Part Dua

1000 Kata
Hai-hai jangan lupa tap Love ya! Dan baca sampai akhir kisah ^^ ______ Sesuai dengan perjanjian, jam 4 sore Rose sudah selesai bersiap-siap. Outfit nya simpel, hanya memakai leging dan switter polos bewarna coksu dan tas sandang kecil bewarna hitam. Benar-benar simpel, tapi Rose berfikir setidaknya ia tidak menggunakan daster untuk pergi ke rumah Miracle. Rose melihat pantulan dirinya dicermin. Kemudian pergi meninggalkan kamar nya yang berukuran kecil. Rose hanya mampu menyewa kost kecil yang harga perbulannya 250 ribu. Setidaknya ia masih bisa mengirimi uang pada ibu yang berada dikampung. Hidupnya yang pas-pas'an membuat Rose bersemangat untuk menaiki ekonomi keluarga. Ia adalah harapan keluarga. Sejak bapak meninggal, tidak ada lagi orang yang menafkahi keluarga sehingga Rose harus pergi merantau ke Jakarta. Kilasan kehidupan yang begitu menyedihkan masih terbayang dikepala Rose. Rose menyemangati dirinya ketika langkah kakinya sudah berada di trotoar jalan raya. Ia menunggu beberapa menit ketika angkot bewarna biru sudah mulai terlihat dari kejauhan. Tangannya melambai, disertai dengan angkot yang perlahan mendekat dan berhenti tepat dihadapannya. " Naik neng?" tanya supir angkot sekedar basa-basi membuat Rose melengus jengah. Ia lebih memilih masuk kedalam mobil yang sesak penuh dengan orang-orang yang sejalur dengannya. Rose memilih duduk dipinggir pintu, sambil tersenyum simpul kepada wanita hamil yang berada disebelahnya. Mobil berjalan kencang sesuai dengan gaya khas supir angkot. Gadis itu hanya berharap keselamatan untuk wanita hamil disampingnya. Ia hanya berfikir, kemana suami wanita itu? Kenapa tega sekali membiarkan istrinya berjalan sendiri dengan keadaan hamil besar? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Seperti melahirkan diatas angkot? Pikiran itu hanya mampu bergumam di dalam. Ia tidak seberani itu untuk bertanya tentang hal yang privasi, ini hanya sebatas rasa sesama perempuan. Lama bergulat didalam pikiran, angkot berhenti didepan perumahan elit disertai dengan turunnya Rose dari mobil. Ia membayar ongkos kepada si supir, tapi supir itu menolak. " Kenapa Bang?" tanyanya bingung. " Untuk neng cantik, gratis aja. Abang ikhlas. " jawab supir membuat Rose bergidik malu. " Ambil aja bang. Setidaknya uang ini untuk bayar ongkos ibu hamil dibelakang." " Aduh neng. Udah cantik, baik pula. Nanti kalo cari pacar hubungi abang ya." Jawaban frontal dari supir itu membuat semua penumpang tertawa. Rose jengkel, ia melengos pergi tapi lambaian tangan dari wanita tadi membuat langkahnya terhenti kemudian ikut melambai kearah wanita itu. Setelah angkot itu pergi, Rose berjalan memasuki komplek perumahan. Jalannya perlahan, sambil mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Rose hendak menelfon si bos, untuk menanyai nomor rumah karena tadi Miracle hanya mengirimkan alamat jalan kepadanya. Miracle Berdering...... Tak lama telfon tersambung. Diiringi suara berat dari seberang telfon. " Iya? Ada apa?" Rose berdehem singkat. " Pak saya sudah berada di alamat jalan yang bapak kirim. Tapi saya tidak tau rumah bapak yang mana. Kira-kira nomor rumah bapak berapa ya?" "No.35A paling ujung. Yang pagarnya warna putih." Rose melihat disekelilingnya, yang rata-rata pagar pemilik rumah dikomplek itu bewarna putih. " Pak.... Hampir semua rumah pagarnya bewarna putih. " "Sudah. Kamu cari saja nomor yang sudah saya sebutkan." Tuttt..tutt.. Rose menghentakkan kakinya. " Sialan! Dasar manusia misterius! Manusia menyebalkan! Manusia dingin! Dikiranya mudah ya cari nomor rumah, sedangkan rumahnya berpagar putih semua!Kemana lagi gua harus cari tu rumah manusia! " Rose memasukkan ponselnya kedalam tas dan lanjut berjalan tak tau arah. Ia akan mencoba berjalan menyusuri komplek ini. " Emang ada ya manusia se-menyebalkan itu! Kalo di pikir-pikir, cowo idaman itu tidak akan membiarkan seorang wanita berjalan seorang diri! Is!! Kenapa jadi mikir cowo idaman si! Kan dia bukan cowo idaman gua! Dia itu iblis yang berkedok sebagai bos!" umpatan-umpatan kekesalan di lontarkan kepada Miracle. Rose berjalan gontai. Sampai kapan ia harus berjalan? Tidak ada tanda-tanda komplek ini memiliki ujung. Lalu ujung mana yang disebutkan Miracle? Rose hendak pasrah, tapi takdir seakan membantunya ketika melihat bodygoard Miracle hendak menutup pintu pagar yang ia yakini bahwa itu rumah Miracle. " Toni!" teriak Rose. Rose berlari ke arah Toni. Sesampai di hadapain Toni, Rose menundukkan badannya lemas. Tenaga nya terkuras , beberapa bulir keringat mengalir di dahinya yang mulus. " Non Rose? Mau kemana sore-sore begini?" tanya Toni ketika melihat sekretaris bosnya membungkuk dengan kedua tangan memegang lutut. Rose mengatur ritme nafasnya. Merasa sedikit normal, ia kembali menegakkan badannya menyesuaikan tinggi badan Toni yang memiliki tinggi badan yang sama. " Saya ada janji sama Pak Cle." " Oh begitu. Baik Non. Silahkan masuk, Pak Cle nya sedang berada dikamar. Nanti panggil saja." Dahi Rose menyerngit. " Loh, kamu mau kemana Toni?" " Tadi Pak Cle suruh saya dan Budi tidur dirumah masing-masing. Saya juga heran Non, tidak biasanya bapak seperti itu. Kalau begitu, Silahkan masuk Non, jika berlama-lama takutnya Pak Cle jadi marah. Saya pergi dulu ya Non. Muhun." pamit Toni melengos meninggal kan Rose yang terdiam di depan pagar. Rose kembali merasa teheran-heran. Dengan langkah gontai, ia berjalan masuk kedalam rumah milik Miracle. Sepi. Kata yang tepat mengggambarkan suasana rumah Miracle. Tanpa rasa segan, Rose masuk kerumah yang pintunya tidak terkunci itu. Sudut matanya menyapu keindahan rumah ini dengan tangan yang ikut andil meraba bangunan khas eropa-klasik itu. Bangunan yang begitu megah terasa hampa ketika melihat tidak ada satupun foto keluarga ataupun foto diri Miracle terpajang di dinding rumah. Tidak ada yang menarik dirumab pria ini, hanya polosan dinding yang tidak diwarnai hiasan seperti bingkai-bingkai foto masa kecil atau bahkan bingkai-bingkai foto kaligrafi atau semacamnya. Benar-benar polos seperti hidup pria itu yang begitu-begitu saja tidak menarik itu lah. " Ini orang sebenarnya punya kehidupan ga si?" Ucap Rose dengan kaki yang terus melangkah hingga sampai disebuah ruangan yang tertutup. Rose hendak menghentikan rasa penasarannya, tapi rasa penasaran itu semakin menjadi ketika tangannya meraih ganggang pintu dan pintu itu tidak terkunci. Klek.. Pintu terbuka, ruangan gelap menjadi sambutan Rose ketika masuk kedalam ruangan itu. Rose berjalan tertatih sambil meraba sekelilingnya berharap menemukan sebuah saklar lampu. Seketika Rose terperanjat. ada sesuatu yang sedang merengut pinggulnya. " Siapa itu!??" panik Rose. Dengan bantuan siulet lampu dari luar ruangan, mata Rose dapat melihat tangan yang sedang memeluk pinggangnya. Walaupun sekilas, tapi dapat diketahui bahwa ada orang selain Rose disini. _______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN