Sandra menghela napas panjang. Ia masih menempelkan ponsel di telinga mendengarkan tante Ratih menjabarkan secara detail sosok tante Retno dan anaknya Marwan. Pikiran Sandra mendadak seperti benang kusut. Yang semula ceria membayangkan kehidupan baru di Yogya mendadak kacau. Bagaimana tidak, dia harus tinggal di rumah saudara yang sebelumnya sama sekali belum pernah ia temui. Ada rasa sungkan dab enggan yang mendadak membuat Sandra kesal membayangkannya. "Iya-iya deh tante," ucapan Sandra setelah selesai mendengarkan tante Ratih yang bicara panjang lebar memberikan wejangan. "Pokoknya ingat ya, nanti di sana kamu kemanapun harus ditemani sama Marwan. Marwan itu anaknya baik, tante sudah telpon tante Retno dan bicara sama Marwan sekalian. Sudah bilang mau titip kamu," "Ih, emangnya aku

