Hari itu ....
"Frey! Lihat apa yang dibuat Axel di papan tulis!" seru Miki saat Freya sedang menikmati detik-detik ending novel yang dibacanya di perpustakaan.
"Apa lagi?" tanyanya sambil membuka kaca mata bacanya.
"Kau harus lihat sendiri, ayo!" Miki menarik-narik tangannya. Mau tidak mau, Freya menurut dan berlari kecil menuju kelas mereka.
Ramai, dan berisik. Itulah yang Freya temukan ketika ia tiba di kelas. Papan tulis di penuhi orang-orang dan mereka tertawa terbahak-bahak entah karena apa.
"Itu dia!" seru salah satu dari mereka saat menyadari kehadiran Freya.
Sontak, semuanya menoleh ke pintu tempat di mana Freya berdiri dengan kening berkerut samar.
"Hahaha, Frey, lihat! Itu fotomu bukan, sih?" Sammy menunjuk-nunjuk papan tulis sambil cekikikan.
"Apa?" Freya mengangkat alisnya tinggi-tinggi, tapi Sammy malah tertawa keras-keras, seakan-akan tawa itu untuk mengejeknya.
Penasaran, Freya menerobos kerumunan yang menutupi papan tulis. Rahangnya mengeras ketika melihat apa yang ada di sana. Ada karikatur seorang perempuan dengan p******a besar, b****g yang terlampau lebar. Dan yang membuat kepala Freya berdenyut hebat adalah, wajah karikatur perempuan itu adalah fotonya yang sedang mengerucutkan bibir. Seksi, v****r, dan menjijikkan.
Ditambah dengan tulisan-tulisan ejekan di sekitar gambar. Tentang betapa besar d**a dan bokongnya. Singkatnya, itu karikatur dirinya yang nyaris telanjang.
"Kalian apa-apaan, sih?" seru Harry tiba-tiba. Ia mencopot foto wajah Freya dan sorakan kecewa terdengar riuh. "Ayo, Frey, pergi dari sini!" kata Harry sambil menyentuh pundaknya.
Reaksi Freya benar-benar tidak terduga, ia menepis kasar tangan Harry lalu memandang sekeliling untuk mencari Axel. Itu dia!
Freya mengambil penghapus lalu melemparnya ke arah Axel yang tengah duduk di atas meja sambil menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. Plak! Penghapus kayu itu mengenai wajah Axel, melukai bibirnya hingga mengeluarkan darah.
Axel bungkam, seisi kelas ikut terdiam. Suhu di ruangan mendadak hangat. Untuk beberapa saat, yang terdengar hanya isak tangis Freya, juga derap langkah kakinya yang mendekati Axel.
"Apa salahku?" tanya Freya, air matanya berjatuhan tanpa bisa ia tahan. "Apa salahku?!" teriaknya.
Axel bergeming. Dilihatnya iris kelabu milik Freya berkaca-kaca. Memang bukan pertama kalinya ia melihat Freya menangis, tetapi hari ini, sorot mata itu, terlihat berbeda.
"Kenapa kau terus menggangguku? Apa salahku? Kenapa kau selalu mempermalukanku?!" Freya mendorong tubuh Axel dengan kasar. "Dengar, kalau kau melakukan ini lagi, kubunuh kau!" kata Freya lalu pergi diiringi tatapan terkejut seisi kelas.
"Hei, Axel, kau tidak apa-apa? Bibirmu berdarah?!"
"Ya ampun, aku tidak menyangka dia berani melakukan ini padamu!"
"Aaah, Freya keterlaluan!"
Axel tidak menghiraukan gerutuan teman-temannya. Ia turun dari meja lalu pergi ke luar kelas. Di tangga, ia melihat Freya menangis di sebelah Harry.
"Kenapa dia selalu membuatku malu?" ucap Freya sambil mengelap sisa-sisa air matanya di pipi.
"Aku tidak tahu. Sudah, jangan menangis, Frey," kata Harry sambil merangkul pundaknya.
"Dari dulu dia selalu menggangguku! Aku benci dia, Harry!"
Harry menghela nafas. Apa yang bisa dikatakannya? Ia tahu kalau Axel selalu saja membuat temannya ini kesal, malu, dan sedih. Entah apa yang ada di kepala cowok itu. Padahal, Freya adalah cewek yang baik. Dia juga tidak begitu menonjol di sekolah dan tidak suka membuat masalah. Axel-lah yang selalu mencari-cari masalah dengannya.
"Mungkin dia ingin mencari perhatianmu saja," kata Harry asal.
Yak! Axel mengernyit mendengar ucapan Harry. Apa katanya? Mencari perhatian?
"Maksudmu?"
"Kurasa dia menyukaimu, Frey."
Yakkk! Axel terbatuk-batuk hingga membuat Freya dan Harry menoleh ke belakang.
"Kau ... ?" Harry mengangkat satu alisnya. Wajah Axel memerah saat Freya mendongak menatapnya.
"Kalian membicarakanku, ya? Dasar penggosip!" kata Axel gugup. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, berusaha terlihat seperti Axel biasanya. Angkuh.
"Kau menguping?" tanya Harry sambil tersenyum penuh maksud.
"Aku—" Axel tidak melanjutkan kata-katanya lagi karena Freya tiba-tiba berdiri dan pergi.
"Axel, berhenti mengganggunya," ucap Harry selepas kepergian Freya.
"Memangnya kau siapa berani memperingatkanku?"
Harry tersenyum. "Aku orang yang akan selalu berada di sisinya. Jadi, berhenti mengganggunya atau kau akan berhadapan denganku."
"Aku tidak tahu kalau si gendut itu sudah punya pacar," cibir Axel dan berlalu.
Selama melewati koridor, ucapan Harry entah kenapa mengiang-ngiang di telinganya. "Memangnya aku peduli kalau mereka pacaran? Tidak sama sekali. Ya, sepertinya begitu, hais!"
===============***
"Tadi itu siapa? Pacarmu, ya? Mobilnya keren!" Kai memberondongnya dengan pertanyaan saat ia baru saja menginjakkan kaki ke dalam rumah.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Freya sambil menatap bingung adiknya. "Kenapa kau pulang?"
Kai mencibir. "Ini kan rumahku juga. Sudah, jawab pertanyaanku tadi. Itu tadi pacarmu?" tanya Kai penasaran.
"Bukan," jawab Freya singkat.
"Ibu, Kakak tadi diantar pacarnya!" seru Kai setengah teriak. Freya mendesis lalu menendang b****g Kai dengan keras.
"Aw! Hei!" Kai memegangi bokongnya. "Kenapa sih kau selalu menendang bokongku?"
"Dia bukan pacarku," kata Freya lalu mendecakkan lidah.
Kai mengangkat satu alisnya dan menatap lekat-lekat wajah kakaknya. "Benarkah?"
"Dia bos-ku!" kata Freya akhirnya.
"Kau sudah dapat pekerjaan?" tanya ibunya yang langsung keluar dari kamar. "Benarkah? Di mana?"
Freya meringis. "Sebenarnya—"
"Ya Tuhan, terima kasih! Aku senang kalau sudah mendapat pekerjaan, Frey!" ucap ibunya sambil bertepuk tangan.
Untuk sejenak, Freya menimbang-nimbang. Apa ia harus menceritakan tentang Axel? Ibunya memang tidak pernah tahu tentang masa lalunya dengan Axel karena waktu kecil sampai SMA, Freya tinggal bersama neneknya di Indonesia, sementara sang ibu di New York. Dan lagi, sepertinya ibunya sangat senang mendengar kabar kalau ia sudah mendapatkan pekerjaan.
Ia sudah menandatangani kontrak kerja. Kalau ia membatalkannya maka ia harus membayar denda. Freya tidak habis pikir, bagaimana bisa ada perusahaan seperti itu?
Mungkin ia memang harus menerima takdirnya. Takdir bertemu lagi dengan Axel dan menjadi sekretarisnya. Enam bulan, Frey! Itu bukan waktu yang sangat lama. Sabar, Frey.
Freya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan ibunya. "Lux Funny Mommy, Bu."
"Lux Funny Mommy? Perusahaan Pakaian Dalam yang populer itu?" tanya ibunya tidak percaya.
"Yah, begitulah. Aku menjadi sekretaris di sana!" jawab Freya berusaha terlihat gembira.
"Omong-omong, kenapa kau bisa pulang diantar bos-mu?" tanya Kai sambil menyalakan TV.
"Tadi itu ... kami tidak sengaja bertemu. Jadi, dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang," jawab Freya.
"Tapi sepertinya aku pernah melihat mobil itu," kata Kay, "tapi di mana, ya?" Ia menatap langit-langit sambil berusaha mengingat. "Ah, aku pernah melihat mobil itu di sekolahku! Kalau tidak salah, sih."
"Mungkin itu mobil pacarnya. Yaaah, kurasa dia pacaran dengan teman sekolahmu," kata Frey asal.
Terserah. Ia tidak peduli mobil itu milik siapa. Ia tidak peduli apa pun tentang Axel. Tidak sama sekali. Bahkan dari dulu ia tidak pernah mau tahu tentang cowok itu.
Lebih baik sekarang ia tidur karena besok banyak tenaga yang harus ia keluarkan untuk melawan Axel.
"Aku tidur duluan. Selamat malam," ucapnya dan beranjak masuk ke kamar.
"Besok aku akan membangunkanmu supaya kau tidak terlambat. Kau mau sarapan apa?"
Freya menarik selimut sampai ke dadanya. "Terserah Ibu saja," ucapnya pelan.
"Baiklah, selamat tidur kalau begitu," balas ibunya.
Freya mengintip bulan yang menyembul dari balik awan yang kelabu. Ia menghela napas panjang lalu menutup mata.
Aku tahu ini kenyataan. Tapi, jadikanlah hari esok lebih baik untukku.
***
"Ohayo gozaimasu, Onee-san?" seruan itu terdengar ketika Freya baru saja keluar dari gang rumahnya. Gadis-gadis remaja yang tinggal di sekitar rumahnya itu tersenyum sopan ketika melewatinya.
Freya membalas dengan bahasa jepang sambil sedikit membungkuk. "Semoga hari kalian menyenangkan. Belajar yang rajin, ya!" ucap Freya. Mendengarnya, mereka malah cekikikan geli.
"Memangnya ada yang aneh apa dengan bahasa Jepangku?" cibir Freya.
Langit Tokyo hari ini cukup cerah. Gerimis tidak lagi turun seperti hari kemarin. Yah, pagi yang lumayan menghibur hatinya. Sambil bersenandung kecil, Freya pun beranjak.
Untungnya, jarak antara tempatnya tinggal tidak begitu jauh dengan kota. Kurang lebih 10 menit ia tiba di Ikebukuro dengan berjalan kaki. Distrik Nerima memang yang paling dekat dengan pusat kota. Selain tempatnya strategis, gaya hidup orang-orang di sana juga tidak glamor.
Dan ada yang membuat Freya lebih semangat berjalan kaki, ia bisa melewati taman Hikarigaoka. Taman itu memang selalu menarik setiap musim panas. Daun-daun ginkgo-nya akan berguguran dan menutupi aspal sepanjang jalan hingga pohon terakhir. Juga beberapa pohon sakura yang daunnya mulai berubah putih dan merah muda. Terlebih lagi udara di Jepang sangat segar. Tidak heran orang-orang lebih memilih jalan kaki.
"Selamat pagi? Ah, kau terlihat bersemangat sekali hari ini," sapa Hayashi ketika Freya berhenti di depannya.
"Ahaha," Freya menanggapi dengan tawa kecil. "Yah, begitulah kira-kira."
"Heeem, semoga harimu menyenangkan, Frey! Selamat bekerja!" ucap Hayashi lagi.
"Kuharap begitu, hehe," balas Freya kikuk. Ia melanjutkan langkah sambil mencibir pelan, "Semoga hariku menyenangkan. Yaaah, semoga saja."
"Itu dia! Hey, kau?!"
Langkah Freya berhenti saat tiga wanita berkaki jenjang dan mulus menghalangi jalannya. Mereka mengamati penampilan Freya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Begitu juga Freya, diam-diam ia mengagumi wajah-wajah Jepang di depannya. Mereka punya mata besar yang indah. Pipi yang tirus dan hidung kecil yang mancung. Seperti pahatan yang mendekati sempurna. Mereka seperti Barbie.
"Hemmm, kau pasti sekretaris baru Axel, kan?" tanya salah satunya dalam bahasa Jepang.
"Huh? Apa?" Freya bertanya dengan kening berkerut.
"Astaga, kurasa dia tidak bisa bahasa Jepang," ucap si mata biru kembali mengamati Freya.
"Kau pasti sekretaris baru Axel. Hah, ya Tuhan, aku tidak yakin kau bisa bertahan sampai dua minggu di sini," kata yang berambut pirang ikal sambil tertawa imut.
Karena mereka mulai berbahasa Inggris, Freya akhirnya membalas dengan sedikit memberi seulas senyum. "Ada urusan apa denganku?"
"Ah, ah, ah! Dia tidak tahu siapa kita. Hem, sebenarnya mungkin terdengar berlebihan, tapi kami ini adalah model-model perusahaan yang paling terkenal."
Freya memijat pelipisnya. "Yah, bisa kulihat itu. Kalau begitu sampai jumpa nanti gadis-gadis," ucap Freya lantas berlalu, sama sekali tidak menghiraukan panggilan ketiga wanita itu.
"Ternyata yang begitu bukan hanya terjadi di film dan novel saja," gerutu Freya lalu melangkah masuk ke ruangan merah muda. Tempat di mana ia akan menghabiskan setengah harinya bersama Axel.
Omong-omong, kenapa Axel suka sekali dengan warna merah muda? Freya menaruh tas-nya di atas kursi. Ia mengitari ruangan yang memang dipenuhi dengan hiasan berwarna merah muda. Baik itu dari alas meja, tirai jendela, sofa-sofa, bahkan pot bunganya. Seluruh dindingnya juga berwarna senada.
"Sejak kapan dia menyukai warna merah muda? Setahuku dulu dia suka warna hitam," gumam Freya tanpa sadar.
"Sejak kau pergi, Frey. Sejak kau pergi, aku suka dengan warna merah muda."
Suara itu membuat Freya membeku. Bisa didengarnya suara sepatu Axel mendekat.
"Omong-omong, sejak kapan kau tahu aku dulu suka warna hitam?" Sekarang Axel sudah berdiri di sebelahnya. Wangi tubuh Axel menyergap rongga hidungnya.
Freya menoleh ke samping. Axel mengenakan kaos hitam longgar. Rambutnya berantakan seperti kemarin. Tapi, wajahnya terlihat segar dan sumringah. Dari jarak sedekat ini, Freya berani bersumpah wajah Axel mulus dan bersih. Bahkan wajahnya saja tidak semulus itu.
"Menurutmu, apa aku berubah, Frey?" tanya Axel sambil menunjukkan cengiran lebarnya.
Freya terkesiap saat mata mereka bertubrukan. Axel yang dulu tidak pernah menatapnya seperti itu. Penampilannya selalu rapi, angkuh, dan selalu tampil sempurna. Ia bicara dengan tegas dan kadang-kadang kasar.
Dan sekarang, sisi iblisnya tidak terlihat atau mungkin belum. Jadi, Freya belum bisa mengambil kesimpulan. Ia baru bertemu Axel kemarin dan hari ini. Besok, bisa saja orang ini kembali seperti dirinya yang dulu.
"Sama saja," jawab Freya sambil berbalik.
Axel memajukan bibirnya sambil menggerutu, "Dasar perut buncit!"
"Apa?"
"Lupakan."
"Aku dengar kau bilang apa. Ulangi lagi?!"
"Huh?"
"Dasar kepala batu!"
"Apa?"
"Lupakan."
"Aku dengar kau bilang apa. Ulangi lagi?!" kata Axel meniru ucapannya.
Freya menatapnya sambil mendesis geram. "Terserah. Aku mau membuat kopi dulu," ucapnya seraya beranjak.
"Oi, jangan lupa bawakan untukku juga, ya!" seru Axel.
Freya menjawab dengan deheman lalu pergi menuju dapur kecil yang ada di ujung koridor, tidak jauh dari ruangannya. Ia juga menyapa beberapa orang yang berpapasan dengannya. Ia mengabaikan tatapan sinis ketiga wanita yang tadi menghalangi jalannya.
"Hey, dia datang!" Seruan itu mengalihkan perhatian Freya. Ia baru selesai membuat kopi dan sedang berjalan hati-hati kembali ke ruangan saat melihat orang-orang berkerumun sambil menunjuk ke arah lift yang baru terbuka, dan menampilkan seorang wanita berambut hitam lurus mengkilap. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan gaya anggun dan berkelas. Ia melepas kacamata hitamnya lalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi ketika melewati mereka yang menontonnya.
"Selamat pagi," sapa mereka semua ramah yang kemudian ditanggapi dengan seulas senyum tipis.
"Mi ... ki?" ucap Freya dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh semua orang yang ada di sana, termasuk wanita itu. "Miki, kaukah itu?"
Wanita itu tidak jadi masuk ke ruangan di depannya. Ia memiringkan wajah dan menatap Freya lekat-lekat. "Fre ... ya?"
"Hei!" Freya menaruh cangkir kertasnya ke atas meja lalu berlari kecil mendekati Miki. "Ke mana saja kau, bodoh?" kata Freya setelah menjambak rambut halus milik Miki. "Kau benar-benar berubah! Bukannya kau seharusnya ada di Perancis?" tanya Freya.
Miki melihat sekeliling dengan kikuk. "Berani sekali kau menjambak rambutku di depan mereka, Frey," katanya geram sambil berusaha tersenyum.
"Aduh! Maaf, maafkan aku!" Freya menyatukan kedua tangannya. "Aku terkejut waktu tahu kalau ini kau. Kau berubah Miki! Apa yang terjadi?!" seru Freya semangat. "Dan kenapa kau bisa ada di sini?! Ayo, ceritakan padaku semuanya!"
"Ya, ya, baiklah! Ikut aku!" Miki menarik Freya kembali masuk ke dalam lift.
"Kenapa anak baru itu mengenal calon tunangan Axel?"
"Tidak tahu. Sepertinya dulu mereka teman dekat."
Dan pembicaraan itu terpotong ketika pintu ruangan merah muda di depan mereka terbuka. "Ada yang melihat Freya? Kenapa dia lama sekali," ucap Axel lalu menguap lebar-lebar.
"Mereka sepertinya ke bawah, Oppa," satu dari tiga wanita yang berdiri di depannya menjawab dengan nada manja.
"Mereka? Apa dia dengan orang lain?"
"Iya, dia bersama Nona Miki."
"Hais, kenapa lagi dia datang ke sini?" Axel mengusap wajahnya lalu berjalan menuju lift. "Sudah kubilang jangan pernah hubungi aku lagi," gerutunya setelah tiba di dalam lift.
***