Selama menunggu jam makan malam, aku asyik mengobrol dengan Bu Rita yang sejak pertama kali aku dan Papa datang beliau memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan Mama Rita. seperti saat aku masih kecil dulu.
Kami banyak mengenang masa kecilku dan Damar selama tinggal bertetangga dulu. Ada beberapa album foto saat aku dan Damar masih kecil yang ia perlihatkan padaku. Aku memperhatikannya seksama.
“Inget gak ini waktu ulang tahun Damar? Kamu orang pertama yang dikasih kue ulang tahunnya. Pas Mama tanya kenapa Asha, Damar bilang dia gak mau liat kamu sedih lagi” kata beliau sambil tersenyum mengingat hal manis tentang anak semata wayangnya itu.
Hal itu membuatku tersenyum walaupun tak banyak yang dapat kuingat tentang kenangan masa kecilku karena lebih banyak hal-hal tidak menyenangkan banyak terjadi saat aku kecil dulu.
Mulai dari keadaan mamaku yang lebih banyak diam dan melamun. Awalnya aku sering menghampirinya dan mengajaknya mengobrol. Layaknya anak kecil yang juga ingin mendapatkan perhatian ibunya namun mama lebih sering mengabaikanku dan menganggapku tak ada. Hingga pada suatu ketika mama melakukan hal tak terduga yang membuatku takut untuk mendekatinya lagi.
Suatu hari mama memperhatikanku cukup lama, lalu ia datang menghampiri dan memelukku sangat erat. Sesuatu yang hampir tak pernah ia lakukan seumur hidupku. Dan tanpa terduga tiba-tiba ia mendorong tubuh kecilku hingga kepalaku terbentur dinding dan mengeluarkan darah.
Mama Rita yang kebetulan melihatku yang menangis kejar dan mama berjongkok di sebelahku hanya melihatku dengan tatapan kosong. Segera berlari menghampiriku dan sangat terkejut karena kepalaku mengeluarkan darah. Dalam keadaan panik ia memanggil papaku dan berteriak meminta pertolongan. Tak lama Papa dan mama Rita membawaku ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Dan setelahnya aku tak ingat apa-apa lagi.
Sejak saat itu aku menjadi takut dekat-dekat dengan Mamaku sendiri. Aku lebih sering memandangnya dari jauh dan baru berani mendekat ketika ia tertidur. Di saat itu lah aku akan dengan leluasa memandanginya, mengusap wajahnya, menciumnya bahkan sesekali memeluknya.
“Asha, kamu melamun ya?” tanya Mama Rita yang menatapku penuh kasih.
Aku tersenyum. “Inget Mama” jawabku.
Tak disangka Mama Rita memelukku erat. Perasaan hangat langsung mengaliri hati dan tubuhku yang merindukan dekapan hangat dari seorang ibu.
“Kalau Asha kangen Mama kamu boleh datang ke sini dan peluk Mama Rita. Kapanpun itu. Jangan sungkan ya” katanya membuatku haru.
“Ayo, sekarang bantu Mama nata meja makan buat kita makan malam ya. Udah jangan sedih lagi” kata Mama Rita penuh sayang.
Aku pun mengangguk dan menghapus air mataku yang sempat menetes terharu dengan sikapnya.
“Papa, Arya. ayo kita makan malam” Ajak Bu Rita pada suaminya Pak Herry dan Arya, Papaku. “Asha, tolong panggil Damar ya. Kamarnya di lantai dua belok kanan” Kata Bu Rita lagi padaku.
Aku sempat ragu, namun tetap pergi ke lantai dua tempat kamar Damar berada. Ku ketuk pintu kamarnya tiga kali.
Tok… Tok… Tok…
“Kata Bu Rita disuruh turun buat makan malam” kataku setelah ketukan ketiga.
Tak ada jawaban dari dalam kamar. Saat aku hendak mengetuk pintunya lagi terdengar suara pintu dibuka.
“Sebentar lagi saya turun” katanya berdiri di depan pintu kamarnya hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang.
Aku terdiam sebentar. Terpaku dengan pemandangan indah depan mata yang sayang jika dilewatkan begitu saja.
“Hei!” Ucap Damar menyadarkanku sambil menjentikkan jarinya beberapa kali didepan mukaku.
“Kenapa bengong gitu? Baru pertama kali liat orang abis mandi? Atau terpesona melihat saya topless gini?” Tanyanya menyadarkanku.
“Dih! Buruan siap-siap. Gue udah laper” Kataku lalu segera pergi menuju ruang makan.
“Duh! Asha… Bisa-bisanya gue kepergok ngeliatin manusia kulkas kayak dia. Jadi malu kan lo” kataku pada diriku sendiri sambil menuruni tangga.
“Manusia kulkas? Saya?” tanyanya pada dirinya sendiri setelah tanpa sengaja mendengar aku berucap pada diriku sendiri.
Setelahnya Damar kembali masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap makan malam bersama keluarganya, dan juga aku beserta papaku.
“Damar mana?” tanya Bu Rita saat melihatku kembali sendiri ke ruang makan.
“Mau siap-siap dulu katanya tadi” kataku.
“Ya udah kita makan duluan aja. Nanti sebentar lagi Damar juga turun. Ayo, Arya dan Asha silahkan” Kali ini Om Herry yang berbicara.
Kami pun makan malam lebih dulu. Tak lama Damar pun turun bergabung untuk makan malam bersama kami.
Damar terlihat berbeda malam itu. Ia mengenakan pakaian lebih santai. Blue denim jeans dan kaos putih polos dengan style rambut sedikit berantakan. Tak seperti yang biasa aku lihat dengan tampilan rapi. Juga tidak seperti orang menyebalkan beberapa hari lalu yang kutemui.
Tak sengaja mata kami bertemu. Aku buru-buru mengalihkan pandangan agar tidak bertatapan terlalu lama dengannya. Namun aku masih sempat menangkap senyumnya yang menyebalkan tertuju padaku melalui sudut mata.
“Mar, ayo cepat. Duduk samping Asha” seru Bu Rita yang menyuruh anaknya duduk tepat di sebelahku.
Damar pun menuruti perintah ibunya. Dan dengan tenang ia mengambil makanan yang telah aku dan Bu Rita siapkan di atas meja. Kami semua menikmati hidangan tersebut. Hingga saat makan malam hampir selesai Bu Rita mengatakan hal yang tak terduga.
“Liat deh anak-anak kita. Gak berasa sudah pada dewasa sekarang. Aku masih inget dulu waktu kita kasih tau Damar kalau kita akan pindah ke Australia. Dia menangis semalaman. Katanya gak mau pisah dengan Asha” ucap Bu Rita mengingat kenangan Damar kecil.
“Dan Asha juga menangis waktu cerita ke aku. Dia juga bilang gak mau pisah sama Damar” ucap papaku tak mau kalah.
“Iya aku juga ingat gimana mereka sedihnya waktu kita berangkat ke bandara. Saling tukar mainan kesayangan sebelum berpisah. Dan ada kejadian yang bikin heboh waktu kita baru landing di Australia” kata Om Herry yang ikut mengingat kejadian itu.
“Boneka beruang yang dikasih Asha hilang. Damar nangis sejadi-jadinya minta boneka itu ditemukan. Kita keliling bandara buat cari boneka itu tapi gak ketemu. Sampai besok pagi juga dia masih menangis dan gak mau sekolah sampai beberapa hari. Sampai kita janjiin kalau balik lagi ke Indonesia kita akan minta mainan Asha lagi sebagai kenang-kenangan” kata Bu Rita menambahkan.
Aku tak menyangka cerita lengkapnya akan seperti itu. Sangat berbeda dengan versi cerita Damar yang tidak lengkap saat menceritakannya dan tanpa emosi sama sekali. Aku menatap Damar yang masih makan dengan tenang. Sepertinya ia tidak terganggu dengan cerita tersebut.
“Kamu inget gak, Mar?” tanya Bu Rita pada anak lelakinya.
“Lupa, Ma” jawabnya singkat sambil mengunyah sisa makanan yang masih ada didalam mulutnya.
“Diliat-liat kalian serasi loh. Benar gak?” ucap Bu Rita meminta persetujuan dari Om Herry dan papaku.
Kedua lelaki paruh baya itu hanya mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Bu Rita sambil tersenyum. Sementara Damar tampak cukup kaget dengan ucapan mamanya hingga ia tersedak makanan yang ada dalam mulutnya.
“Pelan-pelan kalau makan tuh” kata Bu Rita sambil menyodorkan air minumnya pada sang anak.
“Asha, kamu sudah punya pacar belum?” tanya Bu Rita padaku.
“Belum kepikiran, Ma” ucapku dengan senyum yang kubuat senatural mungkin.
“Pas berarti. Damar juga belum punya pacar. Gimana kalau kita jodohkan saja mereka?” kata Bu Rita yang membuatku dan Damar tersedak makanan bersamaan.
Uhukk… Uhukk.. Uhukk…
“Kompak banget ya kalian. Sampai keselek aja berangan” kata Bu Rita heran.
Aku segera mengambil minumku dan meminumnya. Begitu juga Damar.
“Gimana Arya? Kamu setuju gak kalau kita jodohkan mereka?” tanya Bu Rita pada papaku.
“Aku sih setuju saja, malah seneng banget kalau bisa besanan sama kalian. Aku juga sudah kenal Damar dari kecil. Dia anak yang baik dan terbukti bisa menjaga Asha” jawab papaku.
“Ma, Damar sama Asha bisa cari pacar sendiri. Gak usah dijodoh-jodohin gitu. Lagian Asha juga belum tentu setuju. Ya kan?” kata Damar menyatakan rasa tidak setujunya atas ucapan sang mama dan meminta dukunganku.
Setelah ucapan Damar tadi semuanya menengok ke arahku.
“Asha…” panggil Damar sambil menyenggol tanganku.
“Eh, iya. Aku setuju sama Damar” kataku sedikit grogi karena mereka semua melihat ke arahku.
Terlihat rasa kecewa dari mata Bu Rita setelah mendengar pendapatku. Aku merasa seperti orang jahat setelah menerima kebaikan beliau tapi malah mengecewakannya.
Tak lama Damar bangun dari tempat duduknya. Dan berpamitan karena ia berencana hendak pergi ke suatu tempat.
Aku pun membantu Bu Rita membereskan sisa makan malam. Di bantu dengan asisten rumah tangganya juga.
“Padahal Mama seneng banget loh kalau kamu setuju usul Mama tadi. Kamu udah Mama anggap anak perempuan Mama sendiri dari kamu kecil” ucap Bu Rita.
Aku pun memeluknya. “Aku akan tetap jadi anak perempuan Mama Rita kok. Biarpun gak setuju sama usul Mama tadi. Lagian kan belum tentu aku sama Damar cocok kalau kita pacaran nanti” kataku mencoba membesarkan hatinya.
Saat aku dan Bu Rita tengah berbincang santai, Damar muncul dengan menggunakan jaket hitam.
“Mau kemana?” tanya Bu Rita pada anaknya.
“Cari angin sebentar” jawab Damar.
“Ajak Asha sekalian. Takutnya nanti dia bosan gak ada temanya. Di rumah isinya orang tua semua” katanya.
“Gak apa-apa, Ma. Aku di rumah aja temenin Mama” kataku berusaha menolak usulnya secara halus.
“Mama mau ngobrol sama Papanya Damar dan Papa kamu. Mau bahas jaman kita muda. Nanti kamu bosan” katanya padaku. “Mar, ayo ajak Asha” katanya lagi namun kali ini ia berbicara pada Damar.
Tampaknya Damar tak bisa menolak permintaan sang mama. Dengan enggan ia mengajakku bersamanya. Aku pun tak punya pilihan lain selain ikut dengan Damar karena Bu Rita terus mendesakku untuk pergi bersama anaknya.
“Mau kemana?” tanyaku saat Damar memberikanku sebuah helm.
“Cari angin” jawab Damar singkat.
Tak lama setelahnya motor matic hitam itu keluar dari halaman rumah Damar.
“Saya berasa kayak ojek online lagi nganter penumpang kalau kamu pegangan kayak gitu” protesnya saat tau aku berpegangan pada besi belakang jok motor.
Aku pun melepas peganganku. Namun secara tiba-tiba Damar menarik gas motornya dan membuatku memeluk pinggangnya karena kaget dan takut jatuh.
*****