Jika ada yang bertanya siapa yang paling bahagia pagi hari ini? Jawabannya adalah Mia.
Sepanjang malam Mia tidak bisa tidur, semakin malam perasaan khawatirnya semakin terasa begitu nyata. Setiap detiknya terasa begitu mencekik, benar-benar menakutkan sampai ia tidak bisa memejamkan mata barang sedikitpun. Ia takut semua rencananya gagal. Hingga ia memutuskan menunggu kepulangan ayahnya dan Ilona dalam gusar di dekat jendela kamar.
Banyak pertanyaan yang bersarang dalam benaknya. Apa yang sekarang sedang terjadi pada ayahnya dan Ilona? Apakah sekarang mereka sudah berbaikan? Apakah mereka sudah berdamai? Apakah Ilona datang sendiri?
Sampai tepat jam satu malam sebuah kendaraan terdengar memasuki area parkir rumahnya. Ia mengintip dari balik jendela dengan tangan bergetar penuh ketakutan. Namun sedetik kemudian senyumannya merekah sempurna ketika melihat ayahnya dan Ilona keluar dari kendaraan yang sama. Ilona bahkan dibiarkan mengenakan jas ayahnya.
Tidak hanya itu. Malam itu ... dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bagaimana untuk pertama kalinya Edward merangkul bahu Ilona dengan posesif. Hatinya menghangat, senyumannya semakin lebar diiringi dengan setetes air mata yang mendadak meluncur dari kedua bola matanya.
Hatinya sesak, penuh kebahagiaan, senyuman di bibirnya bahkan terus merekah semakin sempurna sampai kemudian ketika ia kembali ke atas ranjang, ia langsung tertidur dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman.
Keesokan paginya, kebahagiaan itu tidak berkurang sedikitpun. Mia menarik napas panjang dengan senyuman yang masih merekah, lalu mengulum bibirnya, berusaha menahan senyuman agar tidak semakin melebar. Apalagi saat tanpa sengaja melihat Edward yang kembali merangkul Ilona saat turun bersama.
“Berkedip Mia, kamu akan kelilipan kalau menatap mereka tanpa berkedip begitu.”
Mata Mia mengerjap lalu menoleh ke arah Nate yang kini berada di sampingnya. “Nate! Ini ... langka. Ini pertama kalinya. Akhirnya aku bisa melihat Daddy seperti ini. Aku harap Daddy bahagia selamanya, selalu seperti ini.”
Nate yang sedang meneguk air minum seketika menjauhkan gelas dari bibirnya, lalu menatap Mia dengan senyuman tipis. “Tapi Mia ... kamu percaya tidak ada yang namanya kebahagiaan semu?”
“Hng?” kening Mia mengerut.
“Aku pernah menyaksikan pasangan yang tampak bahagia, dari luar mereka tampak seperti pasangan yang paling bahagia di bumi ini tapi kenyataannya mereka sedang menyembunyikan luka dibalik kebahagiaan itu, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya hanya karena tidak ingin anak mereka tahu sesuatu di antara orangtuanya.”
“Kamu ... juga pernah menemukannya Nate?”
Nate mengangguk kecil. “Kamu sendiri?”
Mia mengangguk. “Daddy, sebenarnya ... selama ini Daddy selalu menyembunyikan luka dibalik tubuh kokoh dan senyumannya. Aku selalu berpikir bahwa selama ini Daddy sangat bahagia. Tapi ... sebuah fakta baru aku dengar beberapa hari lalu, yang membuatku sadar bahwa ... Daddy terluka, lukanya bahkan belum sembuh sekalipun sudah bertahun-tahun. Kalau kamu sendiri Nate?”
“Orangtuaku.” Nate tersenyum tipis. “Aku kira keluarga kami benar-benar penuh cinta, tapi ternyata ... tidak ada cinta di antara mereka.”
“—dan aku baru tahu ini ... satu tahun lalu. Awal musim gugur tahun lalu saat keadaan di rumah mulai memburuk.”
Senyuman Mia luntur, hatinya merasa tersentuh dengan ucapan pemuda yang hanya berbeda beberapa bulan itu. Kedua tangannya terulur, memeluk Nate, membiarkan pemuda itu menyandarkan kepala di bahunya. Mengelus punggung lebar itu dengan lembut.
“Pasti berat ya Nate ... tidak apa-apa kalau kamu bersedih. Kamu punya aku ... ada Max juga. Kamu bisa bersandar pada kami dan ... kamu bisa tinggal di sini semaumu jika kembali ke rumah terasa sulit.”
Nate mengurai pelukan itu, tapi Mia tetap menggenggam tangan Nate.
“Thank you Mia.”
***
Ilona mengulum bibirnya, berusaha menahan senyuman penuh kebahagiaan yang tidak bisa ia tahan. Sejak bangun tidur ia tidak bisa berhenti tersenyum, apalagi setelah semalam yang ... begitu indah.
Tidak tidak. Mereka tidak melakukan apapun di kamar itu. Setelah mereka berdua berbicara tentang perasaan mereka, Edward kemudian membawanya duduk di sofa kamar itu lalu sisanya hanya membicarakan pekerjaan.
Sepele? Oh tentu tidak. Malam itu untuk pertama kalinya Edward memberinya banyak afeksi. IYA! Afeksi yang selama ini ia tunggu!
Dari mulai genggaman tangan, elusan ibu jari di punggung tangannya, elusan di bahu, rangkulan di pinggang lalu terkadang mencuri ciuman di kepalanya. Selama perjalanan saat kembali ke rumah pun Edward terus menggenggam tangannya, dengan sesekali menjatuhkan tangan lebar itu di atas pahanya.
Lalu pagi ini! Edward menjemputnya di kamar!!! Pria itu bahkan merangkulnya sampai mereka ke ruang makan, bahkan menarik kursi yang hendak ia duduki.
Oh tidak! Ia tidak kuat dengan semua perlakuan manis ini. Edward benar-benar gambaran pria impian yang selama ini ia idamkan. Edward ... begitu sempurna dengan semua kepekaan yang dia miliki. Edward ... benar-benar membuatnya melayang setiap saat, membuatnya salah tingkah dan berdebar setiap saat. Bahkan ... kini ... tatapan Edward padanya terasa lain.
Edward sering sekali menatapnya dengan intens, seperti ingin menelanjanginya. Tatapan intim yang ... membuat tubuhnya meremang dan perutnya tergelitik hebat.
Edward! Dia ... oh! Dia sungguh HOT DADDY yang sesungguhnya.
Sangat mendebarkan bukan?
“Ilona kenapa wajahmu merah begitu? Apa kamu sakit?” Tanya Max setelah sarapan mereka tandas.
“Hah? Tidak. aku tidak sakit. aku hanya ... .”
Malu! Edward terus menatapku.
Oh! Ini memang menyebalkan. Dulu ia memang berharap Edward bersikap manis padanya. Tapi kalau begini ... ia bisa over dosis! Ia tidak tahan.
“Hanya terlalu bahagia ya?” goda Mia.
“Hah? Mm ... .” Ilona kembali mengulum bibir, menahan senyumannya agar tidak mereka lebar.
“Sudah. Jangan menggoda Ilona. Sarapan selesai. Kalian hari ini akan pergi kemana?” ujar Edward mengalihkan pembicaraan.
“Hm ... Dad. Boleh tidak Nate tinggal di sini?” tanya Mia. “Aku rasa Nate akan lelah jika harus bolak-balik ke kantor kalau dari rumahnya yang sangat jauh itu dan kasihan juga kalau harus menyewa tempat, di daerah ini sangat mahal-mahal. Aku pikir akan lebih efisien jika Nate tinggal di sini. Benarkan Max?”
“Aku juga sudah membicarakannya semalam dengan Nate. Tapi Nate keberatan.” Max menoleh pada Nate. “Kamu sudah berubah pikiran?”
“Aku yang memaksa.” Jawab Mia. “Ya Dad ... please. Nate juga nanti bisa mengajariku statistika, Nate sangat pintar menghitung!”
Edward mengalihkan pandangan dari Mia ke arah pemuda lain di ujung tempat duduk tepat di samping Max. Edward menatapnya lamat selama beberapa saat sebelum menatap Max dan Mia kembali.
“Silahkan saja. Dad tidak akan keberatan.”
***
“Kamu benar-benar pengertian pada Max dan Mia, Ed ... aku sungguh mengagumi caramu mendidik mereka.” ujar Ilona saat mereka berdua hanya duduk berdua di ruang tengah, menghadap televisi. Sementara anak-anak sedang keluar, berbelanja keperluan Nate katanya.
“Aku tidak tahu, aku hanya berusaha lebih terbuka. Lagipula Nate tidak seperti anak yang akan membawa pengaruh buruk bukan?”
Ilona mengangguk setuju, lalu menyandarkan kepala di d**a Edward ketika pria itu menarik tubuhnya mendekat. Sementara kedua tangannya yang lain memainkan jemari kanan Edward yang terasa begitu kokoh saat ia genggam, juga terlihat sangat tampan dengan urat yang menyembul di sana.
“Sekarang kamu tidak risih padaku Ed?” Tanya Ilona saat Edward lagi-lagi mencuri satu ciuman di puncak kepalanya.
“Kau risih?”
“Hmm ... Tidak? Aku justru nyaman.”
Tidak ada respons dari Edward, mereka kini hanya diam menyaksikan film yang dulu sempat tanpa sengaja mereka tonton—tapi kali ini mereka benar-benar menontonya dari awal—dengan kedua tangan Edward masih mengelus pundak dan punggung tangannya.
“Kamu benar-benar menyukai sentuhan ya Ed.”
“Hm? Siapa bilang?”
“Mia.”
“Keberatan?”
Ilona menggeleng kecil. “Kalau aku tidak risih berarti aku tidak keberatan.”
“Baguslah.”
“Tapi Ed ... boleh tidak aku meminta sesuatu.”
“Apa?”
Ilona membenarkan posisi duduknya, menatap ke arah Edward dengan perasaan gugup yang mulai menguasai perasaannya.
“Ada apa? Kenapa wajahmu aneh begitu?”
“Aku ingin ciuman.”
Kening Edward mengerut sebentar lalu memberikan Ilona ciuman di kening.
Beberapa detik Ilona mematung menerima ciuman itu, tapi kemudian matanya mengerjap. “Bukan ... bukan di kening. Tapi bibir. Aku ingin ciuman pertamaku.”
Ilona mengatupkan bibirnya lalu menunduk, menghindari tatapan Edward. “Dengarkan dulu ... jangan dulu marah. Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi aku hanya berusaha untuk berkata jujur. Tidak sekarang tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin mengatakannya saja.”
“Yakin hanya ingin mengatakannya saja?”
“Hah?” Mata Ilona mengerjap lagi, kali ini mendongak menatap Edward tepat di iris matanya lalu mengangguk ragu.
“Kenapa?”
“Aku tidak akan memaksamu.”
“Maksudku kenapa kamu ingin aku menjadi ciuman pertamamu?”
“Karena ... kamu cinta pertamaku Ed. Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk mencintai lelaki lain sekalipun mereka tampan, kaya bahkan baik padaku. Karena sejak hari itu ... saat kita bertemu. Aku sudah jatuh cinta padamu.”
“Tanpa peduli aku sudah punya Mia?”
Ilona mengangguk tegas.
“Kamu benar-benar gila Ilona, bagaimana jika ternyata aku pria beristri?”
“Aku ... tidak pernah berpikir sampai ke sana. Aku hanya mengagumimu, aku mencintaimu dan ... sudah itu saja. Aku bahkan tidak pernah bermimpi akan bertemu denganmu seperti ini.”
“Kamu tidak meminta Mr. Hazard untuk tinggal bersamaku?”
Ilona menggeleng ribut. “Aku bahkan tidak tahu kamu bekerja sama dengan ayahku. Aku pikir aku akan dititipkan di temannya yang sudah tua dan ... kolot.”
“Aku juga sudah tua.”
“Ish! Tapi kamu tidak kolot.”
Edward terkekeh kecil lalu mengusak kepala Ilona sesaat. “Lalu bagaimana perasaanmu saat tahu aku tidak punya istri?”
Ilona tersenyum lebar. “Apa lagi? Tentu saja aku berpikir untuk mendapatkanmu. Apapun caranya.”
Edward menarik ujung bibirnya, kemudian tanpa di duga dengan gerakan cepat Edward meraih pinggang Ilona, membuat tubuh mungilnya terhentak jatuh di atas pangkuan pria itu. Secara naluri Ilona mengulurkan tangan, menahan tubuhnya agar tidak terlalu rapat dengan Edward.
Napas Ilona tertahan saat melihat pemandangan indah di hadapannya itu, mata Edward terlihat sangat tampan di tambah dengan suasana cerah yang berada di ruangan itu.
Perlahan Edward menarik kedua tanganya, mengalung di leher kokoh itu. “I’m not a good kisser Ilona. Kamu akan kecewa.”
“But ... I’ll try.”
Sekujur tubuh Ilona meremang saat bibir penuh pria itu menyentuh permukaan bibirnya. Menciumnya begitu dalam sesaat sebelum menari perlahan, menyecap bibirnya secara bergantian lalu melumatnya. Ilona tidak tinggal diam, ia pun membalas ciuman itu, membiarkan sensasi aneh dalam tubuhnya semakin berkuasa, semakin menyenangkan dan adrenalin dalam dirinya semakin berpacu.
Sapuan lidah ia rasakan, tanpa banyak berpikir Ilona membuka celah bibirnya dan benar saja lidah itu menerobos masuk, mengobrak-abrik mulutnya, mengabsen satu pesatu giginya sampai saliva mereka tercampur dan meleleh. Suara kecipakan bibir itu pun terasa semakin erotis. Sampai kemudian Edward menarik kepala, memutus ciuman mereka. Kemudian dengan lembut menyeka bibirnya menggunakan ibu jari dengan gerakan yang sangat sensual.
Kelopak mata Ilona perlahan terbuka, menatap Edward yang masih menatap bibirnya.
“Your lips ... .”
“—so sweet.”
***
Sementara itu di pusat perbelanjaan, Max, Mia dan Nate terus saja memasuki satu persatu toko, berbelanja tanpa ingat waktu dan tanpa peduli nominal. Sampai ponsel Nate berdering lalu memutuskan untuk pergi, meninggalkan Max dan Mia untuk menjawab panggilan tersebut.
“Hallo ... Ma.”
“Nate ... kamu benar-benar sudah tinggal di rumah Edward?”
“Hm, ya ... mulai hari ini aku resmi tinggal di sana Ma.”
Hembusan napas terdengar begitu panjang. “Keadaan sudah semakin buruk. Lakukanlah dengan cepat dan ... hati-hati Nate. Mama percaya kamu bisa melakukannya.”
***
Bersambung ...