Dev bersiap duduk di depan kemudi. Sandra memasang seatbelt lalu memalingkan wajah ke arah kaca dan tak bicara apa-apa. “Kita ke arah sana kan?” tanya Dev basa-basi sambil menunjuk ke depan.” “Hmm,” jawab Sandra sambil mengangguk tanpa menoleh. Mobil lalu mulai melaju. Kebetulan jalanan yang mereka lalui memang hanya satu jalur dan lurus saja tak ada persimpangan. Suasana di dalam mobil benar-benar beku. Andai ada pilihan lain Sandra tidak ingin satu mobil lagi dengan Dev begini. Diantar lagi seperti dulu. “Kamu sekarang kerja di kota ini?” tanya Dev setelah saling diam beberapa menit. Sandra berusaha menenangkan hatinya dan menjawab. Ia masih ingat kalimat terakhir Dev di kereta yang meminta untuk bisa menjadi teman biasa. “Iya,” jawab Sandra lirih. Matanya tetap enggan menatap ke

