"Va, gue dengar dari Lena lo setuju buat ikut pelayanan sosial di Kampung Nelayan minggu depan. Apa lo serius?" Halley yang kebetulan menghabiskan makan siang hari ini bersama Diva, tiba-tiba bertanya. Meski Halley menyebut ini makan siang, Diva bilang kalau ini makan siang yang sangat terlambat karena mereka bersantap pada pukul 16.00.
Diva yang awalnya sibuk dengan hape-nya segera memusatkan perhatiannya pada Halley ketika mendengar pertanyaan temannya itu. "Iya, gue ditawarin sama Rico yang kebetulan ketemu sama gue saat dia nganterin proposal kesini pagi tadi." Jawab Diva menjelaskan pada Halley soal dia yang akan mengikuti pelayanan sosial di Kampung Nelayan minggu depan.
Berbicara soal pelayanan sosial itu, sebenarnya Diva kurang tau apa yang akan dilakukannya disana. Diva setuju untuk mengikuti kegiatan itu, hanya karena Rico, salah satu teman Diva sewaktu kuliah, memaksanya ikut. Dengan beralasankan kalau disana anak-anaknya banyak membutuhkan bantuan, Rico memaksa kehadiran Diva. Jadilah Diva akhirnya setuju untuk mengikuti kegiatan itu karena dia tau kalau seorang Rico itu paling pantang kalau ditolak. Laki-laki itu akan mengganggu sampai akhirnya orang yang dimintanya setuju untuk mengikuti maunya.
"Wah, enak dong lo Va. Disana bakal banyak cowok gantengnya tau Va." Kata Halley dengan cengiran super lebar yang terlihat sedang menggoda Diva.
Sedangkan Diva, dia tidak mengerti kenapa Halley harus menunjukkan wajah seolah menggodanya hanya karena cowok kece yang dia bilang itu. Hingga akhirnya, Diva memunculkan kernyitan tidak mengerti dikeningnya sebagai balasan godaan Halley.
"Ya ampun Va! Jangan bilang lo nggak tau kalau Rico kerja di C&C." Halley berkata sambil menekankan kata diakhir kalimatnya pada Diva yang langsung disambut Diva dengan gelengan kepala
"Memangnya, C&C itu apa?" Tanya Diva masih dengan kernyitan dikeningnya.
Halley mendengus sebal. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu benar-benar tidak tau soal C&C. "Makanya, lo jangan bergaul ama kembar lo doang. Sampe-sampe lo nggak tau C&C itu salah satu law firm terbesar dan terbaik di Jakarta." Tandas Halley keki.
Diva terkekeh kecil karena muka keki Halley. Diva sadar dan bisa terima dengan kritikan Halley karena memang tidak hanya Halley yang mengatakan hal itu kepadanya. Banyak teman-teman Diva yang pernah mengkritik pergaulan Diva dan kembarnya, menurut mereka pergaulan.
Diva selalu berputar disitu-situ saja. Dan Diva tidak akan memungkirinya karena dunia pertemanan Diva memang tidak jauh-jauh dari kedua saudara kembarnya. Meski begitu, Diva tidak pernah berpikir untuk merenggangkan kedekatannya dengan kedua kembarannya karena bagaimanapun, Diva sadar kalau Deva dan Divo akan selalu menjadi bagian dari hidupnya.
"Kalau lo nggak kenal C&C, jangan bilang lo nggak kenal juga sama Athaya." Kata Halley mencoba menebak soal pengetahuan Diva.
Dan lagi-lagi Diva menggeleng dengan dugaan Halley.
Melihat gelengan Diva, membuat Halley semakin gemas. Menurutnya Diva seperti katak dalam tempurung. Dia sangat kurang dalam pengetahuan soal dunia sosial yang seharusnya dia tau. Saking gemasnya, Halley merasa tidak bisa menjelaskan lagi pada Diva dengan menggunakan kata-kata. Membuat Halley memutuskan untuk menggunakan hape-nya untuk menjelaskannya pada Diva.
"Ini yang namanya Athaya. Lo pasti pernah lihatkan orangnya." Kata Halley pada Diva setelah menunjukkan layar hape-nya pada Diva, setelah mengetikkan nama Athaya C&C pada kolom pencarian g**gle di hape-nya. Untuk sesaat, Diva mengamati gambar yang ditunjukkan oleh Halley itu. Untuk sekilas Diva merasa familiar dengan wajah itu, tapi dia yakin dia tidak mengenal laki-laki dilayar hp Halley. Dari gambar itu, tidak bisa Diva pungkiri oleh kalau sosok itu memang tampan dan berkharisma, seperti pujian Halley tadi.
Dari wajah dan senyumnya, Diva bisa menebak kalau sosok itu adalah sosok yang ramah namun tidak terbaca. Dan menurut Diva itu memang sangat wajar, mengingat Athaya adalah seorang pengacara. Lalu sebuah ingatan membuat Diva tersenyum, lalu dia menjawab Halley, "Iya gue pernah lihat dia di TV. Diakan salah satu pengacara muda yang katanya handal itukan. Dari yang gue dengar juga, dia bakal jadi saingan Hotli Peres Hutapea." Jawab Diva akhirnya yang mampu membuat Halley bernapas lega.
"Iya, dia orangnya." Balas Halley yang kini sudah memasukkan kembali hape-nya ke saku jas putihnya. "Katanya, dia juga bakal di pelayanan sosial yang akan lo ikutin di Kampung Nelayan itu." Dengan bersemangat Halley menjelaskan itu pada Diva.
Kembali kening Diva mengernyit tidak mengerti. "Kenapa pengacara seterkenal itu mau ikutan pelayanan sosial. Terus lo tau darimana kalau Athaya Athaya itu bakal ikut acara ini?"
Halley melebarkan senyumnya, lalu memberikan jawabannya. "Gue nggak tau apa alasan Athaya ikut. Tapi soal Athaya yang ikut pelayanan sosial yang bakalan lo ikutin, gue taunya dari Kian karena dia juga bakal ikut serta diacara itu."
"Lo beruntung banget sih Va, bakal ketemu cowok cakep lagi. Pertama suami lo, dokter Nathan. Lalu sekarang Athaya, si pengacara." Kata Halley dengan wajah mupeng khas miliknya.
Kerutan di kening Diva semakin dalam karena dia tidak mengerti dengan ocehan Halley yang menurutnya sedang menghubung-hubungkannya dengan Athaya. Menurutnya itu sangat aneh karena Diva sendiri tidak mengenal sosok Athaya itu. Lalu apa itu tadi, suami? Nathan? Diva rasa teman-temannya itu sangat bebal karena kemarin Diva sudah menjelaskan kalau diantara dia dan Nathan tidak ada apa-apa. Diva selalu memberikan jawaban yang sama, seperti pada Catherin, pada siapapun yang menanyakan hubungan dia dan Nathan. Jadi bagimana ceritanya teman-temannya itu malah menyimpulkan Nathan sebagai suaminya dari jawaban itu?
"Hall, gue dan dokter Nath..."
"Suami lo lagi berjalan menuju kemari Va. Gue balik dulu ya." Tidak membiarkan Diva menyelesaikan pembicaraannya Halley sudah terlebih dahulu melesat meninggalkan Diva yang kini terlihat terdiam bodoh ditempatnya. Dia bingung harus melakukan apa setelah Halley meninggalkannya saat Nathan berjalan mendekat kearahnya.
Terdengar lucu memang, sudah hampir satu tahun lebih, sejak Diva bertemu kembali Nathan dan sudah hampir selama itu pula dia dan Nathan menjadi partner s*x. Tetapi semua waktu dan kedekatan itu tidak membuat Diva sudah bisa menerima akan keberadaan Nathan didekatnya. Keberadaan Nathan bahkan seperti menjadi pengingat kepadanya kalau dia telah banyak memberikan luka pada orang itu.
"Sudah siap?" Tanya Nathan yang sudah berdiri di samping Diva dengan jas putih yang sudah berada digenggaman tangannya.
Diva mengangguk, lalu tersenyum kecil.
"Kalau begitu, ayo." Kata Nathan kemudian mengambil tanga Diva, lalu menggenggamnya.
Senyum Diva mengembang seketika, jantungnyapun ikut berdetak menikmati kehangatan dan kebahagiaan dari genggaman yang diberikan oleh Nathan kepadanya. Namun kehangatan dan kebahagiaan itu hanya sesaat saja karena kemudian, Diva disadarkan kalau mungkin hanya dialah yang merasa seperti ini. Merasakan perasaan suka dan cinta yang teramat sangat pada Nathan. Senyum Diva berubah menjadi sendu. Tidak hanya itu, tatapan Divapun ikut berubah sendu saat menatap sosok yang menggenggam tangannya itu dari belakang.
"Tell me Nath, have I ever been in your hearth?"
Diva pikir, dia akan berani bertanya seperti itu pada Nathan. Ternyata dia hanya berani menanyakan hal itu di dalam hatinya. Mungkin karena otak dan hati Diva sangat mengenal dia, hingga mereka bekerja sama untuk memastikan pertanyaan itu hanya terucap di dalam hati Diva saja. Kedua bagian dalam tubuh Diva itu mungkin belum siap jika harus rusak lagi setelah mendengar jawaban Nathan.
***
"Aku akan memasak drumstick dan membuat salad untuk makan malam. Apakah kamu mau?" Tanya Diva pada Nathan ketika keduanya sudah berada di dalam mobil Nathan dan kini tengah berjalan menuju apartemen Nathan.
Nathan menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas kini sedang berubah merah. Kemudian dia menolehkan tatapannya pada Diva sebelum menjawab pertanyaan Diva itu, "Tapi aku ingin makan tempe malam ini."
Untuk sesaat, Diva mematung. "Tempe? Ditemani dengan ca kangkung?" Tanya Diva dengan pelan dan tidak yakin.
Nathan tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan Diva. Melihat anggukan itu, membuat Diva tersenyum kecil hingga membuatnya tanpa sadar telah mengangguk kepalanya dengan kuat menunjukkan betapa setujunya dia. Dan lagi-lagi Diva mematung, tapi kali ini dengan alasan yang berbeda. Alasan Diva mematung kali ini adalah senyum tipis yang membentuk indah di wajah Nathan. Senyum yang sangat dirindukan oleh Diva selama ini. Senyum yang dulu menjadi petunjuk bagi Diva kalau dia memang jatuh cinta pada sosok didepannya ini.
***