Fida duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang tempat Fito di rawat. Fito sudah sadar tapi sedang tidur makanya Fida berani duduk sedekat itu darinya. Dipandanginya wajah Fito dalam diam. Selain tangan dan kaki yang patah, tidak ada lagi luka yang berarti. Fida tidak ingin mencari tahu bagaimana kronologi kecelakaan tersebut. Menjaga hati dan perasaannya lebih perlu daripada mengulik hal yang terjadi yang mungkin saja akan membuka kenangan lama.
Fida menahan diri dari keinginan untuk menyentuh rambut yang jatuh dikening mulus Fito. Kian hari penampilan Fito terlihat semakin berubah. Fito yang sporty berubah menjadi fashionable. Fito sama dengan selebriti pria kebanyakan yang menjadi lelaki metroseksual.
Dulu saat sedang sakit begini Fito sangat suka diusap - usap rambutnya.
Fida menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia harus segera keluar, jangan sampai tubuhnya menghianti dirinya. Fida takut akan terbawa perasaan.
Bangkit dari duduknya, Fida ingin keluar mencari Aldi agar bisa menggantikannya menunggui Fito.
Langkah kaki Fida terhenti karena tangannya ditahan seseorang. kaget setengah mati begitu menyadari siapa yang telah menahan tangannya. Fito telah bangun sejak tadi tapi memilih pura - pura tidur begitu melihat Fida sedang duduk disisinya.
" kamu disini ... " ucap Fito pelan pada Fida yang membelakanginya.
" aku akan pergi, istirahatlah ... " kata Fida dengan posisi tetap membelakangi Fito. Ditariknya tangannya perlahan agar bisa lepas dari pegangan Fito. tanpa menoleh Fida keluar dari kamar inap Fito. meninggalkan Fito yang memandangi punggung Fida dengan perasaan berkecamuk.
Fito tahu Fida selalu menemaninya, namun tidak pernah mau menampakkan diri didepannya. Beberapa kali Fito melihat bayangan Fida sekelabat. Ingin memanggil tapi tidak punya keberanian sedikitpun. Fito bersyukur Fida masih mau menemaninya, walau besar kemungkinan karena alasan kemanusiaan saja. Pasti karena Fito dirawat di Rumah Sakit tempat Fida bekerja. Mengenangkannya membuat perasaan tidak rela menyeruak dihati Fito. Fito menertawai dirinya sendiri yang masih berharap kehadiran Fida karena alasan yang lain. betapa naifnya ia sekarang. apa jiwa narsistiknya makin menjadi ?
Aldi masuk begitu melihat Fida keluar dari kamar Fito.
" Mas Fito sudah bangun ? " tanya Aldi kaget " sudah dari tadi ? "
" Hm " jawab Fito.
Aldi melihat Fito dengan lekat. Menerka apa yang telah terjadi dari mata Fito. mungkinkah tadi Fito sempat bertemu dengan Fida atau tidak. Tidak bisa menyimpulkan apa yang terjadi membuat Aldi menyerah saja.
" Tadi mbak Gisella menelfon, katanya masih belum bisa menjenguk Mas Fito. Kemungkinan besok pagi baru bisa " jelas Aldi menyampaikan pesan Gisella lewatnya karena Hp Fito yang rusak belum diperbaiki. Management memutuskan untuk menundanya sampai Fito sembuh agar bisa melindungi data yang ada disana.
Fito tidak menanggapi ucapan Aldi. sejak ia sadar dari pingsan dan kembali dipingsankan dan sadar lagi, belum sempat ia memikirkan Gisella. Kehadiran Fida berhasil menyita perhatiannya. Selain rasa sakit, hanya rasa bersalah yang sedang ia rasakan.
Fito tidak heran kenapa ia sampai melupakan gadis yang berstatus tunangannya itu. Hubungan mereka sebelumnya memang sedang bermasalah karena ego masing - masing. Fito sendiri merasa hubungan mereka sudah lama hambar. Tidak ada lagi debaran saat mengingat bahkan bertemu dengannya. Fito sudah pernah meminta putus dari Gisella namun ditolak dengan alasan yang terkesan terlalu dicari - cari olehnya. alasan yang bisa Fito pastikan bukan karena masih cinta. cinta ... ? Fito sendiri ragu apa yang menjadi landasan hubungan mereka selama ini.
Cara Fito memperlakukan Gisella juga berbeda dengan Fida. Jika selama berpacaran dengan Fida, Fito merupakan cowok yang protektif dan baperan, saat bersama Gisella Ia justru lebih santai dan masa bodoh. Fito tidak cemburu kala Gisella bepergian dengan cowok lain. Fito selalu berpijak pada dasar profesionalisme. Ia tanamkan bahwa semua yang Gisella lakukan karena tuntutan pekerjaan semata. Menjadi selebriti merubah banyak hal didiri Fito. Perubahan yang awalnya sangat disukai olehnya namun perlahan mulai disesalinya. Ketenaran mendekatkan Fito dengan orang - orang baru namun menjauhkannya dari orang terdekatnya. bahkan dengan orangtuanya sekalipun ikut merenggang. Terlalu mahal harga yang harus ia bayar demi popularitas yang ia raih.
Fito menarik nafasnya berat. Rasa sakit dan ngilu menambah beban yang sedang ia rasakan.
***
Fida berdiri dipinggir tembok ruang terbuka yang ada dipuncak gedung. Pandangannya jauh terlempar ke arah gedung pencakar langit yang ada didepannya. Disana, disalah satu gedung itu ada apartement miliknya yang tidak pernah ia tempati sebelumnya. Fida membeli dalam keadaan tidak sadar. Hanya memperturutkan perasaan saja. karena yang ia tahu Fito tinggal disana makanya Fida juga membelinya agar ada kesempatan bertemu dengan cara tidak sengaja. Meskipun cuma sekian persen saja kemungkinannya tapi Fida tetap ingin mencobanya. Namun Sela berhasil mencegah bakat stalkernya jadi berkembang dan Fida bersyukur atas apa yang telah Sela lakukan.
Fida malu dengan apa yang dulu ia lakukan. Sela bilang, Fida terobsesi dengan Fito. Benarkah begitu ?
Mungkin tidak juga, Fida sangat yakin kalau yang ia rasakan masih sebatas cinta saja. Melihat Fito terbaring lemah membuatnya ikut merasakan sakit. Lebih baik Fito sehat seperti biasa saja, lebih mudah untuknya membenci.
" Maaf, saya fikir tidak ada orang "
Suara dokter Ryan mengusik lamunan Fida. Fida tersenyum pada dokter yang usianya lebih muda darinya itu.
" kamu merokok ? " tanya Fida tanpa maksud apa - apa, hanya bingung mau memulai obrolan dengan topik apa.
Dokter Ryan tersenyum canggung ," kamu tidak suka ? "
Fida menatap dokter Ryan demi memastikan apa yang ia dengar. Pertanyaan dan panggilan yang berubah mengusik sisi ingin tahu Fida.
dokter Ryan berjalan mendekat sampai jarak mereka tinggal selangkah lagi.
" kalau kamu tidak suka aku bisa berhenti " ucapnya sambil mengunci tatapannya pada mata bening Fida.
" kamu pasti tahu betapa aku telah menahan diri selama ini. semakin aku mendekatimu semakin tebal tembok yang kamu bangun "
Fida tidak menyangkal apa yang dokter Ryan katakan. Memang begitu adanya selama ini. Tidak ada yang salah dengannya. dokter Ryan tampan dan baik. Mungkin jika Fida sudah benar - benar lepas dari bayangan Fito, dokter Ryan bisa menjadi calon yang ideal untuk ia terima kehadirannya.
" Tidak bisakah kau beri aku kesempatan untuk mendekatimu agar kau bisa segera lepas dari jerat masa lalu yang selama ini membelenggumu ? "
Fida menggeleng ," Tidak untuk sekarang " jawabnya lemah.
tbc