Pada Suatu Ketika, di Jam Makan Siang

1077 Kata
“Kinan, bersiaplah, sebentar lagi kamu akan bisa bersatu lagi dengan Mahesa.” Kinanti Kembang Langit urung melangkah. Kata-kata yang dilontarkan oleh Jatayu itu membuatnya terhenyak. Serta-merta, ia berbalik badan, kembali melihat pada laki-laki yang sedang berdiri membelakanginya tersebut. Lidah Kinanti terasa kelu. Meski ingin mengucapkan sesuatu, namun tak ada yang bisa keluar dari mulutnya. Ia menelan ludah, dua kali. Namun tetap saja, seperti ada sesuatu yang menyekat rongga tenggorokannya. Karena itu, ia hanya menatap punggung kekar laki-laki yang telah hampir tiga bulan ini menjadi muhalil atau suami sementaranya tersebut dengan perasaan yang tak mampu ia definisikan. “Satu minggu lagi, tugasku akan selesai, Kinan,” lanjut Jatayu, diiringi suara embusan napas berat. Angin sepoi-sepoi yang berembus dan menggoyang-goyangkan dedaunan di pekarangan samping, menerobos masuk lewat jendela besar yang terbuka lebar di hadapannya. Rambut ikal dan sedikit gondrong laki-laki itu menjadi sedikit berantakan karenanya. Kinanti tercenung. Ia terusik dengan suara helaan napas berat yang baru saja didengarnya. 'Apakah ia sedang bersedih?’ tanya perempuan muda yang baru saja selesai menyiapkan makan siang di meja makan itu, membatin. ‘Mengapa ia bersedih? Toh, pernikahan ini hanya buah dari kesepakatan saja! Jatayu seorang laki-laki, sahabat Mahesa pula. Mana mungkin terbawa perasaan sepertiku?’ lanjutnya. 'Ah, pastilah hanya perasaanku saja!' “Ada yang ingin kamu katakan, Kinan?” Jatayu bertanya, tiba-tiba, membuat Kinanti tersentak dan salah tingkah. Sebab, bersamaan dengan terlontarnya pertanyaan tersebut, laki-laki yang sedang ia pikirkan itu berbalik badan, membuat mereka berdua menjadi saling berhadapan. Pertautan pandang yang terjadi tak berlangsung lama. Sebab, Kinanti cepat-cepat menunduk dan menatap ujung jempol kakinya. “Jika memang ada yang ingin kamu sampaikan padaku, jangan ragu, katakan saja!” ulang laki-laki itu, diiringi gerakan tangan, mempersilakan. "Toh, saat ini, aku adalah suamimu." “E … e … a … aku …" Kinanti menggumam, tak tuntas. Wajahnya menghangat, rona merah dadu bersemburat, membuat sepasang pipi yang sedikit chubby itu terlihat ranum dan menggemaskan. Perempuan yang baru saja menginjak usia tiga puluh tahun tersebut benar-benar tak mengerti dengan dirinya sendiri. Apa yang dirasakannya kini, sungguh di luar dugaan. Sekonyong-konyong, perasaannya menjadi kacau balau, tersebab apa yang baru saja disampaikan oleh laki-laki di hadapannya itu tentang batas waktu kebersamaan yang semakin mendekat. Padahal, bukankah semestinya ia bahagia mendengarnya? Sebab, kembali menjadi istri Mahesa akan menjadi sesuatu yang tak mustahil lagi. Telah terpenuhi syariatnya untuk ia dan suaminya itu rujuk. “He he he ….” Jatayu terkekeh, menyaksikan ekspresi wajah istrinya. “Pasti kamu merasa nervous lagi!” tukasnya, bernada menggoda. “Seperti awal mula jatuh cinta pada Mahesa dulu.” “E … tidak!” sergah Kinanti cepat dan tegas, seraya mengangkat pandangan. Sepasang bola matanya sedikit terbelalak, sejurus kemudaian, sebab menyadari reaksi spontan yang baru saja ia tunjukkan tersebut. Jatayu tak kalah terkejut. Ia menatap Kinanti dengan lebih seksama. Kedua alisnya terangkat ke atas. Lalu, lelaki bergaris wajah tirus dan tegas itu menyungging senyuman. “Tidak?” tanyanya spontan, bernada tak yakin. “Em—em—maksudku …” Manik hitam mata Kinanti bergerak lincah, melihat ke sana-kemari. Otaknya sedang berpikir keras, mencari kosakata yang sekiranya bisa ia pakai untuk beralasan. “Kamu tak perlu malu begitu, Kinan!” tukas Jatayu, dengan senyum dikulum dan sorot mata teduh, penuh pengertian. “Sungguh, tidak begitu!” Kinanti menegaskan dengan nada kesal. Perempuan itu benar-benar tak mau Jatayu berpikir, bahwa dirinya tengah memikirkan, bahkan merindukan Mahesa. “Lalu …?” Jatayu benar-benar ingin tahu. “E … e … makan siangnya sudah siap. Segeralah makan. Jam istirahatmu keburu habis!” tukas Kinanti kemudian, mengalihkan topik pembicaraan sekaligus keluar dari situasi yang membuatnya salah tingkah dan berkeringat dingin. Ide pengalihan itu tiba-tiba saya muncul di benaknya, saat tanpa sengaja, ia melihat ke arah jam dinding yang tergantung di dekat jendela. Refleks, Jatayu menoleh ke belakang, turut melihat ke arah mesin penunjuk waktu berbentuk bundar dengan bingkai merah maroon itu. “Ah, iya, tinggal sentengah jam lagi!” gumamnya. “Sebaiknya aku langsung kembali ke pabrik saja, ya, Kinan. Kamu makanlah yang banyak, agar terlihat segar dan tidak sakit. Apa kata Mahesa nanti, jika tiba saatnya kalian bersama, tubuhmu kurus kering dan layu. Nanti dikiranya aku tak mengurusmu dengan baik.” “Te—tetapi, Jat, aku sudah terlanjur menyiapkan makan siang dalam jumlah banyak!” Kinanti menunjuk ke arah meja makan. Jatayu turut melihat ke arah yang ditunjuknya. Matanya langsung bersirobok dengan piring-piring dan mangkuk yang tertata rapi di sana. “Aku memasak sayur asem, dadar jagung, dan pepes tahu campur teri.” Kinanti menyebutkan beberapa jenis makanan yang memang sangat disukai oleh laki-laki di hadapannya tersebut. “Makanlah dulu, meski sedikit, Jat! Agar usahaku memasak tadi tidak sia-sia," bujuk Kinanti sekali lagi, dengan sorot mata penuh permohonan. Hati Jatayu melemah karenanya. “Buatlah perempuan itu merasa dihargai, dihormati, dan merasa berarti! Maka, kamu akan benar-benar menundukkannya. Sebab, semua perempuan di mana-mana itu sama, ia mendambakan kenyamanan!” Kata-kata Haji Rama Adiwikarta, ayahnya, kembali terngiang dalam pendengaran Jatayu Surya Kelana. Lelaki muda itu tertrgun. Mendadak ia teringat kembali pada sebuah peristiwa yang terjadi sekian tahun silam, manakala kata-kata tersebut dituturkan ayahnya pada Paksi, kakak Jatayu satu-satunya yang masih hidup. Jatayu masih duduk di bangku SMP kelas tiga, ketika itu. Sedangkan Paksi sudah bekerja, bahkan berumah tangga dan tinggal di Surabaya. Karena prahara yang sedang melanda rumah tangganya, Paksi sengaja pulang kampung, menemui kedua orang tuanya untuk meminta pertimbangan dan nasihat atas permasalahan yang telah membuat pernikahannya berada di ujung tanduk. Sebagai orang yang tak berkepentingan, dan terbilang di bawah umur, Jatayu cukup tahu diri. Ia tak berusaha ikut nimbrung di ruang keluarga, melainkan memilih mendekam di dalam kamarnya yang berada tepat di sebelah ruangan, di mana pembicaraan tersebut berlangsung. Karena merasa penasaran, di dalam kamarnya, Jatayu menajamkan pendengaran dan diam-diam menguping. “Mungkin, selama ini kamu kurang peka pada istrimu, Paksi. Berilah dia pujian untuk apa yang sudah dilakukannya. Jangan merasa gengsi untuk membuatnya tersanjung!” tukas Haji Rama Adiwikarta, menambahkan. “Tanya saja pada ibumu, apa pernah Ayah melontarkan kata pedas padanya sepanjang usia pernikahan kami yang hampir mencapai tiga puluh tahun.” “Ayolah, Jat!” pinta Kinanti lagi, membuyarkan lamunan Jatayu. “Baiklah, ayo kita makan siang dulu. Masih ada waktu setengah jam lagi. Jarak dari sini ke pabrik tak lebih dari sepuluh menit. Lagi pula, rugi sekali melewatkan masakanmu yang selalu lezat,” tukas laki-laki itu kemudian. Wajah Kinanti menghangat, ia tersipu mendengarnya. Seketika, ruang di dalam dadanya berubah menjadi hamparan taman bunga di musim semi. Bunga-bunga aneka warna bermekaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN