***
Vera benar-benar tidak habis pikir, mengapa wanita itu harus kembali? Untuk apa sih dia kembali setelah empat tahun? Untuk menghancurkan hubungannya dengan Joe kah? Jika memang tujuannya itu, seharusnya sejak awal wanita itu tidak perlu playing victim dan melarikan diri dari Joe. Seharusnya dari awal saja wanita itu menemui Vera dan Vera akan menyadarkan wanita itu betapa menyedihkannya dia sampai harus merebut kekasih orang.
Buat apa sih dia menemui Joe lagi? Bukankah wanita itu akan segera menikah? Vera paham sekarang. Joe mabuk di bar beberapa waktu lalu pasti karena ia sudah mendapat kabar bahwa wanita itu sudah mau menikah.
Vera sama sekali tidak bisa tidur semalaman. Kemarin setelah memaksa Wallace, akhirnya dia mendapat jawabannya kalau wanita itu adalah mantan pacar Joe yang bernama Gwen. Empat tahun dilaluinya dengan penuh kehampaan karena dia tahu kalau sebenarnya Joe hanya memikirkan wanita itu. Ia berusaha sedemikian rupa agar Joe bisa mengakui keberadaannya. Meski sekarang hati Joe masih berlabuh di tempat lain, Vera yakin usahanya setelah sekian tahun pasti akan membuahkan hasil. Suatu hari nanti Joe akan sadar bahwa di belakang pria itu, ada Vera yang sangat mencintainya.
Tapi harapan Vera itu sepertinya pupus begitu saja karena kepulangan wanita itu. Joe kemarin sampai sakit hanya karena memikirkan Gwen. Sewaktu Joe tertidur kemarin, dia sempat mengutak atik ponsel Joe dan menyalin nomor ponsel seseorang yang bernama Gwen di ponselnya sendiri.
Selagi Vera sibuk dengan lamunannya, ponselnya yang berada di atas meja bergetar, tanda bahwa ada chat yang masuk. Ternyata dari Joe.
Kamu sudah pulang kerja? Aku sudah menunggu kamu di lobi hotel. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.
Vera menebak-nebak dalam hati akan apa yang akan dikatakan Joe padanya, mungkin dia akan mengucapkan terima kasih, atau mungkin karena dia menyesal sudah mengabaikan Vera dan memikirkan wanita itu?
Diliriknya jam dinding yang tergantung di tengah ruang dapur tempatnya bekerja, Sudah jam empat lewat lima menit. Jam kerja sudah berakhir, dan Vera dengan semangat melepas apron dan mengambil barang-barang miliknya di locker.
Ia senang Joe menjemputnya. Ia juga yakin Joe datang untuk menjelaskan semuanya pada Vera. Dan tanpa pria itu meminta maaf lebih dulu, Vera pasti akan memaafkannya.
Lift yang dinaiki Vera sudah tiba di lantai dasar hotel tempatnya bekerja. Ia berjalan cepat menuju lobi utama tempat Joe menunggunya karena kuatir pria itu akan menunggu lama. Dan benar saja, pria itu sudah duduk di sofa lobi hotel dengan pakaian kasual yang rapi.
“Maaf membuatmu menunggu lama,” wanita itu tersenyum dan duduk di hadapan Joe.
“Tidak masalah. Aku memang sengaja datang lebih awal.” Jawab Joe sembari tersenyum tipis. Ada unsur keterpaksaan yang tergurat di wajah itu, tapi Vera tidak peduli. Yang terpenting adalah Joe sekarang ada di sini menjemputnya dan tersenyum padanya, tidak peduli senyum itu tulus atau tidak. Vera bisa berpura-pura tidak tahu.
"Kamu sudah sehat?", tanya Vera.
"Ini semua berkatmu, terima kasih", jawab Joe.
“Ah, kamu ini. Buat apa terima kasih? Kita ini kan pacaran, sudah sewajarnya aku merawatmu.” Vera tersenyum, tapi Joe tampak kurang nyaman mendengar perkataan Vera barusan.
Melihat kekasihnya diam dan terlihat kesulitan memulai pembicaraan, Vera pun merasa penasaran tentang apa yang ingin dikatakan Joe padanya. "Apa yang ingin kau bicarakan padaku Joe?"
Joe tampak menghela nafas panjang sebelum ia menatap Vera langsung ke dalam manik matanya. Ia sudah menimbang-nimbang keputusannya sebelum hari ini tiba.
“Ver, aku benar-benar sangat beruntung kamu ada di sisiku.” ucapnya yang membuat Vera tersipu. Wanita itu tidak menyangka Joe menemuinya hanya untuk mengatakan hal ini.
Tapi ia tidak pernah mengira, kalimat berikutnya yang dilontarkan Joe adalah kalimat yang menjadi momok menakutkan yang tidak pernah terpikirkan olehnya akan keluar dari mulut Joe. “Dan aku yakin sekali kamu akan mendapatkan orang yang lebih baik daripada aku.”
Vera membelalak. Tiba-tiba saja ia tergagap. “Errr… Ma.. maksudmu aaa…paaa?” Jangan sampai yang ia pikirkan akan terjadi. Jangan sampai, jangan sampai!!!
Tanpa melepaskan tatapannya dari Vera, Joe menjawab dengan lembut,
“Ver, kita putus saja ya…”
***
Vera dapat merasakan bahwa jantungnya seperti berhenti berdetak ketika kata itu keluar dari mulut Joe. “Ver, kita putus saja ya…”
Ini pasti bercanda, batin Vera dalam hati. Ia menggelengkan kepala sambil terkekeh menatap Joe. “Bercanda kamu nggak lucu nih.”
Tapi Joe membalas Vera dengan tatapan serius. Melihat ekspresi serius Joe, bibir Vera seketika terkatup rapat. Ditatapnya Joe dengan perasaan hancur.
"Kenapa?", hanya kata itu saja yang sanggup keluar dari mulutnya.
Joe terdiam seribu bahasa dan menghindari tatapan nanar Vera dengan cara mengalihkan pandangannya pada permukaan meja tamu.
Merasa tidak mendapat jawaban, Vera pun menyatakan pendapatnya. "Karena wanita itu bukan?", tanyanya dengan mata berair.
Wajah Joe menegang.
Dengan mata yang lembab, Vera tersenyum sinis. "Diam berarti iya", ujarnya lagi.
Dengan d**a bergemuruh, Vera memaksakan diri untuk bicara, "Memangnya apa salahku? Kurang baik apa aku, Joe? Aku tahu bahwa hatimu tidak untukku, tapi selama bertahun-tahun, akulah yang selalu ada di sisi kamu!" Mata Vera berkaca-kaca.
Joe menatap kosong pada wanita yang sudah menemaninya selama dua tahun itu. Rasa bersalah semakin membuncah, tapi dia tidak ingin menyakiti Vera lebih lama lagi. Lebih baik sakit sekarang daripada sakit nanti, begitulah pikirnya.
"Akan ada pria yang lebih pantas , tapi sayangnya bukan aku."
Rasa sakit di dalam hatinya terasa sangat perih. Vera bahkan merasa lututnya lemas sekarang. Sekarang apa lagi yang bisa ia lakukan? Joe sudah minta putus. Kalaupun hanya Vera seorang yang ingin memperjuangkan hubungan mereka, apakah ia mampu mempertahankannya sementara Joe sudah memilih untuk pergi?
“Ver, Aku benar-benar minta maaf. Banyak yang belum kukatakan dengan jujur padamu. Selama ini….” Joe terus bicara, sementara Vera tidak sanggup lagi mendengar ucapan Joe lebih lanjut. Joe pasti ingin mengatakan bahwa ia sama sekali tidak pernah mencintai Vera, dan hal itu hanya akan menambah luka hatinya. Bagi Vera ada beberapa hal yang lebih baik tidak perlu diberitahukan langsung padanya daripada ia harus menanggung sakit dan terus berlarut-larut dalam kesedihan.
Maka tanpa menunggu Joe menyelesaikan kalimatnya, Vera bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari dalam Hotel. Setelah ia berlari cukup jauh dari Hotel, ia berpaling dan tidak menemukan tanda-tanda Joe menyusulnya.
Seolah ditampar oleh kenyataan, tubuhnya merosot jatuh dan ia berjongkok dengan membenamkan wajah di antara kedua lututnya di depan sebuah mini market tak jauh dari Hotel. Ia tidak peduli lagi akan rasa malu dilihat oleh orang-orang yang berlalu lalang. Hatinya Vera sekarang terasa sangat sakit seperti ditusuk ribuan jarum, ia tak kuasa menahan bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya.
Disaat Vera sedang terisak seperti itulah, sesosok pria berparas oriental keluar dari dalam mini market sambil membuka bungkus es krim. Ketika bungkus es krim tersebut berhasil ia buka, ia langsung memasukkan eskrimnya ke dalam mulut, sementara sebelah tangannya terulur ingin memasukkan bungkus es krim ke dalam tempat sampah yang berada di depan mini market. Tapi bukannya memasukkan sampah ke dalam tempat sampah, tangannya justru menyentuh pundak seseorang yang sedang berjongkok.
Baik Wallace maupun Vera sama-sama terkejut. Terlebih lagi saat Wallace melihat wajah Vera basah oleh air mata. “Ver? Loh, Vera??? Kamu kenapa?”
Buru-buru Vera menghapus air matanya, lalu bangkit pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan apa pun.
Wallace ingin mengejar, tapi ia teringat sesuatu. Tadi Joe mengatakan bahwa ia akan pergi sebentar ke hotel Vera yang letaknya hanya satu komplek dengan restoran mereka. Wallace hanya memiliki waktu istirahat sebentar untuk pergi ke mini market, tapi ia justru bertemu Vera yang sedang menangis. Seharusnya sekarang juga ia kembali ke restoran, tapi ia merasa tidak bisa membiarkan Vera menangis seperti itu. Segera ia berbalik arah menuju hotel tempat Vera bekerja. Seharusnya Joe masih ada di sana.
***
Wallace masuk ke lobi hotel dan menemukan Joe masih terduduk di sofa lobi utama. Buru-buru didekatinya sahabatnya itu dan bertanya to the point, sampai yang ditanya kaget karenanya.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa Vera pergi sambil menangis?", tanyanya heran.
Joe menghela nafas dan menjawab, "Itu tidak heran. Aku baru saja mengakhiri hubungan kami."
"Apa?",tanya Wallace tidak percaya. "Gila ya, Joe!", serunya lagi.
"Aku memang gila", jawab Joe cuek.
Melihat sikap cuek Joe tersebut, entah mengapa Wallace naik pitam, meskipun ia tahu tidak sepatutnya ia ikut campur masalah sahabatnya. "Kalau kamu masih mengharapkan Gwen yang sudah tidak mungkin kembali padamu lagi, lebih baik kau berhenti bermimpi sobat!"
"Hubungan kami tidak ada masa depan, Lace! Aku hanya berpikir cepat lambat aku akan menyakiti Vera. Bukankah lebih baik sekarang daripada dia jauh lebih terluka lagi?", Joe balik bertanya.
"Terserah saja", ucap Wallace pasrah. "Kamu yang sudah memutuskan. Jangan bilang padaku kalau nanti kamu menyesal lagi dengan tindakanmu!", tukas Wallace lalu meninggalkan Joe mematung di tempatnya seorang diri.
***