BR#11

1043 Kata
“Kita berangkat kayaknya besok, Marcela masih sakit, terlalu berisiko kalau kita pulan hari ini,” ucap Nancy yang duduk di sebelah Nich. Nich mengangguk, “Kamu bener Cy, terlalu berisiko kalau kita memutuskan pulang hari ini. Sekalian biar obatnya menyerap dengan sempurna di luka aku.” Nancy menyenderkan kepalanya di bahu Nich, “Kamu bener gak ada rasa sama Marcela, kamu tau kan dia selama ini suka sama kamu.” “Tapi kita lebih dulu jadi pasangan daripada perasaan Marcela hadir buat aku,” jawab Nich sembari mengelus rambut Nancy dengan sayang. “Aku kasian sama dia Nich,” gumam Nancy dengan pelan. “Wajar kok kalau kamu kasian, tapi emang kamu gak kasian sama aku gitu?” “Gak sih... burung pionix kaya kamu mah gak perlu dikasihani, nanti bukannya berterima kasih tapi malah gak tau diri kaya sekarang.” “Iya deh iya... salah mulu aku ke kamu, ini salah.. itu salah.. gak tau harus gimana.” “Udah, gak usah ngomong mulu.. berisik!!”                 Malam semakin larut, suara binatang malam terdengar semakin kencang di luar. Marcela membuka matanya dan menatap sekeliling yang sudah gelap gulita, perlahan ia menyalakan lilin yang berada di meja kecil di samping tempang tidur, berjalan ke arah luar yang terdapat dua sosok yang tengah tertidur. Sebenernya gak sopan buat membangunkan, tapi ini keadaan penting, jadi.. harus ia lakukan meski tak enak. “Nancy.. bangun..”                 Perlahan Nancy mulai membuka matanya, menatap dengan koernea yang menyesuaikan karena silau lilin yang berada dekat dengannya. “Loh Cela, kenapa bangun? Tidur lagi.. besok aja kita berangkatnya, kamu masih sakit, terlalu berisiko kalau kita berangkat.” Nancy langsung menegakan tubuhnya. Marcela menggeleng dengan cepat, “Gak bisa Nancy, kita gak punya banyak waktu, masih ada 3 orang yang harus kita cari, kondisi aku udah baikan gara-gara teh yang kamu buat. Jadi ayo berangkat sebelum tengah malam.” “Ais... dasar Cela. Bentar aku bangunin dulu Nich, dia kan kebo, susah banget kalau dibangunin.” Marcela tersenyum tipis, “Aku siapin barang-barangnya dulu ya, kalau kamu udah siap, nanti susul ke kamar aja.”                 Nancy mengangguk dengan semangat, Marcela langsung bergegas mengambil perlengkapan mereka, memberikan ruang dan waktu untuk sepasan kekasih. Nancy langsung menghela nafas panjang, bakalan susah membangunkan burung pionix. “Nich sebenenya aku masa bodo sama kamu..” Nancy mencoba mencari benda yang cukup tanjam untuk menekan tubuh Nich. “Maafin ya sayang...” gumam Nancy yang menusukan kayu runcing di sebelah luka Nich membuat Nich langsung menjerit kesakitan. “Aw... ais.. kamu apa-apaan sih!!” Nich langsung menarik kayu yang masih berada di genggaman Nancy. “Kamu susah dibangunin, jadi aku pake cara itu dan ternyata berhasil.” Jawab Nancy dengan muka polosnya.                 Nich mengusap lukanya yang sedikit mengeluarkan cairan putih, meringisi dan menatap tajam Nancy yang masih memasang wajah polosnya. “Bisa gak pake perasaan buat banguninnya?” “Engga bisa, lagian kalau keluar cairan itu bukan berarti luka kamu parah, itu cairan yang sebenernya harus kamu keluarin dari..... awal kamu dapet luka biar gak berbekas banget pas udah sembuhnya, jadi sekalian aja. Sekali dayung dua pulau terlewati.” “Lagian kamu ngapain lagi bangunin aku? Ini aja belum tengah malam Nancy sayang!!” geram Nich. “Marcela maksa buat tetep kita berangkat malam ini,” Nancy langsung mengangkat lengannya, “udah aku jelasin kok kalau kita berangkatnya besok aja, tapi dia tetep maksa buat berangkat, gak usah protes lagi!” “Tau aja mau protes, emang udah belahan jiwa deh.” Nancy langsung menampilkan muka jijinya dan mendorong tubuh Nich untuk memberikan jarak. “Jiji!!” “Hehe.. jadi kita berangkat sekarang?” Nancy mengangguk dengan cepat.  “Masih ngantuk..” melas Nich dengan suara paraunya. “Gak boleh ngantuk!! Kita berangkat malam ini, kamu siap-siap, kita gak bisa berangkat dengan teleportasi.” “Loh kenapa? Bukannya lebih cepet?” “Iya bakal cepet, paling berapa menit doang, tapi semakin jauh jarak teleportasi, bakalan ngasih bekas nanti, mau ketauan kamu? Lagian aku belum bisa kalau harus jauh-jauh, kemarin aja nyobanya di seberang sungai mau ke sini, jadi terpaksa kita harus pake cara tradisional.”                 Nich mengehela nafas panjang dan dengan pasrah mengguk menyetujui ide Nancy. Bagaimanapun mereka harus bergerak cepat, tidak bisa berleha meski beberapa menit saja. Nancy langsung berjalan ke arah kamar Marcela. Marcela sendiri sudah siap dengan perbekalan mereka selama di perjalanan nanti, dari makanan sampai kain jika salah satu diantara mereka ada yang terluka atau yang lainnya. Tok.. tok.. “Mauk aja Nancy..” saut Marcela dari dalam kamar. “Kamu siap? Jangan lupa teh herbal harus kita bawa.” Marcela tersenyum, “Tenang Nancy, semua peralatan udah aku bawa, jadi gak usah khawatir lagi. Sekarang kita berangkat aja keburu tengah malam, sebelum mentari terbit kita harus udah nyampe.” “Siap, laksanakan..”                 Nancy membawa perbekalan mereka, menyerahkan perbekalan itu ke Nich yang hanya bisa pasrah kembali. Mereka bertiga keluar dari dalam rumah dan mulai menyusuri jalan setapak yang mengarak ke sungai pembatas yang mengelilingi hutan terlarang. Suara serangga malam mengiringi langkah mereka, pencahayaan dari bulan menjadi satu-satunya yang mereka andalkan. “Sekarang kalian pegang tangan aku dan tutup mata kalian, semoga kita bisa pindah ke depan sana.” Ucap Nancy saat mereka berada di sungai yang mereka tuju. “Gak aku aja yang bawa kalian?” tawar Nich yang tidak tega. “Gak Nich, terlalu berbahaya dan kamu belum bisa terlalu menggerakan sayap kamu karena luka, sekarang kamu cukup turutin perintah aku aja,” segah Nancy dengan cepat.                 Nancy langsung memegang lengan Nich dan Marcela, mencoba menfokuskan dirinya, merapalkan mantra yang bisa mmebawa mereka untuk bertelportasi nanti. Perlahan kabut tipis mulai muncul dan melingkupi tubuh mereka bertiga, membawa mereka menyebrangi sungai. Nancy mulai merasa berat, nafasnya mulai tersenggal, terlalu berat untuk membawa dua lagi. Keringat dingin mulai muncul, genggaman tangan Nich mulai mengerat merasakan tubuh Nancy yang mulai melemah. “Huft... kita sampai..” lirih Nancy sembari melepaskan pegangan tangan mereka dan menjatuhkan diri ke tanah, mencari pasokan udara yang terasa menipis di udara, lumayan jauh dari pinggiran sungai, melebihi batasannya sendiri. “Istirahat dulu Nancy, nih teh buat kamu.” Marcela mengelus punggung Nancy dan memberikan teh herbal yang masih hangat. “Makasih Cela.. masih jauh perjalanan kita..” “Udah udah sekarang kamu minum baru kita berangkat lagi.” Tegas Nich yang diangguki Marcela.                 Nancy meminum tehnya dengan terburu, mengejar waktu yang tidak begitu lama untuk mereka, masih jauh perjalanan mereka sedangkan waktu mereka sebentar lagi. “Gimana kalau aku bantu,” “Hah bantu? Gimana?” Nich mengerutkan dahinya. “Aku bantu untuk bisa meningkatkan energi kalian, cuman itu yang bisa aku lakukan sekarang.” “Oke...  ayo kita coba sekarang,” ucap Nancy yang meletakan minuman mereka dalam perbekalan.                 Sekarang giliran Marcela yang mencoba menggunakan kelebihannya, membuat mereka lebih bertenaga dari sebelumnya. Perjalanan mereka masih panjang dan mereka harus siap untuk melakukan perjalanan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN