Trauma Marissa

968 Kata
Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Armand menatap punggung Marissa yang berbaring kaku di atas ranjang. Sejak kejadian pagi tadi, istrinya seolah kehilangan seluruh energinya. Napasnya pelan, tubuhnya nyaris tak bergerak. Ada sesuatu yang padam di dalam dirinya. Armand menjatuhkan diri ke sofa. Pikirannya kacau. Sejak pagi, Marissa tak bicara sepatah kata pun, tatapannya kosong, seolah pikirannya tersesat di tempat yang jauh. Armand yakin Emma penyebabnya. Tapi ia tak bisa memaksanya mengaku. Untung saja ia sempat kembali ke rumah untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, kalau tidak, ia takkan tahu apa yang terjadi di antara mereka. *** Sementara itu, di rumah seberang, Emma duduk di depan laptop. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, mengetik berbagai kombinasi kata kunci. "Marina Hotel," "Rosetta Hotel," "PT Pelita Hati." Hasilnya nihil. Ia bersandar di kursi, mengusap wajahnya lelah. Pikirannya tak bisa diam. Apa sebenarnya hubungan Marissa dengan hotel itu? Kenapa reaksi Marissa begitu hebat-seperti melihat sesuatu yang tak seharusnya diingat? Suara notifikasi ponsel memecah lamunannya. Dari Fandi. "Kamu sibuk?" Emma memandang layar itu lama. Tak biasanya Fandi menghubunginya lebih dulu. Ada senyum tipis yang nyaris getir di bibirnya. Ia terlalu sibuk memikirkan Marissa sampai lupa bahwa hidupnya sendiri sedang retak. Tapi tiba-tiba, ingatan lama muncul-Fandi pernah bekerja sebagai jurnalis lapangan, meliput berbagai kasus di masa lalu. Mata Emma membulat. Fandi pasti punya cara mengakses arsip lama. Mungkin Fandi tahu sesuatu tentang Marina Hotel. *** Malam itu udara begitu sunyi. Marissa berbaring di ranjangnya, memandangi langit-langit kamar yang gelap. Angin malam berembus pelan dari celah jendela, menimbulkan suara desir lembut seperti bisikan samar. Tapi matanya sulit terpejam. Ketika akhirnya kantuk menyeretnya ke dalam tidur, dunia di sekelilingnya mulai kabur. Dan di antara kabut itu, sebuah tempat muncul-Hotel Marina. Ia berdiri di lorong panjang dengan karpet merah tua dan lampu gantung kristal yang bergoyang pelan. Dindingnya berlapis cermin, memantulkan bayangannya yang kecil dan gemetar. Tangannya menggenggam boneka beruang lusuh. Di ujung lorong, sebuah pintu terbuka sedikit, menembus cahaya kuning dari dalam kamar yang luas. Suara-suara terdengar samar-suara keras laki-laki. Lalu suara perempuan, memohon, menangis. Kemudian... bentakan keras. "Kau tidak tahu apa-apa! Semua ini gara-gara kamu!" "Tolong hentikan, jangan di sini..." Jeritan itu menusuk jantungnya. Marissa kecil terpaku di tempatnya, tak berani bergerak. Dari celah pintu, ia melihat bayangan tubuh ayahnya yang tinggi, mengguncang bahu ibunya. Suara tamparan terdengar keras, membuatnya menjerit pelan-tapi hanya di dalam hati. Air matanya menetes tanpa suara. Ia ingin berlari keluar, tapi kakinya seolah menancap di lantai. Ia mundur perlahan ke kamarnya sendiri, menutup pintu rapat-rapat, dan bersembunyi di bawah selimut. Di balik selimut itu, dunia seakan berguncang oleh suara kaca pecah dan teriakan. "Berhenti... berhenti... jangan lagi..." Ia terbangun. Napasnya terengah. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Matanya menatap sekeliling-kamar tidurnya sendiri, bukan hotel. Armand tertidur pulas di sampingnya. Ia menatap jam di meja samping tempat tidur. Pukul 03.07. Tangannya gemetar saat menyentuh dadanya. Di antara debaran itu, satu kalimat berputar di benaknya: "Hotel Marina..." Kini ia tahu mimpinya selama ini bukan ilusi. Itu adalah kenangan masa lalunya yang terkubur. *** Pagi itu Armand terbangun oleh aroma kopi yang menyeruak dari dapur. Ia melirik jam dinding-pukul tujuh lewat. Terlambat. Ia bangkit tergesa, lalu keluar kamar. Marissa berdiri di meja makan dengan senyum lebar. Terlalu lebar hingga membuat Armand berhenti di tempat. "Kamu sudah bangun?" sapanya riang. "Iya, kesiangan," jawab Armand, masih bingung. "Kok enggak bangunin aku?" Senyum Marissa perlahan memudar. "Oh... maafin aku," ucapnya lirih, suaranya mengandung sesal yang tak wajar. Armand menatapnya, mencoba membaca wajah itu. Sesuatu terasa janggal. Begitu terdengar suara air mengalir dari kamar mandi, Marissa bergerak pelan. Ia melangkah keluar rumah-menyeberangi halaman menuju rumah di seberang. Ia mengetuk pintu dengan ritme yang tenang. Emma membuka pintu, kaget melihat Marissa berdiri di depannya. "Mas Armand lagi mandi," ucap Marissa cepat. "Aku cuma mau bicara sebentar." Emma menyingkir memberi jalan. "Kamu sudah baikan?" Marissa duduk dan tersenyum samar. "Aku baik-baik saja." Tapi senyumnya terasa kaku, asing. "Apa yang kamu tahu tentang aku?" potong Marissa tiba-tiba. Suara itu datar, namun menegang. Tatapannya menusuk. Emma terdiam. "Maaf... aku cuma tahu sedikit. Aku hanya penasaran," jawabnya pelan. "Cuma itu?" Nada Marissa terdengar seperti sebuah ujian. "Iya... cuma itu. Tapi Ris, sebenarnya kenapa kamu ketakutan waktu lihat foto itu?" tanya Emma hati-hati. Marissa tersenyum lagi. Senyum tenang yang justru membuat Emma bergidik. "Aku cuma teringat sesuatu. Kenangan buruk... waktu aku kecil. Aku pulang dulu, ya. Selamat berlibur," ujar Marissa datar, lalu melangkah pergi. Emma menatap punggungnya yang menjauh. Mata itu seperti baru saja menunjukkan rahasia yang sangat gelap. *** Di kantor Armand masuk ke ruangan Pak Wisnu tanpa mengetuk pintu. "Ada apa, Armand?" Pak Wisnu mendongak. "Marissa... sepertinya kambuh lagi." "Traumanya?" Wajah Pak Wisnu menegang. Armand mengangguk. Ia menarik kursi di hadapan Pak Wisnu. "Kemarin pagi dia ketakutan sampai mau pingsan waktu Emma pamit liburan." "O ya?" Pak Wisnu menatap tajam Armand. "Emma bilang begitu?" Tanyanya, tak percaya. Armand kembali mengangguk. "Marissa enggak bisa ditanya." "Emma pasti bohong. Dia mengatakan sesuatu yang membuat Marissa ketakutan." "Tapi kelihatannya dia jujur." "Tidak." Potong Pak Wisnu. Kepalanya menggeleng keras. "Dia pasti mengatakan sesuatu yang memicu trauma Marissa." Ia lalu menatap Armand lekat-lekat. "Dia harus disingkirkan." "Disingkirkan?!" Armand terlonjak di kursinya. "Maksud saya, dia harus dijauhkan dari Marissa. Selamanya. Ingat, dia sudah lama memata-matai kamu, Armand." Armand menelan ludah. "Saya sudah memintanya berlibur, sesuai perintah Bapak." "Itu tidak cukup. Kalau dia terus di sini, semuanya bisa terbuka." "Terbuka apa, Pak?" tanya Armand, nyaris berbisik. Pak Wisnu terdiam lama. Wajahnya menegang. "Ikuti saja perintah saya. Batalkan rencana pesta itu. Batalkan semuanya. Dan jangan tanya apa-apa lagi." Armand ingin bertanya lagi, tapi suara panggilan di ponsel Pak Wisnu memaksanya melangkah keluar. Di ruangannya, ia tak bisa tenang. Untuk pertama kali, ia benar-benar takut. Bukan pada Emma, tapi pada masa lalu Marissa yang disembunyikan Pak Wisnu. Ia meraih ponsel di mejanya. Tangannya bergetar ketika menekan sebuah nomor di layar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN