Summer: Chapter 8

3003 Kata
  Tidak pernah sekalipun terbesit dalam bayangan Summer jika suatu saat dia akan mengalami ini dalam salah satu fase hidupnya: menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Di depannya kini duduk seorang Axel yang notabene incaran mahasiswi di kampusnya. Ia sedang menikmati makan siang dengan pria tampan itu setelah mereka berdua sukses memukau Mrs. Darcy berkat presentasi tugas kelompok mereka. Sekarang Summer mengerti benar bagaimana rasanya dipandang dengan tatapan setajam pisau yang dulu pernah dirasakan Mitta, teman baiknya semasa junior high school dulu. Mungkin situasi seperti ini lebih berbahaya dibanding tersesat di tengah hutan Afrika. Paling tidak kalian bisa menebak akhir ceritanya. Mati dimangsa singa-singa kelaparan, mati kehausan, atau akan ada keajaiban saat seseorang menyelamatkan kalian. Tapi ini? Ini bahkan lebih mengerikan dari dicabik-cabik menjadi potongan kecil oleh singa-singa karena kalian tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan wanita-wanita sirik itu. Paling tidak itu yang dicemaskan Summer saat ini “Ku dengar Mr. Thomas membatalkan kelas hari ini,” ujar Axel membuyarkan lamunan Summer. “Benarkah? Kenapa?” tanya Summer, nada kecewa terselip di antara pertanyaannya. Ia sungguh menantikan kelas Mr. Thomas hari ini. Ia tidak sabar menunjukkan salah satu sketsa rancangan bangunannya pada dosen yang paling dihormati di kampusnya itu. Tiga hari lalu, Mr. Thomas memuji sketsa-sketsa bangunan milik Summer, dan meminta Summer menunjukkan sketsa terbaiknya hari ini. “Aku tidak tahu. Coba saja kau tanyakan pada temanmu itu, siapa namanya? Selena?” “Helena. Tidak bisakah kau berusaha menghapal nama teman-temanmu? Ini sudah kali ketiga kau salah menyebutkan nama orang.” Summer menghabiskan setengah gelas jus anggurnya dengan dua kali tegukan. “Aku tidak terbiasa melakukan itu. Biasanya, orang lain yang mengingat namaku.”-Axel mengeluarkan kotak rokoknya-“Lagipula mereka bukan teman—hei!!” Axel protes saat Summer tiba-tiba mengambil kotak rokoknya secara paksa. “Dilarang merokok di wilayah kampus, kau lupa peraturan itu?” Summer berdiri sembari menyandingkan tali tas nya ke bahu kanan. Beranjak meninggalkan Axel keluar dari kantin. Hari ini ia ingin cepat-cepat pulang. Hujan yang tidak disangka-sangka kemarin mulai memberikan dampak buruk pada kesehatan tubuhnya. Terkena flu di musim panas adalah hal yang memalukan. Ia tidak mau Phoebe melemparinya ejekan-ejekan seperti yang biasa dia lakukan pada Phoebe saat kakaknya itu terkena flu musim panas. Baru beberapa langkah keluar dari kantin kampus, Summer dikejutkan saat tangannya tiba-tiba ditarik ke belakang hingga ia hampir terjatuh, tapi itu tidak terjadi. Axel menahan pinggangnya dengan sigap, kemudian menegakkan tubuh Summer kembali. Masih dalam jarak yang dekat, tangan Axel bergerak perlahan mendekati tangan Summer. Dibukanya satu persatu jemari yang menggenggam erat kotak rokok miliknya, “Peraturan ada untuk dilanggar,” bisiknya di telinga kanan Summer. Lalu ia pergi tepat setelah berhasil mengambil kembali kotak rokok miliknya. Summer tertegun. Wajahnya memerah bak kepiting rebus yang siap diangkat dari panci dan disajikan selagi hangat. Sekeras apapun ia berusaha untuk tidak terpesona semakin dalam pada Axel, selalu ada saat dimana Axel bisa membuat jantungnya berdegup kencang dan tidak terkendali. Summer meletakkan tangannya di atas dada, sshh..tenang..tenang. *** “Phoebe, kau ada waktu?” Phoebe menengadahkan wajahnya ke atas, melihat lurus pada Damian yang sedang balik menatapnya dengan tatapan serius sembari menyandarkan tubuhnya ke pintu ruangan Phoebe. Kedua tangan pria berambut hitam legam itu bersendekap kaku di depan dada. Phoebe menarik napas dalam-dalam kemudian melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya, “Ada apa? Tidak bisakah kita bicara di sini saja?” tanya Phoebe, ia memijit-mijit pelan pelipisnya. Akibat panik mencari Summer semalam, ia terlambat menyelesaikan laporan-laporan keuangan yang harus diserahkan hari ini. Tersisa 1 jam waktu untuknya sebelum Ms. Roselyn - bagian keuangan kantor yang tidak pernah akur dengannya - datang ke ruangannya dan mengoceh panjang lebar. “Tidak bisa,” jawab Damian. Pria itu lantas berjalan masuk ke dalam ruangan lalu menarik tangan Phoebe, menggiringnya keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa hingga Phoebe hampir tersandung kakinya sendiri. “Maaf,” katanya, saat mendapat desisan protes dari Phoebe. “Kemana kita?” tanya Phoebe. Ia dan Damian kini berada di dalam lift menuju lantai bawah. Sesaat ia merasa tidak diacuhkan, melihat Damian bertegur sapa dengan tiga karyawan lainnya di dalam lift dan tidak menjawab pertanyaannya. Maka ia menutup mulutnya rapat-rapat sambil mengamati pergantian angka penunjuk lantai lift. Pintu lift terbuka, Phoebe menghela napas panjang, “Seriously?” Pandangannya menuntut penjelasan pada Damian. “Kau belum makan seharian ini, kan?” Damian mendorong punggung Phoebe sampai gadis itu keluar dari lift “Lebih baik kita bicara di sini sambil aku memastikan perutmu sudah terisi dengan baik,” lanjut Damian. Damian menyuruh Phoebe duduk setelah bertanya apa yang ingin dia makan. Sekarang pria itu sedang mengantre di depan gerai masakan cina. Sejenak Phoebe merasa dejavu dengan perlakuan Damian. Apa yang pria itu lakukan sekarang sama persis dengan apa yang selalu Phoebe lakukan setiap Damian mulai berulah dengan kesehatannya sendiri. Selang 20 menit kemudian, pria yang sudah hampir 3 tahun menjadi rekan kerjanya itu kembali dengan membawa sepiring besar dimsum dan dua mangkuk bubur cina dalam sebuah nampan coklat. “Aku tahu perutmu sudah mulai terasa panas. Jadi, bubur adalah pilihan yang terbaik,” ujar Damian. Ia tahu Phoebe akan protes dengan pilihan makanannya. Mendengar perkataan Damian, Phoebe memutar bola matanya bersamaan lenguhan pasrah yang lolos dari mulutnya, “Aku tidak suka menyia-nyiakan makanan.” Phoebe membalas perkataan Damian dengan sebuah jaminan ia akan menghabiskan makanan itu meskipun tak suka. Damian tersenyum, tangannya mulai bergerak aktif menyendokkan bubur kepiting ke dalam mulutnya. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” Phoebe bertanya, kemudian menyendokkan satu suapan bubur udang ke dalam mulutnya sambil menunggu Damian menyelesaikan kunyahannya. Terlihat pergerakan jakun Damian di lehernya yang sebenarnya lumayan kokoh saat pria itu menelan makanannya. “Ini soal adikmu.” Kedua mata Phoebe membulat sempurna, “Adikku? Kenapa kau tiba-tiba membahas—woaaa...jangan bilang kalian berdua diam-diam bertemu di belakangku lalu jatuh cin—“ “Tidak! Darimana kau dapat dugaan seperti itu? Sepertinya kau memang butuh istirahat.” “Who knows? Di kantorku sebelumnya, ada salah satu rekan kerjaku yang selalu menemui Summer diam-diam dan mereka jatuh cinta.” Damian tertawa. Ia nyaris tersedak bubur yang baru saja ditelannya, “Sepertinya adikmu punya pesona yang tidak terelakkan.” Phoebe mengangkat kedua bahunya, “Mungkin memang begitu. Yang jelas, dia itu genit. Aku tidak percaya dengan hormon remaja sekarang yang matang sebelum waktunya. I mean—bagaimana bisa ia jatuh cinta dengan pria-pria itu tanpa fase pendekatan dan bla-bla-bla itu?” Damian menyodorkan segelas air putih pada Phoebe sebelum gadis itu kesulitan bernapas karena terus berbicara tanpa menghirup oksigen, “Ku pikir wajar untuk remaja seusianya. Kau tahu? Sepupuku lebih matang dari adikmu,” kata Damian. Mengamati Phoebe yang tengah meneguk air putih itu hingga nyaris habis.   “Ah. Ya, kau pernah bercerita kalau kau memiliki sepupu. Terakhir kali kau bilang, kedua orang tuanya berencana mengirimnya untuk kuliah di sini dan tinggal bersamamu.” Sorot mata Damian menajam, “Itulah yang ingin kubicarakan denganmu.” “Oh, kau ingin konsultasi denganku? Bicaralah, aku orang yang tepat untuk kau ajak bicara mengenai kenakalan remaja dan fenomena lain yang terkait dengan itu.” Ekspresi wajah Phoebe berubah menjadi sedikit lebih riang dan bersemangat. Damian menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan matanya, “Pho, sebelumnya, berjanjilah kau tidak akan memukulku.” “Memukulmu?” Phoebe menelengkan kepalanya ke kanan. “Itu yang selalu kau lakukan tiap kali histeris.” *** Menghabiskan waktu berdua bersama Axel dua malam lalu, memberikan harapan-harapan baru yang mulai tumbuh di hati Summer. Sekeras mungkin dia berusaha agar harapan itu tidak mekar terlalu cepat. Tapi dengan semua sikap Axel yang sedikit lebih manis dari biasanya, harapan yang mulai tumbuh itu, agaknya telah mekar sekecil kuncup bunga sekarang. Dan sekarang tampaknya Summer mulai terjangkit rindu akut pada Axel yang membuatnya nekat menghadiri perkuliahan hari ini meski Phoebe sudah melarangnya. “Aku tidak akan peduli sekalipun kau menangis memohon,” ujar Phoebe, tajam. Ia masih tidak bisa memahami sifat keras kepala adiknya. Memikirkan tingkah adiknya yang semakin lama semakin mencerminkan sikap seorang remaja puber, benar-benar membuat tegang syaraf-syaraf otaknya. “Aku bisa jaga diri. Ini hanya flu biasa, tidak perlu sekhawatir itu.” Summer mengecup kedua pipi Phoebe, kemudian melangkah keluar dari mobil sembari menyandingkan tasnya di pundak kanan. “Aku akan naik taksi,” imbuhnya. Deru mobil Phoebe telah samar terdengar ketika langkah kaki Summer hampir mencapai gerbang utama kampus. Hari ini angin tampaknya tidak terlalu bersahabat. Rok A-Line putih bermotif bunga-bunga khas musim panas yang ia kenakan berkibar hebat sedemikian rupa hingga membuatnya sedikit was-was. Dalam hati Summer mengutuk pilihan pakaiannya hari ini. Semoga tidak ada pria iseng yang nekat mengintip isi roknya. “Hey! Watch out!” Sebuah bola basket mendarat tepat di ubun-ubun kepala Summer sebelum ia sempat menyadari teriakan itu untuknya. Ia pun jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing dan berat. Bola itu mendarat dengan sangat keras. Cukup keras untuk memunculkan benjolan kemerahan di ubun-ubunnya. “Aku baru tahu kalau letak lapangan basket kampus sudah pindah ke sini,” celoteh Summer. Sindiran itu tertuju pada beberapa pria tinggi yang menghampirinya setelah terkena bola basket. Mood-nya sedang tidak bagus hari ini. Flu musim panas benar-benar menyiksanya. “Apa kau terluka?” Salah satu pria-yang memakai kaos putih dengan list biru muda di kerahnya-maju selangkah lebih dekat pada Summer. Sepintas, gaya berpakaiannya hampir menyerupai style keseharian Axel. Apakah memakai celana jeans robek di dengkul sedang menjadi trend di kalangan pria? “Apa kau terluka?” Pria itu mengulangi pertanyaannya. Alih-alih pergi, pria itu justru tersenyum saat Summer memandanginya dengan tatapan sinis untuk mengusirnya pergi. Jelas gadis itu sedang tidak ingin berurusan dengan siapapun saat ini. “Aku baik-baik saja. Trims. Kau bisa pergi sekarang.” *** “Bukankah sudah kuperingatkan padamu? Dan kau masih saja melanggarnya.” Phoebe masih berceloteh panjang lebar. Tangannya tidak berhenti memeras saputangan handuk berwarna pink untuk kemudian ditempelkan di dahi Summer. Adik satu-satunya yang super manja itu akhirnya tumbang. Sungguh tidak elit, kehilangan kesadaran setelah terkena lemparan bola basket. “Hentikanlah hobi burukmu yang gemar merepotkan orang lain itu.” Summer mengerucutkan bibirnya. Kemudian ia berbalik memunggungi kakaknya, “Aku tidak merasa telah merepotkan orang lain.” timpalnya. Alis kiri Phoebe terangkat, “Ha! Aku sedang dalam rapat besar antar direksi saat seorang pria yang aku tidak tahu siapa, meneleponku untuk menjemputmu di rumahnya. Bisa kau bayangkan apa yang terlintas di benak kakakmu ini saat itu?” Phoebe menyentil dahi Summer. “Aw! Itu sakit!” “Rasakan! Kau pantas mendapatkannya! Harus berapa laki-laki lagi sampai kau berhenti?” “Apa maksudmu?”-Summer bangkit dari tidurnya-“Aku tidak mengenal dia. Seharusnya aku lebih panik darimu karena aku terbangun di atas tempat tidur orang asing. Bersyukur aku masih bisa mengenali wajahnya sebagai salah satu komplotan yang melemparkan bola basket padaku,” cerocos Summer. Phoebe meloloskan lenguhan panjang, “Dia menghubungimu tadi.” “Dia?” “Ya. Dia, cecunguk itu.” “Axel?” Phoebe mengangguk pelan, “Dia menanyakan apa kau baik-baik saja.” Sesaat hening menghampiri  selama sekian detik sebelum Summer memekik. “Great! Jelas saja berita seseorang pingsan di halaman depan kampus setelah terkena lemparan bola basket, sudah menyebar cukup luas sampai seorang Axel pun tahu.” “Totally great! Aku sangat bahagia jika adikku sedang dalam kesusahan. I mean—itu hiburan buatku.” “Ayolah, Kak. Bagaimana kalau dia marah? Apa yang harus kukatakan padanya?” “Katakan saja sejujurnya dan—oh, tunggu dulu. Kenapa dia harus marah padamu? Kau bahkan belum resmi menjalin hubungan dengannya. Siapa tahu ini hanya soal cinta satu pihak saja.” Perkataan Phoebe mengalahkan tajamnya ujung pisau yang sudah diasah sekalipun. Bagaimanapun apa yang dikatakannya adalah kebenaran yang tidak bisa dielakkan. Hubungan Summer dan Axel seperti jalan di tempat dan hanya maju sepanjang 2 inchi setiap harinya. Tidak banyak yang berubah kecuali keduanya memang jauh lebih dekat dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Tapi kedekatan mereka tidak lantas mengubah kebiasaan Axel yang gemar melakukan hal-hal layaknya seorang ‘pemain wanita’ yang handal. Dan sekarang Summer benar-benar merasa dirinya terlalu naif. Tidak seharusnya dia mengambil pemikiran cepat bahwa pria itu sudah menyukainya-meskipun tak sebanyak dirinya-hanya karena malam itu. “Sissy, jangan pikirkan hal yang tidak perlu kau pikirkan. Istirahatlah.” Phoebe meninggalkan noda lipstik merah di kening Summer. Malam ini dia harus berangkat ke Jenewa untuk meeting besok paginya. Tentu saja bersama Damian. Meninggalkan Summer saat sedang sakit adalah tindakan bodoh. Adiknya bukan tipikal seseorang yang bisa ditinggalkan saat sedang tidak sehat. Damian harus menerima caci maki dan teriakan Phoebe selama hampir satu setengah jam lebih saat pria itu meneleponnya untuk menyuruh Phoebe bersiap-siap. Perjalanan bisnis ini sungguh mendadak dan Phoebe sangat marah. “Aku akan mengantarmu sampai pintu depan.” Summer menurunkan kakinya dari tempat tidur. Tapi Phoebe dengan gerakan cepatnya, mengembalikan posisi kaki Summer ke semula sebelum adiknya itu memakai sandal rumah-pink dengan boneka babi yang menutupi jari-jari kaki-nya. “Kau tidak perlu mengantarku. Kunci cadangan kutaruh di tempat biasa. Lusa sepulang kau dari kuliah, aku akan menjemputmu.” Summer mengulum senyum kecil, “Baiklah. Hati-hati, Kak. Damian bisa saja menjadi singa buas.” “Jangan bicara yang tidak-tidak.” *** “Bagaimana keadaanmu sekarang?” Suara berat khas orang merokok mengagetkan Summer. Axel tahu-tahu saja sudah berdiri di sampingnya. Pria itu baru saja memarkirkan motornya dan melihat Summer yang berdiri mematung sambil merogoh sling bag-nya. Map berwarna merah dan kuning cerah terselip di antara ketiak kirinya. “Jauh lebih baik.” Summer tersenyum tipis. Keringat mengalir deras di dahi dan pelipisnya. Melihatnya saja Axel sudah tahu. Gadis cerewet ini belum benar-benar sembuh dari sakitnya. Bodohnya, ia memakai pakaian yang tidak bagus untuk orang yang baru mau sembuh dari demam. Dimana otaknya saat ia memilih mengenakan dress pendek tanpa lengan? “Kau sedang mencari apa?” Axel mengamati gerakan tangan Summer yang semakin liar merogoh isi sling bag-nya. “Aku mencari kacamataku. Sepertinya aku meninggalkannya di rumah. Oh, astaga..” Perhatian Axel tertuju pada kacamata berbingkai hitam yang bertengger manis di atas kepala Summer. Kacamata itu bertindihan dengan bando-berbentuk rambut palsu yang dikepang empat cabang-yang Summer kenakan untuk menaikkan poninya. Tangan kanan Axel terangkat ke atas kepala Summer. Ibu jari dan telunjuknya bersatu mengapit gagang kacamata itu. Kemudian, ia memakaikan kacamata itu pada Summer. “Bagaimana bisa kau tidak menyadari letak kacamata yang jelas-jelas berada di atas kepalamu?” Summer cengar-cengir salah tingkah. “Trims. By the way, ada tugas apa hari ini?”  Axel tertawa kecil, “Rasanya aneh saat mendengarmu mengajukan pertanyaan seperti itu padaku,” ujarnya. “Tidak ada tugas apapun. Kau sungguh beruntung di saat kau sedang sakit dan tidak ke kampus. Tidak ada satupun dosen yang memberi tugas pada kita.” Axel menambahkan. Summer mengangkat kedua alisnya, matanya mengerjap-ngerjap senang, “Syukurlah. Aku sungguh khawatir telah melewatkan banyak hal penting.” Mendadak pandangan Axel turun ke kaki-kakinya. “Ehem—begini, Summer. Ku dengar saat kau pingsan kemarin lusa, kau ditolong oleh seseorang.” Axel menggaruk-garuk tengkuknya. “Sampai-sampai kau dibawa ke rumah si penolong itu. Err..bagaimana bisa?” Summer tertunduk. Pertanyaan Axel benar-benar membuatnya gugup dan dia tidak tahu harus dimulai darimana. “Itu...” Summer mulai berbicara. “Saat itu aku terkena lemparan bola basketnya. Bukan berarti aku pingsan karena terkena lemparannya—tidak, bukan itu. Dan kalau kau tanya soal dia yang membawaku ke rumah. Aku juga tidak mau apa motif orang itu membawaku ke rumahnya. Awalnya kupikir, mungkin aku dan pria itu telah saling mengenal. Masalahnya, aku tidak ingat pernah punya teman seperti dia.” “Orang yang kau maksud, adalah aku?” Axel menatap seseorang di belakang Summer dengan pandangan aneh. Summer menoleh, pria asing kemarin lusa itu berdiri di depannya sekarang. Caranya berpakaian benar-benar hampir menyamai Axel dan itu membuatnya merasa bagaikan berada di antara dua anak kembar. Summer mendesah, “Hai.” Pria itu menatap Summer dengan cemas, “Bagaimana keadaanmu? Waktu itu badanmu panas sekali.” Summer mengernyit, “Trims, sudah mengkhawatirkanku. Tapi, bisakah kita berlaku layaknya orang yang tidak pernah kenal? Jujur saja, aku tidak menyukai keputusan sepihakmu yang membawaku ke rumahmu saat pingsan. Kampus ini memiliki ruang kesehatan yang tak kalah bagus dengan rumahmu, fyi.” “Sum, kau lupa denganku?” Pria itu bertanya dengan suara pelan. “Jangan pakai memorimu hanya untuk menghapal rumus-rumus fisika saja.” katanya dengan senyum berkilau. Ia mencoba bercanda dengan Summer, dan ia gagal. Gadis itu tidak bereaksi apapun selain menatapnya dengan kerutan di dahi. “Ehem—kita dari SMA yang sama, Sum.” Kedua mata Summer membulat, kerutan di dahinya hilang. “Benarkah? Aku tidak ingat ada orang sepertimu di SMA ku dulu,” kata Summer. Ia menatap pria itu dengan bingung. Pria itu memiringkan kepalanya ke samping, “Ayolah, Sum. 2 tahun lamanya kita saling kenal satu sama lain dan kau melupakanku? Aku tidak percaya.” “Dengar.” Summer menyela, “Aku paling tidak suka main tebak-tebakan seperti ini, I mean—temanku di SMA bukan hanya kau saja-kalau benar kau salah satu dari temanku di sana. Banyak teman-temanku yang penampilannya berubah, mungkin kau pun salah satu dari mereka yang telah berubah dan—intinya, aku tidak ingat kau—aku tidak bisa mengenalimu.” Axel memandangi dua anak insan manusia itu dengan tatapan bingung dari balik matanya yang dingin. Apa sedang ada acara kuis berhadiah di sini? Rasanya malas sekali melihat tingkah pria itu yang mati-matian ingin dikenali Summer. Mulut Axel menutup rapat. Ia tidak berniat mengeluarkan suaranya saat ini. Otaknya sedang menimang-nimang, haruskah ia menarik tangan Summer dan menyeretnya dari situasi ini? Setidaknya sebentar lagi kelas di mulai. Dia yakin Summer tidak akan protes dengan tindakannya. Malah mungkin gadis itu akan berterima-kasih padanya. “Baiklah, kalau kau masih ingin meneruskan main tebak-tebakanmu. Aku tidak berminat. Sekarang permisi, aku harus segera ke kelas.” Summer berbalik. Ia menyelipkan tangannya ke balik lengan Axel, menggandeng pria itu. Axel tidak perlu repot-repot menyeret gadis itu karena gadis itu telah melakukannya lebih dulu. “I’m Steve. Steve Davis. Tidakkah kau ingat aku, Sum?” Pria asing itu menyebut dirinya sebagai Steve Davis. Summer menghentikan langkahnya tiba-tiba hingga Axel hampir saja menubruknya. Dia memiringkan badannya perlahan, lalu berbalik. Mengamati sosok pria itu sambil berpikir keras. Dimana dia pernah mendengar nama itu?                              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN