23

1098 Kata

Hujan mulai turun, sedikit demi sedikit. Dan, untuk beberapa menit yang berlalu, Miki menghabiskannya untuk menangis, menunjukkan sisi rapuh dirinya di hadapan Axel, pria yang dicintainya dengan sangat banyak. "Kenapa?" tanyanya, "kenapa bukan aku?" Dan sebulir air bening jatuh dari sudut matanya. Hatinya sekarat. Axel memiringkan kepalanya ke satu sisi, lalu berkata dengan lembut, "Apa kau begitu mencintaiku?" Miki mendecih, "Harus berapa kali aku mengatakannya?" "Apa kau ingin aku bahagia?" "Tentu saja!" "Kalau begitu, kenapa tidak membiarkan aku bahagia?" Miki membuang pandangannya ke arah lain, pada ribuan air hujan yang berjatuhan. Ia mulai lelah. Lelah membuat Axel memahaminya, hatinya, keinginannya. "Apa kau tahu, semua pertemuan kita, bukanlah kebetulan?" katanya, pilu. A

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN