Sebulan berlalu sejak liburan semester. Hari-hari Nara di rumah Raka sedikit lebih baik karena Raka lebih banyak menghabiskan waktunya di kampus atau pergi bersama Wina, Nara tidak tahu kalau Raka melakukan itu demi sesuatu. Nara sendiri juga sibuk dengan kerjaannya. Nara diam-diam mendapatkan kiriman note book dari Dyon. Dan dengan note book itulah Nara mengirimkan semua pendapat serta perintah-perintahnya pada karyawannya di London. Bahkan Nara sudah mendapatkan kembali kartu atm, beserta semua aset pribadi miliknya. Nara sampai membeli sebuah apartement di daerah Kelapa Gading seharga 600 juta dan sebuah mansion di Menteng seharga lebih dari 2 milyar tanpa sepengetahuan Raka. Apartement dan mansion yang berguna kalau Nara ingin kabur dari Raka untuk sementara. Dan untungnya sampai detik itu, Raka belum mengetahui keberadaan note book Nara.
Hari itu Nara pulang bersama Revan, karena entah kenapa, Revin dilarang kedua orangtuanya bersekolah di Jakarta lagi sehingga Revin harus kembali bersama kedua orangtuanya ke London. Jadi Nara dapat bebas dari Revin untuk sementara. Saat Nara akan masuk ke dalam rumah, Revan menarik pergelangan tangannya.
“Tunggu dulu!”cegah Revan.
“Kenapa, Van??”tanya Nara yang langsung berbalik menghadap Revan.
Revan menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali gak gatal,”Anu… Itu… Hari Sabtu besok lo bisa ikut gw gak??”tanya Revan.
“Kemana??”
“Sodara gw nikah, acaranya di hotel dekat pantai. Kita pergi hari Sabtu siang, sepulang sekolah, dan kembali ke sini hari Minggu sore.”
“Wah, aku pingin banget ikut. Tapi Raka mau gak ya ngasi izin.”
“Gw mohon… Usahain yah?”
“Aku coba dulu yah? Aku paling suka sama pantai.”
“Oke… Besok lo kasih tau gw hasilnya ya? Gw pulang dulu.”
“Hati-hati di jalan…”
Nara langsung masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil Revan menghilang. Nara bergegas ganti baju di kamarnya dan kemudian mengetuk pintu ruang kerja Raka. Nara sempat melihat mobil Raka ada di garasi, berarti Raka ada dirumah.
“Masuk.”
Nara langsung masuk ke dalam ruang kerja Raka dan sedikit terkejut karena ada Wina disana. Nara sendiri sedikit kurang nyaman dengan pandangan Wina pada dirinya. Memang sih saat itu Nara hanya mengenakan celana pendek di atas paha dan tank top pink yang ngepas di badannya.
“Ups… Sorry, aku gak tau kalau kalian ada urusan berdua. Uhm… Aku keluar aja deh.”ujar Nara yang bersiap keluar kalau gak mendengar ucapan Raka.
“Gak masalah. Kamu ada urusan apa mencariku??”tanya Raka dari samping Wina.
Nara membalik badannya menghadap Raka,”Aku mau minta izin. Revan mengajakku menghadiri pesta pernikahan sodaranya di sebuah hotel dekat pantai. Dan kami akan menginap satu malam di hotel itu sebelum pulang. Boleh??”tanya Nara sedikit takut jika gak diberi izin.
Raka terdiam. Pikirannya melayang sesaat. Baik Wina ataupun Nara sama sekali gak tau apa yang sedang dilamunkan Raka. Cukup lama Raka tenggelam dalam pikirannya sendiri sebelum akhirnya mengangguk pasrah,”Kalau cuma semalam boleh. Tapi kamu sama Revan gak boleh satu kamar!”tegas Raka.
Nara terlonjak kegirangan dan dengan spontan berlari menghampiri Raka lalu mencium pipi-nya. Nara lupa kalau ada Wina di sebelah Raka,”Makasih. Dan akan kupastikan kalau kami gak bakalan sekamar.”bisik Nara sebelum keluar dari ruang kerja Raka, meninggalkan Raka dalam kesulitan besar.
“Oh… Kamu senang ya bisa dicium gadis cantik macam dia. Pantas saja kamu kebingungan banget kalau dia pulang telat atau gak pulang. Ini rupanya yang membuat kamu begitu perhatian sama dia.”ujar Wina sambil menatap Raka dengan pandangan curiga.
“Kamu salah paham, Wina. Itu hanya salah satu cara Vela mengungkapkan kesenangannya. Kami tidak ada apa-apa. Kalau aku cemas sama dia, itu gak ada sangkut pautnya sama ciuman ini. Aku hanya merasa bertanggung jawab padanya.”ujar Raka berusaha menjelaskan duduk masalahnya sama Wina.
“Tapi kamu terlihat senang dicium sama dia…”
“Enggak, Wina.”
“Aku mohon Raka, jangan lakukan apapun yang membuatmu membatalkan pertunangan kita… Aku gak bisa hidup tanpamu.”ucap Wina hampir menangis.
Raka meraih Wina kedalam pelukannya,”Gak akan. Aku gak akan meninggalkan kamu.”ujarnya menenangkan Wina, tapi lagi-lagi entah untuk keberapa kalinya dalam hari ini, pikiran Raka kembali melayang, mengenang sesuatu.
Nara terlalu sibuk mengetik email balasan untuk para pegawainya sampai-sampai dia tidak sadar kalau Raka sudah berada di kamarnya. Raka memandangnya dengan tatapan curiga. Siapa yang gak curiga melihat Nara saat itu sedang berhadapan dengan note book entah milik siapa.
“Punya siapa note book itu??”
Suara Raka benar-benar mengejutkan Nara. Nara langsung menutup note book-nya tanpa mematikannya terlebih dahulu.
“Apa-apa’an ini!! Berapa kali kubilang kalau sebelum masuk harus ketuk pintu dulu!”ujar Nara berusaha menutupi kegelisahannya.
Raka mengibaskan tangannya tanda tak peduli,”Aku tanya punya siapa note book itu!? Yang pasti bukan punya kamu! Karena aku tahu, dengan uang saku 300 sebulan, kamu gak mungkin bisa membeli note book.”ucap Raka yang bisa membuat cairan manapun bisa membeku saat itu juga.
“Punya Revan. Aku meminjamnya karena harus membuat tugas sekolah.”sahut Nara datar.
“Kenapa tidak pakai punyaku saja??”
“Oh, Raka… Kamu banyak kerjaan kan?? Buktinya belakangan ini kamu jarang ada di rumah. Dan kalau aku meminjamnya padamu, kamu pasti akan bertanya ini itu seperti sekarang. Itu dia yang membuatku malas berurusan denganmu.”jelas Nara,”Tapi ngomong-ngomong, ada urusan apa kamu ke kamarku??”
“Apa kamu juga akan ke pantai dengan Revan??”tanya Raka to the point.
“Pasti! Aku sangat menyukai pantai.”ucap Nara berseri-seri, dan entah kenapa Raka malah jadi bad mood melihat Nara berseri-seri.
“Kalau begitu kamu gak boleh pergi!”tegas Raka lalu langsung keluar dari kamar Nara.
Apa-apa’an dia!! Tadi udah boleh, sekarang tanpa alasan yang jelas main larang gitu aja!! Emangnya dia kira dia siapa!! Yang jelas aku akan pergi dengan Revan!bathin Nara.
***
“Hei, sebelum ke hotel kita cari baju dulu yah? Gw gak punya baju formal nih.”ujar Revan pada Nara yang kini duduk disampingnya dalam perjalanan ke hotel, tempat pesta pernikahan diadakan.
Nara berpikir sebentar, kemudian tersenyum sambil mengangguk,”Aku juga gak punya baju formal. Kamu punya butik langganan gak??”tanya Nara.
“Langganan Nyokap yang gw tau.”
“Ya udah kesana aja. Ntar biar aku yang pilihkan baju untukmu.”
“Wah, berarti gw donk yang milihkan gaun lo?”
“Siapa bilang aku pakai gaun??”tanya Nara bingung.
“Emang lo mau pakai apa?? Jangan bilang lo mau pake jas juga??”
“Maunya sih gitu. Tapi yang jelas, aku gak mau pakai gaun lagi.”tegas Nara.
Revan hanya terdiam mendengarnya. Revan mengemudikan mobilnya menuju sebuah butik yang sangat besar. Revan dan Nara langsung masuk dan memilih-milih baju. Saat Nara sibuk memilihkan baju untuk Revan, Revan mendatangi seorang penjaga butik dan membisikkan sesuatu padanya.
“Tolong bantu teman saya berpakaian. Buat dia secantik mungkin.”bisik Revan pada gadis yang menjaga butik itu.
Dan dalam sekejap Nara sudah ditarik kedalam kamar pas dan dipakaikan gaun-gaun malam yang sempat dipilih Revan. Nara sama sekali gak bisa berontak, sekuat apapun dia berontak, gadis penjaga itu jauh lebih kuat.
Gila ni cewek… Belajar bela diri dimana dia…bathin Nara pasrah dipakaikan gaun malam oleh gadis penjaga itu.
Revan sendiri sudah siap berpakaian dan menunggu Nara dengan harap-harap cemas. Kecemasan Revan lenyap saat melihat Nara keluar dari kamar ganti dengan mengenakan sebuah gaun malam berwarna bronze, sepatu high hills, dan make up yang membuatnya terlihat seperti putri. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai untuk menutupi belahan punggung yang begitu besar, sampai ke pinggang, hingga membuat punggung Nara hampir terlihat seluruhnya.
“Lo cantik banget! Sumpah. Gw gak tau cantikan mana lo sama peri.”ucap Revan benar-benar kagum melihat penampilan Nara.
Nara berjalan menghampiri Revan,”Lihat saja nanti, aku pasti akan balas dendam.”bisik Nara tepat di telinga Revan.
Setelah membayar semua pakaian yang mereka pakai, akhirnya Revan dan Nara melanjutkan perjalanan mereka.
Saat mereka tiba dan memasuki lobby hotel, tamu yang berdatangan sudah sangat ramai. Revan menaruh tangan Nara di lengannya, seolah Nara adalah pasangannya. Gak sedikit mata yang memandang kedatangan kedua anak muda ini. Bahkan ada beberapa yang setelah memandang Nara langsung buka pertemuan tertutup. Revan menyalami saudaranya yang berada di pelaminan, meninggalkan Nara di dekat lantai dansa. Saat itulah Nara didatangi beberapa pria yang langsung menyapanya.
“Maaf… Apakah anda Putri Shamash??”tanya pria pertama yang mendatangi Nara.
Nara terkejut, gadis itu langsung berbalik, berhadapan dengan tiga orang pria yang sepertinya hampir berumur 50’an. Nara memandang ketiga pria itu dengan seksama, tidak satupun diantara mereka yang dikenal Nara, mereka bukan rekan bisnis Nero. Tapi kenapa mereka bisa mengenal Nara?? Padahal berita pengambil alihan jabatan belum boleh go public sampai Nara benar-benar kembali ke London.
Revan mengetahui kejadian itu. Dia langsung berjalan menghampiri Nara,”Ada apa??”tanya Revan posesif.
Nara menggeleng pelan,”Gak ada apa-apa. Sepertinya bapak-bapak ini salah mengenaliku.”ucap Nara pelan.
Ini yang kutakutkan kalau memakai gaun. Saat ulang tahunku kemarin, banyak sekali wartawan yang datang. Dan bukan gak mungkin kalau salah satu photo pesta ulang tahun yang ada aku-nya sampai ke sini. Mereka bisa mengenaliku!!teriak Nara histeris, walaupun hanya dalam hati.
“Kami gak mungkin salah. Anda pasti Titanara Armalite Shamash kan?? Pewaris tunggal Nero Triton Chamaeleon.”
Brengsek!! Bahkan dia tau nama lengkap Nero!
Nara semakin kebingungan, tapi untungnya dia udah dilatih untuk bisa mengendalikan diri dalam setiap keadaan.
“Maaf… Sepertinya anda memang salah. Dia Vela Carina, pacar saya.”ujar Revan sambil merangkul bahu Nara.
Nara memandang Revan, tersenyum,”Ya, saya bukan Titanara seperti yang anda bilang. Nama saya Vela.”ujar Nara mempertegas ucapan Revan.
“Oh, maaf kalau begitu. Kami mohon diri.”ujar pria yang tadi ngotot kalau Nara adalah Titanara.
Padahal memang iya…
Revan mengajak Nara untuk berdansa, awalnya Nara menolak dengan alasan gak bisa. Tapi melihat Revan bersungguh-sungguh mengajaknya berdansa, Nara mengalah. Nara berdansa dengan Revan. Dan saat memasuki lagu kedua, Nara tertabrak seseorang saat berdansa.
“Maaf…”ucap orang itu terdengar menyesal.
“Gak masalah, It’s okay…”ucap Nara tanpa memperhatikan siapa orang yang sudah menabraknya.
“Kamu?? Vela??”tanya orang itu curiga.
Mendengar namanya disebut, Nara langsung berbalik menghadap orang yang menabraknya,”Wina?!”ujar Nara tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Wina berdiri di hadapannya dengan anggun. Wanita itu mengenakan gaun biru langit yang senada dengan batu permata di kalungnya. Disamping Wina, Raka berdiri dengan gagahnya. Memandang tajam Nara dengan mata elangnya.
Raka melirik tangan Revan yang masih memegang bahu Nara yang terbuka,”Well, ada penjelasan??”tanya Raka sinis.
“Apa maksudnya, Vel??”tanya Revan bingung menatap Nara dan Raka bergantian.
“Gak ada apa-apa.”ujar Nara meyakinkan.
“Kita bicara sebentar.”ucap Raka, lagi-lagi menarik tangan Nara pergi dari lantai dansa.
Revan dan Wina hanya bisa terdiam melihat kejadian itu. Tapi kemudian Wina mengajak Revan untuk duduk di sudut ruangan membicarakan sesuatu.
“Kamu pacar Vela??”tanya Wina saat mereka sudah duduk di sofa panjang.
“Belum sampai kesitu. Kenapa??”tanya Revan penasaran.
Wina menghela nafas,”Kulihat mereka terlalu dekat. Aku gak yakin kalau mereka gak ada hubungan apa-apa. Raka selalu gak tenang kalau Vela gak ada di rumah.”
“Maksudnya??”
“Aku takut kalau mereka ada hubungan. Raka memang mengatakan kalau mereka gak ada hubungan apa-apa. Tapi malam ini aku yakin kalau Raka menyetujui ajakanku kesini karena tau kalau Vela ada disini. Padahal sudah seminggu ini aku mengajaknya pergi, dan dia selalu menolaknya.”
“Ya sudah… Itu berarti mereka memang gak ada apa-apa.”sela Revan sebelum Wina menyelesaikan ucapannya.
“Tapi Raka berbohong!! Dia membatalkan acaranya denganku hanya untuk pergi ke pantai bersama Vela!! Berdua!!”ujar Wina setengah teriak.
“Pergi?? Ke pantai?? Kapan??”tanya Revan cemburu.
“Hari Minggu beberapa minggu yang lalu. Aku benar-benar gak ingin kehilangan Raka…”
“Jadi maumu apa??”
“Jauhkan Vela dari Raka. Buat dia menjadi pacarmu.”ujar Wina cepat, seakan memang itu yang ingin diomongkannya dari awal.
Sementara itu di dalam lift, Raka membawa Nara ke lantai teratas hotel tersebut. Saat lift sudah sampai di lantai 17 hotel itu, Raka menarik Nara keluar.
“Cukup, Raka!!”teriak Nara sambil menyentakkan tanggannya dari pegangan Raka.”Aku muak diperlakukan seolah aku anak kecil yang tidak bisa menjaga diri!! Kamu selalu seperti ini!! Setiap tidak senang dengan apa yang kulakukan, kamu langsung mengintimidasiku!!”
“Aku tidak pernah mengintimidasimu. Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu tetap kesini walaupun sudah kularang??”tanya Raka datar.
“Aku berhak untuk menghadiri acara apapun yang aku mau!”bentak Nara.
“Kenapa kamu gak pernah menuruti apapun yang aku katakan??”tanya Raka sesaat kemudian.
Nara terdiam beberapa saat,”Kenapa kamu selalu bersikap seperti ini?? Seolah-olah kamu perhatian sama aku?? Padahal kamu sama sekali gak menyukaiku.”ucap Nara pelan, nyaris berupa gumaman.
“Kamu tanggung jawabku.”jawab Raka cepat.
“Gak usah kamu pikirkan lagi tentang tanggung jawab! Aku gak butuh perhatian yang hanya berdasarkan tanggung jawab. Aku butuh perhatian dari orang-orang yang menyayangi dan mencintaiku tulus dari hati mereka.”ucap Nara berusaha terdengar biasa,”Dan tolong, jangan bersikap seperti orang yang cemburu pacarnya bersama pria lain seperti ini. Sikapmu ini hanya tambah membuatku mengharapkan hal yang tak pasti.”
Nara langsung masuk ke dalam lift. Meninggalkan Raka sendiri.
Saat Raka kembali ke ruang pesta, Nara melihatnya mendatangi meja minuman dan mengambil segelas Wine. Raka menghabiskan gelas pertama dengan begitu cepat, kemudian Raka mengambil lagi segelas Wine. Entah berapa gelas yang akhirnya dihabiskan Raka sebelum Nara kembali ke kamarnya untuk istirahat.
“HA HA HA!!!”tawa Nara terdengar begitu senang saat keesokan harinya berenang di pantai bersama Revan.
“Awas lo ya!”teriak Revan yang kemudian mengejar Nara sepanjang pantai.
Nara berlari menghindari kejaran Revan, tapi walau bagaimanapun juga Revan jauh lebih kuat daripada Nara. Saat Nara berhenti karena kehabisan nafas, Revan menarik Nara ke dalam pelukannya.
“Tertangkap!”seru Revan penuh kemenangan.
Nara tersenyum,”Siapa bilang??”ucapnya yang langsung mendorong tubuh Revan sehingga membuat Revan hilang keseimbangan.
Revan jatuh, tapi dia sempat menarik tangan Nara sehingga membuat Nara ikut terjatuh bersamanya. Nara jatuh tepat di atas Revan. Kedua saling bertatapan, lama. Kemudian Revan berguling dan memerangkap Nara di antara pasir pantai dan tubuhnya. Revan menyingkirkan sejumput rambut di wajah Nara sebelum mendekatkan wajahnya ke wajah Nara. Wajah Revan semakin dekat, Nara bisa merasakan nafasnya. Dan kemudian mereka berciuman. Nara bahkan sampai mengalungkan lengannya di leher Revan.
Sementara itu di sebuah kamar di dalam hotel…
“Ka…”panggil Wina pelan pada Raka yang sedang berdiri di beranda kamar hotel.
Raka sedang memperhatikan sepasang kekasih yang tadi kejar-kejaran, sekarang malah asyik berciuman.
“Ka…”panggil Wina lagi, kali ini agak kuat.
“Maaf, Win.”ujar Raka yang langsung berbalik menghadap Wina.
“Gak pa-pa. Tapi…”ucapan Wina terhenti karena sepertinya dia mengkhawatirkan sesuatu.
“Tenang saja. Aku akan menikahimu secepatnya…”ujar Raka sambil berjalan ke kamar mandi meninggalkan Wina yang terbaring di atas tempat tidur dengan hanya menggunakan selembar selimut, tanpa selembar pakaian pun.