Malam yang teduh dihiasi bulan dan langit bertabur bintang menemani Belvina yang kini duduk dibangku depan rumahnya. Gadis itu termenung sambil sesekali menepuk nyamuk yang menyerang dirinya tak habis – habis. “ Pasti, Mr. Barra marah banget sama gue. “ Ungkapnya penuh penyesalan. “ Lagian, kenapa gue gak tanya dulu sih, ke dia? “ keluhnya. “ Kalau begini ceritanya, gue jadi malu juga sama mbak Niana karena sudah tampar adiknya. “ Belvina menggerutu sendiri, ia begitu menyesal sikapnya yang terkadang ceroboh. Tak lama, terlihat kedua orang tua Belvina yang baru saja pulang dari kedai. “ Eh, anak ibu sudah pulang dari luar kota ya? “ ucap Asri ketika baru saja sampai. Belvina sempat terdiam ketika ibunya berkata seperti itu karena dia tidak tahu menahu bahwa Barra telah memberi

