Revan ‘n Revin

1548 Kata
Keesokan paginya Nara sengaja berlama-lama bersiap pergi sekolah. Karena mulai hari itu, Raka-lah yang akan mengantarnya sekolah. Nara bingung setengah mati karena dia sama sekali belum sempat memberitahu Revan kalau hari itu dia berangkat sama Raka. Dan semuanya terbukti. Tepat saat Nara keluar kamar untuk sarapan, terdengar bunyi klakson dari luar. Nara tidak jadi menemui Revan karena dilarang Raka keluar. Raka langsung menemui Revan, Nara yang penasaran dengan apa yang akan dikatakan Raka mengikutinya diam-diam dan mengintip dari jendela. “Maaf. Vela-nya ada??”tanya Revan sopan saat melihat Raka yang keluar. Raka menutup pintu rumah dibelakangnya,”Mulai hari ini kamu gak usah antar jemput Vela lagi. Saya yang akan mengantar dia. Dan hari ini Vela juga gak bisa berangkat sama kamu.”ujar Raka dingin. “Maaf, apa saya salah dengar? Tapi Vela gak ada mengatakan apa-apa pada saya kemarin.”protes Revan. “Kamu gak salah dengar. Dan saya harap kamu bisa pergi ke sekolah sekarang, karena saya juga akan segera mengantar Vela ke sekolah.”ucap Raka. “Baiklah. Maaf kalau saya mengganggu pagi anda. Saya permisi dulu.”pamit Revan sopan lalu masuk ke dalam mobilnya. Setelah melihat mobil Revan pergi, barulah Raka masuk kembali kerumah dan mendapati Nara berdiri di ruang tamu dengan tangan di pinggang. “Kamu gak punya hak ngusir temanku!”tegas Nara. “Oh ya?? Rasanya aku punya hak. Karena rumah ini adalah rumahku...”ujar Raka tanpa ekspresi,”Sebaiknya kamu cepat kalau tidak ingin terlambat. aku gak mau dipanggil ke sekolah gara-gara kamu datang terlambat.” “Kamu memang manusia yang gak punya hati!”umpat Nara lalu kembali ke kamarnya untuk memakai sepatu. Selama di perjalanan hingga sampai ke sekolah, wajah Nara tiak ada bedanya dengan kertas yang habis diremas-remas terus tidak sengaja masuk dalam mesin cuci. Kusut!! Diana, Revan, dan Reno pun tidak ada yang berani menyapa Nara saat dia masuk ke dalam kelas. Mereka tahu, kalau wajah Nara seperti itu, berarti suasana hatinya asli buruk banget, sepert habis diterjang badai. Nara sama sekali tidak ada memandang wajah teman-teman di kelasnya. Dia hanya menundukkan kepala, sampai-sampai dia tidak sadar kalau ada seseorang yang berdiri di sebelahnya. “Lo jangan ganggu dia deh... Dia lagi bad mood tuh.”bisik Revan pada orang yang berdiri di sebelah meja Nara. Orang itu malah tersenyum pada Revan, lalu menyapa Nara,”Hy... Kita ketemu lagi.”ujarnya sambil meletakkan tangan di atas meja Nara. Nara mendongak melihat orang yang berani menyapa dia saat mood-nya lagi hancur-hancuran,”Revin??!”ucap Nara dengan ekspresi seperti melihat Raka ada di kelasnya. “Kalian udah saling kenal??”tanya Revan aneh melihat Nara mengenali sepupunya. “Of course... Dia yang gw bilang itu, Van. Nar...”belum sempat Revin menyebut nama Nara, Nara langsung menariknya keluar kelas. “Jangan panggil nama-ku Nara. Aku mohon. Selama di Jakarta, aku adalah Vela Carina, bukan Titanara.”ujar Nara cepat dengan suara nyaris berbisik. “Why??”tanya Revin bingung. “Aku gak bisa ngejelasin sekarang. Terlalu panjang ceritanya. Yang jelas, aku mohon kerja samanya.”pinta Nara serius. Revin tersenyum, senyum yang biasanya sangat dibenci Nara,”No problem.” “Good!” Nara kembali ke kelas diikuti oleh Revin yang masih tersenyum. Revin senang, karena untuk pertama kalinya, dia merasa kalau Nara membutuhkannya dan dia melihat adanya sebuah kesempatan disana. Setelah guru masuk, akhirnya ditetapkan kalau Revin duduk di sebelah kiri Revan. Sepanjang hari itu, Revan sama sekali tidak ada bicara sebagai wujud protes karena pertanyaannya yang hanya dijawab sekilas oleh Revin. Tepat pada saat bel pulang sekolah berbunyi, Revan mendatangi Nara. “Sorry, Van. Aku gak bisa pulang sama kamu.”ujar Nara sambil membereskan buku-bukunya. “Gw udah tau. Gw cuma mau tau sejak kapan lo kenal sama Revin??”tanya Revan serius. “Kamu ingat saat aku bilang kalau aku pernah masuk sekolah umum??”tanya Nara pelan. “Ya.” “Aku sekolah di sekolah umum hanya setahun. Aku memutuskan untuk home schooling karena aku gak mau ketemu sama Revin. Itu artinya, aku udah kenal Revin sejak SMP.”jelas Nara. “Oh... By the way, aku boleh tau nomor telpon rumah kamu??”tanya Revan. Nara menghela nafas panjang,”Bukannya aku gak mau ngasi tau, Van. Tapi aku takutnya nanti Raka yang mengangkatnya. Dan aku gak ingin Raka memutus telpon untukku hanya karena itu dari kamu.”ucap Nara lemas. “Gak pa-pa... Aku akan langsung memutusnya kalau yang mengangkat suara cowok.” “Lebih baik kamu tanya sama Diana aja. Gak akan nambah masalah kalau Raka tanya darimana kamu tau nomor telpon rumah.”ujar Nara,”Aku pulang dulu, kayaknya Raka udah nunggu di luar. Sampai jumpa.”pamit Nara yang langsung berjalan keluar kelas. Saat melewati parkiran, tiba-tiba Revin memeluknya dari belakang,”Gw lupa satu hal. Kalau lo mau gw jaga rahasia lo, lo harus pacaran sama gw.”bisik Revin tanpa melepas dekapannya. “Kamu? Aku kira kamu serius bilang kalau kita akan jadi teman.”geram Nara. “Gw serius. Tapi yang paling gw inginkan adalah menjadikan lo milik gw seorang. Dan kesempatan itu datang. Gak mungkin gw sia-siakan, kan?? Lagian mana ada zaman sekarang orang mau nolong tapi gak mengharapkan balasan.”ucap Revin. “Kamu gak berubah, Vin. Kamu tetap manusia egois yang harus mendapatkan apapun yang kamu inginkan.”ujar Nara pelan. “Gw gak pernah menginginkan apapun seperti gw menginginkan lo. Hanya buat ngedapatin lo, gw bisa melakukan segala cara. Lo terima atau enggak syarat gw??” Nara terdiam sebentar sebelum kemudian menyetujui syarat yang diajukan Revin,”Sekarang aku mohon lepaskan tangan kamu. Raka udah datang. Aku gak mau dia salah paham dan ngamuk-ngamuk di rumah.”ujar Nara saat melihat VW Tuareg-nya Raka. Dengan enggan Revin melepas pelukannya,”Dia siapa??”tanya Revin sambil berjalan disebelah Nara. “Waliku selama di Jakarta.”jawab Nara malas,”Aku juga mengajukan syarat selama masa pacaran pura-pura ini.” “Apa??” “Jangan melakukan tindakan apapun yang membuat Raka bisa berfikir kalau kita pacaran di depannya. Aku malas berhadapan dengannya.” “Hanya di depan Raka??” “Di hadapan Revan juga.” “Revan?? Why??” “Lo tau kan jawabannya, Vin??”ujar sebuah suara begitu tiba-tiba yang ternyata milik Revan. “What do you mean, bro??”tanya Revin bingung. BUG!! “Jangan munafik lah, Vin!!?”bentak Revan setelah melayangkan tinjunya ke wajah Revin. Nara benar-benar terkejut dibuatnya. Dan dalam sekejap kedua cowok itu sudah baku hantam di lapangan. Raka_yang melihat Nara berusaha melerai perkelahian itu sampai kena dorong hingga jatuh dan kepalanya sedikit membentur tiang tempat parkiran motor_langsung keluar dari mobil dan menghampiri Nara. “Biar aku saja.”ujar Raka pada Nara. Raka langsung menghampiri kedua cowok yang berkelahi itu dan menarik kerah baju mereka masing-masing. “Jangan bertingkah seperti anak kecil!!”bentak Raka yang ternyata berhasil membuat kedua cowok itu mengalihkan perhatiannya dari masing-masing ke Raka. Raka langsung menarik Revan dan Revin ke kantor kepala sekolah. Tanpa menunggu atau ikut menjelaskan kejadian, Raka langsung membawa Nara pulang, meninggalkan Revan dan Revin di ruangan kepala sekolah dengan wajah babak belur. “Kenapa mereka bisa sampai baku hantam seperti itu??”tanya Raka saat mereka dalam perjalanan. “Bukan urusanmu.” “Jawab aku, Vela.” “.........” “Sudahlah. Yang jelas kalau masalah ini ada hubungannya denganmu, aku akan memberitahukannya pada kepala sekolah supaya kalian dihukum bersama.” Saat Raka dan Nara sampai di rumah, ternyata Wina sudah duduk di kursi teras menunggu Raka. Raka terlihat terkejut melihat kehadiran Wina disana. Sepertinya Wina sama sekali tidak memberitahukan Raka kalau dia akan datang ke rumah. Raka langsung menyuruh Wina masuk setelah membuka kunci pintu. Nara juga langsung dapat perintah untuk masuk kamar. Lagi-lagi, dari dalam kamar, Nara dapat mendengar dengan jelas pembicaraan antar Raka dan Wina. “Kenapa kamu gak bilang kalau kamu mau kerumah??”tanya Raka. “Kalau aku bilang, kamu pasti akan mengatakan kalau kamu ada urusan, kuliah, seminar, atau apalah. Kenapa, Ka?? Kamu mulai menghindar. Padahal kita sebentar lagi akan tunangan. Kamu serius gak sih dengan pertunangan kita??”tanya Wina dengan suara serak, sepertinya bersiap untuk menangis,”Kamu bahkan sudah menunda kepergianmu untuk menemui kedua orangtuaku. Apa lagi yang akan kamu tunda, Ka?? Apa kamu juga akan membatalkan pertunangan kita??” Nara memberanikan diri untuk mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Raka memeluk Wina. “Aku serius... Aku sudah mempersiapkan segalanya untuk keberangkatanku dan Vela liburan semester besok ke tempat orangtuamu. Aku mohon, bersabarlah selama sebulan ini.”bujuk Raka. “Aku hanya takut kamu berubah pikiran, Raka. Aku mencintaimu...” “Aku gak akan berubah pikiran, Wina. Tenang aja...” “Tapi kamu sama sekali gak pernah mengatakan kalau kamu mencintai aku selama kita pacaran.” “Cinta gak harus diucapkan, Wina. Yang dibutuhkan untuk semua itu adalah pembuktian. Dan aku membuktikan kalau kamulah yang kuinginkan untuk menjadi pendamping hidupku.” Alah, gombal! Laki-laki macam Raka emangnya bisa suka sama orang?? Orang dia aja gak punya hati, gimana bisa mau jatuh cinta sama orang... Jadi cewek koq bodoh banget sih, Win... Cowok kayak Raka aja dikejar-kejar... Kamu cantik lagi, kamu bisa dengan mudah dapat cowok yang lebih baik...bathin Nara lalu menghentikan aksinya menguping pembicaraan Raka dan memilih untuk tidur siang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN