Chapter 71

2485 Kata
Zara lagi - lagi mencoba untuk membut Raka mengingat apa yang di lakukan dan dikatakannya semua saat di Villa Cindy.  “Kamu bener - bener nggak ingat Raka? Semua yang kamu lakukan kamu nggak ingat?” Tanya Zara dengan menekankan nada bicaranya.  “Ah saya benar - benar nggak ingat Zara.. bisa kamu kasih tau aja apa yang saya lakukan semua saat di Villa Cindy? Apa saya melakukan hal yang memalukan atau gimana Zara?” Tanya Raka yang sangat penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi.  “Ehmm.. yess kamu minum, mabuk, nggak sadarkan diri, dan muntah. Udah itu aja.” Jawab Zara dengan nada yang datar.  “Kok seperti itu sih jawabnya? Apa saya melakukan kesalahan terhadap kamu? Kalau ada tolong kamu sampaikan Zara, karena saya bersumpah kalau saya benar - benar nggak mengingat hal - hal lainnya sampai saya mabuk.” Ujar Raka.  “Nggak ada kok Raka, udah tenang aja.. kalau adapun kamu harus mengingatnya sendiri. Dan semoga kamu ingat deh.” Ucap Zara lalu berdiri dari sofa.  Zara berniat untuk kembali ke kamarnya karena Raka sudah sadarkan diri.  “Ehh ehh kamu mau kemana?” Tanya Raka sambil menarik tangan Zara.  “Ya mau balik ke kamar aku lah, masa aku tidur di sini sama kamu.” Zara menjawab pertanyaan Raka dengan sangat jutek.  “Tunggu dulu dong.. saya udah pesan makan, kamu makan dulu sama saya.” Kata Raka. “Hah? Tapi kan?” Seru Zara. Ting tong ting tong. (Suara bell berbunyi)  “Tuuhh.. makanannya udah datang.” Kata Raka lalu berdiri dari tempat tidurnya dan membukakan pintu untuk pelayan hotel yang membawakan pesanan makanannya.  “Haaaaaahh.” Zara menghela nafasnya.  “Kenapa sih? Kalau ada yang mau kamu omongin bilang dong Zar.. jangan kayak gitu, karena saya nggak tau apa kesalahan saya. Kamu makan dulu yah sama saya. Kasihan makanannya udah di pesan juga, terus nggak ada yang makan kalau kamu nggak mau.” Kata Raka.  “Nggak ada kok, aku cuma ngantuk aja. Capek.” Jawab Zara.  “Iyaa maaf yahh.. maaf kalau kamu kerepotan krena saya tadi sampai kamu ketiduran di sini.” Kata Raka sambil menyiapkan makanan dan kursi untuk Zara.  “Ehh nggak kok.. nggak apa - apa, namanya juga sekertaris harus ngebantuin atasannya kan. Dan harus ada di samping atasannya ketika atasannya nggak sadarkan diri, mabuk karena minuman beralkohol.” Kata Zara sambil mengejek Raka.  “Haha.. iyaa maaf yahh.. maaf banget. Saya juga nggak tau sampai saya bisa nggak sadarkan diri karena mabuk. Maaf dan terima kasih banyak kamu sudah bawa saya kesini dengan selamat.” Kata Raka.  “Sini duduk dulu.. kita makan.” Sambung Raka.  Zara kemudian mengikuti Raka untuk makan dulu bersamanya di dalam kamar Raka.  “Jangan terima kasih sama aku, terima kasih sama Andika. Karena Andika yang menggotong kamu sampai masuk ke kamar kamu dengan selamat. Untuk aja kamu sama Andika sahabatan kalau nggak kata Andika dia udah ngebuang kamu di jalan.” Kata Zara sambil menikmati makanannya dengan perlahan.  “Iya beneran Andika ngomong kayak gitu? Awas aja besok saya jitak tuh anak.” Tanya Raka sambil tertawa.  “Ihh dasar.. udah di tolongin malah ngomong kayak gitu, Andika tuh udah capek - capek ngegotong kamu sampai sini. Dan juga Putra dia ngebantuin Andika untuk angkat kamu tau.” Kata Zara lagi. “Iya - iyaa.. besok saya minta maaf dan berterima kasih sama Andika dan juga Putra.” Kata Raka.  “Putra? Emang pasti kita bakalan ketemu lagi sama Putra? Makanya kalau nggak kuat minum nggak usah minum - minuman yang beralkohol kayak gitu. Nyusahin orang aja.” Ujar Zara sambil membunyikan pisau yang sedang dia pegang.  “Uhh santai aja dong.. kok kayak saya yang mau di cincang - cincang sih. Iyaa saya kan cuma mau nyoba gimana rasanya, saya nggak tau bisa sampai mabuk kayak gitu. Saya juga biasanya nggak minum yang seperti itu, mungkin tadi alkoholnya terlalu banyak, makanya sampai nggak sadar kayak gitu.” Jelas Raka lalu berdiri dan mengambil dua botol air mineral di dalam kulkas kecil untuk Zara.  Zara sangat senang bisa makan bersama lagi dengan Raka, meskipun Zara masih kesal karena Raka tidak mengingat apa yang sudah di katakannya saat di Villa Cindy. Zara sangat ingin memastikan apakah Raka benar - benar menyukainya atau tidak.  “Makasih.” Zara mengambil satu air mineral yang sudah di ambilkan oleh Raka.  “Terus gimana tadi? Saya sempat muntah juga? Aduh saya malu banget, saya nggak ngerepotin banyak orangkan pas saya muntah?” Tanya Raka.  “Apanya yang nggak.. kamu harus kasih bonus tuh buat Andika, dia pasrah banget pas kamu muntahin. Untung bukan di aku kamu muntahnya, kalau di aku, uuhh aku udah marah - marah sama kamu saat itu juga dan aku pasti udah maksain kamu untuk sadar dengan cara mukul - mukulin kamu sampai kamu sadar.” Kata Zara.  “Ih haha jahat banget.. sampai segitunya.. tapi nggak yahh, kamu kan orang baik, kamu juga udah nungguin saya di sini. Sampai terharu saya.” Kata Raka menggoda Zara. “Hahah apaan sihh..” seru Zara.  “Terus tadi gimana ceritanya saya udah tiba - tiba nggak sadarkan diri? Saya cuma seperti pingsan kan? Atau seperti orang - orang mabuk yang kayak di film - film?” Tanya Raka lagi.  “Dua - duanya.. tadi tuh kita lagi asyikcerita - cerita, terus kamu tiba - tiba pingsan, kamu menjatuhkan wajah kamu tau ke meja, dan kita semua kaget dang langsung menertawai kamu.” Jawab Zara.  “Hah? Pantesan aja kepala saya bagian sini sakit banget, habis kebentur ternyata.” Kata Raka sambil memegagi dahinya yang sedikit merah.  “Oh iyaa merah tuh dahi kamu.” Seru Zara dengan mendekatkan wajahnya ke depan wajah Raka.  “Iya nih lumayan sakit sih.” Raka langsung menarik pandangannya dari wajah Zara ke cermin yang tepat ada di depannya. Raka tidak kuat menatap wajah Zara sedekat itu.  “Ehh tapi tadi kamu bilang saya di ketawain yah? Kenapa saya di ketawain?” Tanya Raka berbalik kembali ke Zara.  “Iyalahh.. gimana nggak di ketawain kalau kamu mabuk kayak gitu, sampai pingsan segala. Semua yang minum nggak ada loh yang pingsan kayak kamu. Terus kamu juga ngomong seseuatu yang membuat orang - orang tertawa.” Jawab Zara.  “Hah? Apaan Zar? Saya ngomong apa sampai orang - orang ketawain saya?” Tanya Raka.  “Kamu ingat saja sendiri. Aku juga sudah lupa kamu mengatakan apa.” Jawab Zara sambil meminum air mineralnya lagi.  Karena pengaruh alkohol, Raka benar - benar tidak bisa mengingat semua yang telah ia lakukan dan katakan saat mabuk, Raka sudah berusaha mengingatnya, tapi hal yang Raka ingat hanya sampai dirinya meminum satu botol minuman beralkohol tersebut.  “Ah sudahlah.. aku kan udah makan. Aku balik ke kamar aku yah. Udah ngantuk buaaangettt.” Ujar Zara lalu berdiri dari kursinya.  “Ihh mau kemana? Di sini aja.. kemarin kan saya nemenin kamu, sekarang waktunya kamu nemenin saya juga.” Seru Raka kembali menarik tangan Zara.  “Wah wah wahh.. kayaknya kamu masih mabuk dehh Raka.. kok jadi tambah banyak sih ngomongnya, minta yang nggak biasanya sifat kamu lagi. Ckckck aku keluar deh, bahaya sekamar sama orang mabuk.” Ujar Zara menarik tangannya dari tangan Raka.  “Ihh hahah .. sembarangan. Nggak kok, saya udah nggak mabuk. Kamu di sini yahh, pleasee.. rasanya kepala saya masih pusing banget. Saya nggak akan macam - macam kok, tolong yah Zara.” Kata Raka.  “Hmm.. maksa banget nih? Mau banget di tolongin?” Kata Zara dengan senyuman tipis di wajahnya.  “Iyaa.. please yahh Zaraa.” Jawab Raka yang juga memberikan senyuman manis di wajahnya dengan matanya yang berbinar - binar. “Ihh apaan sih.. nggak mau aku.. tidur sendiri aja. Aku mau packing, kita kan udah harus balik besok.” Kata Zara sambil bertolak pinggang.  “Pleeaaaseeeee.. yahh yahh di sini aja. Saya sebenarnya nggak enak badan Zara, saya butuh seseorang di samping saya kalau saya lagi nggak enak badan.” Ujar Raka. Raka kembali memegang tangan Zara dan terus memohon kepada Zara, meskipun yang ia katakan hanyalah alasan agar Zara tetap berada di kamarnya.  “Hahah iyaa - iyaa.. tapi aku yang tidur di tempat tidur yahh. Kamu yang di sofa.” Ujar Zara.  “Siap Mba Zaraaa !!!” Seru Raka lalu memberi hormat ke Zara.  “Dasar. Awas yah kalau kamu masih mabuk, dan berbuat aneh - aneh sama aku.” Ucap Zara lagi.  “Ya Ampun.. kok berfikiran negatif sih, saya bukan orang yang seperti itu. Teganya kamu mempunyai fikiran seperti itu terhadap saya.” Ucap Raka.  “Kan aku hanya berjaga - jaga , siapa tau aja kamu masih mabuk. Kan bahaya.” Seru Zara.  “Iyaa kamu tenang aja.. saya bukan orang yang rendahan seperti itu.” Kata Raka.  “Baiklahh !! Saya ke kamar kecil dulu deh. Mau cuci muka, untung pouch make up aku ada pencuci muka aku di dalamnya. Kalau nggak, aku benar - bebar tepaksa harus kembali ke kamarku.” Kata Zara sembari mengambil pouch makeupnya yang ada di dalam tas besarnya.  “Berarti kamu emang di takdirkan untuk temani saya dulu di sini.” Ucap Raka sambil tertawa kecil.  “Yeeee itu sih maunya kamu. Dasaarr !!!” Seru Zara lalu berjalan ke kamar mandi.  Brrraaaaaaakkkkkk (suara pintu kamar mandi)  “Upsss hahahah sorry nggak sengaja !!!!” Teriak Zara dari dalam kamar mandi.  “Its okeyyyy !!! Santai ajaa.” Balas Raka.  Raka kemudian membereskan mejanya dari piring - piring bekas makanannya bersama Zara. Setelah mejanya bersih, Raka lalu membaringkan dirinya ke sofa. Dan tiba - tiba Raka merasa kalau kepalanya sangat pusing.  “Aduuhhh. Kenapa pusing lagi sih?” Gumam Raka pada dirinya sendiri.  “Ehh tunggu - tunggu.. sepertinyaaa—- ah gue ingat apa yang gue katakan tadi pas di Villa Cindy, oh Tuhan.. aaaaahhh ini sangat memalukan. Aduuhh bagaimana gue bisa menatap Zara kalau seperti ini? Hah? Pantas saja Zara nggak mau ngasih tau ke gue apa yang gue bilang.” Gumam Raka kembali.  “Kenapa sih gue seceroboh ituuu ??!!! Aaaaaahhh” Raka tiba - tiba tidak sadar kalau ada Zara. Ia berteriak dan kebetulan saat Raka berteriak Zara sudah selesai mencuci wajahnya dan mematikan keran air.  “RAKAAA ??? Kamu kenapa?” Teriak Zara dari dalam kamar mandi.  “Ya ampun.. kan ada Zara.. kenapa Lo berteriak sih Rakaaaa !!! Gue nggak boleh kasih tau ke Zara kalau gue sudah mengingat semuanya.” Gumam Raka.  “Nggak apa - apa Zaraaa !!! Saya nggak sengaja menggigit lidah saya.” Jawab Raka.  Raka berbohong karena tidak ingin kalau Zara sudah tau bahwa Raka sudah mengingat apa yang terjadi di Villa Cindy.  Zara keluar dari kamar mandi sambil memegang handuk putih kecil di tangannya.  “Apa? Kamu kenapa?” Tanya Zara lagi. Karena tidak terlau mendengar apa yang di katakan Raka tadi.  “Nggak.. tadi saya nggak sengaja menggigit lidah saya, makanya berteriak.” Jawab Raka.  “Hah? Aku kira kenapa. Kok bisa kamu menggigit lidah kamu sendiri? Kan kamu nggak lagi makan?” Tanya Zara sambil bercermin.  “Ah? Makan kok, tadi ada permen yang saya gigit - gigit.” Jawab Raka dengan terbata - bata.  “Hmm.. ya udah.” Kata Zara yang masih asyik memakai skincare rutinnya untuk di malam hari.  Raka masih tidak sanggup menatap Zara karena samgat malu akan semua hal yang sudah ia katakan ke Zara.  “Ehmm.. Zara itu apa yang kamu pakai?” Tanya Raka mencoba membuka pertanyaan agar suasananya tidak hening.  “Ini?” Zara mengangkat satu botol kecil yang ada di tangannya.  “Iyaa.. semuanya..”  “Ini toner untuk membersihkan wajah aku lagi. Dan yang lainnya ini printilan - printilannya, ini untuk mencerahkan wajah aku juga, membantu menjaga keseimbangan kulit aku. Dan yang kecil ini  untuk membuat bibir aku nggak pecah - pecah, nggak kering. Untuk melembabkan gitu.” Jelas Zara.  “Wahh ribet juga yahh.. banyak banget yang kamu pakai tiap malam. Ckckckk.” Seru Raka lalu memperbaiki posisi tidurnya sambil memperhatikan Zara yang sibuk dengan wajahnya.  “Iyalahh.. ini tuh biar kulit kita makin sehat , terjaga dari penuaan. Emang kamu nggak pakai yang kayak gini? Kan banyak juga untuk cowok produk - produk yang kegunaannya kayak gini.” Tanya Zara sembari meletakkan semua peralatannya kembali ke pouch make upnya.  “Nggak.. ribet banget.. kan wajah saya baik - baik aja dan yang penting sih nggak lupa cuci muka aja.” Jawab Raka.  “Hmm.. iyaa deh.. emang kalau orang tampan sih nggak mikirin yang seperti ini yah? Udah ganteng dari sononya.” Kata Zara.  “Apa Zara? Saya tampan kamu bilang? Saya nggak salah dengarkan Zara?” Tanya Raka dengan penuh semangat.  “Hahahh.. kok jadi semangat gitu sih. Iyaa tadi aku bilang kamu tampan, kamu ganteng, kamu cakep, dan kamu sangat berkharisma. Puaasss??” Jelas Zara lalu membaringkan dirinya ke kasur empuk yang seharusnya tempat tidur Raka.  “Terus apa kamu suka sama semua yang kamu bilang barusan?” Tanya Raka.  “Hah? Maksudnya?” Tanya Zara kembali.  “Ahh nggak.. hahah.. nggak apa - apa .. saya hanya ngomong sembarangan. Sepertinya saya sudah ngantuk.” Jawab Raka yang kembali memberi alasan ke Zara.  “Yaudah tidur sanaaa !!! Kalau kamu tidur, aku balik ke kamar aku aja.” Kata Zara.  “Lohh kenapa kayak gitu?” Tanya Raka.  “Iyaalah.. ngapain aku di sini kalau kamu udah tidur, lebih baik kan aku di kamar aku sendiri. Karena kayaknya ini udah lewat jam tidur aku lagi, sepertinya aku tidak bisa tidur lagi.” Jelas Zara.  “Ooohhh.. tenang aja, saya nggak akan tidur duluan sebelum kamu tidur. Apa kamu mau nonton film?” Tanya Raka.  “Emang ada film jam segini yang bagus yang di tayangkan lagi? Nanti kayak kemarin, nggak ada satupun yang menarik.” Kata Zara sambil menarik selimut untuk menutupi setengah badannya.  “Yahh di cari dulu kan, siapa tau aja ada.” Jawab Raka.  “Hmm.. terserah kamu aja.” Kata Zara lalu mengambil ponselnya yang ada di meja kecil di samping tempat tidur.  Raka berdiri sambil mencari remot televisi, tapi tidak berhasil iya dapatkan.  “Zara kayaknya remot tvnya ada di situ deh.” Kata Raka berjalan mendekati tempat tidur.  “Ohh.. tunggu aku cari.” Zara mengangkat selimutnya dan mencari remot tv sampai ke sudut - sudut tempat tidur tapi tidak berhasil juga ia dapatkan.  “Aduh dimana yah? Kok tiba - tiba nggak ada sih.” Kata Raka.  “Remote tv emang kayak gitu, kalau udah di cari pasti bakalan hilang dan sebentar lagi pasti akan muncul sendiri.” Kata Zara sambil tertawa kecil.  Zara turun dari tempat tidur dan tidak sengaja menginjak kaki Raka dan akhirnya Zara dan Raka terjatuh bersama ke lantai. Posisi Zara tepat berada di samping Raka dan kepala Zara berada di atas lengan Raka. Zara berbalik ke arah Raka yang jaraknya sangat dekat dengan wajahnya. Zara dan Raka saling menatap dan di sertai dengan detak jantung mereka yang berdegup kencang.  ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN