Pagi ini Belvina nampak begitu semangat karena hari ini bisa bertemu dengan Zayn lagi setelah kemarin libur satu hari dia sudah merasakan rindu pada lelaki itu. Dia berjalan menuju ruangan Zayn sebelum jam masuk, di tangannya membawa segelas cup hot coffe untuk Zayn. Dia sengaja memberinya pagi – pagi karena masih hangat. Belum sampai di ruangan Zayn, ternyata dia bertemu dengan orang yang ingin ditemuinya tetapi tidak sendirian melainkan bersama Barra dan Devo.
Barra memperhatikan Belvina yang kini semakin dekat berjalan ke arahnya membawa segelas coffe, ia langsung merapihkan jas nya sambil berfikir bahwa gadis itu pasti ingin menemuinya atau sekedar memberikan minuman itu karena semalam hubungan antara dirinya dan Belvina cukup baik, jadi mungkin saja gadis itu ingin memberikan Barra coffe itu agar semakin dekat dengannya. Sayangnya, Barra terlalu kepedean.
Di dahi Barra pun masih menggunakan Plester yang semalam Belvina tempelkan, lelaki itu tidak menggantinya dengan yang baru. Devo dan Zayn sempat bertanya kenapa dahi nya di plester seperti itu, namun dia beralasan jatuh dari tempat tidur dan dahinya berdarah. Mereka percaya saja.
Ketika sudah berpapasan dengan mereka bertiga, Belvina menghentikan langkahnya.
“ Selamat pagi. “ Sapanya dengan senyuman manis yang tak pernah lupa dia tampilkan ketika berhadapan dengan Zayn.
“ Pagi. “ Balas Zayn dan Devo sedangkan Barra hanya diam, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, lalu memasang wajah angkuh sambil menunggu Belvina memberikan minuman itu.
“ Ini aku bawain coffe buat kamu, Zayn. “ Belvina menyerahkan minuman itu
Barra yang sebelumnya memasang ekspresi angkuh mendadak luntur dan memberi tatapan terkejut kearah Belvina, seolah – olah menggambarkan bahwa dia bingung mengapa Belvina tidak memberinya juga.
“ Wah, terimakasih Belvina. “ Zayn mengambil minuman itu. “ Masih anget lagi. “ Tambahnya ketika memegang gelas itu masih agak panas.
“ Yaudah kalau begitu aku permisi dulu ya. “ Belvina bicara tanpa memandang Barra, hal itu membuat Barra semakin bingung mengapa gadis itu bersikap seolah – olah tidak terjadi sesuatu antaranya tadi malam atau minimal Belvina menyapanya tetapi ini sama sekali tidak.
‘ Kenapa dia mengacuhkan gue? ‘ batin Barra, ia jadi kesal sendiri.
“ Hei! “ panggil Barra ketika Belvina ingin melangkahkan kakinya.
Belvina membalikan badannya, lalu menghadap Barra. “ Kenapa, Mr? “
Dahi Barra berkerut dengan alis yang saling bertautan, dia jengkel karena Belvina bersikap biasa saja seperti tidak menganggapnya ada.
“ Dasar bodoh! “ Barra langsung pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas membuat semua yang ada didekatnya bingung.
“ Mr. Barra kenapa, sih? “ Belvina menatap kepergian cowok itu dengan segudang pertanyaan.
“ Belvina? tangan kamu kenapa? “ tanya Devo yang sejak tadi memperhatikan daerah pergelangan tangan Belvina yang di plaster.
“ Oh, ini. “ Belvina langsung menunjukkan tangannya. “ Tersayat pisau. “ Jawabnya.
“ Kok, bisa? “ tanya Zayn khawatir.
“ Tuh, gara – gara kemarin tolongin Mr. Barra yang hampir di rampok. “ Ungkapnya. “ Terus kalian berdua tau gak? padahal Belvina udah tolongin Mr. Barra sampai hampir di tusuk perutnya, untung aja belvi menghindar jadi cuma terkena tangan, tapi…” Belvina menghela nafas berat mengingat kejadian malam itu. “ Tanpa merasa bersalah, Mr. Barra tinggalin aku dalam keadaan tangan tersayat dan berdarah sendirian setelah bantuin dia. Nyebelin banget, kan? “ Jelas Blevina panjang lebar membuat kedua lelaki dihadapannya menggeleng tak mengerti dengan perlakuan Barra.
“ Barra sangat keterlaluan. “ Benar dugaan Zayn kalau kemarin saat Barra bercerita tentang dirinya berhasil membuat perampok itu pergi ketakutan adalah sebuah kebohongan.
“ Berarti kemarin apa yang Barra ceritakan itu semuanya bohong. “ Ujar Devo.
“ Emang Barra cerita apa? “ tanya Belvina kepada Devo.
“ Bukan apa – apa. “ Jawab Devo tak menjelaskan, biar bagaimana pun Devo tetap menutupi kebohongan Barra di depan orang lain agar lelaki itu tidak dipandang buruk.
“ Tangan kamu sudah diobati? “ Tiba – tiba saja Zayn meraih tangan Belvina. “ Aku khawatir kalau kamu kenapa – kenapa. “ Ujarnya terpampang rasa cemas dari raut wajah Zayn.
“ Udah, kok. “ Belvina mengangguk. “ Makasih udah perhatian. “ Ucapnya sambil senyam – senyum memandangi wajah Zayn.
Devo berdehem. “ Sepertinya keberadaan gue sedikit menganggu. “ Ucapnya membuat Zayn dan Belvina jadi malu – malu.
“ Yaudah, aku ke ruangan Barra dulu ya. “ Zayn mengusap kepala Belvina sebelum akhirnya pergi bersama Devo.
Lutut Belvina terasa lemas mendapat belaian lembut dari lelaki yang sangat dia kagumi. Dia ingin melompat – lompat bahagia, tapi rasanya tidak mungkin karena ada beberapa karyawan yang lalu lalang nanti dikira dia sudah tak waras.
**
Wajah merengut, alis bertautan, dahinya berkerut.
Sepertinya ketiga hal itu tidak pernah terlepas dari wajah Barra. Lelaki itu sehari – harinya selalu berwajah ketus dan seperti orang marah. Kini dia duduk sambil memikirkan mengapa Belvina bisa bersikap seperti tadi. Paling tidak, Barra ingin Belvina menyapanya karena semalam mereka berdua cukup banyak bicara seperti orang dekat dan bahkan Belvina sangat perhatian kepadanya, lalu mengapa ketika pagi harinya Belvina seperti tak menganggapnya.
Tunggu … Tunggu? Mengapa Barra jadi sangat perduli dengan Belvina yang harus menyapanya? Padahal, Sejauh ini dia memang tidak saling sapa dengan gadis itu, tapi mengapa kali ini Barra merasa sedikit ganjil.
“ Dasar perempuan tidak tahu sopan santun! “ Ucapnya seraya menggebrak meja. Bersamaan dengan itu, datanglah Devo dan Zayn.
“ Ada apa kah gerangan masih pagi begini Barra Eugene sudah marah - marah? “ Ujar Zayn berjalan mendekati Barra.
“ Ada masalah pekerjaan atau apa? “ Devo dan Zayn duduk di hadapan Barra. Mereka berdua mengamati wajah sang CEO dengan seksama.
“ Kalau dilihat – lihat dari raut wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang bikin seorang Barra jadi badmood kayak begini. ” Ungkap Devo tepat sasaran. “ Apa ada hubungannya dengan Belvina? “
“ Ngaco lo, Devo! gak usah bawa – bawa nama perempuan tidak waras itu! “ katanya marah – marah.
“ Terus apa penyebab lo jadi kayak gini? Perasaan tadi sebelum bertemu Belvina semuanya oke - oke aja? “ tanya Zayn.
“ Ck, udahlah lupakan. “ Barra menyenderkan punggungnya kasar di penyangga kursi.
Zayn terlihat sangat penasaran untuk mengetahui kebenaran yang Belvina jelaskan tadi, ia pun mencoba bertanya pada Barra. “ Bar, gue mau tanya sesuatu. “
“ Apa? “
“ Kalau ada orang yang sudah tolongin lo bahkan sampai terluka, kira – kira apa yang akan lo lakuin? “ tanya Zayn. Dia tak sabar menunggu jawaban dari Barra.
“ Ya jelas gue akan kasih orang itu imbalan, lah. Dia udah menyelamatkan gue, maka akan gue kasih yang orang itu mau sebagai tanda terimakasih. “ Jawabnya terdengar sangat meyakinkan dan penuh keseriusan.
Devo mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Barra yang sangat bagus, tapi pada kenyataannya tidak dia terapkan ketika kemarin Belvina menolongnya.
Zayn manggut – manggut, ia bertanya lagi kepada Barra. “ Jika memang begitu, kenapa lo biarkan Belvina sendirian setelah dia udah tolongin lo? “
Barra melongo, ia tak percaya jika Zayn sudah tahu mengetahui hal itu. “ Da—darimana lo bisa tau semua itu? “ tanya nya panik.
“ Dari Belvina. “ Sahut Devo. “ Perempuan yang sudah rela menolong lo, tapi lo abaikan begitu saja. “ Lanjutnya. “ Barra…Barra… kelewatan lo! “ Devo memandangnya kesal, sebagai seorang lelaki rasanya tidaklah jantan jika meninggalkan seorang perempuan ditengah malam sunyi, apalagi perempuan itu dalam keadaan terluka karena sudah menolongnya.
“ Pasti tadi dia ngadu sama lo berdua ya? “ Barra jadi tambah jengkel pada Belvina. “ Memang paling pintar cari dukungan perempuan itu. “ Bukannya berfikir tindakannya salah, ia malah menyudutkan Belvina lagi.
“ Apa timbal balik yang udah lo berikan ke Belvina? “ tanya Zayn ingin tahu, barangkali saudaranya itu diam – diam sudah melakukan sesuatu sebagai tanda terimakasih kepada Belvina.
Barra tak menjawab.
“ Apa lo gak kasihan sama dia? ” Zayn semakin serius membicarakan tentang Belvina.
“ Ya, gue tau lo benci sama dia tapi coba lo fikirin lagi deh, dia itu udah baik banget sampai mau repot – repot tolongin lo. Padahal, kalau difikir – fikir lo itu udah banyak bikin dia sakit hati. Kalau emang dia perempuan yang gak waras seperti yang sering lo sebut, rasanya gak mungkin dia dengan baik hati mau membantu lo sampai terluka kayak gitu. “ Zayn menggeleng takjub.
“ Jarang orang yang udah diperlakukan semena - mena masih mau bersikap baik dengan tulus kayak yang Belvina lakukan ke lo. “ Jelas Zayn panjang lebar. Dia merasa perlu berkata seperti itu pada Barra untuk menyadarkan bahwa apa yang telah Barra lakukan salah dan sudah kelewat batas.
“ Dimana hati nurani lo, bar? “ celetuk Devo.
“ Gue…” Barra menundukkan kepalanya. “ Jujur setelah kejadian itu, semalaman gue juga gak bisa tidur karena merasa bersalah, akhirnya gue memutuskan untuk menemui dia esoknya. Itulah alasan gue gak ikut kalian main golf. “ Ungkapnya.
“ Terus gimana? “
“ Ya, gue minta maaf sama dia dan gue juga udah bilang ke dia kalau butuh pengobatan atau apapun langsung kabarin gue aja. “ Jelasnya. “ Tapi, dia malah buat gue kesel! “ lanjutnya membuat kedua sohibnya penasaran.
“ Kenapa lagi? ”
“ Lo bayangin aja, niat gue udah baik mau minta maaf, eh gue malah dikerjain sama dia dengan cara diajak muter – muter sama dia dengan alasan mau beli makanan gulai kambing. Kan, rese banget! “ penjelasan Barra kali ini membuat kedua sohibnya malah merasa senang.
“ Ya, anggap aja itu balasan karena lo udah tinggalin dia kemarin. “ Cetus Devo.
“ Sial! “
“ Jadi, kesimpulannya adalah lo udah bohongin kita berdua dengan cerita palsu kalau lo bikin para perampok itu lari ketakutan sama lo? “ Zayn tertawa bersama Devo, sedangkan Barra terkekeh saja setelah kedapatan berbohong.
“ Barra…Barra, Kenapa sekarang lo jadi sering bohong, sih? “
“ Udah lebih baik kalian pergi dari ruangan gue. “ Usir Barra merasa kesal kedua lelaki dihadapannya terus saja mengusiknya.
**
Mulut Lia sejak tadi tidak berhenti mengunyah makanan, Belvina yang duduk disebelahnya merasa terganggu karena bunyi kriuk keripik singkong yang sejak tadi Lia makan sangatlah riuh.
“ Lia bisa gak makannya gak usah berisik? ”
“ Gak bisa, belvi. “ Jawabnya santai sambil menginput data di komputer. “ Makan kripik kalau gak bunyi kurang afdol. “ Lanjutnya seraya mengambil kripik lagi lalu mengunyahnya hingga menimbulkan bunyi ‘ KRIUK…KRIUK…’
“ Mau gak? “ tawar Lia langsung di tolak oleh Belvina. “ Alhamdulillah lo gak mau, jadi gak berkurang. “ Ujarnya membuat Belvina mendengus kesal dengan teman sebelahnya itu.
Belvina menggaruk kepalanya, ia merasa pusing karena pekerjaanya lebih banyak dari yang sebelumnya. Dia bingung mengapa hanya dirinya saja yang selalu lembur sendirian karena pekerjaan yang tak kunjung kelar.
“ Lia? data lo udah habis? “ Belvina melongok komputer Lia yang kini sudah berganti nonton Drama thailand. “ Udah selesai? cepet banget? “
“ Gak tau, mungkin data lagi dikit. “ Jawabnya dengan mata fokus menatap monitor.
“ Dikit darimana? gue aja masih banyak banget, Lia. “ Ucapnya dengan nada mengeluh.
“ Yaudah terima nasib aja. “ Jawab Lia enteng. “ Jangan ganggu gue dulu lagi nonton si ganteng bright. “
Belvina menarik nafasnya dalam – dalam, lalu menghelanya dengan kasar. Dia melirik ke arah ruangan Endah yang terlihat Barra baru saja keluar dari sana. Lelaki itu kini berjalan melewatinya dengan ekspresi andalannya yang selalu ketus.
Tak lama, Endah keluar dari ruangan dan memanggil Belvina.
“ Belvina, kesini sebentar. “
Dia pun bergegas bangun dari duduknya dan masuk keruangan Manajer Analis. Belvina duduk dihadapan Endah yang kini menatapnya dengan penuh pertanyaan.
“ Ada apa, bu? “
“ Belvi, saya mau tanya. Sebenarnya ada apa sih, antara kamu dan pak Barra? “ tanya Endah ingin tahu.
“ Perasaan gak ada apa – apa deh, bu. “ Belvina jadi ikutan bingung mendapati pertanyaan dari manajernya itu. “ Emangnya ada apa ya? “
“ Gak apa – apa, sih. Saya cuman bingung aja di antara banyak karyawan kenapa pak Barra selalu menekankan saya untuk memberi kamu data lebih banyak di banding yang lain. “ Ucapnya, ia mengingat – ingat sesuatu. “ Sebelumnya, saya juga dengar kabar kalau kamu di siram pak Barra dengan coffe karena dia marah besar. Makanya, saya panggil kamu kesini ingin tahu ada masalah apa antara kamu dan pak Barra. “ Tambahnya.
“ Saya juga gak ngerti apa masalahnya, bu. Intinya Mr. Barra itu kelihatannya gak suka banget sama saya. “ Jelasnya dengan nada mengeluh.
“ Mr. Barra? “ tanya Endah merasa bingung karena di antara banyak karyawan hanya Belvina yang memanggilnya dengan sebutan ‘ Mr ’
“ Iya, bu. Dia sendiri yang suruh saya pangilnya seperti itu. “ Ungkap Belvina langsung dijawab anggukan oleh Endah.
“ Sebenarnya saya kasihan karena kamu ini selalu lembur. Tadi pak Barra baru saja kemari dan suruh saya untuk kasih kamu data lebih banyak dibanding yang lain. Dia ingin kamu selalu mendapatkan pekerjaan yang lebih berat. “ Endah menjelaskan apa yang baru saja Barra katakan tadi ketika diruangan bersamanya.
Belvina mendengarkan apa yang Endah katakan, ia jadi mengerti mengapa selama ini dirinya lebih banyak menerima data analis untuk dikerjakan karena itu semua atas perintah Barra. Tak heran kalau dia selalu lembur sendirian.
“ Saran saya, lebih baik kamu cari pekerjaan lain. “ Cetus Endah.
“ Ma—maksud ibu? “ Belvina terkejut mendengar kalimat yang baru saja Endah katakan. Seolah – olah perempuan itu menyuruhnya untuk berhenti bekerja.
“ Ya, maksud saya kamu cari pekerjaan lain yang setara antara jam kerja dan gaji. Apalagi, saya tahu dari pak Barra kalau gaji kamu selama masa kontrak di potong sebanyak 20%. “ Endah memegang tangan Belvina yang berada di atas meja. “ Saya cuma merasa kasihan saja sama kamu Belvina. Ini semua gak adil buat kamu. Makanya, saya sarankan kamu resign saja karena disini kamu akan tertekan. “ Sorot mata Endah ketika berbicara terlihat sedikit cemas bercampur gugup, tapi bagi Belvina apa yang manajernya itu katakan ada betulnya juga.
Tanpa Endah sarankan pun Belvina juga ingin sekali resign, hanya saja dia belum menemukan pekerjaan lagi sehingga tak mungkin baginya berhenti bekerja sedangkan ada keluarga yang sedang mengharapkan dirinya untuk membantu biaya hidup.
“ Terimakasih bu Endah atas saran dan simpatinya. Nanti akan saya fikirkan lagi gimana baiknya, tapi sejauh ini saya lembur dan mendapatkan data lebih banyak selama kerja saya bawa santai aja, kok. “ Belvina menampilkan senyum terbaiknya. “ Saya sedang berusaha beradaptasi dengan kehidupan yang memang kadang tak adil, namun harus tetap dijalani. “ Ucapnya penuh keyakinan bahwa segalanya akan segera berlalu.
Endah tersenyum tipis. “ Saya suka semangat kamu, belvi. “ Katanya sambil mengusap – usap punggung tangan Belvina. “ Kalau kamu butuh bantuan atau apapun, kabari saya ya? nanti saya bantu. “
“ Baik, terimakasih, bu. “ Belvina bangun dari duduknya, keluar ruangan dan kembali menikmati pekerjaanya yang cukup memusingkan.
“ DASAR BARRA API! “ Cibirnya sambil menginput data.
Disisi lain, kini Endah sedang menelfon Barra untuk memberitahu apa saja tadi yang dibicarakan Belvina kepadanya. Rupanya, Endah sengaja disuruh berkata seperti itu kepada Belvina agar perempuan itu mau resign, tapi nyatanya gadis itu tidak menyerah.
“ Jadi, setelah tahu kalau saya sengaja melakukan itu semua dia masih tetap ingin bertahan? “ tanya Barra bernada tinggi membuat telinga Endah sedikit berdengung mendengarnya karena melalui telefon.
“ Iya, pak. Kelihatannya dari cara dia menanggapi omongan saya bahwa dia itu perempuan yang tegar. Dia juga bilang kalau sampai saat ini dia menjalankan semua ini dengan santai. Jadi, menurut saya dia tidak akan resign. “ Jelas Endah.
“ Ck, benar – benar sangat menyebalkan! “ seru Barra.
“ Pak? Kalau boleh tahu kenapa pak Barra ingin sekali dia resign? Dan kalau seandainya pak Barra tidak ingin dia bekerja disini kenapa tidak langsung pecat saja karena pak Barra kan pimpinan disini? “ Endah mengeluarkan banyak pertanyaan yang tersimpan di otaknya.
“ Ah sudah kamu jangan banyak tanya! “ Barra langsung memutuskan telefonnya. Endah tidak tahu saja kalau sebenarnya Barra ingin sekali gadis itu resign namun Niana menahannya.
Barra mengetuk – ngetuk mejanya dengan jari – jemarinya sambil berfikir. Sebenarnya hari ini dia tidak ada ide untuk mengerjai Belvina dan membuat gadis itu lembur karena tangannya sedang sakit dan dia juga semalam sudah mengobatinya, tetapi melihat Belvina hanya memberikan coffe kepada Zayn memaksa Barra harus melakukan ini semua.
“ Apa yang harus gue lakukan? “ katanya terus berfikir sampai kepalanya pusing tujuh keliling. Barra melirik tumpukan berkas yang cukup banyak di mejanya. Merasa iseng, dia langsung teringat Belvina dan ingin mengerjainya, itung – itung sebagai balasan tadi malam sudah membuatnya harus muter – muter.
Barra tersenyum sinis. “ Rasanya sehari tanpa usilin kamu itu kurang lengkap. “