M.A.B (46)

3112 Kata

Malam yang teduh dihiasi bulan dan langit bertabur bintang menemani Belvina yang kini duduk dibangku depan rumahnya. Gadis itu termenung sambil sesekali menepuk nyamuk yang menyerang dirinya tak habis – habis.   “ Pasti, Mr. Barra marah banget sama gue. “ Ungkapnya penuh penyesalan. “ Lagian, kenapa gue gak tanya dulu sih, ke dia? “ keluhnya. “ Kalau begini ceritanya, gue jadi malu juga sama mbak Niana karena sudah tampar adiknya. “ Belvina menggerutu sendiri, ia begitu menyesal sikapnya yang terkadang ceroboh.   Tak lama, terlihat kedua orang tua Belvina yang baru saja pulang dari kedai.   “ Eh, anak ibu sudah pulang dari luar kota ya? “ ucap Asri ketika baru saja sampai. Belvina sempat terdiam ketika ibunya berkata seperti itu karena dia tidak tahu menahu bahwa Barra telah memberi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN