Miracle memutuskan untuk langsung berangkat ke kantor setelah mengantarkan Rose kerumah. Mentari masih belum menunjukkan sinarnya, beberapa masjid masih berkumandang untuk melaksakan sholat subuh. Sebenarnya jadwal rapat hari ini pukul setengah delapan. Tetapi ada beberapa berkas yang harus diselesaikan Miracle. Ini menyangkut kontrak antara kolega bisnisnya, takutnya jika tidak diselesaikan segera, waktu yang digunakan untuk rapat jadi tertunda. Miracle tidak ingin itu terjadi. Pria tampan itu memang selalu memaksimalkan waktu, hal itu lah yang membuatnya sukses. Kaki Miracle menginjakkan ruang kerjanya ketika jam masih menunjukkan pukul setengah enam. Tangannya menelisik setiap sudut meja untuk mencari keberadaan berkas itu. Satu tumpukan besar membuat Miracle menghela nafas kemudi

