13- MENCOBA MENERIMA

1287 Kata
*** Waktu berlalu begitu cepat. Vera tidak menyangka ia dan Joe akan berakhir seperti sekarang. Senyum bahagia menghiasi wajahnya sekarang. Hatinya terasa berbunga sampai ia tidak bisa menggambarkannya dalam bentuk kata-kata. Ia yang sekarang tengah berdiri di depan altar dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang membuat penampilannya terlihat anggun. Dan sekarang, Joe- pria yang ia cintai tengah menyematkan cincin kawin di jari manisnya sesaat setelah sumpah pernikahan selesai diucapkan. Setelah cincin kawin tersemat manis di jarinya, kini giliran Vera melakukan hal yang sama pada Joe. “Aku akan membuat kamu bahagia, Ver. Aku akan setia padamu,” Joe tersenyum tulus. Senyuman yang sudah lama sekali tidak Vera lihat di wajah pria itu. Ucapan Joe tersebut membuatnya terharu. Setetes air mata haru jatuh membasahi pipi Vera, ia menatap Joe yang terlihat gagah dengan tuxedo putih itu dengan penuh cinta, menunggu instruksi pendeta pada mereka. “Now you can kiss the bride.” Setelah dipersilahkan, Joe membuka veil pengantin dan tersenyum pada Vera. Akan tetapi ketika ia menundukkan wajah, hendak mencium pengantin wanita, tiba-tiba sebuah suara lantang seorang wanita terdengar. “Berhenti!” Semua yang hadir di sana spontan menoleh ke asal suara, termasuk Joe dan Vera. Seorang wanita yang terlihat asing,bertubuh kurus dan berambut pendek, mendekati altar dan langsung memisahkan Joe dan Vera dengan berdiri di antara mereka. Baru saja Vera ingin mengatakan sesuatu, wanita itu justru mendahului Vera, tidak memberikan kesempatan pada Vera untuk bicara. “Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Akulah yang seharusnya berdiri di sini! Dia kekasihku!” Tegas wanita itu yang membuat Vera tercengang. Belum habis keterkejutan Vera dengan kehadiran wanita itu, kini ia kembali dikejutkan dengan kehadiran wanita kedua. Tapi yang membuat Vera makin syok, wanita itu tengah berbadan dua. “Siapa yang kamu sebut kekasihmu, b***h?” Wanita hamil itu mendorong wanita bertubuh kurus sampai ia terjengkang ke belakang. “Dia sudah berjanji akan menikahi aku. Anak yang berada di dalam kandunganku adalah anaknya!” Wanita itu mengelus perutnya yang terlihat seperti hamil 5-6 bulan. Vera ternganga melihatnya. Seketika saja lututnya terasa lemas. Jika saja gaun pengantin yang dipakainya tidak berat, ia pasti langsung tersungkur ke lantai, dan akan menjadi lelucon masyarakat karena jatuh di hari pernikahan sendiri. Semua hal buruk ini terjadi begitu tiba-tiba, sampai Vera tidak bisa berpikir jernih. Ah, bukan sekedar hal buruk. Ini lebih dari sekedar buruk. Ini malapetaka! Ditepiknya wajahnya dengan keras, berharap semua yang terjadi sekarang hanyalah mimpi. Akan tetapi Vera merasa wajahnya terasa sakit. Jadi yang ia rasakan sekarang adalah kenyataan? Kini tatapan Vera beralih pada Joe. Matanya memicing tajam menatap pria yang hendak ia nikahi jari ini. “Joe! Apa-apaan ini! Katakan padaku bahwa yang mereka katakan tadi semuanya bohong! Katakan Joe!!!” Akan tetapi, belum sempat Joe mengatakan sepatah kata pun, tiba-tiba wanita ketiga muncul dengan seorang balita perempuan. “Kalian semua tidak berhak berebut menikahi dia!” Wanita itu menunjuk Joe dengan marah. “Siapa kamu?” Tanya Vera. Dua wanita barbar di sampingnya turut mendukung Vera melayangkan tatapan membunuh pada wanita ketiga, dan wanita ketiga itu membalas tatapan mereka dengan tak kalah garang. Ditariknya Joe sampai menjauh dari Vera dan kedua wanita itu dan berkata, "Aku adalah ibu dari anaknya", ucapnya sambil menunjuk putri yang digendongnya dengan dagu. Ucapan wanita itu sukses membuat Vera membeku di tempat. Ia bagaikan mendengar petir di siang bolong. Pikiran Vera saat itu juga berubah blank. Ia tidak tahu harus berbuat dan mengatakan apa. Semuanya terjadi dengan tiba-tiba. Ia bahkan tidak menggubris tiga wanita itu sudah mengerubuti Joe sambil beradu mulut satu sama lain. Rasa syok yang teramat besar, membuat Vera menuruni tangga, menjauhi mimbar dengan langkah gontai. Suara rebut-ribut di belakangnya terdengar seperti kucing betina yang sedang rebut dimusim kawin. Ia tidak peduli dengan para wanita yang sedang saling tampar, jambak-jambakan, dan cakar-cakaran. Ia terlalu terpukul untuk berpikir. Saat itulah, mata Vera menangkap sosok wajah yang terlihat angkuh di bangku umat. Sosok cantik yang ternyata adalah Gwen itu mendekatinya dengan seulas senyum miring terukir di wajah cantiknya.  “Mau apa kamu kemari? Kamu juga mau mengaku menjadi wanita simpanannya? Begitu?” Serang Vera tanpa basa-basi. Akan tetapi lawan bicaranya justru terkekeh puas. Sikap Gwen yang terkesan menghina, membuat emosi Vera memuncak. Vera berjalan mendekat pada Gwen dengan tergesa, hendak menjambak rambutnya, namun wanita itu masih bergeming di tempat. Dengan tenang ia berkata, “Bagaimana rasanya? Apa kamu sudah merasakan rasanya di posisiku?” Seketika saja Vera merasa bergidik begitu melihat seringai puas wanita itu. Vera menggeleng kuat dan bersikeras mengatakan bahwa ini bukan salahnya. Lama kelamaan gelengam kepalanya makin menjadi dan ia berteriak sekuat tenaga. “TIDAKKKK!!!” Dan seketika saja ia terbangun dari tidurnya. Ini mimpi? Diusapnya peluh di dahinya dengan punggung telapak tangan, lalu menatap ke sekelilingnya. Matanya tertuju pada jam dinding yang tergantung pada dinding kamarnya. Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam.   Hari ini adalah hari ketiga sejak Joe pergi dari apartemen Vera. Selama tiga hari ini, hampir setiap malamnya Vera menangis karena teringat Joe. Tapi baru kali ini ia bermimpi seperti ini. Apa maksud mimpi itu? Apakah ini adalah petanda buruk? Apakah jodoh Vera dengan Joe benar-benar berakhir di sini? Air mata Vera mengalir begitu saja ketika ia kembali teringat Joe. Karena aku tidak memedulikan posisinya waktu itu, karena berpikir kamu akan berpisah dengannya secara otomatis, karena egois ingin bersama denganmu, aku sampai mengabaikan kenyataan bahwa ada kemungkinan kamu masih belum berpisah dengannya. Aku menutup sebelah mataku waktu itu. Tapi sekarang apakah aku sedang menerima karmaku? ***   Sepertinya apapun yang ia lakukan, ia tidak akan pernah memperbaiki keadaan. Sampai kapanpun Joe tidak akan pernah mencintainya. Mau sampai kapan Vera membohongi dirinya sendiri bahwa Joe memperlakukannya dengan manis dan penuh cinta? Dengan berlinang air mata dan hati yang terasa perih, Vera mengambil pena dan menuliskan sesuatu di balik fotonya dengan Joe.   Salahkah aku terlalu mencintai, Hingga kucoba mempertahankannya hingga kini? Meski pada akhirnya yang tersakiti adalah diriku sendiri, tapi aku tidak akan pernah menyesali.   Kamu bilang padaku untuk kembali menjadi teman, sekarang coba ajarkan aku bagaimana caranya melupakan? Katakan padaku bagaimana agar rasa tidak perlu dipendam, harus bagaimana baru sanggup merelakan?   Salahkan aku yang terlalu bergantung padamu, hingga kujadikan kamu duniaku. Kini yang bisa aku lakukan hanya menunggu, menunggu waktu mengobati luka karena kamu.   Sepertinya Vera harus mencoba merelakan, walau sampai sekarang ia masih belum bisa menerima keadaan. *** Sementara itu di depan lobi apartemen Vera, seorang pria berparas oriental dan berambut gondrong, tampak berdiri di depan pintu lobi sambil berkali-kali mencuri pandang melihat ke dalam lobi apartemen.   Seorang security tampak penasaran dengan tingkah pria yang mencurigakan itu. Ia kemudian mendekati pria jangkung berambut gondrong itu dan bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”   “Ah, tidak Pak. Saya disuru teman saya masuk ke lobi, tapi sepertinya dia ketiduran. Kalau dia nggak ada kabar lagi, sepertinya saya akan pulang saja.” Dusta pria itu. Satpam itu tampak percaya dengan perkataan Wallace. Ia mengangguk-angguk dan kembali ke posnya setelah mempersilahkan Wallace untuk menghubungi temannya lagi. Kini Wallace kembali fokus pada layar ponsel yang masih menampilkan chat yang tadi diketiknya untuk Vera, namun belum sempat ia kirim. Kamu baik-baik saja? Mau bertemu sebentar? Wallace menggelengkan kepalanya, merasa kalimat itu tidak cocok untuk di kirim ke Vera. Siapa yang bisa baik-baik saja jika putus cinta? Jangan sedih… Jika butuh teman cerita, aku bersedia mendengarkan. Ah, yang ini juga kurang tepat. Wallace menghapusnya lagi.  Jangan terlalu memikirkan Joe, aku akan bantu menasihatinya jika kamu mau… Wallace kembali menghapus pesan yang baru saja ia ketik. Jelas-jelas Vera sedang putus cinta, dan sekarang Wallace justru mencoba mengungkit luka lama? Ia benar-benar bukan tipe pria yang bisa menghibur orang. Daripada ia semakin memperunyam masalah, lebih baik ia tidak mengatakan apapun. Pada akhirnya Wallace tidak mengirimkan pesan apapun pada Vera dan tidak menemuinya. Ia hanya berkeliaran di depan apartemen selama dua jam dengan harapan akan bertemu Vera yang turun untuk membeli makan malam. Tapi Vera sama sekali tidak turun dari unitnya, dan hal itulah yang membuat Wallace yakin bahwa wanita itu masih bersedih. Sepertinya kamu hanya butuh waktu, Ver. Wallace mendongak ke atas menatap sebuah unit di lantai 9 yang ia yakini adalah unit apartemen Vera, sebelum akhirnya pergi dari sana dengan harapan Vera akan baik-baik saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN