Part Empat

1000 Kata
Sudah dua hari berlalu sejak insiden Rose dan Miracle terjadi. Selama itu pula Rose berdiam diri di kostnya. Rose malu pada diri nya sendiri sekaligus malu pada orangtuanya karena ia tidak pandai menjaga diri. Berbagai hal kemungkinan yang bisa terjadi antara Rose dengan bosnya. Bisa saja Rose hamil lalu Rose meminta pertanggung jawaban pada Miracle, tapi Miracle tidak mau bertanggung jawab. Memikirkannya saja sudah membuat kepala Rose pusing pagi ini. Dirinya sudah bangun dari jam lima subuh untuk mencuci pakaian lalu memasak dan sekarang mengepel lantai kost. “ Benar-benar hidup ini merepotkan. Huftt.” keluh Rose, gadis itu berhenti sejenak untuk menyeka peluh di dahinya sebelum kembali melanjutkan pekerjaan mengepel. “ Ini pemilik kost apa ga berniat mengganti lantai kost jadi keramik, biar ga mulu-mulu tiap bulan ngepel. Mana karpetnya udah pada sobek-sobek. Lama kelamaan jiwa gua yang sobek.” cercah Rose. Ia tidak habis pikir pada pemilik kost, padahal jika dihitung-hitung dari puluhan kamar saja sudah menghasilkan duit puluhan juta juga. Apa salahnya merenof kost menjadi lebih baik lagi. Dan penghuninya bisa lebih nyaman. Tapi selama ia nge-kost di tempat ini, belum pernah dilihatnya pemilik kost terjun langsung untuk melihat atau bahkan untuk berkunjung saja tidak pernah. Kurang lebih selama 10 menitan mengumpat keadaan kostnya, Rose selesai dengan tugas mengepelnya. Rose membersihkan alat pel didalam kamar mandi dan membuang sisa-sisa air pel. Setelah itu ia meregangkan pinggang yang terasa pegal , diputarnya pinggul beberapa kali hingga menimbulkan bunyi benturan antar tulang yang membuat Rose merasa nyaman. Rose berjalan ke tempat tidur, tak lupa membawa benda pipih kedalam genggamannya. Lalu mendial nomor handphone milik ibunya dikampung. Beberapa panggilan tak tersambung hingga panggilan kelima diterima oleh Ibunya Rose. “ Halo Nak. “ sapa wanita diseberang sana membuat hati Rose merasa aman. “ Halo Bu. Baa kaba Ibu? Lai sehat kan?” (Halo Bu. Gimana kabar Ibu? Ada sehat kan?) tanya Rose menggunakan bahasa Minang. Rose memang keturunan Minang asli. Ibunya berasal dari Padang sedangkan alm.ayahnya berasal dari Semarang. “ alhamdulilah sehat nak. Rose baa? Alah makan? “ (alhamdulilah sehat nak. Rose gimana? Udah makan?) “ Alah Bu.” (Udah Bu.) Jawab Rose berbohong. Sebenarnya ia belum makan karna sedang menghemat uang dikarenakan akhir bulan. Rose memanglah gadis yang tidak ingin merepotkan ibunya, biarkan kehidupannya susah di Jakarta, asalkan kehidupan keluarga nya bahagia. Itulah prinsip yang Rose pegang. “Tumben Rose menelfon Ibu pagi-pagi. Ndak karajo Rose tu?” (Tumben Rose menelfon Ibu pagi-pagi. Ngga kerja Rose?) Pertanyaan simpel yang mestinya bisa Rose jawab. Tapi kilasan kejadian itu membuat Rose terdiam sejenak. Jika berbohong untuk menutupi kecemasan ibunya, tentu sudah Rose lakukan. Namun, kalau berbohong untuk hal lain, ia tidak mau. “ Nak? Halo?” Rose tersadar. “ lagi indak karajo Bu. Eh Bu, beko yo Rose telfon baliak. Assalammualaikum Bu.” (Lagi tidak kerja Bu. Eh Bu, nanti ya Rose telfon kembali. Assalammualaikum Bu.) Panggilan terputus secara sepihak. Rose lebih memilih untuk tidak memberitahu alasan kenapa ia tidak bekerja kepada ibunya. Semata-mata untuk menutupi kesalahan yang ia perbuat. Mengingat itu lagi membuat Rose memiringkan badannya sambil menumpahkan cairan bening yang keluar dari matanya. Rose merasa menjadi wanita hina dimata Tuhan dan dimata ibunya. Tangan gadis itu memukul dadanya yang terasa menyayat hati. “ Apa yang telah gua perbuat! Aghhhh! Gua benci sama diri gua sendiri! Gua benci sama lo Miracle Djayakusuma! hiks, hiks…apa yang lo lakuin Rose! Apa?!!” Rose berteriak. Ini adalah hari kedua ia menyalahkan dirinya atas kejadian itu. Hatinya masih belum merasa lega jika belum menumpahkan air matanya. “ Gimana kalo lo hamil Rose!! Gimana! Apa yang akan lo bilang sama ibu! Apa yang akan lo bilang sama keluarga lo yang berada dikampung! Bodoh! Bodoh!” Gadis itu mengacak-acak rambutnya. Ia merengkuh badannya yang kecil. Kekesalan ,kesedihan, dan keputus-asaan menyatu dalam diri Rose. Rose terisak kecil, selang beberapa menit tangisnya mereda ketika mendengar ketukan pintu. Ia menghapus kasar sisa-sisa air matanya sambil merapikan penampilannya , lalu berjalan kedepan pintu untuk melihat siapa empu yang mengetuk pintu pagi-pagi ini. Rose rasa yang mengetuk pintu tidak berasal dari tetangga kost nya yang lain, karna kebanyakan anak kost disini masih kuliahan, dan pagi biasanya mereka pergi kuliah. Dibukanya ganggang pintu, ketika melihat siapa dibalik pintu, jantung Rose mencelos, Lututnya bergetar. “ Miracle.” bisiknya pelan nyaris tidak terdengar oleh- Miracle orang yang berkunjung ke kost nya. Sedangkan Miracle yang melihat penampilan Rose yang sangat acak-acakan, membuat alisnya menyerngit. “ Ada apa dengan kamu?” tanya nya simpel tapi mampu membuat lawan bicaranya terpancing emosi. Rose menahan emosinya. Ia harus berusaha agar terlihat baik-baik saja. Ya! Harus. “ Saya baik-baik saja Pak. Oh iya, ada apa gerangan bapak ke kost saya?” tanya Rose to the point. Gadis yang tingginya hanya sebatas d**a Miracle tidak ingin berbasa-basi untuk kali ini. “ saya tidak dipersilahkan masuk dulu?” “ Sebaiknya tidak perlu. Karna ini kost khusus wanita.” jawab Rose. “ hm. Baiklah. Saya hanya ingin mengantarkan surat ini untuk kamu. “ Miracle menyerahkan sebuah amplop putih tipis kepada Rose. Rose mengambilnya, tatapan mata Rose jatuh pada amplop itu. “ Ini surat apa ya Pak?” “ Kamu bisa membacanya nanti. Oh iya Rose, saya akan kembali ke kantor, untuk itu saya pamit dulu.” Belum sempat dijawab Rose, pria dengan badan kekar itu melenggang pergi dan menyisakan Rose dengan tatapan penuh pertanyaan. Rose membolak-balikkan amplop itu dengan satu tangan menutup kembali pintu. “ Surat apaan ini anjir!” celutuknya. Sebetulnya Rose sangat penasaran, sepenting apa surat ini sampai Miracle turun langsung untuk pergi mengantarnya ke kost. Urusan pekerjaan? Tidak mungkin. Kalau urusan pekerjaan, kenapa tidak utusan dari kantor saja yang mengantar nya? Berbagai pertanyaan terbesit dipikiran Rose, tapi ditahan dulu jawabannya karena gadis dengan dasternya memilih untuk mencari makan keluar. Perut nya keroncongan yang mengharuskan Rose mengisinya, agar penyakit mag Rose tidak kambuh. Jika kambuh, sudah dipastikan cuti kerjanya akan bertambah banyak dan membuat gajinya semakin banyak terpotong. Tanpa mengganti pakaian, Rose berjalan keluar dengan percaya diri. Tidak peduli tatapan-tatapan orang disekitarnya, yang terpenting Rose merasa nyaman dan merasa bodo amat disekitar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN