Di pagi hari yang cerah ini Lia dan Evan bersama dua ART-nya pergi ke pasar sayur bersama. Mereka belanja banyak bahan masakan sebab hari ini orangtua Lia akan datang berkunjung.
“Kamu nanti mau masak apa Li?” tanya Evan pada istrinya yang sibuk memperhatikan sekitar. “Aku mau masak sambal ayam cabe hijau kesukaan Mama. Kita cari ayam dulu yuk,”
“Itu di sana tempat jual ayamnya non.” Bi Siti mengarahkan Lia ke tempat-tempat langganannya.
Lia membeli ayam, ikan, sayur mayur dan bumbu dapur lainnya. Setelah mendapatkan semua belanjaannya, mereka berniat pulang namun Lia sontak menarik ujung baju Evan yang berjalan di depannya, membuat suaminya itu menghentikan langkahnya. “Kenapa?”
“Aku pengen itu deh.” jawab Lia dengan mata berbinar memandang ke arah tukang jualan kue pancong.
“Beli kue lain aja ya di toko kue. Jangan di sini, enggak bersih.”
“Tapi aku mau itu Evan~ di toko kue enggak ada jual kue itu.” Lia tidak menyadari bila barusan suaranya terdengar seperti merengek manja pada suaminya pasalnya ia sangat menginginkan kue pancong kesukaannya itu.
“Tapi—“
“Aku enggak mau pulang sebelum dibeliin.” Lia sontak melipat tangan di depan d**a dengan bibir yang mengerucut sempurna.
“Udah Mas Evan beliin aja. Kasihan itu bumil pasti lagi ngidam. InsyaAllah bersih Mas.” timpal Bi Siti.
“Ya udah aku beliin.”
“Yeaayy~ makasih.” Ia menjadi bersemangat dan lebih dulu menghampiri pedagang kaki lima tersebut.
“Bi Siti, Bi Inem Tolong bawa barang belanjaannya langsung ke mobil ya, nanti saya sama istri saya nyusul.”
“Baik Mas.”
“Mau beli berapa?” tanya Evan yang sudah berdiri di sebelah Lia.
“Aku udah bilang beli 3 bungkus. Siapa tahu ada yang mau juga selain aku.”
“Berapa harganya?” tanya Evan lagi.
“36 ribu, 3 bungkus.” Evan mengangguk lalu mengeluarkan dompetnya.
“Ini kuenya.” Abang penjual kue pancong itu memberikannya pada Evan.
“Ini ya Bang duitnya,”
“Makasih Bang.” Evan mengangguk lalu meraih tangan Lia meninggalkan tempat tersebut.
***
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.” Lia sendiri yang menyambut langsung kedua orangtuanya yang datang ke rumah.
Nani memeluk anaknya, ajang temu kangen anak dan ibu yang sudah kurang lebih sebulanan berpisah. “Lia sayang, kamu kabarnya gimana?”
“Aku baik kok Ma. Mama, Papa gimana?"
"Kami juga baik," jawab Nani dan diangguki suaminya.
Lia tersenyum lega, "Ayo masuk Ma, Pa.”
“Silakan duduk Pak, Bu.” Mia, sang tuan rumah mempersilakan tamunya untuk duduk.
“Kami ke sini pengen main-main aja Bu, mumpung lagi libur 'kan? maaf kalau merepotkan ya,” ujar Nani basa basi.
“Enggak kok Bu. Sama sekali enggak merepotkan.” Mia menyunggingkan senyum tipisnya.
“Ibu Mia apa kabar?” tanya Nani lagi.
“Baik. Ibu sama Bapak gimana?”
“Alhamdulillah kami baik juga.”
Mereka lalu berbincang-bincang kecil sampai akhirnya minuman datang.
“Silakan minum Pak, Bu.”
“Iya Bu Mia.”
“Ehm, Mama Nani sama Papa Roy nanti sore sibuk enggak? gimana kalau nanti sore kita jalan-jalan ke taman kota? jalan-jalan santai sambil refreshing aja. Kalau sore ‘kan juga udah enggak panas.”
“Boleh. Kebetulan Mama lagi mumet ini, pengen refreshing.” Nani tertawa kecil.
“Lebih rame juga jadi lebih seru.” tambah Lia dan diangguki mamanya.
“Ya udah kalau gitu makan dulu yuk sebelum jalan-jalan nanti sore.” Mia menawarkan tamunya untuk makan siang bersama. Lia tampak memandang heran mertuanya yang sikapnya lebih hangat hari ini, namun sepersekian detik kemudian ia menyunggingkan senyum kecilnya.
“Eh, enggak perlu repot-repot Bu Mia.” Nani merasa jadi tidak enak, takut merepotkan.
“Enggak repot kok, udah disiapin juga. Anak ibu sendiri ini yang masak.”
“Eh, iya. Kamu yang masak Lia?”
“Iya Ma," jawab Lia dengan senyum malu-malunya
“Ya udah yuk semuanya kita makan.”
***
Setelah sampai ke taman kota, tampak taman ramai dengan orang-orang yang berjalan-jalan santai, bermain dan mengobrol bersama kerabat terdekat. Terlihat beberapa pedagang kaki lima juga berjualan di sana.
“Mama duduk di sini aja Van, Mama cepat capek kalau jalan.”
"Baru juga sampai Ma, masa udah capek aja."
"Nanti aja Mama jalannya. Mama mau duduk sambil nikmatin angin aja,"
“Ya udah kalau gitu, saya temani Ibu Mia aja di sini.” timpal Nani lalu duduk bersama di kursi taman. “Duduk sambil menikmati angin gini enak juga ya Bu? Enggak perlu capek jalan.” Mia mengangguk.
“Ya udah kalau gitu kami ke sana dulu ya Ma,” ucap Evan dan diangguki oleh kedua wanita paruh baya itu sedangkan Papa Lia terlihat sedang mengobrol bersama orang lain di kursi taman sedari tadi.
Evan menggenggam tangan Lia, mengajaknya jalan menelusuri taman kota yang sangat ramai sore ini. “Hm, menurut kamu, Mamamu agak beda enggak sih hari ini?”
“Beda gimana?” tanya Evan dengan dahi mengkerut.
“Mama lebih kalem hari ini, maksudku ke arah yang lebih baik ya. Lebih hangat gitu, aku suka lihat Mama hari ini.”
“Hmm, ya aku juga merasa sih. Semoga aja Mama bakal kayak gini terus ya.” Lia tersenyum seraya mengangguk pelan.
“Aduh,” Lia reflek mengucek matanya ketika debu masuk ke dalam matanya.
“Eh, kenapa?”
“Mataku perih banget, kemasukan debu.”
“Sini coba aku liat,” Evan mendekati wajah Lia, menyentuh pipi istrinya lalu meniup matanya pelan.
“Masih perih?”
“Masih.”
Sementara itu Kayla, sekretaris Evan yang berada dalam sebuah mobil yang berhenti di dekat taman kota karena macet terlihat sedang mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. ‘Itu bukannya Pak Evan? lagi sama siapa ya dia? kok dekat banget kayaknya.’ batin Kayla penasaran sebab wanita yang bersama Evan itu posisinya terlihat membelakangi Kayla sehingga Kayla tidak dapat melihat wajah si wanita itu. Kayla hanya bisa melihat wajah Evan dan wanita itu sangat dekat.
“Sayang, kamu liat apa?” tanya seorang pria brewok dengan kulit eksotis yang berada di kursi kemudi.
“Eh, enggak. Aku enggak liat apa-apa kok sayang.” jawab Kayla sembari tersenyum manis. Pria itu mengangguk lalu kembali menjalankan mobilnya meninggalkan area taman kota.
‘Aku harus segera cari tahu.’ batin Kayla kemudian.
TBC