Bagian 11 Alya POV

1639 Kata
            Hidupku selama 20 tahun ini berjalan biasa saja, pada awalnya. Sampai akhirnya Windy membawa seorang lelaki bernama Davin yang dikenalkan kami sebagai kakak sepupunya. Aku tidak mengingkari bahwa kakak sepupu Windy punya tampang yang super-duper menarik. Bahkan Nuri dan Amel tidak pernah absen membicarakan lelaki itu di grup line setiap hari –Kami jarang bertemu karena Amel dan Nuri kuliah diluar kota.             Umur lelaki itu 26 tahun kalau tidak salah –Windy  yang memberitahu. Memiliki tinggi 178cm –kurasa- dan agak sedikit berwajah kaukasia, hidung mancung, alis tebal, tulang pipi yang tegas dan rambut berwarna hitam, dia memiliki hampir semua tipe yang di idam-idamkan semua perempuan.             Bohong kalau aku bilang aku tidak tertarik dengan Davin. Menilik dari fisik, umur serta sifatnya yang ramah, aku ragu dia tidak memiliki kekasih atau banyak teman perempuan. Sejak putus menjalin hubungan –baik hubungan pacaran, sahabat, maupun teman- dengan mantan pacarku sekaligus mantan teman sekelas ku saat SMA. Aku jujur malas berhubungan dengan lelaki seperti itu.             Alasannya, pertama karena berteman dengan lelaki beresiko turut membawa perasaan. Kedua, memiliki teman lelaki seperti mereka juga berarti harus siap di bicarakan –kebanyakan hanya menjelekan kita saja. ketiga, kalaupun kami berpacaran, aku yakin tidak akan pernah berjalan lebih dari 6 bulan. Kenapa aku berani berasumsi seperti itu? karena aku pernah merasakannya.             Dibicarakan setiap hari disekolah. Seakan-akan asumsi mereka yang paling benar. Uh, aku benci sekali dengan masa SMA ku. Syukurnya aku sekarang kuliah di Jakarta dan aku sangat bersyukur sekali bahwa tidak ada teman-teman SMAku yang berkuliah di tempat aku kuliah. Setelah putus darinya pun aku belum mempunya kekasih.             Sebut aku lemah atau apapun karena memang kenyataannya aku belum bisa move on. Ini memang menyedihkan. Sudah hampir 4 tahun dan aku belum bisa move on. Walaupun aku memiliki 5 sahabat lelaki tapi aku tidak bisa menyayangi mereka lebih dari sekedar sahabat. Termasuk Raka. Seberapa pun Raka mencoba untuk mencari celah masuk ke hatiku, aku tidak akan pernah bisa menerimanya lebih dari sekedar sahabat. Bukannya aku tidak mau mencoba. Tapi aku sudah terlalu nyaman dengannya sehingga sulit bagiku nanti jika menerima Raka untuk menjadi pacarku.                 Tengah malam Windy menelponku. Aku diajak untuk menghadiri acara pertunangan adik dari Davin oleh Windy. Entah apa alasannya. Karena saat itu aku sedang berada di rumah orangtuaku, akhirnya aku ikut Revan –yang merupakan pacar Windy- untuk menghandiri acara itu. Rumah Davin berada di daerah Menteng. Rumahnya besar sekali. Tidak heran karena Windy pun memiliki rumah yang hampir serupa hanya berbeda lokasi.             Kami bertemu lagi. Syukurnya dia tidak canggung seperti awal kami bertemu. Aku terus menempel pada Revan saat acara karena aku tidak kenal dengan orang-orang yang datang kecuali Revan dan Windy juga Davin yang tentu saja sibuk mengurus acara. Aku sempat berkenalan dengan orangtua Davin dan Karen –adiknya- juga sedikit bercengkrama dengan orangtua Windy karena aku cukup kenal dengan mereka dan aku sering menginap dirumah mereka.             Beberapa hari setelah acara itu, Windy memberitahu bahwa Davin ingin menemuiku. Seperti aku, Windy pun tidak mengentahui alasan Davin ingin menemuiku. Setelah jam kuliah berakhir, aku dan Windy beranjak ke kantin dan bertemu Davin disana. Dia menggunakan pakaian santai.             Aku sedikit syok saat mengetahui bahwa orangtua Davin menganggap aku ini pacar Davin dan ingin melamar ku. Aku dan beberapa temanku memang suka berkhayal untuk menikah muda dan memiliki bayi. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa hal itu akan benar-benar terjadi di kehidupanku.             Mama dan Papa selalu mengajarkanku untuk meraih cita-cita dan mengumpulkan materi yang banyak sebelum menikah. Karena akan ada saat dimana nanti ketika menikah aku akan berhenti bekerja dan akan berada dititik dimana aku memerlukan materi dan mungkin ada beberapa alasan suamiku tidak bisa memberiku hal itu.             Hari itu Davin memohon padaku untuk mengikuti kemauan Bundanya. Jadilah aku pulang kerumah orangtua ku dan memberi kabar bahwa aku akan dilamar. Papa sedikit tidak menerima dan Mama pun demikian. Untungnya Davin yang mengantarku pulang akhirnya dia berbicara dengan kedua orangtuaku . Entah apa yang di bicarakan sehingga orangtua ku setuju.             Waktu yang dinanti pun tiba. Aku gugup luar biasa. Aku belum pernah dilamar sebelumnya makanya aku gugup. Aku juga tidak memberitahu hal ini pada sahabat-sahabat ku kecuali Revan karena Windy tidak bisa merahasiakan hal apapun dari Revan. Aku pun sudah berjanji pada Revan akan memceritakan hal ini secepatnya kepada semua teman-temanku.             Davin memperlakukanku dengan baik selama beberapa bulan ini. Dia selalu menelepon, mengirim line, bbm, dan sering mengajakku makan siang ataupun makan malam. Aku tidak tahu tepatnya kapan aku memiliki perasaan khusus pada Davin. Mungkin sejak pertama dia mengenalkan diri sebagai sepupu Windy, atau saat dia bercerita bahwa orangtuanya menganggap aku pacarnya, atau sejak dia datang bersama keluarganya secara resmi memintaku kepada orangtua ku.             Aku tidak tahu. Yang jelas aku menyayanginya. Dan aku sangat berterima kasih kepada Davin karena akhirnya aku bisa melepas dengan ikhlas mantanku saat di SMA itu.Tapi entah kenapa aku merasa Davin hanya menganggap aku adik kecilnya. Sama seperti dia memperlakukan Karen dan Windy.             Begitu memiliki waktu untuk kabur dari Davin, aku pun menceritakan hal ini pada teman-teman ku saat kami berlibur dipuncak. Juga mengenai Sherly –yang diceritakan Windy sebagai mantan kekasih Davin. Sama sepertiku, sepertinya Davin belum bisa move on dari Sherly. Perbedaannya hanya aku akhirnya berhasil move on dan Davin masih stuck dengan wanita itu. Pembicaraan kami di puncakku terulang kembali dikepalaku.             Flashback on             Kami berhenti di puncak pass untuk sekedar menikmati pemandangan dari warung pinggir jalan yang berada di atas bukit yang menyediakan jagung bakar dan minuman hangat. Seperti biasa, walaupun sudah mengetahui bahwa aku telah bertunangan dengan Davin, Revan dan yang lain tidak pernah kehabisan akal untuk menggoda Raka dan aku. Walaupun bercanda entah mengapa aku selalu kesal dan risih.             “udah kek. Gak capek apa ngebahas itu mulu. Move on kali” kata ku kesal sembari duduk setelah memesan jagung bakar bersama Nuri dan Amel.             Revan, Renaldi, Rendy dan Rio kompak tertawa sambil menatap ke arahku.”tau tuh rak. Move on” seru Renaldi yang sudah ku tahu maksudnya. Lagi-lagi Revan, Rendy dan Rio tertawa.             Aku sudah menceritakan perihal Davin kepada Nuri dan Amel. Tinggal menceritakannya kepada para cowok-cowok jahil ini. Aku masih mencari waktu yang tepat. Beberapa saat kemudian pesanan kami yang hanya berupa jagung bakar, kopi s**u dan teh manis hangat sudah terhidang diatas meja. Kami pun mulai melahap cemilan kami diiringi guyonan mereka.             “gue mau nanya nih. Minta saran juga sih” ujarku serius. Mereka berenam kompak menatapku bertanya-tanya.             “saran apaan?” sahut Raka.             Aku meletakan jagung bakar yang tinggal setengah diatas piring lalu berdeham. “gimana ya... jadi tuh kemaren mantannya Davind dateng. Ikut makan bareng gue pas gue lagi makan siang” kataku memulai.             “dia kayaknya masih sayang gitu sama Davin. Ya gak salah sih. Cuma ya gue risih aja ngeliatnya. Udah gitu emang awalnya gue belum ada rasa sama Davin tapi akhir-akhir ini kayaknya gue beneran sayang sama dia. Tapi kayaknya dia gak ada rasa apa-apa deh sama gue” lanjutku tidak berani menatap wajah teman-temanku.             “lah, gimana sih, yang namanya udah ngelamar mah pasti udah sayang, al” Revan yang pertama kali menyahuti ceritaku. Revan hanya tahu bahwa Davin melamarku atas dasar dia sayang padaku, bukan karena kesalahpahaman. Makanya dia salah mengartikan ceritaku. Aku melarang Windy untuk menceritakan hal yang sebenarnya.             “iya. Walaupun mantannya dateng ya mungkin aja mau silaturahmi. Lo jangan negative thinking” kini giliran raka yang menyahuti.             “selama ini kan dia baik suka anter-jemput lo kalo lo pulang ke Tangerang. Gak pernah absen ngajak lo malem mingguan. Yakali dia gak sayang” ujar Renaldi.             Aku menjambak rambutku frustasi. “lo gak ngerti! Kita tuh tunangan karena kesalahpahaman” jeritku kesal karena mereka tidak paham apa maksud ku.             “hah?” seru mereka kompak.                         “jadi tuh Davin ngelamar Alya karena nyokapnya Davin ngira Alya pacarnya dia. Mangkanya nyokap doi langsung ngelamar Alya” Amel pun membantuku menjelaskan.             “trus lo nerima gitu aja? gila lo” sahut Revan sedikit kesal sambil menggelengkan kepalanya.             “iya, al. Lo gila ya? tunangan tuh udah masuk ke tahap serius. Apalagi kalo sampe kalian nikah. Kalo dia gak cinta sama lo, trus apa yang mau lo bangun dari pernikahan coba?” Rendy yang sedari tadi diam kini membuka suaranya.             Aku menganggukan kepala saja sembari memainkan cincin berwarna putih yang tersemat dijari manis tangan kananku. Cincin pemberian Davin. “mending sekarang lo omongin sama Davin sebelum semuanya terlamat. Gue gak mau ya punya sahabat yang cerita hidupnya nyaingin sinetron” seru Rio yang di hadiahi jitakan dari Revan, Raka, Rendy dan Renaldi.             “bener kata anak-anak. Mungkin lo cinta sama dia. Tapi namanya nikah, gak bisa kalo Cuma lo yang cinta sama dia, al. Omongin secepatnya. Apapun jawaban dia, kita siap jadi tempat lari lo. Ya gak?” seru Nuri sembari menatap para lelaki yang duduk di hadapan kami, sedangkan Amel sedari tadi sudah mengelus rambutku.             “gue tau ini berat. Tapi lebih berat lagi kalo lo udah semakin jauh jalan sama dia” Nuri memelukku dengan erat dan aku hanya menghela nafas.             Setelah perbincangan serius, setengah jam kemudian kami beranjak untuk kembali ke villa, rapih-rapih dan kembali ke Jakarta karena aku, Amel dan Nuri akan magang. Yang lain sudah berjalan menuju mobil ketika aku sadar bahwa cincin yang tadi aku mainkan tanpa sadar aku lepas.             “ada yang ketinggalan. Gue balik dulu ya” seruku sembari setengah berlari menuju warung tadi.             Untunglah meja yang kami tempati belum dibersihkan. Cincinku masih ada di dalam piring dekat dengan sisa jagung bakar yang kumakan. Aku baru saja memasang kembali cincin itu ketik ku rasa tempat yang ku pijak bergerak dan bergeser.                     Semuanya berjalan begitu cepat. Meja, kursi, atap dan barang-barang lainnya dengan cepat berjatuhan, begitu juga denganku. Yang ku sadari selanjutnya adalah aku sudah terperosok bersama barang-barang tersebut dan aku merasa sakit pada sekujur tubuhku diikuti dengan suara berisik dan teriakan yang aku tidak tahu dari mana asalnya. Sakit pada tubuhku membuatku menangis hingga kegelapan menyelimutiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN