Andre mendekatkan wajah, dengan bibir bergetar. Semakin mendekat dan terus mendekat. "Andre?" Aku mundur menjauh. Namun anak muda itu terus memburu, lalu bisiknya, "Kamu ... mencintai Pak Bram, 'kan, Lya?" Aku diam terpaku. d**a ini kembali menyesak. Perih sekali rasanya. Hanya tangis yang bisa menjawab. "Ya, ampun ... Alya! Kamu benar jatuh cinta sama laki-laki itu." Andre mendekapku, mengusap punggung, serta berusaha menenangkan. "Kamu tak perlu menjawab, Lya. Dari tangisanmu, aku sudah memahami semua. Kamu memang mencintai dia." Entah mengapa, tiba-tiba saja aku ingin menangis semakin keras. Bahkan bila perlu, menggelosoh di tanah, berguling-guling sedemikian rupa, untuk menggambarkan betapa sangat menderitanya aku sekarang. "Andre!" seruku menumpahkan ganjalan yang selama ini di
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


