Sudah seminggu sejak pernikahan Karen di gelar, keadaan rumah malah bertambah dingin. Aku masih ingat sesaat setelah acara pernikahan Karen selesai dan kami mengantarnya kebandara untuk berbulan madu, Bunda tidak ingin menatapku dan bahkan tidak harus berlaku sopan kepada temanku –dalam hal ini Sabrina.
Mengenai Sabrina, dia memang sahabatku sejak SMA yang sudah menikah namun sayang suaminya meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta. Aku sebagai teman dekatnya tentu saja dengan senang hati mengulurkan tanganku untuk membantunya. Apalagi dia tengah hamil saat itu. Bukan hanya aku yang menolongnya, karena Farhan, Derry dan Ryan pun ikut menolong Sabrina.
Sabrina datang ke pernikahan Karen karena aku yang mengundangnya. Dia beberapa bulan terakhir ini tinggal dirumah orangtua nya di Jogja, maka dari itu aku menemaninya sepanjang acara pernikahan Karen. Namun sepertinya orang-orang malah menilai kami jelek. Salahku juga yang memang tidak membiarkan Sabrina menjauh dan justru melupakan hal penting, yaitu bahwa ada Alya dan keluarganya yang pasti mendengarkan pembicaraan para tamu undangan.
Sampai saat ini pun aku masih syok karena Bagas dengan tiba-tiba memberikan cincin tunangan Alya kepadaku dan mengancamku untuk tidak mendekati Alya. Aku belum bisa mengatakan hubungan kami berakhir karena aku maupun Alya belum mengucapkan kata-kata itu. Aku juga belum menemuinya. Kalian boleh menyebutku pengecut karena kenyataannya, ya, aku memang pengecut. Tidak berani menemui Alya untuk menyelesaikan semuanya.
Bukan hanya bunda dan ayah yang marah padaku, karena Windy pun beberapa hari lalu mendatangiku dan memarahiku habis-habisan karena berfikir aku mempermainkan sahabatnya. Aku tidak mempermainkan Alya, hanya saja aku belum mencintainya yang berarti aku sedang berusaha untuk mencintainya.
Windy bahkan sebelumnya sempat mendatangi apartemenku, dan begitu tau Sabrina untuk sementara tinggal disana, hampir saja Windy ingin mengusir wanita itu kalau saja aku tidak datang tepat waktu. Aku memang meminjamkan apartemenku pada Sabrina, tapi aku tidak tinggal disana. Aku tinggal di rumah orangtua ku.
Belum pernah aku merasa secanggung ini sebelumnya dengan kedua orangtua ku, di meja makan. Kami sedang sarapan. Seandainya ini hari kerja, mungkin aku lebih memilih sarapan di kantin kantor.
“kamu masih nyuruh temen kamu itu tinggal diapartemen kamu, dav?” tanya Ayah setelah melap bibirnya menggunakan tisu.
“masih, yah.”
“sampai kapan?” bunda ikut membuka suara.
“gak tau.”
“sampai kamu mau nikahin dia, kali” sahut bunda tanpa mau menutupi nada sinis dari ucapannya.
“bunda tuh kenapa sih?” tanyaku akhirnya. Lebih baik ini di selesaikan sekarang daripada berlarut-larut. Aku masih punya banyak masalah dikantor, juga masalah Alya yang belum selesai.
Bunda meletakan garpu dan sendoknya dan menatapku penuh emosi. “kamu tau gak bunda tuh malu, dav. Tamu-tamu bukannya ngomongin megahnya pernikahan Karen mereka malah ngomongin kamu sama si sabrina ini. Nganggep kamu hamilin dia lah. Kalau kamu punya anak dan di nilai begitu kamu marah? Kamu kesel?”
“lalu juga kamu ngebiarin Alya sendirian di acara itu. Bilang kalau kamu mau putusin pertunangan kalian sama bunda dan ayah, bukan malah diem-diem nyuekin dia bahkan nempel sama perempuan yang lagi hamil ! kamu mikir gak sih, dav gimana perasaan orangtua nya Alya kalau denger omongan tamu tentang kamu? Apalagi temen-temen bunda udah banyak yang tau kalau kamu tunangan sama Alya, bukan sama wanita yang lagi hamil!!” hardik Bunda penuh emosi.
“bunda gak punya muka buat ketemu orangtuanya Alya setelah ini. Sebaiknya segera kamu datangi mereka, minta maaf dan kalau kamu memang mau putusin pertunangan itu, putusin dengan baik-baik. Jangan sampai gara-gara hal ini bunda dan mama nya Alya jadi tidak berteman lagi” selesai dengan ucapannya, bunda segera bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamarnya.
“Satu lagi. Bunda gak nerima cucu yang bukan darah daging keluarga kita. Kalau kamu mau nikahi si sabrina ini. Silahkan, tapi setelah itu angkat kaki dari rumah ini.”
Suasana ruang makan menjadi hening setelah kepergian bunda. Ayah diam saja daritadi, which is its not good. “kenapa bunda benci banget sama Sabrina, yah?” gumamku pelan.
Pertanyaan itu terus menerus berputar dikepalaku akhir-akhir ini. Kurasa Sabrina tidak pernah melakukan hal-hal buruk kepada orangtua ku ataupun keluargaku. Dia bahkan jarang sekali bertemu dengan bunda dan ayah. Bahkan juga aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Sabrina yang lebih dari teman karena memang kenyataannya aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.
“ada dua hal yang membuat kami tidak menyukai Sabrina. Pertama, dia pernah hampir merebut Haris dari Karen. Kedua, orangtua nya pernah hampir membuat usaha ayah bangkrut. Hal itu terjadi saat kamu masih kecil, belum bertemu dengan Sabrina. Saat kami tau kamu berteman dengan Sabrina kami mendiamkan. Mungkin sekarang Bunda sudah sangat kesal hingga membeberkan semuanya sama kamu. Soal Karen, dia sendiri yang tidak ingin masalah itu dibahas dengan kamu, karena dia masih menghormati kamu sebagai kakaknya dan tidak mau pertemananmu dengan Sabrina hancur hanya karena hal itu.” ayah bangkit dan menepuk bahunya setelahnya berjalan untuk mendatangi bunda mungkin.
Aku menggelengkan kepala tidak percaya dengan semua yang Ayah ucapkan. Bagaimana Sabrina bisa seperti itu, karena yang ku tahu Sabrina adalah tipe wanita biasa yang bahkan mungkin tidak pernah memikirkan hal sejahat itu.
Kini aku ingat, Sherly pernah mengatakan bahwa Sabrina menjadi selingkuhan Haris. Aku tidak percaya dan malah memarahinya. Aku tahu Sherly sangat cemburu pada Sabrina karena kami terlalu dekat dan ku fikir itu hanya akal-akalnnya saja untuk menjelekkan Sabrina. Tapi ternyata itu benar? Ya Tuhan, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.
--------------
Aku belum berani menanyakan permasalahan yang ungkapkan ayah dan bunda tadi pagi kepada Sabrina. Sebagai gantinya aku malah menemani wanita itu ke sebuah mall di daerah Jakarta Selatan.
“aku udah denger dari anak-anak, katanya kamu udah tunangan ya, dav? Trus gara-gara aku kemarin itu kakak tunangan kamu marah besar trus mutusin pertunangan kamu sama adeknya?” tanya Sabrina saat kami baru memasuki lobby setelah aku menyerah mencari tempat parkir dan akhirnya memanfaatkan jasa vallet untuk mengurus mobilku.
“ya begitulah. Tapi masih abu-abu juga karena aku belum meluruskan semuanya. Juga Bagas memang agak emosian juga” jelasku sembari mengingat cerita Alya mengenai kakak-kakaknya.
“kamu mau makan apa” tanyaku saat melirik jam tangan yang sudah menunjukan pukul 7 malam.
“masakan jepang. Sushi kayaknya enak” sepertinya Sabrina masih ngidam, padahal kehamilannya sudah mamasuki bulan ke delapan.
Akhirnya aku menggiring Sabrina menuju restoran sushi yang sering aku datangi bersama sepupu-sepupu mu, maupun bersama Alya. Seminggu putus kontak dengan Alya rasanya aneh. Seperti sudah terbiasa dengan kehadiran orang tersebut, lalu tiba-tiba dia menghilang. Rasanya ada yang tidak pas di kehidupanku.
Belum sempat aku masuk ke dalam resto, mataku menangkap sepupu yang sudah lebih dari sekedar saudara bagiku. Mereka Axel dan Windy. Begitu melihatku, Windy langsung membuang pandangannya dan masuk saja ke dalam resto. Mungkin dia masih marah padaku. sedangkan Axel menghampiriku dan Sabrina.
“ngapain lo kesini?” tanya Axel.
“mau makan lah” sahutku agak ketus. Aku kesal dengan sikap Windy tapi Axel yang terkena imbasnya.
Axel menganggukan kepalanya. “sushi juga?”
Aku dan Sabrina kompak menganggukan kepalanya. “Axel kan?” tanya Sabrina sembari tersenyum.
Pria itu mengangguk dengan datar tanpa perlu melirik ke arah Sabrina. Sungguh aku jadi tidak enak dengan Sabrina karena kelakuan tidak sopan dari kedua sepupu ku ini. “gue gabung ya?” pintaku.
“gue lagi ngedate” sahut Axel sebagai bentuk penolakan atas permintaanku.
Aku mengerutkan kening. Sejak kapan Axel punya pacar di sini? Bukannya dia sudah memiliki kekasih di negeri kangguru sana?
“double date?” tanyaku saat mengingat ada Windy juga tadi.
Axel menganggukan kepalanya. “iya. Dia sama Revan, gue sama temen kencan gue” sahutnya sok misterius. Aku jadi penasaran siapa sih temen kencan nya Axel, kok anak-anak gak ngasih aku kabar ini ya.
“kok gak ngenalin ke gue?” tanyaku sedikit kesal. Jelas. Axel selalu menceritakan kisah cintanya padaku. Dia lebih terbuka denganku daripada dengan kakaknya sendiri, Arya.
“lo kenal, kok. Yaudah yuk ikut gue. Jangan macem-macem ya sama dia. Sekarang dia itu milik gue” ucap Axel posesif membuatku tambah bingung tapi tetap mengikutinya.
Tau aja ngga ceweknya siapa, kenapa Axel jadi ngeselin gini sih?
Kami berjalan menuju kursi tempat Axel melakukan double date. Begitu aku menemukan wajah Revan, Axel segera berkata, “kita jadinya triple date nih. Si Davin sama Sabrina ikutan juga” sotak dua wanita yang duduk membelakangiku memutar badannya.
Aku syok, wanita di sebelah Windy jauh lebih syok dari pada aku. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Aku seperti di permainkan. Rasanya marah, kesal, emosi, sedih menjadi satu. Aku tau hubunganku dan dia mungkin sudah berakhir. Tapi kenapa harus dia dekat dengan sepupu ku sih? Dari banyaknya lelaki di muka bumi, kenapa harus Axel?
Kenapa juga Axel mendekati wanita itu. Apa dia tidak sadar kalau wanita itu pernah dan masih memiliki hubungan yang belum selesai denganku??
“bengong lagi. duduk tuh masih ada kursi kosong” tegur Axel karena sedari tadi aku diam karena terlalu syok melihat teman kencan Axel ini.
Sabrina segera duduk di samping Alya –ya dia menjadi teman kencan Axel, sial! Sedangkan aku duduk disamping Axel. Alya hanya tersenyum sekilas pada Sabrina lalu kembali asik dengan ponselnya sambil sesekali tersenyum dan tertawa.
Sepertinya baru seminggu aku tidak bertemu Alya, tapi kenapa rasanya sudah lama sekali ya? Bibirku saja sudah gatal ingin mengobrol dengannya. Banyak hal yang ingin ku katakan dengannya. Setelah melihatnya sekarang, rasanya aku ingin memohon mendapatkan kesempatan kedua darinya. Rasa ingin melindungi dan memiliki secara posesif itu datang lagi. ya Tuhan ada apa denganku?
“kamu mau makan apa, dav?” pertanyaan Sabrina membuyarkan lamunanku.
“ramen aja. minumnya ocha dingin” sahutku datar.
Sabrina menganggukan kepalanya lalu memanggil waiters. “oiya, kenalin yang disamping kamu itu Alya. Al, kenalin ini Sabrina, teman ku dari SMA” kataku sembari menekankan kata teman berharap Alya mengerti.
Alya meletakan ponselnya diatas meja, lalu mengulurkan tangannya kepada Sabrina yang segera disambut oleh Sabrina.
“Alya.”
“Sabrina.”
“kamu kenal Alya, dav?” tanya Sabrina sambil menatap padaku.
Aku menganggukan kepala. “dia temennya Windy. Sekaligus –“
“pacarnya mas Axel” Windy tiba-tiba memotong ucapanku. Aku meliriknya sengit. Windy benar-benar mengibarkan bendera perang padaku.
“pacarnya Axel?” tanya Sabrina. Akhirnya Sabrina mengungkapkan pertanyaan yang sedaritadi berputar dikepalaku.
Yang ditanya malah mengerutkan keningnya. “iya. Gak liat kami lagi double date?” Axel menyahuti Sabrina dengan ketus. Rasanya aku ingin memukul kepalanya namun ini ditempat umum.
“oiya, al. Gue sama mas Axel rencananya mau nyusul lo nanti, boleh ya? sediain akomodasi aja deh buat kita” Windy mengalihkan suasana canggung diantara kami.
“boleh sih. Tapi tempatnya desa gitu. Gak apa-apa? lumayan jauh juga dari kota” jelas Alya.
Mereka ngobrolin apa sih daritadi?
“gak apa-apa kali. Kita bisa sewa mobil buat ke kota. Keliling gitu, ya kan mas?” kini mata Windy beralih pada Axel yang dianggukan Axel dengan semangat.
“ini pada ngomongin apa sih? Mau kemana?” tanyaku akhirnya karena terlalu penasaran.
Windy menatapku dengan sengit. Susah memang kalau Windy sudah marah padaku. “kita mau ke Belanda. Mau nyusul Alya kesana nanti” jawabnya ketus.
“kamu mau pindah, al?” tanyaku kaget.
Alya menatapku. “ngga, kak. Mau liburan aja sekalian nganter oma sama opa pulang dan pindah rumah” jawab Alya. setelah yang aku lakukan padanya dan keluarganya dia masih baik padaku, ya ampun. Aku rasa aku memang b******k.
“kenapa? Mau ikut? Gak usah deh. Perusak suasana aja” sahut Windy semakin membuatku naik darah.
Aku hanya melirik Windy dengan kesal lalu beralih menatap Alya. “oma yang di kebayoran itu?”
“bukan. Itu oma dari papa. Yang aku mau anter ini oma dari mama” jelas Alya.
Aku manggut-manggut mengerti. Kemudian waiters datang membawa pesanan kami dan kami makan dalam diam. Aneh sekali rasanya.
“lo mending gak usah ikut, dav. Lo udahan kan sama Alya? so, biarin gue ngedeketin Alya. Momen nya pas, apalagi Belanda itu gak kalah romantis sama Paris” bisik Axel tiba-tiba padaku.
Aku meliriknya dengan sengit. Entah kenapa aku emosi sekali saat Axel berkata seperti itu. Jangan harap aku mau melepas Alya begitu saja. Urusanku dan Alya belum selesai dan aku gak berniat untuk menyelesaikannya kecuali Alya memberiku kesempatan kedua.
Baru ku sadari, Aku ternyata membutuhkan Alya lebih dari yang seharusnya. Keberadaannya yang selalu ada di sekelilingku membuatku ketergantungan padanya. Baik hanya di telepon, pesan ataupun bertemu langsung. Aku juga baru sadar kalau selama kami pergi berdua, Alya tidak jarang menyandarkan kepalanya pada bahuku.
Ya ampun, aku kangen banget sama bocah 20 tahun itu. Kenapa aku baru sadar sekarang, sih?
------------------