Chapter 20

1369 Kata
Bab 20 – Rumor Palsu (1/2) Dia mengundang selir di Pesta Tahun Baru? Bukan karena selir tidak bisa menghadiri acara perayaan, tetapi ketika mereka melakukannya, mereka harusnya berstatus bangsawan. Karena alasan inilah kaisar yang memiliki selir dengan status yang lebih rendah dari bangsawan, mereka akan menguburnya dengan pernikahan palsu dengan bangsawan lain, mengingat status selir itu menjadi bangsawan atau marchioness. Namun Sovieshu tidak akan pernah mengambil pendekatan “penutup mata” seperti itu dengan Rastha. Dia akan membiarkan semuanya berjalan normal. Penampilan Rastha membuat saya lengah. Saya memalingkan kepala ke samping, tetapi tampaknya saya lah yang lebih terkejut. Sovieshu tersenyum pada Rastha dan menganggukkan kepalanya. Ketika saya berbalik ke arah Rastha lagi, dia membungkuk malu-malu dan menatap Sovieshu sambil berkata, “Ini sulit.” Segera tatapan nya jatuh pada saya. Ketika mata kami bertemu, dia tersenyum sambil berkata, “Kakak!” Lalu matanya melebar tetapi dengan sangat manis dia menutup mulutnya untuk meminta maaf. Kaisar : “Dia sangat naif.” Ekspresi wajah nya mengatakan bahwa dia melihat Rastha benar-benar menawan. Saya merasakan hati saya hancur dan kepala saya berputar-putar. Terlepas dari kenyataan bahwa saya adalah istrinya, saya merasa seperti benda asing yang terjebak di antara keduanya. Para bangsawan yang masih membungkuk kepada kami berdua sekarang memandang bergantian ke arah Sovieshu dan Rastha. Para wanita menutupi mulut mereka dengan kipas ditangan dan para pria saling berbisik dibalik sarung tangan mereka. Meskipun mereka menjaga agar suara mereka tetap rendah, itu masih saja terdengar seperti raungan ketika semua bergabung dalam sebuah konser. Rastha melihat sekeliling dengan terkejut dan menatap Sovieshu dengan wajah ketakutan. Dia menghela nafas. Kaisar : “Permaisuri, bisakah kamu turun sendirian?” Kami berdua sudah berjalan bersama dan berdampingan. Kewajiban saya sudah berakhir disini dan kami bisa turun tangga secara terpisah. Tetapi saya tidak ingin memberi kesan bahwa kami bersama-sama secara terpaksa. Lalu saya dengan berat hati membuat diri saya harus berbicara. Permaisuri : “Kita turun bersama.” Sovieshu berbalik sedikit ke arah saya dengan takjub, tapi saya mempertahankan suara saya dan melanjutkan, “Banyak bangsawan asing yang terkemuka berkumpul disini. Mereka akan berpikir ada keretakkan diantara kita jika kita tidak turun bersama.” Tampaknya Sovieshu masih belum bisa mencerna kalimat saya dengan jelas. Saya mencoba menjelaskan lebih sederhana dan berharap Sovieshu bisa memahaminya kali ini, “Konflik antara kaisar dan permaisuri bisa dilihat sebagai peluang bagus bagi musuh kita dan negara-negara tetangga. Kita tidak harus menjadi pasangan yang sempurna, tetapi setidaknya kita tidak boleh memberikan citra buruk pada mereka.” Ekspresi Sovieshu sedikit berubah. Kaisar : “Ah ya! Ku rasa begitu.” Daripada mengingat apa yang saya katakan barusan, dia sepertinya lebih menerima nya sebagai sekedar alasan. Dia memberikan senyum penyesalan dan mengulurkan tangan nya pada saya. “Kalau begitu, mari kita turun bersama.” Lanjutnya. Saat dia mengantar saya menuruni anak tangga, dia mengangguk ke arah kerumunan dan sebelum berhenti di area yang cocok untuk berpisah dia malah tersenyum sambil menurunkan lengan nya. Kaisar : “Apa ini sudah cukup?” Saya menghela nafas dan mengatakan “Iya.” Sovieshu terlihat tidak sabar untuk menemui kekasih nya. Segera setelah tugas nya selesai, dia menuju Rastha tanpa melihat ke belakang. Saya berdiri sendirian dan mengawasinya. Para bangsawan asing di sekitar Rastha menyambut kaisar dengan senyum dan melangkah mundur untuk memberikan ruang baginya. Rastha dengan cepat menyandarkan dirinya di sisi Sovieshu. Jadi seperti itulah bentuk kemitraan yang penuh cinta kasih. Saya mengalihkan pandangan saya. Alih-alih menunjukkan rasa sakit, saya berpura-pura tersenyum dan menyapa Tuan Putri Duchess di dekat saya. “Anda lah yang mengatur Perayaan Tahun Baru ini kan, Yang Mulia? Ini sungguh luar biasa.” Duchess Tuvania mendekati saya dengan sikap ramah, mengabaikan topik tentang Sovieshu dan Rastha. Tak lama kemudian, wanita bangsawan dan nona muda lain nya mulai mendekati kami juga. Dan kami pun melanjutkan percakapan santai. “Oh, lihat disana.” “Itu adalah Pangeran Heinley.” “Rumor mengatakan bahwa dia seorang playboy. Dia memiliki wajah yang sangat tampan.” “Aku juga mendengar dia bergaul dengan bajak laut berbahaya.” Karena wanita bangsawan menghindari topik tentang Rastha, percakapan beralih ke Pangeran Heinley sebagai gantinya. “Karena ada lebih banyak rumor kemana pun dia pergi. Dia pasti sedang mencari seseorang sekarang, bukan?” “Tipe seperti apa yang akan dia tangani di sisinya sekarang?” “Pangeran Heinley masih lajang. Mungkin dia tidak akan ambil pusing tentang itu.” “Yah, dia adalah raja masa depan Kerajaan Barat. Jadi mungkin akan ada untungnya jika dia menikahi seorang wanita dari Kekaisaran Timur kita.” “Tapi dia tampaknya seorang yang pendiam. Lalu bagaimana mungkin dia begitu banyak memiliki rumor di sekeliling nya?” Saya mendengarkan mereka berbicara tentang pangeran Heinley dan mengambil segelas sampanye dari seorang pelayan yang lewat. Minuman itu hanya memiliki sedikit kadar alkohol, rasanya hampir seperti air biasa. Saya meminum nya dan mengangkat kepala saya. Melalui kaca pada gelas yang saya pegang, saya bisa melihat sosok lelaki yang terdistorsi. Itu adalah Pangeran Heinley, dia menatap ke arah saya. Saya menundukkan kepala saya dan menarik gelas itu dari bibir saya. Saya pikir dia hanya kebetulan menatap saya, tetapi ketika mata kami bertemu, dia tidak juga memalingkan pandangan nya. Sebagai gantinya, dia mengangkat gelasnya sendiri untuk bersulang pada saya dari jauh lalu meminum nya. Dia memiringkan kepala nya, menunjukkan rahangnya yang halus. Lalu seorang bangsawan asing seketika menarik perhatian nya, dan saya dengan segera mengalihkan pandangan dari nya. Tapi tiba-tiba... “Bahkan permaisuri yang paling menyendiri tidak bisa melihat wajah itu.” Ada suara tawa dari suatu tempat. Jantung saya berdegup kencang. Saya menoleh ke arah suara itu berasal. Kursi di dinding ditempati oleh banyak orang asing dan juga penduduk asli. Ada terlalu banyak orang disana, saya tidak mengetahui dengan pasti siapa gerangan yang mengatakan kalimat itu barusan. Tapi saya segera tahu siapa mereka. Mereka adalah sekelompok orang yang akan memegangi perut mereka ketika mereka tertawa terbahak-bahak. Sulit bagi saya untuk mendengar kalimat macam itu, tetapi orang dengan suara yang sama mengatakan sesuatu lagi. Suara tawa mereka semakin keras. Beberapa bangsawan bahkan terkikik dan melirik ke arah saya. Mereka menangkap tatapan saya dan dengan secepat kilat mereka saling menusuk bagian tulang rusuk satu sama lainnya untuk memberikan sinyal diam. Reaksi mereka semakin meyakinkan saya tentang kepastian cerita yang berasal dari mulut mereka. Mereka pikir saya tuli dengan topik yang sedang mereka bicarakan, tetapi posisi saya tidaklah jauh dari mereka. “Yang Mulia, apakah Anda benar-benar memberikannya hadiah?” Seorang wanita yang berada di dekat salah satu diantara mereka menunggu untuk bertanya pada saya. “Hadiah?” Saya menatap bingung. Wanita itu tersipu dan segera meminta maaf, tapi yang saya inginkan bukanlah permintaan maaf. “Saya tidak mengerti apa yang kamu maksudkan, tapi saya tidak marah. Katakan pada saya apa maksud mu dengan hadiah?” Saya memaksakan suara saya agar terdengar normal. Dan wanita itu kembali membuka mulutnya dengan khawatir. “Para tamu asing tidak tahu bagaimana desas-desus tentang ‘wanita itu’. Apa yang mereka katakan adalah wanita itu selir pertama kaisar dan Anda telah memberikan nya segala macam hadiah.” Saya sudah tahu yang pertama, tapi bagaimana mungkin saya tiba-tiba memberikannya hadiah? Wanita bangsawan itu kembali melanjutkan tapi dia tampak ragu, “Lalu seorang asing sebetulnya bertanya pada ku....” “Ya, lanjutkan lah. Tidak apa-apa, katakan pada saya.” “Seorang asing bertanya kepada ‘wanita itu’ apakah dia baik-baik saja dengan hubungan cinta segitiga yang terlibat antara dia dan Yang Mulia. Lalu dia menjawab iya. Dan dia mengatakan bahwa kaisar dan permaisuri begitu mencintai dirinya. Dia juga mengatakan bahwa setelah dia menjadi selir kaisar, permaisuri bahkan mengirimi nya segala macam hadiah berharga untuk menyambut nya.” Rastha telah banyak berkomunikasi dengan orang-orang asing baru-baru ini memang. Selain itu, sebagian besar wanita lain disekitar tampak terkejut. Seolah-olah gosip itu bukan lah topik yang akrab yang menyebar di masyarakat. Dengan kata lain, orang asing mendengar rumor ini terlebih dahulu dan menyebarkannya ke bangsawan setempat. Saya merasa pusing dan lutut kaki saya melemah. Orang-orang menertawakan saya karena mengirimkan hadiah kepada kekasih suami saya untuk mendapatkan perhatian nya. Kebanggaan diri yang telah saya kumpulkan selama ini dengan cepat runtuh seperti istana pasir hanya karena desas-desus tunggal. Tidak peduli betapa berusahanya saya menjauhkan diri dari Sovieshu dan Rastha, harga diri saya langsung terkubur dalam sekejap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN