Gedung Menara “Dragon Empire”
“Lihatlah, perempuan itu ingin bertemu denganmu, ketua”, kata seseorang. “biarkan dia masuk”, jawabnya.
Jane disambut beberapa pengawal berbadan tegap berseragam seperti paspampres di halaman depan lobby gedung megah berlantai tiga puluh itu. Jane dibawa ke lantai atas, naik lift, melewati sebuah selasar dengan lantai keramik dan ruang luas. Sebagian ruang di situ terlihat sekilas oleh Jane digunakan sebagai tempat kegiatan menimbang dan menakar barang mirip kokain atau narkoba. Tapi entahlah. Di sebagian ruang lain, sambil lalu Jane melihat, beberapa orang tengah merapikan bertumpuk- tumpuk uang kertas terbungkus plastik rapih. Tempat apa ini? Entahlah.
Jane akhirnya menjumpai lelaki pemimpin rombongan itu, setelah melewati beberapa lapis penjagaan yang ketat. Di sebuah ruang mewah, lelaki pemimpin kelompok itu menyambut Jane. Dia duduk di balik meja kerja yang besar. Jane datang dengan membawa kotak berisi abu jenazah ayahnya, meletakkan di meja dan menyodorkan foto dari kamera pengawas CCTV di apartemennya.
“Ini adalah bukti foto pembunuh ayahku. Tolong bantu mencari pembunuh itu”, kata Jane singkat. “Katamu dia adalah teman dan saudaramu yang paling kau percaya”.
“Lantas kalau sudah kutemukan?”, tanya orang itu.
“Aku akan membunuhnya sendiri”, jawab Jane.
“Kau akan membunuhnya? Bagaimana caramu” tanya lelaki itu tak percaya. “Kau tahu tidak seperti apa rasanya membunuh seseorang? “.
Lalu orang itu mengambil sebilah pisau tajam dari laci mejanya, “sekarang tusuk aku”. Jane terkejut. Orang itu menyodorkan pisau itu ke arah Jane.
“Anggap saja aku pembunuh ayahmu, tusuklah aku. Tusuk… Tusuk!”, kata lelaki itu lagi setengah berteriak. Suaranya menggema di ruangan besar itu.
“Jika engkau ingin mencari siapa pembunuh ayahmu, bunuhlah aku. Bunuhlah seseorang lebih dulu. Sekarang bunuhlah aku”. Wajah lelaki itu tampak garang dan serius.
Jane ketakutan. Dia memegang pisau itu dengan gemetar dan tak melakukan apa apa. Nyali Jane menciut sekaligus takut, seperti sebuah balon yang kempes, atau mengkeret seperti dedaun bunga puteri malu yang baru tersentuh oleh tangan.
Akhirnya pisau itu diambil lagi oleh lelaki itu dan ditancapkan di atas meja besar di samping kotak abu jenazah ayah Jane. Lalu dia menghampiri Jane. Dia menampar Jane dengan keras. Diess.! Jane tersungkur.
“Gibon, bawa dia keluar”, katanya pada seorang pria pengawal di situ. Gibon si pengawal itu mencoba menghampiri Jane. Tetapi Jane bangun lebih dulu. Lalu Jane pergi dari ruang itu membawa kembali kotak berisi abu jenazah dan kertas foto. Dia semakin sedih, takut, marah dan kecewa. Tak ada yang bisa diharapkan dari tempat ini, batinnya.
Apartemen Pelican Park View
Jane pulang dan membuat selebaran “dicari saksi mata”, bahwa barang siapa tahu siapa pembunuh ayahnya dia akan memberi hadiah sejumlah uang jutaan rupiah. Selebaran itu ada puluhan lembar jumlahnya, dia sebar ke pelosok penjuru kota metropolitan. Termasuk selebaran itu juga dia tempel di pintu sebuah Café Kopi Sepuh di metropolitan selatan dekat Stasiun KRL, dengan seijin petugas Cafe.
Pada malam hari menjelang Jane hendak meringkuk tidur karena letih dan mengantuk, mendadak dia dikejutkan oleh suara pintu apartemen digedor-gedor oleh seseorang. Dari balik pintu melalui lubang kaca pengintai Jane dengan ketakutan melihat bahwa orang bertudung kepala hitam mirip pembunuh ayahnya berada berdiri persis di luar pintu.
Wajah orang itu sekilas tampak mengintai lubang pintu Jane. Maka pada saat bersamaan dengan jelas Jane bisa melihat wajah dibalik tudung kepala hitam itu. Dia seorang lelaki berperawakan sedang. Wajahnya tirus berkacamata bening. Mendadak Jane merasa tercekam. Tenggorokannya terasa kering. Apa dia pembunuh ayahku? Karena pintu tidak dibuka, lalu lelaki itu pergi begitu saja.
Jane tertegun. Apa dia pembunuh ayahku? Mengapa dia berani muncul kembali? Dia berpikir keras. Tubuhnya masih meringkuk di sudut dekat sofa karena dicekam oleh rasa takut yang tanpa alasan. Tetapi lalu sedikit demi sedikit muncul keberaniannya. Jika dia pembunuh ayahku, mengapa kubiarkan saja dia pergi? Jika dia bukan pembunuhnya, setidaknya dia kan bisa jadi sebuah petunjuk! Bodohnya diriku. Begitu pikir Jane.
Sedetik kemudian, dia memutuskan untuk membuka pintu dan mengejar lelaki tadi. Pintu dibuka. Jane berlari mengejar keluar. Di luar hujan mengguyur, Jane berlari terus di tengah hujan, dengan susah payah mengejar, hampir terpeleset karena jalanan licin. Tetapi lelaki tadi telah masuk kedalam mobil. Mobil itu pergi, Jane mengejar sia-sia. Rinai air hujan menghapus air matanya yang meleleh diam-diam. Jane berteriak kesal dan kecewa.
***
Tak lama suara telepon berdering. Dengan ragu Jane mengangkat telepon.
“Aku tahu si berengsek ini. bawalah uangmu, akan kami tunjukkan siapa pembunuh ayahmu”, kata suara lelaki di ujung telepon. Lelaki itu juga memberi tahu dimana tempat untuk saling bertemu.
“Jangan sampai aku menunggumu terlalu lama, sebab aku ada kesibukan lain”, kata lelaki itu. Dia menutup telepon.
Jane mengambil amplop tebal berisi sejumlah uang dalam laci. Juga sebuah pisau lipat. Dengan berpakaian jaket bertudung dan memakai masker, Jane pergi menemui lelaki yang meneleponnya.
Ternyata pertemuan terjadi di sebuah gang kumuh dan tempat sepi di daerah kota. Disana telah berdiri empat lelaki yang kondisi mereka setengah mabuk. Bau miras menyengat terbawa oleh angin.
“Hei. Tepat waktu rupanya engkau. Ada uangnya?”.
“Akan kuserahkan uangku, jika kau tunjukkan siapa pembunuh ayahku”, kata Jane.
Seorang dari mereka mendekati Jane.
“Nama si berengsek itu terdiri dua kata. Aweh Pati. Dia malaikat maut Pemberi Kematian yang akan membunuhmu”, kata orang itu sekenanya sambil terkekeh- kekeh. Bau miras begitu menyengat keluar dari mulut orang itu. Jane merasa ada yang tak beres dengan orang itu. Belum sempat Jane berpikir lebih lanjut, tiba-tiba seseorang dari arah belakang merampas amplop uang Jane. Mereka mengeroyok Jane dari segala penjuru.
Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Terjadi perkelahian tak seimbang. Jane dikeroyok empat lelaki setengah mabuk. Jane melawan membabi buta. Karena sebuah tendangan keras kearah wajahnya, Jane terkapar. Pandangan matanya mengabur, lalu gelap segelap gelapnya. Jane Pingsan.
Dia diculik dan dimasukkan ke dalam jok belakang mobil. Tangannya terikat. Saat sadar, dia berusaha melepas ikatan tangannya dengan pisau lipat. Dari dalam jok mobil itu, Jane mendengar suara mobil menubruk sesuatu. Lalu terdengar keributan. Jane terus berusaha melepas ikatan.
Tiba tiba pintu bagasi jok terbuka. Di sana berdiri sosok lelaki berdasi berwajah dingin. Dia bos Gangster teman ayahnya. Orang itu menolong Jane melepas ikatan, memakai pisau lipat Jane.
Jane ketakutan karena melihat di luar mobil tampak tubuh para pengeroyoknya tadi telah bergelimpangan di jalan. Rupanya lelaki teman ayahnya ini dan beberapa orang pengawalnya di situ, telah melumpuhkan mereka. Lelaki ini telah menyelamatkan Jane dari ancaman kematian di jalan.
Sebelum mengantar Jane pulang, lelaki itu membawa Jane ke suatu tempat sepi di tepi sebuah dermaga. Di situ hanya mereka berdua untuk beberapa saat.
Lelaki itu berkata: “Ada banyak cara lebih baik untuk mati. Tetapi bukan dengan cara mati sia-sia di jalan begitu”.
“Ini bukan urusanmu”, jawab Jane ketus. “Apa kau sudah menangkap pembunuh ayahku? Sepertinya belum kan”, pungkas jane.
“Diamlah saja dulu. Jangan berulah. Jika kau tidak ingin mati di jalanan”, kata lelaki itu dingin. Suaranya datar. Dia memandang ke laut, sambil mengisap cerutu. Asap yang putih perlahan mengepul dari mulutnya, lalu memudar bersama hembusan angin di situ.
“Bagaimana aku bisa diam saja. Polisi tidak melakukan investigasi, dan kau tidak melakukan apapun!”, jawab Jane. “Bagaimana aku bisa hidup seperti tidak terjadi sesuatu…! padahal ayahku mati gara-gara aku?” teriak Jane dalam suara seperti orang menangis. Jane kecewa.
Lelaki itu diam saja, tak bereaksi. Dia menghisap cerutunya dalam-dalam. Asap putih segera mengepul dari mulutnya, bergerak melambat, tetapi segera hilang tersaput oleh angin.
“Kau tetap ingin balas dendam? Meski kau tahu akibatnya?”, tanya lelaki itu kemudian.
“Aku akan melakukan apapun”, jawab Jane.
“Jika engkau benar-benar ingin mencari dan membunuhnya, engkau harus belajar bagaimana cara membunuh seseorang”, tegas suara lelaki itu.
“Aku akan melakukan apapun”, kata Jane sekali lagi. Nadanya setengah berteriak.
Pusat Pelatihan Koretans
Lalu Jane dibawa oleh teman ayahnya yang bos Gangster itu ke sebuah tempat mirip mess asrama di tepi Pelabuhan. Tempat itu memiliki pintu gerbang tinggi, dan ada beberapa penjaga di sekitarnya membawa anjing galak. Di pintu masuk tempat itu terdapat papan besar bertuliskan: “Pusat Pelatihan Koretans”. Jane tidak tahu itu tempat apa.
Jane dan bos Gangster masuk ke tempat itu. Beberapa penjaga di tempat itu membungkuk lama, dan membiarkan mereka masuk. Di pintu masuk terdapat tulisan cat semprot warna putih di sebuah papan berwarna dasar hitam: “Cave Ne Cadas”- Berhati hatilah supaya tidak jatuh!
Ruangan di dalam sangat luas, dengan plafon tinggi, luasnya lebih mirip seperti sebuah hanggar pesawat terbang. Sepanjang mata memandang, rupanya banyak orang tengah sibuk melakukan berbagai kegiatan olahraga beladiri. Di antaranya tinju, karate, yudo, pencak silat, beladiri tehnik pedang dan pisau, dan sebagainya. Jumlah mereka sekitar tujuh puluhan orang. Mungkin lebih. Semuanya laki-laki.
“Selamat datang ketua, Pak Bayu Samudra”, teriak seseorang, dan diikuti orang-orang di situ hampir secara serempak. Lalu semua orang di tempat itu membungkuk, memberi hormat. Jane baru sadar bahwa orang yang bersamanya itu adalah orang yang paling berkuasa di tempat itu. Panggilannya, ketua- Pak Bayu Samudra. Dia orang yang disegani dan dihormati di sini.
“Dia anggota baru organisasi”, kata Bayu Samudra, kepada semua orang di situ. “Perkenalkan dirimu”, katanya kepada Jane. Jane membungkuk.
“Apa yang akan kau lakukan pada perempuan itu, pak ketua?”, tanya Gibon pengawal khususnya di tempat terpisah.
“Dia akan membalas dendam. Biarkanlah dia melakukan itu, Gibon”, jawab Bayu Samudra singkat.
***
Jane mulai menempati ruang kamar. Ruangan itu tidak begitu luas, mungkin berukuran tiga kali empat meter, berisi tempat tidur berkerangka besi, tanpa alas kasur, melainkan beralas beberapa lembar papan ditutup tikar pandan di atasnya dan sepotong selimut bermotif garis putih biru dan sebuah bantal tipis. Di samping tempat tidur ada meja kayu kecil dan lemari pakaian. Ruang kamar itu menjadi sedikit agak lega ketika jendela kamar itu dibuka lebar dan pemandangan kota bisa terlihat jelas dari dalam kamar. Jane melihat sepintas bahwa model kamar lainnya yang jumlahnya ada puluhan di situ, mirip seperti yang dia tempati. Sebagian lain lebih mirip model barak atau ruangan kamar memanjang seperti di tangsi militer.
Jane masuk ke kamar itu dengan dihantar oleh seorang lelaki bertato ular naga melingkar pada d**a kirinya. Bentuk tato itu seperti tato di tubuh jasad ayahnya. Dia memperkenalkan diri. “namaku Guntur Geni”.
“Mulai sekarang, tugasmu mencuci piring, membuang kotoran dapur, mengosek WC dan mengepel lantai semua lorong di sini. Jika engkau naik kelas, engkau akan menjadi anggota resmi organisasi. Jika kariermu bagus, engkau akan tinggal di gedung mewah di seberang sungai sana. Itu “Domus Patrum” gedung Casino Dragon Empire, tempat paling prestisius bagi anggota organisasi. Bukan di sini. Aku di sini sudah dua tahun”, kata Guntur Geni menjelaskan.
“Kenapa kau datang ke sini? Kau perempuan”, tanya Guntur Geni lagi. “Bukannya kau sendiri tahu bahwa di sini sarangnya laki-laki”.
“Aku ingin menjadi kuat”, jawab Jane.
“Baiklah. Aku gak ngerti maksudmu. Semoga kamu beruntung”, katanya sambil tertawa. Lalu lelaki itu pergi.
Jane membuka tas, mengeluarkan kotak berisi guci abu jenazah ayahnya. Guci itu ia keluarkan dari kotak, lalu diletakkan dengan hati-hati di meja samping tempat tidur. Jane berdoa di depan guci itu. Malam semakin larut, sementara pagi masih jauh dari jangkauan. “Bersabarlah Ayah, selamat beristirahat”, kata Jane.
Hari-hari terus berlalu di tempat bernama Koretans. Itu adalah pusat pelatihan dan keterampilan aneka seni bela diri khusus pria. Koretans berarti sisa-sisa makanan. Orang- orang di tempat itu sering menyebut diri mereka “Orang Koretans” atau “Orang Sisa Sisa”. Namun sesungguhnya mereka adalah orang-orang pilihan yang tengah menggeladi diri fisik dan mental sebagai bagian anggota Gangster Naga Putih pimpinan Bayu Samudra.
Jane mulai menjalani rutinitas di tempat itu. Jika pagi atau sore hari, Jane mengepel lantai semua lorong, memakai karung goni yang dibasahi oleh air dicampur karbol. Di sejeda waktu berikutnya, Jane membersihkan kamar mandi, menyikat lantai toilet, membuang sampah dapur, dan mencuci piring. Tak ada yang membantu Jane, malahan sesekali mereka lelaki itu merusak hasil pekerjaan Jane. Lantai yang belum kering sehabis dipel, mereka injak-injak dengan cara berjalan melenggang di atasnya, tanpa merasa beban bersalah. Jejak kotoran tapak kaki dan sandal segera tampak membekas di atas lantai. Jane tak bisa protes, selain mengepel lantai yang kini kotor itu, sekali lagi. Walau Jane kesal mendapat perlakukan demikian, tetapi dia tidak mengeluh. Ratapan dan keluhan hanya akan merusak kejayaan jiwa dan pikiran saja. Begitu batinnya.
Di banyak waktu lain di tempat itu, Jane mengisinya dengan kegiatan latihan fisik dan beladiri. Tak ada guru yang datang mengajarinya, maka dia lakukan semua sendirian di tengah keramaian orang-orang di Koretans itu. Sebisanya.
Setelah beberapa waktu tak muncul, akhirnya Bayu Samudra menemui Jane lagi di tempat itu.
“Kau berpikir untuk kabur dari tempat yang tidak nyaman ini?”, tanya lelaki itu. Jane menggeleng.
“Tidak. Tak ada dalam benakku untuk kabur atau pergi dari sini. Aku hanya berpikir untuk menang”, jawab Jane datar.
“Menurutku jangan sekedar berpikir untuk menang. Tetapi berpikirlah untuk membunuh. Untuk membunuhnya. Ingatlah itu”, kata Bayu Samudra setengah berdesis. Matanya menatap Jane dengan tajam. “Jangan gunakan hanya dengan kekuatanmu. Sekeras apapun kau berlatih, mereka di luar sana itu jauh lebih kuat”, katanya lagi.
“Lantas harus bagaimana?”, tanya Jane.
“Pakailah kecerdasan akalmu. Serang titik lemahnya. Pelipis, Alur bibir, dagu, ulu hati, ketiak dan alat kelamin. Hanya serang titik lemah mereka. Dengan begitu engkau bisa membunuh musuhmu”.
“Baiklah mari kita coba. Serang titik lemah”, pungkas Bayu Samudra.
Lalu mereka berdua masuk suatu arena sasana. Tempat itu kosong dengan dikelilingi oleh kawat ram. Bayu Samudra melepas bajunya. d**a pria itu kekar menonjolkan lekuk, bertato lambang ular naga melingkar di d**a kirinya. Di situ tak tampak pengawalan yang ketat, hanya lelaki bernama Gibon itu tampak dari kejauhan mengawasi. Jane tidak tahu kemana orang-orang Koretans, mereka tidak tampak di situ. Mungkin mereka semua sedang ada kegiatan di tempat lain.
Pertarungan dimulai. Beberapa kali Jane tersungkur oleh pukulan keras. Tetapi dia bangkit lagi. Bayu Samudra menunjukkan serangan ke beberapa titik lemah Jane. Jane mengaduh ketika sikut Bayu Samudra dengan cepat mengenai dagunya. Jane menggelosor ke belakang ketika sebuah tendangan keras mengenai punggungnya. Benar- benar Jane dibuat tak berdaya melawan Bayu Samudra. Namun sesekali Jane mampu berkelit untuk menghindari bantingan, lalu menyerang dengan pukulan kilat ke arah uluhati. Bayu Samudra mengaduh. Jane minta maaf, dan memeriksa apakah Bayu Samudra tidak apa-apa? Lalu mereka bertarung lagi. Serang titik lemahnya!
Sejak itu Jane semakin giat berlatih fisik dan mental. Tak ada waktu yang terbuang. Jane mempelajari berbagai tehnik beladiri, dengan segala sarana yang ada di tempat itu. Mentalnya juga teruji dari segala bentuk cemoohan, sindiran atau kata-kata pelecehan dari orang-orang Koretans di tempat itu.
Tak terasa sudah enam bulan berlalu. Tibalah saat hari kompetisi. Semua orang berkumpul dalam suatu ruangan besar. Di podium tampak Bayu Samudra duduk di sebuah kursi besar, di samping Gibon dan dikelilingi beberapa orang bertubuh besar di sekitarnya.
Diumumkan bahwa dalam kompetisi ini, Pemenang tunggal dalam perkelahian massal akan memenangi hadiah khusus, liburan dan uang.
Lalu semua orang dibagi dalam dua kubu. Tak ada yang memakai senjata. Mereka saling diadu untuk bertarung. Dan pertarungan pun dimulai. Suasana riuh, seperti terjadi perkelahian dalam tawuran massal. Beberapa orang tampak tumbang. Sisanya masih saling serang.
Dari puluhan orang yang terlibat perkelahian, pada akhirnya ternyata tersisa hanya dua yang masih bertahan. Yaitu Guntur Geni pemuda yang paling tengil di kelompok itu, dan Jane. Terdengar sorak sorai dan gemuruh semua orang di tempat itu.
Lalu Guntur Geni dan Jane berhadap-hadapan. mereka beradu duel. Jane sempat terpojok oleh keberingasan Guntur Geni. Lelaki itu bertubi-tubi menyarangkan tendangan dan pukulan keras. Jane limbung dan terguling tubuhnya ke belakang. Tetapi sejurus kemudian, mendadak entah bagaimana Guntur Geni terbujur pingsan oleh gerakan balik sikut Jane yang keras dan sangat cepat mengenai dagu. Guntur Geni tumbang.
Jane menang sebagai juara, dengan tubuh terhuyung-huyung. Bayu Samudra kemudian maju ke arah Jane. Dia memegang tangan kanan Jane, dan mengangkatnya ke atas. Segera sorak sorai dan teriakan selebrasi gembira dari semua orang yang ada di ruangan itu. Pusat Pelatihan Koretans seperti seolah benar-benar bergetar hendak rubuh.
Guntur Geni merasa malu dan kecewa berat atas kekalahannya.
“Soal tadi, aku minta maaf”, kata Jane.
“Mengapa minta maaf. Ini kompetisi”, jawab Guntur Geni singkat dan meringis kaku. Dia lalu pergi.
Tetapi rupanya dia pergi untuk mengatur suatu siasat busuk bersama seorang temannya untuk mencelakai Jane. “Sudah kutaruh sesuatu ke minumannya, Jalu. Sebentar lagi dia pasti tertidur pulas. Itulah saat kita beri pelajaran dia, Jalu”, kata Guntur Geni kepada kawannya itu.
***