Part 23 : Fakta Mencengangkan

1708 Kata
  Telinga Ilona berdenging, matanya tertutup, kepalanya menggeleng kecil berusaha menyangkal semua yang ia dengar. Bagaimana bisa Edward yang tampak begitu sempurna ternyata gay? Penyuka sesama jenis?   Apakah dunia sedang bercanda?   “Ilona ... kau mendengarkanku?”   “Tidak. Tidak. kau pasti berbohong Miranda. Kau mengatakan itu agar aku mundurkan? Agar aku menyerah untuk bersama Edward?”   Miranda menghela napas pelan. “Tidak, justru sebaliknya.”   “Apa maksudmu?”   “Edward sudah berusaha berubah demi memenuhi keinginan Max dan Mia, jadi aku ingin kalian kembali sama-sama berjuang.”   “Menurutku Edward sebenarnya bukan sepenuhnya gay, karena dia tidak pernah mencintai lelaki sembarangan. Hanya saja kekasih pertamanya adalah laki-laki, dan lagi Edward juga mencintai laki-laki bukan karena benci pada perempuan, dia hanya belum pernah mencoba berhubungan dengan perempuan mana pun setelah kekasihnya pergi. Jadi aku pikir ... sebenarnya Edward hanya masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang belum selesai.”   “Hampir lima tahun Edward menjalin kasih dengan lelaki itu, sampai kemudian kekasihnya itu pergi begitu saja meninggalkan Edward dengan alasan hubungan mereka tidak akan berhasil.” Miranda tersenyum kecut. “Padahal jika sudah tahu sejak awal tidak akan berhasil, kenapa dia meminta Edward menjadi kekasihnya?”   Miranda menghela napas sejenak. “Setelah itu Edward terpuruk, apalagi sejak Mrs. Dalbert mulai membahas pewaris, penerus bisnis keluarga. Edward mulai dijodohkan ke sana kemari, tapi pada akhirnya tetap gagal karena Edward merasa tidak bisa berhubungan dengan perempuan.”   “Stop! Tunggu.” Ujar Ilona. Kepalanya mendadak pening, saat serbuan informasi baru mulai masuk ke dalam kepalanya.  “Tunggu Miranda.”   Miranda menghentikam ucapannya, beberapa saat kemudian ia bangkit.   “Tunggu.” Ilona mendongak menatap Miranda.   “Lalu ... bagaimana caranya kau hamil anak Edward kalau Edward tidak bisa berhubungan dengan perempuan? Maksudku ... untuk mendapatkan anak kalian pasti harus.”   “Apapun bisa dilakukan selama kita mempunyai banyak uang Ilona.”   Ilona menatap Miranda penuh antisipasi. “Inseminasi. Aku melakukan proses inseminasi untuk mendapatkan Max dan Mia.”   ***   Ilona masih belum bisa mendengarkan penjelasan apapun lagi terkait Edward. Kepalanya terasa begitu penuh hanya dengan beberapa cerita saja. Ia tidak sanggup lagi untuk mendengar penjelasan Miranda, sekalipun hatinya ingin dan rasa ingin tahunya yang begitu tinggi.   Ilona menghembuskan napas perlahan seraya menatap langit gelap dari balik jendela mobil. “Sejak kapan kau mengenal Edward?”   “Sekitar dua puluh tahun lalu.”   “Kau kenal dekat dengan mantan kekasih Edward?”   “Tidak. Aku hanya tahu dan pernah sesekali berbicara dengannya.”   “Dimana dia sekarang?”   “Tidak ada yang tahu keberadaannya sejak sembilan belas tahun lalu.”   Ilona menoleh pada Miranda. Menatap dalam perempuan itu. “Dia menghilang?”   “Sudah kukatakan dia pergi. Bahkan orang-orang Edward tidak ada yang berhasil menemukannya.”   Hening kembali menyelimuti kendaraan itu. Miranda sendiri tidak membuka suara karena Ilona sudah meminta Miranda untuk diam dan hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan saja.   Ilona masih belum bisa, jika menerima serbuan informasi yang terlalu banyak secara bersamaan.   “Apa kau pernah berpikir mencintai Edward?”   “Tidak.”   “Aku melihat kalian berciuman kemarin.”   “Edward yang meminta.”   “Edward?”   Miranda mengangguk. “Jika aku pernah berpikir untuk mencintai Edward, aku tidak akan pernah menolak lamarannya Ilona. Berpikirlah lebih rasional.”   “Apa karena dia gay?”   “Bukan.” Jawab Miranda. “Sejak awal aku sudah tahu dia gay dan aku bisa bertahan di sisi Edward karena itu.”   “Apa Edward belum pernah menceritakan tentangku sebelumnya?”   Ilona menggeleng ragu. “Aku pernah menjadi korban pelecehan seksual. Orangtuaku terlilit hutang, dengan tega mereka menjualku pada mucikari dan ... ya ... kejadian itu terjadi, tapi beruntung ... aku bertemu Edward dan kekasihnya, mereka kemudian menolongku, lalu mau menampungku, Edward bahkan membantuku lepas dari mucikari itu. Edward membayar mereka sampai satu juta dollar agar tidak mengejarku lagi.”   Mata Ilona membulat. “Satu juta dollar?”   Miranda mengangguk kecil. “Sejak itu dan sampai saat ini aku berpikir untuk tidak mencintai lelaki mana pun, aku pun sudah bertekad akan mengabdikan hidupku untuk Edward.” Miranda menoleh menatapnya setelah kendaraan mereka sampai di pekarangan. “Tapi bukan sebagai seorang istri.”   “Karena itu pula aku rela mengandung anak Edward. Dia sudah menolong hidupku, tentu saja aku harus memberikan balasan yang setimpal.” Miranda tersenyum tipis.   “Lalu kenapa kau pergi dari rumah?”   Miranda menghembuskan napas sesaat. “Edward yang melepaskanku.”   “Tapi Miranda, bukankah kalau Edward melamarmu itu berarti dia ingin membuka hati untukmu?”   Miranda menggeleng pelan lalu tersenyum lagi. “Itu ... aku tidak bisa menjawabnya. Karena perasaan Edward hanya milik Edward sendiri, yang jelas aku tidak bisa.”   “Lalu apa alasanmu menolak lamaran Edward?”   “Sebab sejak bertemu dengannya aku sudah menganggapnya bahwa, Edward adalah pahlawanku dan aku tidak ingin mengubah status itu menjadi yang lain, aku menghargainya dan sangat menghormatinya. Aku sungguh tidak tahu malu jika menjadi pasangannya.”   “Terkadang aku pun berpikir kalau ... sebenarnya tidak ada peluang untukku.”   “Kalau begitu kenapa kau mengatakan aku calon istrinya jika aku saja tidak memiliki peluang? Aku juga perempuan!”   “Kau punya Ilona, kau punya. Saat ini ... kau satu-satunya perempuan yang bisa menerobos masuk ke dalam hidup Edward. Memang akan sulit, tapi aku yakin Edward akan berubah. Meskipun dengan alasan demi Max dan Mia, tapi aku sangat yakin perlahan dia akan mulai mencintaimu. Kau akan menjadi perempuan pertama yang Edward cintai. Atau mungkin ... kau sudah berhasil membuatnya jatuh cinta?”   “Kalau dia mencintaiku, kenapa Edward memintamu untuk ciuman?   Miranda terkekeh kecil. “Tanyakan saja alasannya pada Edward. Coba berbicara dengan Edward lagi. aku yakin dia tidak akan benar-benar marah padamu lagi.”   “Sudah ... ayo. Kita keluar, kau akan mendapatkan cerita lebih banyak dari sisi Edward. Oh ya ... satu lagi.”   Ilona kembali berbalik ke arah Miranda. “Apa?”   “Berhati-hatilah pada Nate. Dia seperti sedang mencari kesempatan untuk mendekati Edward.”   ***   Di mansion keluarga Dalbert, Edward dan anak-anak sudah berkumpul di meja makan, menikmati santap malam bersama.   “Daddy tidak ingin bertanya kemana istri-istri Daddy pergi?” tanya Max tajam. “Sudah untung ada dua perempuan yang peduli. Masih saja begitu.”   Mendengar sindiran tajam itu Edward menatap Max, yang masih saja memendam dendam padanya. “Mama kalian pamit untuk menjemput perempuan kesayangan kalian itu.”   Max mendesis. “Kenapa tadi tidak di ajak pulang bersama?”   “Max ... jangan mulai. Diam, habiskan makananmu.”   Meja makan kembali sunyi sampai makanan dari masing-masing piring mereka tandas. Max pamitan lebih dulu, masih marah pada sang Daddy, Mia pun sama. Hanya tersisa Edward dan Nate yang masih duduk di tempatnya.   Edward mengamati Nate yang tampak gugup. Sejak mereka bertemu lagi sore ini, pemuda itu tampak begitu aneh. Seperti sedang banyak yang dipikirkan.   “Apakah ada yang mengganggu pikiranmu Nate?”   “Sedikit.”   “Apa?”   “Hm ... ini dan itu.” Nate tampak membasahi bibirnya sesaat.   “Ada yang membuatmu tidak nyaman?”   “Sedikit.”   “Katakan.”   Nate kembali bergumam kecil. “Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan pada anda Mr. Dalbert. Apakah saya bisa meminta waktu anda sebentar?”   “Boleh, sebelum itu bantu aku bawakan salad dan jus. Anak-anak itu pasti akan terus merajuk jika tidak di beri makanan manis. Kita bicara di ruang tengah.”   “Mr. Dalbert ... jika bisa ... saya ingin berbicara berdua saja.”   Edward menaikan satu alis, heran. “Berdua?”   Nate mengangguk.   “Baiklah.”   ***   “Kalian terlambat makan malam.” Keluh Mia begitu Ilona dan Miranda memasuki rumah.   Miranda terkekeh kecil. “Tuh salahkan Mommy-mu. Dia sangat sibuk di kantor sampai Mama harus menyeretnya keluar.”   Mata Ilona mengerjap, terkejut dengan panggilan Mommy yang tiba-tiba itu.   “Siapa Mommy? Tidak ada Mommy di sini.”   Miranda mendesis keras saat mendengar suara Edward muncul dari arah dapur, bersama Nate. Mental Ilona menciut kembali, gelyar penuh bunga dalam dadanya pun kembali layu.   “Tidak usah denial terus Edward. Kamu bilang ciuman kita kemarin tidak ada rasanya, berbeda dengan ciuman dengan Ilona. Dasar pria tua tinggi gengsi.”   Wajah Ilona memanas begitu mendengar kalimat itu, bersamaan dengan desiran dalam dadanya yang mulai kembali merayap, kembali membangkitkan bunga yang layu.   Apakah ini yang dimaksud Miranda dengan memiliki peluang?   “DAD!!! Daddy berciuman dengan Ilona?!” Seru Max. “Daddy benar-benar mencium Ilona?”   Miranda menyeringai, perempuan itu tersenyum penuh kemenangan. “Kamu ... tidak bisa berbohong lagi Edward.”   Edward mendengus kecil. “Kau memang paling tidak bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia Mira. Malam ini, tidur di kamar lain. Jangan ke kamarku.”   “Memang siapa kemarin yang memaksaku tidur di kamarmu?”   “Aku akan kembali bekerja.” Edward membelokan langkahnya ke arah lift.   “Biasanya orang yang mengalihkan pembicaraan itu tandanya sedang salah tingkah.” Goda Miranda lagi. “Malu ... anakmu sudah tujuh belas tahun Daddy.”   Max dan Mia terkikih geli mendengar perdebatan orangtuanya itu, perdebatan kecil yang memang sudah biasa terjadi jika bertemu dan ... mereka pun tidak pernah mempermasalahkannya. Toh perdebatan seperti itu bukan masalah yang besar.   Sementara di sisi lain Ilona mengamati pergerakan Nate, dari mulai menyajikan satu mangkuk sedang salad, dan tiga gelas jus, setelah itu Nate duduk lalu mulai membaca buku. Anak laki-laki itu tidaklah mencurigakan di matanya, ah atau mungkin karena ia tidak pernah tahu tentang seseorang yang menyukai sesama jenis?   Tapi sungguh ... Nate terlihat seperti anak baik pada umumnya.   “Oh ya Nate. Ke ruang kerjaku saja kalau ingin bicara.” Ujar Edward sebelum lift tertutup.   Ilona terkesiap, ia dan Miranda pun dengan cepat saling berpandangan, saling melemparkan tatapan.   “Baik Mr. Dalbert, saya akan menyusul anda.” Nate tersenyum tipis seraya meletakkan buku di tangannya.   “Kalau begitu aku—.”   “Biar aku temani.” Ujar Mia cepat.   “Aku juga ikut.” seru Max.   “Ayo, kita ngobrol di ruang kerja Daddy.” Lanjut Max kemudian menarik Mia dan Nate menggunakan kedua tangannya.   Miranda dan Ilona menghembuskan napas bersamaan. Lega setidaknya mereka tidak hanya berbicara berdua saja.   “Mira ... aku jadi berpikir negatif pada Nate.”   “Tidak masalah, agar kau selalu waspada. Oh ya ... malam ini aku tidur di kamarmu ya? Aku berharap kita tidak canggung lagi. Aku harap kita bisa berteman.”   ***    Bersambung ...    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN