Chapter 68

1309 Kata
Raka memang tidak pernah berpacaran lagi semenjak kehidupannya berubah, Raka tidak pernah memikirkan untuk berpacaran. Banyak perempuan yang sudah menyatakan perasaannya kepada Raka, tetapi semuanya di tolak oleh Raka. Saat itu Raka belum berani mengambil keputusan untuk membuka hatinya untuk memiliki seseorang, karena Raka takut kalau saja orang yang ia cintai akan pergi meninggalkannya seorang diri lagi. “Iyakan hahah.. mana mungkin Raka punya nyali seperti itu, ngomong sama orang aja jarang, apalagi mau berbuat hal seperti itu.” Kata Andika lagi.  “Terserah kalian deh mau ngomong apa, gue nggak peduli sama omongan kalian. Ngapain juga gue harus ngebuktiin ke kalian kelakuan jelek seperti itu. Denger yahh, kita ini orang - orang yang berpendidikan, sama seperti yang Cindy bilang tadi. Hanya orang - orang yang nggak berpendidikanlah yang melakukan hal serendah itu. Di luar sana banyak banget orang - orang yang terus melakukan hal menjijikkan seperti itu, dan yang di rugikan siapa? Para wanita yang sudah di iming - imingi janji manis akhirnya di tinggal juga.” Jelas Raka.  “Bercanda yahh gue.. sorry kalau Lo merasa nggak enak.” Kata Andika.  “Iyaa Raka.. gue juga minta maaf yahh.. kenapa omongan kita malah semakin ngelantur sih. Kayaknya karena minuman ini deh.” Kata Cindy.  “Iya nih kayaknya kita udah mabuk. Hahaha.” Seru Andika. “Hahah masa baru segitu aja udah mabuk sih kalian. Ini masih banyak tau, di habisin nihh.. gue beli banyak masa kalian cuma minum satu satu botol sih.” Kata Putra sambil membuka kantongan belanja dan mengeluarkan bebera botol minuman lagi.  Brrruuuuuukkkkkk   Tiba - tiba terdengar suara benturan di meja.  Dan itu adalah suara Raka yang tidak sengaja menjatuhkan badannya ke pinggir meja karena sudah mabuk. “Rakaaa !!! Hei kenapa kamu ?” Seru Zara yang berada di samping Raka.  “Heii Rakaa !!! Lo kenapa? Udah mabuk?” Tanya Andika sambil menggoyangkan badan Raka. “Wahh kayaknya dia udah mabuk deh. Dia udah minum berapa botol?” Tanya Putra.  “Dia baru minum satu botol kok.” Jawab Zara.  “Hahahah.. Raka Raka.. Lo mau minum tapi ternyata Lo nggak kuat minum hahaha.. ada - ada aja Lo.” Seru Bianca.  “Iya nih Raka.. mungkin dia baru kali ini yah minum banyak kayak gini. Mungkin biasanya dia minum cuma satu gelas, bukan satu botol.” Ujar Putra sambil membereskan botol milik Raka  “Yahh gimana dong ini Andika? Kita kan mau balik ke hotel, masa dia nggak sadarkan diri kayak gini.” tanya Zara sambil memegangi Raka.  “Udah nggak apa - apa, kan ada gue. Tenang aja, biar gue yang gotong dia ntar.” Kata Putra.   “Iyaa tenang aja Zara.. supir gue kan masih mengantar kalian sampainke hotel.” Kata Cindy.  “Ohh kamu nggak ikut anterin kita?” Tanya Zara.  “Nggak.. gue nunggu di sini aja kayaknya. Karena kepala gue juga kayaknya udah mulai pusing. Gue mau istirahat di sini aja.” Jawab Cindy.  “Terus kita gimana Andika? Kita balik sekarang aja yuk, mumpung masih belum terlalu malam.” Kata Zara.  Wajahnya di selimuti rasa kekhawatiran akan Raka yang sudah tidak sadarkan diri karena mabuk.  “Oh iya yaudah, kita balik aja ke hotel. Gue juga udah capek banget kayaknya.” Jawab Andika sambil melihat jam yang ada di ponselnya.  “Tenang aja Zara.. Raka cuma mabuk kok, ntar dia juga sadar sendiri atau paling nggak besok baru dia sadar. Dan kalau sadar dia cuma pusing kok, nggak usah khawatir yang berlebihan. Calm down sister.” Kata Bianca.  “Iya Zaraa.. tenang aja, semua baik - baik aja.” Kata Cindy juga.  Cindy sudah membaringkan badannya di salah satu sofa yang berukuran besar. Karena Cindy juga sudah mulai pusing karena terlalu banyak minuman yang ia minum.  “Gini nihh kalau orang yang nggak terbiasa minum, tapi pengen nyoba - nyoba juga. Sempongoyan kan.” Ujar Putra.  “Dia emang nggak kuat minum, segelas aja dia udah modar. Mungkin karena ada Zara makanya dia mau pamer, tapi pamernya sampai kayak gini. Tumbang hahahah.” Kata Andika.  “Andikaa ishh apaan sih. Sahabat kamu juga tuh, ayo angkat dia, bantu berdiri. Kayak dia sadar kok, iya kan Raka? Kamu bisa denger aku kan?” Tanya Zara sambil menepuk - nepuk pelan pipi Raka.  “Zaraaa ??? Kamu Zara kann?? Ngapain kamu ada di sini Zara? Heheee kamu cantik sekali Zara.” Ucap Raka terbata - bata sambil memegang lembut pipi Zara. Raka sesekali mengangkat kepalanya yang ia sandarkan di meja.  “Heiii.. ihhh udah gila yahh.. ayo bangun.” Seru Zara.  “Hahahah lucu banget sih kalau mabuk, aura juteknya udah nggak kelihatan lagi. Parah hahah.” Seru Cindy.  “Husshh pacar gue nih.” Kata Zara melirik Cindy.  “Hahaha iyaaa.. duh duh duhhhh.. siapa juga yang bilang Raka pacar gue, gue cuma bilang dia lucu, sikapnya yang lucu sampai memuji - muji pacarnya sendiri.” Balas Cindy. “Kamu cemburu yah Zara? Kamu beneran suka banget yah sama saya? Iya yah Zara?” Raka menyahut lagi sambil sempoyongan dan akhirnya terjatuh di pangkuan Zara.  “Aduhh ngomong apaan sih kamu. Bangun dehhh, ayoo sadarr.. Andika ambilin gue air putih deh. Tolong yahh.” Kata Zara sambil menepuk lagi pipi Raka.  “Untung kamu nggak pernah gitu yah Beiibb kalau lagi mabuk, kalau mabuk mahh masih bisa ngontrol ucapan kamu, dan nggak pernah nyusahin kalau mau pulang pas habis minum.” Kata Bianca.  “Iyaa hahah.. ngeliat orang mabuk hanya dengan satu botol minuman ternyata seperti ini yahh. Dan ternyata Ada yahh orang mabuk kayak gini, kayak habis minum lima botol hahaha.” Kata Putra.  “Wahh gimana kalau lima botol yah dia minum, tadi gue kira dia nggak akan seperti ini. Makanya gue izinin dia buat minum, kalau tau akan seperti ini pasti gue nggak akan ngijinin dia minum.” Kata Zara.  “Nggak apa - apalah Zar.. jangan melarang - larang pacar Lo, jangan terlalu di kekang, nanti kabur, Lo sendiri yang menyesal.” Kata Bianca.  “Apaan sih.. Raka bukan pacar gue kok.. uhh gini yah rasanya pacaran.. ehh nggak rasanya pura - pura pacaran hahah.” Batin Zara sambil memperhatikan wajah Raka yang sedang berbaring di pangkuannya.  “Makasih yahh sarannya Bianca.. kayaknya gue harus belajar banyak dari Lo, Lo kan udah bertahun tahun pacaran sama Putra.” Ujar Zara.  “Nihh Zara minumnya.” Andika memberi satu gelas air mineral untuk Raka.  “Raka bangun dulu yuk.. minum air putih dulu, biar kamu sadar.. heii heii heiii.” Zara kembali menepuk - nepuk pipi Raka dan menggoyang - goyangkan wajah Raka ke kiri dan ke kanan.  Raka tetap saja tidak sadarkan diri, ia masih bergumam tanpa tahu apa yang ia katakan di pangkuan Zara.  “Zara.. saya.. saya.. benar - benar sangat menyukaimu, ntah kapan ini di mulai tapi semuanya berjalan dengan apa adanya sampai saya terus memikirkanmu. Maaf atas sikap saya  dulu, yang sangat kasar terhadapmu. Zara saya menyukaimu.” Ucap Raka dalam keadaannya yang belum sadarkan diri.  Andika menatap Zara sambil tersenyum.  “Zara biasanya orang kalau mabuk omongannya adalah omongan yang sangat sangat jujur, yang dari dalam lubuk hatinya, yang tidak bisa ia ungkapkan secara langsung.” Kata Andika.  Zara tidak bisa menahan senyumannya karena sangat senang mendengar apa yang baru saja di katakan Raka.  “Tunggu deh.. emangnya pas kalian pacaran Raka nggak pernah ngomong kayak gitu yah? Kok Raka seperti baru mengutarakan perasaannya sih.” Kata Cindy lalu bangun dari sofanya.  “Ahh.. nggak kok.. pas Raka nembak gue dia pernah ngomong kayak gitu juga, tapi nggak secara langsung sih, di telepon doang.” Jawab Zara. Zara mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Cindy.  Cindy masih curiga dengan Zara dan Raka yang berpura - pura berpacaran hanya untuk membuat Bianca percaya kalau Zara sudah punya kekasih juga. Karena Zara tidak mau terlihat menyedihkan di depan Bianca yang selalu mamerkan Putra di depannya. ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN