Chapter 66

1152 Kata
"Yakinkan masih mau ikut bareng kita? Lo nggak badmood sama gue?" Tanya Raka ke Bianca.  "Kalau badmood sih iya.. tapi gue udah biasa kok, gue kan tetap mau jalan - jalan. Daripada gue bete di rumah, dan berduaan terus sama Putra, lebih baik gue jalan - jalan aja sama kalian." Jawab Bianca.  "Maafin gue yah Bianca, kalau tadi ada kata - kata gue yang buat Lo tersinggung dan marah." Kata Zara.  "Hmm.. gue juga minta maaf sama Lo. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat buat gue minta maaf sama Lo Zara. Dulu gue sama sekali nggak pernah minta maaf sama Lo, sampai - sampai gue punya muka tebel terus - terusan menggandeng Putra di depan muka Lo." Kata Bianca dengan senyuman yang ia lemparkan ke Zara.  "Udah ahh.. capek gue dengerin kata minta maaf, kata nggak apa - apa. Bosen tau nggak gue !!!" Seru Cindy berdiri sambil memakai kacamatanya dan pergi dari meja mereka.  "Gue juga bosen !!! Tungguin gue Cin !!!" Teriak Andika. “Iihh apa sih Lo !!! Jangan deket - deket sama gue.” Seru Cindy yang suaranya masih terdengar dari dalam.  “Zara maaf yahh kalau saya sudah lancang menanyakan soal masa lalu kamu sama Bianca dan Putra, maaf bangeeeett.” Kata Raka sambil membawa beberapa belanjaan Zara.  “Ehmm.. emangnya kenapa kamu nanyain ke Bianca dan juga Putra? Kan bisa nanya ke aku langsung.” Kata Zara.  “Biar saya bisa mendengar dan mengetahui apa alasan dari kedua belah pihak, kamu sama Putra berpisah, dan apa alasan Bianca merebut Putra dari kamu. Toh kamu sendiri juga nggak tau kan alasannya, kamu juga baru tau sekarang. Pas Bianca menjelaskan semuanya.” Jawab Raka.  “Yaa iya sihh.. tapi kalau kamu udah tau alasannya kamu mau apa? Nggak ada gunanya juga buat kamu. Aneh banget sih kamu.” Kata Zara.  “Adalahh.”  “Apaan coba? Apa manfaatnya buat kamu?” Tanya Zara sebelum masuk ke dalam mobil Cindy.  “Biar saya nggak membuat kesalahan yang di lakukan Putra dulu.” Jawab Raka dengan suaranya agak pelan.  “Apa Raka? Aku nggak denger kamu ngomong apa.” Kata Zara.  “Haallloooo !!! Kalian berdua nggak mau masuk? Ayo cepetan panas tauuu !!!”  Tiba - tiba Cindy berteriak memanggil Zara dan juga Raka. Zara langsung masuk ke dalam mobil, tanpa menanyakan lagi apa yang baru saja di katakan Raka.  “Hufttt hampir aja.” Gumam Raka.  “Rakaaa ayo cepetan masuk !!!” Teriak Andika.  “Iya - iya.”  Raka segera masuk ke dalam mobil Cindy menahan senyumannya.  “Kita mau kemana Cin?” Tanya Andika.  “Udahh tenang aja. Gue bawa kalian ke tempat paling indah yang ada di bali.”  Cindy membawa Raka, Zara dan Andika ke sebuah Pantai yang dimana Cindy mempunyai sebuah Villa yang sangat besar milik keluarganya.  Di tengah perjalanan, Bianca dan Putra menghubungi Cindy untuk menanyakan tujuan Cindy, karena Bianca dan Putra tidak tahu kemana Cindy pergi. Mereka hanya mengikuti mobil Cindy dari belakang.  Sesampainya di Villa, Cindy mengajak Raka, Zara dna Andika untuk berkeliling melihat pemandangan di sekitar Villa. Villa yang sangat besar dan terlihat sangat mewah yang terletak di pinggir laut.  “Gilaaa !!! Ini Villa Lo Cin? Ini sih keren banget, pakee banget malahh.” Seru Andika yang berdiri di atas balkon sambil memandangi laut  yang sangat Indah di sore hari.  “Nggak usah lebay Lo !! Lo juga pasti sering ngeliatkan Villa seperti ini. Nggak usah selalu merendah deh. Kessel gue jadinya.” Jawab Cindy.  “Hahaha.. Lo kenapa sih.. dari tadi marah - marah melulu.” Seru Andika.  “Ehmm.. tapi kenapa Lo ajak kita kesini Cin? Kita mau ngapain di sini?” Tanya Raka.  “Yahh refreshing aja Raka, kenapa sih Lo serius banget. Nggak usah serius - serius amat deh. Udah bagus gue ajakin ke sini, nggak gue ajakin ke tempat dugem. Tau kan kalau di sini banyak tempat dugem, mau gue ajak ke sana?” Kata Cindy cengengesan. “Yahh nggak gitu juga Cin.. tapi Lo anterin kita ke hotel lagi kan?” Tanya Raka.  “Iyaalaahh.. masa gue nyuruh kalian balik sendiri sih. By the way Bianca sama Putra kemana yah? Kok belum datang sih. Tadi kan mereka tepat di belakang kita.” Tanya Cindy.  “Kayaknya mereka singgah di mini market deh tadi.” Jawab Andika yang masih asyik melihat pantai.  “Oalahh.. eh kalian kalau mau minum atau makan ke dapur aja yahh.. gue udah nyuruh bibi gue yang ada di sini untuk menjamu kalian hanya untuk beberapa jam.” Kata Cindy.  “Makasih Mba Cindy.. mba Cindy sampai repot - repot kayak gini hanya buat kami.” Kata Zara.  “Ini lagi.. Mba.. Mba.. jangan panggil gue mba lagi deh, geli banget gue dengernya.. panggil Cindy aja, nggak apa - apa. Sekarang kita udah temenan, nggak usah sungkan lagi. Dan satu hal lagi, gue nggak ngelakuin ini karena kemauan gue sendiri tapi ada juga dorongan dari bokap gue yang katanya harus menjamu kalian dengan baik.” Kata Cindy sambil membuka kulkas yang berukuran besar yang memiliki dua pintu.  “Hahah.. iya deh Cindyy.. terserah Lo, ini mau kemauan Lo atau bokap Lo yang penting kita berterima kasih banget sama Lo. Iya nggak Zar?” Ujar Andika lalu menyusul Zara ke dapur.  “Iyaa.. Cindy.. makasih banyak yahhh.” Kata Zara.  Pembantu rumah tangga yang di pekerjakan Cindy di Villa itu menjamu Zara, Raka dan Andika dengan sangat baik, mengeluarkan beberapa minuman dingin, cemilan dan makanan khas bali. Tidak lama kemudian Bianca dan Putra datang.  “Taddaaaaaaa !!!! Lihat nih apa yang kita berdua bawa.” Teriak Bianca sambil mengangkat kantong belanja yang ada di tangannya.  “Apaan coba? Nggak kelihatan tau.” Seru Cindy.  Bianca mengeluarkan satu botol minuman beralkohol dari dalam kantong belanjaan yang di pegangnya.  “Tenang - tenang.. ini kita berdua beli buat yang mau aja. Kalau nggak mau juga nggak apa - apa.” Kata Putra karena takut Raka akan marah lagi.  “Hahah.. sini - sini.. bagi gue satu dong.” Kata Cindy sambil menjulurkan tangannya.  “Bagi gue juga dong.” Kata Andika.  Raka menatap Zara yang kebetulan Zara juga menatap Raka. Mata mereka berdua bertemu.  “Kenapa Raka? Kamu juga mau? Kenapa ngeliatin Zara doang? Kalau mau bertanya sama Zara yah nanya aja, nggak usah pakai natap - natap gitu kalau emang mau juga.” Tanya Cindy.  “Ahh? Apaan sih.”  “Kamu mau Raka? Minum aja? Kenapa pakai minta izin ke aku?” Tanya Zara.  “Ya kan Lo pacarnya, jadi dia izinlah sama Lo. Masa iya sebagai pacar nggak izin dulu sama Lo kalau mau minum minuman kayak gini sih.” Ujar Cindy sambil meneguk minuman tersebut ke mulutnya.  “Atau jangan - jangan kalian nggak pacaran lagi ???” Seru Bianca.  Zara dan Raka seketika tidak bisa menjawab ucapan yang di lontarkan Bianca. Mereka berdua kembali saling menatap dan saling menunggu siapa yang akan menjawab pertanyaan Bianca.  ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN