Barra masuk ke dalam ruangannya dengan emosi yang menggebu – gebu, ia tutup pintunya dengan sangat kencang. Hatinya kecewa, perempuan yang dia anggap baik – baik ternyata punya sisi gelap yang tak terduga. Barra duduk dikursinya dengan nafas terengah, kerutan di keningnya begitu jelas dan bibirnya dia gigit kuat – kuat. Bukan apa – apa, saat ini Barra berfikir dirinya begitu bodoh bisa tertarik begitu dalam kepada Belvina. Niana masuk kedalam ruangan Barra, ia ingin membicarakan masalah ini secara baik – baik. “ Barra? “ Niana menarik kursi dan duduk dihadapan adiknya. “ Tenang dulu, jangan emosi. “ Niana tahu betul adiknya itu mudah terpancing. “ Sekarang, kak Niana sudah gak punya alasan lagi untuk mempertahankan Belvina. “ Ucap Barra. Dia berusaha tidak perduli dengan Belvin

