Samuel menghampiri Sarah yang masih mematung ditempatnya. Ia mengulurkan tangan ke arah Sarah. Sarah hanya memandang tangan itu dengan tatapan nanar sampai Nathan menyengol lengannya untuk menjabat tangan Samuel.
“Kamu sakit Sar?” tanya Nathan yang khawatir karena Sarah diam saja dari tadi.
“Ah enggak kok,” ujar Sarah tersenyum dan menyembunyikan kesedihannya.
“Kalau kamu tidak enak badan, kita bisa meeting lain waktu,” kata Samuel.
“Enggak, enggak, aku enggak apa-apa. Silahkan ke ruangan dulu, saya harus ke kamar mandi sebentar.”
Nathan mengajak Samuel berkeliling sebentar dan melihat-lihat ruang produksi. Samuel sangat ramah kepada karyawan dan tak sedikit dari mereka yang terpesona akan ketampanan Samuel yang kala itu memakai setelan jas berwarna coklat. Mereka kemudian pergi ke ruang pertemuan yang telah disiapkan oleh Rina. Saat memasuki ruang pertemuan, mata Samuel tak bisa mengalihkan perhatiannya pada bunga hias kesukaan Sarah yang berada di tengah meja. Setelah mereka duduk, Rina menghidangkan minuman yang telah ia pesan tadi.
Di kamar mandi, Sarah menangis. Dia tidak bisa berfikir jernih. Ia ingin membatalkan pertemuan hari ini dan mencari klien lain. Tapi akan memakan waktu bila harus mencari klien lagi. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa yang datang adalah Samuel. Saat ini, ia tidak seperti Sarah yang penuh dengan ambisi, tapi Sarah yang rapuh dan terluka.
Sarah memandang pantulan dirinya di cermin. Ia mulai mengapus air matanya dan merapikan riasan di wajah cantiknya yang tidak pernah dikenali oleh Sam. Ia adalah desainer profesional dan Sam saat ini adalah kliennya. Maka dari itu ia harus mengesampingkan segala perasaan yang sedang berkecamuk dalam dadanya. Sarah melangkah keluar dan bergabung dengan Nathan dan Samuel.
“Maaf, tadi saya sedikit mual karena belum sarapan. Jadi, siapa nama anda tadi?” tanya Sarah dengan ramah.
“Samuel,” kata Samuel. Ia lalu menunjuk bunga hias di tengah meja dan berkata, "bunga itu cantik. Apa kamu yang menyiapkannya?".
“Ah, itu bunga kesukaan saya, Asisten saya yang menyiapkannya pagi ini,” kata Sarah sambil tersenyum.
“Benarkah?” tanya Samuel sedikit kaget. “Tunangan ku juga menyukai bunga ini,” ujarnya ragu. “Atau mungkin dia menyukai melati?” gumam Samuel ragu.
“Jadi kapan kalian akan menikah dan dimana?” tanya Nathan.
Samuel menggaruk belakang kepalanya, “Sebenarnya aku belum menemukan tanggal yang cocok. Tapi ibuku memintaku menikah di bulan agustus tahun depan. Katrena sekarang masih bulan januari, jadi aku masih punya banyak waktu untuk memilih vendor.”
“Kelihatannya Anda bahagia sekali,” kata Sarah yang menimbulkan hawa suram.
Nathan yang menangkap bahwa ada sesuatu yang aneh dari Sarah langsung menimpali, “ Tentu saja, dia kan mau menikah Sar.”
“Aku hanya becanda, kenapa serius sekali?” pungkas Sarah sambil terkikik geli. Tapi Nathan tahu bahwa itu hanyalah kepura-puraan Sarah. Nathan tahu bahwa Sarah sedang menyembunyikan sesuatu.
Sarah membuka portofolionya yang ia gambar dengan cat air dan memberikannya pada Samuel. Kali ini Sarah memberikan portofolio yang berbeda dari sebelumnya. Ia memberikan empat buah gambar yang bisa digunakan oleh pengantin pria yaitu setelan jas.
Dari empat gambar tersebut, Samuel tertarik dengan jas model double breasted berwarna hitam. Jas itu memiliki empat buah kancing dibagian depan, kerah jas yang tajam yang membuat pemakainya menjadi gagah layaknya seorang pangeran Eropa. Samuel menunjukkan gambar jas tersebut pada Sarah dan berkata, “bagaimana kalau yang ini?”
Sarah mengangguk setuju seraya berkata, “Ya, itu sangat cocok untuk Anda. Kami akan mebuatnya dengan bahan wol yang lembut dan detail furing yang sangat nyaman. Jadi tidak akan gerah bila memakainya lama-lama. Bila Anda memilih jas itu…”
“Tunggu,” potong Samuel. “ Aku rasa kita seumuran, jadi jangan memanggilku ‘Anda’ rasanya sangat canggung.”
“Oh, baiklah, bila kamu memilih jas itu, aku asa gaun yang serasi dengan jas itu adalah gaun dengan model ball gown seperti ini.”
Sarah memilih portofolionya yang ada di depannya dan menunjukkannya kepada Samuel. Gaun yang dipilih Sarah adalah ball gown dengan lace berornamen bunga kecil yang mewah dibagian d**a dan lengan. Sedangkan dibagian rok lace yang digunakan adalah lace polos tapi mulai bagian pinggang bunga kecil tersebut ditata dengan apik sehingga membuat bunga-bunga yang ada di bagian badan jatuh satu persatu ke bawah.
“Sandra akan suka, tapi kurasa dia tidak akan setuju dengan lengan seperti ini. Aku akan membrikan ini pada Sandra.”
“Aku akan senang bila tunanganmu menyukai karyaku,” ujar Sarah.
Nathan dari tadi memperhatikan Sarah. Ia khawatir padanya tapi Sarah malah melirik padanya agar ia berhenti curiga. Nathan kemudian mengambil croissant dan memakannya dengan lahap sambil memandang sinis pada Sarah. Terkadang Nathan seperti anak kecil, tapi itulah dia.
“Oh ya Sam, apa pekerjaanmu sekarang?” tanya Sarah.
“Oh iya, aku belum cerita ya Sar? Jadi Samuel ini manager di FinTech Company,” tutur Nathan.
“Aku sedikit terkejut di jaman sekarang masih ada orang yang memakai cara konvensional,” ujar Samuel sambil mengangkat potofolio Sarah. “Tapi ini menarik bagiku.”
“Aku sudah mencoba berbagai aplikasi menggambar, tapi tidak ada satupun yang membuatku nyaman. Yah, aku nyaman dengan cara konvensional ini. Bayangkan, aku mengambar dengan cara ini hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit dan menyelesaikan banyak detail penting, tapi dengan menggambar digital aku butuh waktu empat puluh lima sampai lima puluh menit,” curhat Sarah.
“Itu karena kamu gaptek Sar,” celetuk Nathan yang disambut dengan tatapan tajam dari Sarah.
“Perusahaanku sedang mengembangkan perangkat lunak yang dinamis untuk menggambar. Bisakah kau mencobanya bila sudah selesai?” tanya Samuel.
“Boleh saja,” ujar Sarah.
Samuel bangkit dari tempat duduknya. Ia memasukkan portofolio yang diberikan Sarah ke dalam tas kerjanya. “Baiklah, aku pamit dulu. Terima kasih untuk makanan dan minuman yang lezat ini.”
“Sering-sering mampir ya,” kata Nathan dengan ceria yang kemudian pergi menuju tempat parkir.
Sarah menjadi canggung tapi Samuel tidak merasakannya. Samuel melewatinya dan tersenyum pada Sarah.
“Sam.” Sarah memanggil Samuel. Mereka berdua berhadapan. Sarah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan Samuel menyambutnya. Saat keduanya berjabat tangan, Sarah berkata, “Sepertinya matahari sedang tersenyum, senang bertemu denganmu.”
“Bukan matahari yang tersenyum, tapi bunga itu. Aku juga senang bertemu denganmu. Rasanya kamu tidak asing.”
“Mungkin kita pernah berpapasan disuatu tempat.”
Sarah melepaskan tangannya jari tangan Samuel. Mereka mengakhiri pertemuan hari itu dengan manis, canggung dan juga klasik. Sarah melihat punggung Samuel sampai ia menghilang dari pandangannya. Ia tertegun kemudian melihat tangannya yang baru saja bersentuhan dengan tangan Samuel. Air matanya tak bisa ia bendung lagi. Ia menangis sejadi-jadinya sampai terduduk di dalam ruang pertemuan itu. Mulai saat ini, ia akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Mulai saat ini ia akan berhenti berharap. Mulai saat ini ia akan berhenti mencintai.