Rosetta hotel

1136 Kata
Siang itu, langkah Emma kembali membawanya ke Rosetta Hotel. Setelah kemarin Armand memintanya untuk melihat venue, kini ia diminta untuk bertemu seseorang yang akan membantunya mempersiapkan acara. Ia sangat bersemangat, karena pekerjaan itu membuatnya sejenak melupakan permasalahannya dengan Fandi yang menguras pikirannya. Emma duduk menunggu di lobi hotel yang mewah. Matanya yang awas menelusuri setiap sudut. Berada di lobi Rosetta Hotel serasa memasuki sebuah kemewahan bercita rasa tinggi. Lantai dan dindingnya dilapisi granit yang gelap namun mengilap, memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal raksasa yang menggantung di tengah-tengah langit-langit yang tinggi. Sebuah lukisan renaissance di dinding tampak menawan, menunjukkan selera seni sang pemilik. Kemewahan itu dipadu dengan sentuhan feminim dari ratusan tangkai bunga mawar yang diletakkan mencolok di atas meja, di tengah-tengah lobi, mencuri perhatian setiap mata yang memandangnya. Emma tersenyum. Ia yakin, pemilik hotel ini pasti seorang wanita yang mencintai mawar, seperti dirinya dan Marissa. Nama hotelnya saja "Rosetta," pasti terinspirasi dari kata 'rose'. Siapa ya, pemiliknya? Pikir Emma, penasaran. "Selamat siang!" Sebuah suara membuyarkan lamunan Emma. Di hadapannya berdiri seorang wanita ber rok pendek yang pernah ia lihat bersama Armand waktu itu. "Maaf, menunggu lama. Saya Sofie," wanita itu mengulurkan tangannya. Emma beranjak, menyambut uluran tangan wanita itu. "Oh, enggak apa-apa, cuma sebentar," sahut Emma, tersenyum. "Saya Emma, tetangga, eh, maksudnya temannya Pak Armand dan Ibu Marissa," tambahnya, sedikit salah tingkah. Tanpa berlama-lama, Sofie mengajak Emma menuju ke sebuah ruangan, memperkenalkan Emma kepada beberapa staf hotel yang akan menangani pesta. Selesai pertemuan singkat itu, Emma meninggalkan hotel dengan sekotak kue sampel yang disiapkan untuk Marissa. Tugasnya adalah mencari tahu kue-kue yang disukai Marissa untuk pesta nanti. Di rumah Marissa, aroma kopi yang baru diseduh menguar. Marissa sedang menyiapkan ‘me time’ mereka sore itu. Wajahnya langsung berbinar saat melihat Emma datang demgan sekotak kue di tangan. “Hai, Ris!” sapanya riang. Marissa menatap sahabatnya, sedikit heran dengan perubahan sikap Emma yang begitu drastis. Kemarin, Emma tampak murung dan bersedih, kini ceria dan bersemangat. “Kamu senang banget hari ini?” tanyanya, tersenyum hangat sambil membawa cangkir kopi ke taman belakang. Emma ikut tersenyum. “Aku habis ketemu beberapa teman lama. Nostalgia, gitu. Ini, aku bawain oleh-oleh buat kamu.” Ia mengulurkan kotak kue. Mereka duduk di teras belakang, di antara bunga mawar yang sedang bermekaran. Marissa membuka kotak kue dan matanya berbinar. “Wah, ini cantik banget!” ucapnya sambil mengambil kue macaron merah muda, mencicipinya perlahan. “Ini kesukaanku.” Emma tersenyum. “Aku kira kue kesukaanmu donat bikinanku.” Marissa tertawa, senyumnya menular ke Emma. “Donat kamu juga favoritku.” “Mungkin ini kue kesukaanmu waktu kecil,” ucap Emma sambil mengambil macaron berwarna hijau mint untuk dicoba sendiri. Sejenak, Marissa mengernyitkan kening. Pandangannya menerawang, seperti mengingat sesuatu yang samar. Melihat perubahan sikap Marissa Emma mendadak canggung. "Hm, maaf, Ris, aku enggak bermaksud..." Marissa tersenyum tipis, mengibaskan tangannya. "Enggak apa-apa… aku memang enggak ingat banyak masa kecilku." ... Malam harinya, Marissa menghampiri Armand yang sedang bersantai di ruang keluarga, membawa sepiring kue-kue manis pemberian Emma. “Cobain, Mas,” ucapnya, meletakkan piring itu di depan Armand. Tanpa bertanya, Armand mengambil sepotong tart cokelat. “Ehm… enak,” gumamnya, lalu menatap Marissa. “Dari Emma?” Marissa menatap Armand, sedikit heran. “Kok, tahu?” Armand tersadar, ia buru-buru mengoreksi. “Loh, biasanya kan Emma suka kasih kamu makanan?” ucapnya dengan senyum yang dipaksakan. Marissa mengangguk. “Iya, tapi ini dia beli, bukan bikin sendiri.” Armand kembali tersenyum lega. “Jadi, kamu sukanya yang mana?” tanyanya, berusaha ringan. Namun pertanyaan itu membuat Marissa mengernyit lagi, bertanya-tanya dalam hati. Kenapa hari ini semua orang menanyakan kue kesukaannya? --- Minggu pagi yang cerah, suasana rumah Emma terasa berbeda. Meja makan sudah tertata rapi, aroma sarapan menggoda, dan Fandi duduk sendiri, menatap Emma dengan mata penuh harap. Ia berusaha biasa, tapi Emma tahu ada kecurigaan samar di balik sorot matanya. Sejak pertengkaran mereka beberapa hari lalu, sikapnya pada Fandi tak lagi bisa sama. Hatinya berubah, dingin dan menjaga jarak. Bertolak belakang dengan sikap Fandi yang menjadi lebih perhatian dan hangat. Tapi Emma tak luluh, setidaknya untuk saat ini. Ia akan memberi Fandi sedikit pelajaran. “Kamu… mau ke mana sih, sebenarnya?” tanya Fandi pelan, mencoba membuka percakapan. “Rosetta Hotel,” jawab Emma singkat, sambil memilih sepatu. Ia sengaja menahan nada suara tetap netral. “Rapi banget?” Fandi bertanya lagi, menahan diri untuk tidak terdengar terlalu penasaran. “Memangnya enggak boleh?” balas Emma, menoleh sekilas. Fandi menghela napas, sadar bahwa tak ada gunanya memaksa. “Mau aku jemput pulangnya?” tawarnya, mencoba lembut. Emma berhenti sebentar. Tumben Fandi merayu. Tapi ia menahan diri. “Enggak usah. Aku naik taksi saja,” jawabnya, suaranya tetap dingin dan tenang. Beberapa detik kemudian, klakson taksi terdengar dari luar rumah. Emma mengambil tas dan melangkah cepat, meninggalkan Fandi sendirian di meja sarapan, menatapnya pergi dengan rasa penasaran dan sedikit cemas. Sementara itu, di rumah Marissa, Armand bersiap dengan pakaian kasual. Sava mengikuti dari belakang, wajahnya cemberut. “Jangan lama-lama ya, Pah… Papa kan udah janji mau ngajak Sava ke water boom?” rajuknya. “Papa janji, sayang… cuma sebentar. Siang juga udah pulang,” jawab Armand lembut, mengecup pipi putrinya sebelum melangkah keluar. “Sava sama Mama dulu, ya.” Armand masuk ke mobil dan berlalu meninggalkan rumah. Sava masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan kesal. Lalu hening. Marissa menyadari kesunyian ini terasa berbeda dari biasanya. Ia duduk sejenak di ruang tamu, menatap rumah di depannya. Emma juga pergi pagi ini. Semua orang sibuk… gumamnya dalam hati. Tapi... kenapa Mas Armand dan Emma pergi di waktu yang hampir bersamaan? Bisikan itu membuat Marissa menegang, rasa curiga melintas di benaknya. Namun, suara klakson tiba-tiba datang menginterupsi. Sebuah mobil van bertuliskan “Family Home Cleaning Service” berhenti di depan rumah. Pasukan bersih-bersih pesanan Mas Armad sudah datang. Ia tersenyum. Sejenak pikiran buruknya terlupakan. Tapi, setelah semuanya beres, pikiran itu kembali menggerogoti. Pertanyaan: "Mengapa mereka bisa pergi dalam waktu bersamaan?" berputar tak tentu arah. Biasanya Mas Armand sangat jarang menemui klien di hari libur, kecuali sangat penting. Tapi tadi wajah Mas Armand tidak tampak gelisah. Ada sesuatu yang terasa berbeda, sesuatu yang membuat hati Marissa tak nyaman. Marissa duduk di sofa, tangannya memegang cangkir teh yang mulai mendingin. Ia menatap halaman rumah, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi benih kecurigaan membuat nalurinya mulai bekerja. Ia mulai menghubungkan titik-titik kecil yang sebelumnya tampak biasa. Meski tak kentara ia bisa merasakan sikap Emma yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Apakah mungkin ada sesuatu yang sedang terjadi antara Emma dan Armand? Marissa menarik napas panjang. Ia mencoba menepis kecurigaan itu, menenangkan diri dengan logika sederhana: “Mungkin cuma kebetulan. Mungkin Emma memang ada urusan sendiri. Mungkin Armand juga cuma keluar sebentar." Namun hatinya tidak bisa tenang. Ada sesuatu yang menekan, sesuatu yang membuatnya sulit untuk memandang semua itu biasa-biasa saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN