Part 19

1513 Kata
Segera kudorong Andre agar menjauh, lalu bangkit menghampiri Om Bram dan Della. "Om, Alya .... " Tak tahu harus berkata apa. Sorot mata laki-laki itu begitu tajam. "Della .... " kupanggil gadis itu. Mereka berdua terdiam. Andre turut menghampiri, kemudian gagap berkata, "S-saya b-bisa jelaskan, Pak. B-b-barusan tidak seperti apa yang terlihat. Kami hanya—" "Memangnya apa yang kalian lakukan tadi?" Tatap Om Bram pada Andre. "Tak ada yang perlu dijelaskan, kok. Kami sudah melihat semuanya." "Om," ucapku bingung. "Alya tidak—" Tangan Om Bram tiba-tiba berayun. Telunjuknya menempel di bibirku. "Kamu bahagia hari ini, Lya?" Bahagia? Maksudnya apa? "Alya tidak paham, Om," jawabku di antara detak jantung yang kian menghentak. "Alya hanya—" "Cuy," sapa Della menyambung ucapan papahnya. "Elu gak inget ini hari apa?" Aku tersentak. Berusaha mengingat, tapi tak ada yang membekas di benak ini. "Ini hari Minggu, 'kan?" jawabku akhirnya. Om Bram tersenyum. "Ini hari spesialmu, Lya. Masih lupa?" "Apa, ya?" Aku berpikir keras. Masih buntu. Della menggeleng-geleng. Gadis itu pun bergegas ke dapur, lalu kembali membawa kue besar berhiaskan lilin dan pernak-pernik indah lain di atasnya. "Selamat ulang tahun, Lya. Kamu ingat, 'kan, sekarang?" Aku terkesiap. "Ya, Tuhan! Della! Om!" Om Bram menyalakan lilin, kemudian berkata lembut, "Maaf, saya sendiri sebenarnya gak hapal kapan tanggal lahir Alya. Della yang ngasih tahu dua hari lalu. Ini semua rencana dia." "Benarkah, Del?" Aku masih tak percaya. "Termasuk sikap Om Bram hari ini?" Della mengangguk. "Sorry, gue sempet ngerjain elu, Cuy. Soalnya, dadakan. Gue gak tahu harus bikin acara apa." Ah, aku hanya bisa menarik napas lega. Akhirnya, misteri Om Bram sudah terpecahkan. Rupanya itu yang dia rencanakan. Menyebalkan. Tapi, bagaimana dengan kejadian malam kemarin itu? Apakah itu termasuk kepura-puraan? Tiba-tiba Andre menyalamiku, seraya berucap, "Selamat, ya, Lya. Aku sendiri gak tahu kalo hari ini ulang tahunmu. Maaf, aku belum—" "Hentikan omong kosong elu, Ndre!" sahut Della menyela. Aku memandang gadis itu dan Andre. Ada apalagi ini? "Omong kosong apaan, sih?" tanyaku heran. "Kalian merencanakan sesuatu?" Andre tersenyum kecut. "Maafkan aku, Lya. Aku juga bagian dari rencana Della tadi." "Maksud kamu?" Andre melirik sejenak pada Della. "Della dan Pak Bram memang sudah tahu, kalo kamu ... aku ajak ke luar." "Termasuk pertemuan kita di sana?" Semakin jelas kini arti kejadian yang seharian ini kualami. Andre mengangguk perlahan. "Ya, Pak Bram dan Della memang sudah duluan ada di sana, sebelum kita datang." "Ya, Tuhan! Andre!" hampir saja aku memekik. "Jadi ... kalian semua bersekongkol mempermainkanku?" "Maaf, Alya. Ini ide Della, kok," ujar Andre seperti merasa bersalah. Tak habis pikir, semua kejadian menyebalkan itu sudah dirancang sedemikian rupa oleh mereka. Di sisi lain aku merasa lega, namun merasa konyol. Benar-benar dibuat bodoh. Om Bram mengusap bahuku, lembut, seraya berkata, "Sudahlah, Alya. Terpenting sekarang kamu sudah tahu, 'kan? Saya gak ada masalah apa-apa denganmu." Laki-laki itu mengekeh. "Ih, Om Bram jahat," seruku sambil memukul-mukul manja d**a bidang Om Bram. Dibalas rangkulan erat si Flamboyan. Membenamkan wajah ini hingga sesak melanda. Ya, Tuhan! Darahku berdesir kencang. Aku tahu ini bukan yang pertama, namun mengapa rasa ini selalu sama. Pelukan itu bukan bermakna kasih sayang seorang ayah pada anaknya. Ada getar-getar misteri yang menghentak di balik d**a itu. "Sekarang pejamkan matamu. Bisikkan keinginanmu dalam hati, lalu tiuplah segera lilin ini. Kelamaan, nanti lelehannya bercampur dengan kuenya, Lya," kata Om Bram memintaku segera melepaskan peluk. O, iya. Aku lupa. Ada Della dan Andre di sini. Rasanya ingin lebih lama berada dalam dekapan lelaki itu. Mendengarkan setiap detak jantungnya, juga hembusan napas membara. "Lya .... " "Ya, Om?" "Lilinnya, Lya," ujar Om Bram mengingatkan. Ah, baru tersadar. Segera melepaskan rangkulan, dengan wajah panas merona. "Oh, iya. Maaf." Kupejamkan mata, berlanjut ucapkan doa di dalam hati, 'Ya, Tuhan! Kalau saja aku ditakdirkan bersama laki-laki yang ada di depanku ini, tolong ... alihkanlah hati dan matanya hanya padaku. Jika ndak pun, tetap arahkanlah. Padaku seorang. Jangan pada yang lain. Ya ... Tuhan, ya? Please! Aku sungguh teramat menyukainya. Lalu, bukankah pintu perempuan yang ada di sampingnya itu, agar mau menerimaku sebagai ... pengganti mamahnya. Biarkan kami hidup damai sebagai seorang ibu-anak, juga kawan sehati. Endak masalah, 'kan, walau usia kami sebaya? Terus—' "Ehem!" "Uhuk! Uhuk!" Kubuka mata sesaat. Della memutar-mutar mata ke atas, sedangkan Andre bersiul kecil sambil menyapu arah lain. Om Bram? Laki-laki itu tersenyum, seperti biasa. Kulanjut berdoa dengan mata terpejam, 'Aku tahu ini pilihan teramat sulit. Memiliki anak yang ndak pernah kukandung dan kulahirkan. Bahkan, proses sebelum itu pun, aku belum pernah merasakannya. Makanya, berikanlah kesempatan itu bersama laki-laki yang kumaksud tadi. Om Bram. Aku mohon pada—' "Uhuk!" "Ehem! Ehem!" 'Duh, mereka berdua memang belum merasakan bagaimana dahsyatnya jatuh cinta. Berada dekat dengan sosok yang diimpikan setiap saat, namun ndak pernah ada kejelasan. Sebagai kekasih ataukah anak, aku baginya? Aku bingung, ya, Tuhan! Aku—' "Haduh! Lama amat, sih?" gerutu Della. Kembali kubuka mata, menatap gadis itu. "Aamiin!" "Akhirnya .... " gumam Andre sambil mengusap wajah. Della segera menyodorkan kue di tangannya. "Buruan tiup, Cuy! Lilinnya ampir abis, nih! Tangan gue pegal!" Ya, Tuhan! Lilin di atas kue itu tinggal tersisa seperempatnya. Lama juga doa yang kupanjatkan tadi. "Lya, ayo tiup," titah Om Bram diiringi senyum khasnya. "Iya, Om," balasku menuruti. Sebentar kemudian, nyala lilin telah padam ditiup keras mulut ini. "Potong kuenya, Cuy," ujar Della dengan suara cemprengnya. "Potongan pertama elu kasihin sama orang yang paling elu sayang." 'Apa?' Aku terkejut. 'Haruskah itu, Del?' "Potong kuenya, Alya! Kenapa malah bengong?" Suara Della kembali membahana. Ya, Tuhan! Ingin sekali kuberikan potongan pertama kue ini pada Om Bram. Tapi, tak ingin menimbulkan kecurigaan. Baik pada Della maupun Andre. Sial! Mengapa, sih, harus ada aturan semacam itu? Tak harus, 'kan, bermakna seperti itu? Tapi ada baiknya juga, kesempatan ini digunakan untuk .... "Alya?" Andre terkejut begitu menerima potongan kue pertama itu, kuberikan untuknya. "Kamu .... " "Terima kasih untuk kebaikanmu hari ini, Ndre. Kamu baik sekali," kataku perlahan. Berharap sekali ada tatapan cemburu pada pemilik mata coklat di samping Della. "Ini untukmu, Ndre." Ah, yang kuharapkan tak sesuai keinginan. Om Bram tampak biasa-biasa saja. Laki-laki itu malah tersenyum dingin. Hhmmm, mungkin pura-pura tabah. Bisa jadi saat ini tengah sibuk menahan cemburu. Buktinya, dia memandang sinis si Andre. Dasar laki-laki! "Kue yang kedua kuberikan untukmu, Del," kataku seraya memberikan potongan kue tersebut, langsung disuapi ke mulut Della. "Jadi elu gak sayang ama gue ya, Cuy?" bisik Della di telingaku. Kubalas dengan perlakuan sama, "Kamu ndak lihat, bagaimana caraku memberikannya padamu, Del?" "Menyuapiku?" Aku tersenyum. "Karena, kamulah orang yang paling kusayang .... " kataku, kemudian berlanjut dalam hati, ' ... setelah papahmu sendiri, Del. Dia yang paling berharga bagiku di antara kalian bertiga.' Tiba giliran Om Bram. Kutahan sebentar potongan ketiga yang masih ada di tangan. Menatap lama laki-laki itu, kemudian berkata, "Om, ijinkan Alya untuk menyuapi Om. Ini sebagai tanda bakti Alya terhadap orang yang selama ini, telah Alya anggap sebagai orang tua sendiri. Terima kasih atas semua kebaikan yang selama ini telah Om berikan pada Alya. Om bersedia?" "Tentu saja, Lya," jawab Om Bram. "Lakukanlah." Suara laki-laki ini sedikit tercekat. Entah terharu atau ada perasaan lain yang tersembunyi. Mudah-mudahan, sih, dia sedang cemburu. "Maaf, ya, Om." Kusuapi Om Bram perlahan. Menikmati setiap gerak mulut itu mengunyah kue yang diberikan. Teringat saat bibirnya menyentuh lembut bibirku, malam kemarin. Selama itu pula mata ini saling beradu pandang. "Ingin lagi, Om?" Om Bram mengangguk. Dengan senang hati kuturuti, hingga sisa potongan kue di tangan ini habis tak tersisa. "Mau lagi, Om?" "Tidak. Terima kasih, Alya. Sudah cukup." Sayang sekali. Padahal aku masih ingin menikmati gerak rahang itu saat asyik mengunyah. "Lya!" "Ya, Om." "Gue yang manggil elu, Cuy!" sentak Della di samping. Aku terperangah. "Oh, kamu, Del. Maaf." "Hhmmm," gumam Andre. Om Bram melirik anak muda itu, diiringi seringainya. Della menyerahkan sebuah bungkusan padaku. Seperti pernah melihatnya. "Ini hadiah dari gue dan Papah buat elu." "Apa ini, Del?" "Buka aja!" Sebuah gaun indah. Berwarna biru dan lembut. Pasti mahal. Bahan kain serta modelnya itu, lho! "Ini seperti baju buat kondangan, Del," kataku usai membuka dan melihatnya dengan utuh. "Memang!" jawab Della lantang. "Kita mau menghadiri acara pernikahan?" "Iya." "Kapan?" "Bulan depan." "Pernikahan siapa?" Della melirik ke arah Om Bram. "Papahku, Cuy." "Apa?" Hampir saja gaun yang kupegang terlepas. "Kamu serius?" Della mengangguk. "Serius dong, Cuy. Papah sebentar lagi akan menikah dengan Tante Cassandra." "Tante Cassandra? Sekretaris kantor Om Bram?" Jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Diikuti getaran kaki, serta tubuh ini. Laksana mimpi tak berkesudahan. "Mengapa aku baru tahu sekarang?" Om Bram menarik napas panjang, kemudian bantu menjawab, "Sebenarnya sudah lama, saya menjalin hubungan dengan Cassandra. Jauh sebelum Alya tinggal bersama kami. Bahkan, Della sendiri belum lama bersedia dan mengijinkan saya untuk menikah lagi. Maaf, jika kami berdua baru memberi tahu hal ini pada Alya sekarang." "Kamu senang, 'kan, kita bakal punya Mamah lagi, Cuy?" tanya Della antusias. Aku tak mampu menjawab. Bibir ini tiba-tiba terasa kelu. Tenggorokan kering. Suara pun menghilang. Ini pasti bukan tanda-tanda panas dalam, 'kan? Tapi .... "Alya!" Hanya suara itu yang sempat kudengar. Setelah itu, berubah gelap gulita. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN