you don’t mind, I’ll ask Gerry to come. Text me when you’re home. Segera ku ketik pesan balasan untuk Sophie: Of course he can come. Santai aja. Kitakan biasanya juga suka gantian. Kali ini giliran gue yang jadi obat nyamuk. Hohoho.. Send! Setelah membalas pesan singkat tadi aku segera tidur. Karena besok aku ada praktek pagi di rumah sakit. Beep.. Beep.. Beep.. Alarmku berbunyi tepat pukul lima tiga puluh pagi. Aku pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit untuk bekerja. Tak lupa aku menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu. Setelah selesai aku bergegas menuju parkiran untuk menuju rumah sakit tempat praktekku. Sesampainya di sana, sudah terlihat beberapa pasien yang akan kutangani. Mereka datang dengan berbagai macam penyakit yang ingin disembuhkan. Kebanyakan dari mereka yang datang hari ini mengeluhkan penyakit pencernaan seperti asam lambung dan diare. Ada juga yang datang dengan penyakit metabolik seperti asam urat, diabetes dan kolesterol tinggi. Dan beberapa pasien ada yang datang karena menderita demam, sakit kepala serta hipertensi. Setelah jam praktek selesai aku menyempatkan diri untuk makan siang dulu di kantin rumah sakit. Karena waktu telah menunjukkan pukul dua siang dan perutku sudah sangat keroncongan. Saat ini waktu telah menunjukan pukul tiga siang dan aku harus segera pulang untuk mempersiapkan diri karena nanti malam aku akan dinner bersama kedua sahabatku sewaktu kuliah dulu. Pukul empat lewat lima belas sore aku sampai di apartemen karena sebelumnya aku sempat mampir ke coffee shop di perjalanan pulang. Setelah selesai mandi aku memilih pakaian yang akan aku kenakan nanti. Pilihanku jatuh pada atasan ruffled blouse putih yang dipadukan dengan blue jeans serta heels berwarna hitam dan tas tangan yang berwarna senada dengan sepatu. Laku aku memakai make up tipis agar tak terlihat pucat dan membiarkan rambutku tergerai. Perjalanan dari apartemenku menuju tempat kami dinner memakan waktu hampir dua jam. Karena berbarengan dengan jam orang-orang pulang kantor. Pukul tujuh lewat dua puluh menit akhirnya aku sampai di Triangle Bar and Lounge. Setelah menemukan tempat parkir aku pun segera masuk mencari kedua sahabatku, Sophie dan Rayyan. “Ger, Sophie mana?” Kataku menyapa Gerry pacar Sophie yang sepertinya hendak ke toilet. “Di sana” Kata Gerry sambil menunjuk ke arah Sophie duduk. Aku pun melihat ke arah Gerry menunjuk dan terlihat Sophie sedang melambaikan tangannya ke arahku. Sophie terlihat sedang duduk bersama seorang pria.Tapi dari belakang itu bukan terlihat seperti Rayyan, sahabat kami. Dan Sophie juga bilang kalau Rayyan ingin mengenalkan seseorang yang saat ini tengah dekat dengannya. Jangan-jangan… Segera ku buang pikiran macam-macam tentang Rayyan sahabat kami. Aku pun semakin mempercepat langkahku. Penasaran siapa laki-laki yang tengah asik berbincang dengan Sophie itu. “Sha, ngebut banget jalan lo. Udah laper ya?” Tanya Rayyan menghampiriku dari belakang. “Astagfirullah” Kataku kaget saat seseorang menepuk pundakku dari belakang. “Ih, bikin kaget aja” Kataku sambil membalas tepukkan Rayyan di tangannya. “Buru-buru banget jalan lo” Katanya sambil menyamai langkahku. “Sophie bilang lo mau ngenalin orang yang lagi deket sama lo. Mana?” Tanyaku penasaran. “Itu lagi duduk sama Sophie” Katanya sambil menunjuk ke arah sahabat kami Sophie duduk. Namun ia terlihat seperti sedang mencari seseorang. Aku menarik tangannya ke sudut ruangan setelah mendengar jawabannya tentang seseorang yang tengah dekat dengannya. “Eh, lo gak salah?” Tanyaku. “Apaan sih, Sha?” Tanya Rayyan bingung. “Orang yang mau lo kenalin sama kita. Lo gak salah pacarin dia? Lo masih waras kan?” Tanyaku lagi meyakinkannya. “Lo kalau ngomong yang jelas. Gak ngerti gue” Kata Rayyan lagi. Saat aku dan Rayyan sedang mengobrol, Gerry mendatangi kami. “Pada ngapain sih?” Tanya Gerry penasaran. “Tau tuh temen lo gak jelas” Kata Rayyan kesal karena tak mengerti maksudku. “Ayo” Kata Gerry berjalan meningalkanku dan Rayyan. Aku pun berjalan di belakang mengikuti mereka menuju meja tempat kami akan makan malam. “Ngapain lo pada bertigaan di pojokkan?” Tanya Sophie saat aku, Rayyan dan Gerry sampai. “Tau tuh temen lo gak jelas” Jawab Rayyan masih kesal. “Sha, Kenalin nih Damar” Kata Rayyan lagi sambil memperkenalkan seseorang yang sejak tadi mengobrol dengan Sophie. Laki-laki itu menengok ke arahku lalu bangun untuk menjabat tanganku. Aku pun terkejut ternyata seseorang yang dimaksud sedang dekat dengan Rayyan itu adalah Damar. Ya, Damar yang mengerjakan project renovasi ruko papaku dan merupakan anak dari sahabat Papa Om Daniel. Padahal dia ganteng dan sukses di usia mudah. Sayang banget kalau harus sama Rayyan. Rayyan juga kenapa jadi begini sih? Padahal dulu dia normal. Please,someone tell me this is not real.. Kataku dalam hati sambil menatap tak percaya ke arah Damar. “Asha. Itu” Panggil Sophie membuyarkan lamunanku sambil dagunya menunjuk ke arah Damar yang sedang mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Apa kabar Asha?” Tanya Damar sambil mengulurkan tangannya. Dengan kikuk aku menyambut uluran tangannya untuk berjabat tangan “Baik” Jawabku singkat karena masih mencerna semuanya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN