Fida duduk termenung di balkon kamar. Menatap kosong pada deretan bangunan menjulang diseberang. Hari masih terlalu pagi untuknya melamun tapi Fida tidak tahu harus melakukan apa. Suaminya .... mas Ryan, begitu dia ingin dipanggil masih bergelung dibalik selimut. Harusnya Fida juga masih ada disana. Meresapi rasa sakit bercampur nikmat yang baru pertama kali ia rasakan. Namun pikirannya penuh kekacauan. Hatinya merasa banyak ganjalan. Rasa ikhlas yang ia tanamkan sebelum melepas keperawanannya berubah menjadi penyesalan. Penyebabnya adalah sebuah pesan dari seseorang. Seseorang yang sepertinya berasal dari masa lalu suaminya. Fida bukannya berfikiran sempit. Dirinya juga memiliki masa lalu. Tapi bukan masa lalu seperti yang dipunyai oleh Ryan. Selain membuatnya syok dengan bentuk masa lalu

