Malam hampir di puncaknya saat Armand mengintip ke kamar putrinya dari celah pintu yang terbuka sedikit.
Cahaya lampu tidur yang temaram menyorot wajah damai Marissa yang tertidur di samping Sava. Keduanya tampak begitu tenang, seperti lukisan yang tidak boleh disentuh. Armand tersenyum tipis, meski ada sorot lelah—atau mungkin sesuatu yang lebih gelap—di matanya. Ia menatap mereka lama, seolah ingin mengabadikan pemandangan itu sebagai bukti bahwa ia telah berhasil menjaga "kerapian" hidupnya hari ini, sebelum akhirnya menutup pintu kembali tanpa suara.
Ia menuju ruang kerjanya, satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu menjadi "suami sempurna". Setelah menutup pintu rapat, Armand membuka jendela lebar-lebar, membiarkan udara malam yang tajam masuk menyerbu ruangan.
Ia menyalakan sebatang rokok.
Asap putih mengepul, menari sebentar sebelum ditiup angin keluar jendela. Di luar sana, kompleks perumahan itu begitu hening; hanya suara jangkrik dan dengung jauh kendaraan kota yang samar terdengar. Di bawah sinar bulan, Armand berdiri diam, menyesap rokoknya dalam-dalam, menatap ke arah rumah Emma yang gelap di seberang jalan dengan pikiran yang tidak bisa ditebak siapa pun.
Senyum di wajahnya menghilang perlahan, tergantikan oleh ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Setiap hisapan rokok seakan menjadi cara ia melepaskan sesuatu—beban, rahasia, atau mungkin rasa takut.
Setengah batang rokok telah habis. Ia menekannya di asbak, lalu menyalakan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat, mengetik sebuah pesan singkat:
“Sudah beres.”
Pesan terkirim. Ia menatap ponsel itu beberapa detik, lalu meletakkannya di meja dengan helaan napas berat. Dari balik jendela, bayangan wajahnya sendiri terlihat samar—dua sisi yang berbeda, satu tenang dan satu kelam.
***
Pagi itu, taman belakang rumah Marissa sudah basah sebelum matahari benar-benar naik. Ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena pekerjaan rumah yang menumpuk, tapi karena kepalanya terlalu berisik untuk diajak terpejam.
Marissa melangkah di antara jalan setapak bebatuan yang tertata rapi. Tangannya menenteng ceret penyiram dari kuningan yang mengilap oleh cahaya matahari pagi. Suara kucuran air yang ritmis menjadi satu-satunya musik yang sanggup meredam gema suara Emma di kepalanya sejak kemarin.
“Tadi pagi, aku lihat mobil Armand masuk ke Rosetta Hotel... Ada meeting, ya?”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti duri mawar yang tak sengaja menusuk jarinya—kecil, tapi perihnya berdenyut hingga ke jantung. Marissa menyiram rumpun mawar merahnya dengan gerakan yang sangat teliti. Ia butuh keteraturan ini. Ia butuh kesibukan yang bisa menyita seluruh fokusnya dari bisikan Emma itu.
Baginya, taman mawarnya adalah sebuah oase. Tempat di mana ia menemukan kedamaian hati. Di mana otaknya sejenak berhenti memutar bayangan-bayangan samar yang tak pernah jelas wujudnya.
Marissa memejamkan mata, menarik napas dalam. Menghirup bau tanah basah dan aroma mawar yang menguar lembut. Aroma yang paling dikenalnya, bahkan sebelum ia memiliki taman ini. Aroma yang selalu membawa kenangan manis yang samar, saat ia berlarian di sebuah taman yang sama. Entah di mana...
***
Sementara itu di rumah seberang, aroma nasi goreng yang gurih dan harum kopi hitam memenuhi ruang makan rumah Emma. Ia sudah bangun lebih pagi dari biasanya, menyiapkan sarapan dan bekal untuk Fandi. Di wajahnya terlukis semangat baru, seolah semua kecurigaan dan kegelisahan semalam telah hilang berganti harapan.
“Tumben udah bikin sarapan sepagi ini?”
Suara Fandi terdengar serak dari arah kamar. Ia berjalan keluar sambil mengucek mata, disambut aroma nasi goreng kesukaannya. Emma tersenyum dan meletakkan secangkir kopi di depannya.
“Aku kan udah janji mau bantuin Armand nyiapin pesta kejutan buat Marissa,” katanya riang. “Pagi ini aku mau ke Rosetta Hotel, liat venue-nya. Jadi harus siap dari sekarang.”
Fandi menatapnya sambil tersenyum tipis. “Mau berangkat bareng aku?” tanyanya, melirik jam dinding.
“Enggak usah, kepagian kalau bareng kamu. Aku masih mau beres-beres rumah dulu.” Emma memasukkan kotak bekal makan siang ke dalam tas. “Aku bikinin sup tahu sama udang mentega buat makan siang kamu.”
“Thanks, sayang.” Nada Fandi lembut, bahkan lebih lembut dari biasanya. Ia menatap Emma sebentar, lalu melangkah ke kamar mandi sambil bersiul pelan.
Ucapan dan senyum itu membuat hati Emma berbunga. Ia merasa segalanya perlahan kembali baik-baik saja. Hari ini akan jadi hari yang menyenangkan, pikirnya.
Setelah Fandi berangkat dan rumah kembali tenang, Emma bersiap menjalankan “misi rahasia” dari Armand. Ia sudah menunggu taksi di depan rumah ketika matanya menangkap sesuatu di teras—tas bekal makan siang berwarna biru tua, tergeletak begitu saja di atas meja.
“Aah, ketinggalan lagi…” keluhnya pelan. Entah kenapa, Fandi jadi sering lupa akhir-akhir ini.
Ia membawa tas bekal itu ke dalam taksi. Kantor Fandi kebetulan searah dengan Rosetta Hotel, jadi sekalian saja diantar.
Sesampainya di kantor Fandi, Emma melangkah masuk dengan percaya diri. Ia menjawab sapa bebarapa orang yang mengenalnya. Ia memang sudah sering datang ke sana. Namun, saat tiba di ruang kerja Fandi, ruangan itu kosong. Mungkin sedang rapat, pikirnya sambil menatap sekeliling. Ia meletakkan bekal itu di atas meja kerja, berniat segera pergi.
Namun matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di sudut meja—sebuah paper bag merah muda, mencolok di antara tumpukan dokumen. Rasa penasaran membuat langkahnya berhenti. Hatinya berdetak cepat tanpa sebab yang jelas. Ia membuka tas itu perlahan.
Di dalamnya ada kotak makan stainless yang belum pernah ia lihat. Rapi, bersih, dan tampak baru.
Tangannya bergetar saat membuka penutupnya. Dan begitu tutup itu terangkat, napasnya tercekat.
Isi kotak itu—nasi goreng dengan potongan bakso, sosis, dan telur ceplok di atasnya. Persis sama dengan nasi goreng yang ia masak pagi tadi.
Untuk Fandi.
Emma terpaku. Matanya membesar, dadanya berdesir aneh. Suara di sekeliling seolah hilang. Hanya gambar nasi goreng di hadapannya yang begitu jelas, begitu menyakitkan.
Siapa yang membawanya? Kenapa ada dua nasi goreng yang sama? Siapa yang membuatnya?
“Eh, Bu Emma?”
Sebuah suara memecah lamunannya. Seorang pria berseragam perusahaan melintas, membuat Emma buru-buru menutup kotak itu.
“Pak Kris…” sapanya gugup.
“Pak Fandi barusan keluar, meeting sama bos,” jelas pria itu ramah.
“Oh, iya. Enggak apa-apa,” sahut Emma cepat. “Saya cuma nganterin bekalnya yang ketinggalan.” Ia berusaha tersenyum, meski senyum itu terasa kaku di wajahnya.
Begitu pria itu berlalu, Emma segera pamit, meninggalkan ruangan dengan langkah cepat.
Di dalam taksi, mata Emma basah. Air mata turun tanpa bisa ia tahan. Rasa sakit menjalar diam-diam, menggigit setiap celah hatinya. Nasi goreng itu—hal yang sederhana—tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
Berulang kali ia menggeleng, mencoba menolak prasangka yang muncul. Tidak. Fandi tidak mungkin. Ia bukan tipe pria seperti itu. Tapi gambar kotak makan itu terus menari di benaknya, berputar-putar seperti mimpi buruk yang tak bisa disingkirkan.
“Mungkin itu cuma kebetulan…” bisiknya pada diri sendiri. Tapi suaranya bergetar, seperti seseorang yang berusaha menenangkan luka yang sudah mulai berdarah.
Ia menatap keluar jendela. Jakarta ramai, tapi semua tampak kabur. Lampu lalu lintas, gedung tinggi, klakson, semuanya jauh. Yang terasa hanya satu—getaran aneh di d**a yang tak mau hilang.
Fandi akhir-akhir ini memang berbeda. Lebih manis, lebih perhatian, lebih sering tersenyum. Dan semua itu, yang semula membuatnya bahagia, kini justru terasa seperti topeng.
Emma menggenggam ponselnya. Jemarinya hendak menekan nomor Fandi, tapi berhenti di tengah jalan.
Bagaimana kalau dia menyangkal? Bagaimana kalau dia berbohong?
Ia menarik napas panjang, mencoba menahan tangis yang hampir pecah. Tidak. Ia tidak akan menanyakannya lewat telepon. Ia ingin melihat mata Fandi sendiri—menatapnya langsung, dan mendengar jawaban dari bibirnya.
Karena hanya dari tatapan itu, ia akan tahu… apakah cinta yang mereka bangun selama ini masih nyata, atau sudah lama hancur tanpa ia sadari.