“What?”
Syok, itulah satu kata yang Enka Shakila rasakan saat ini. Dengan dahi mengerut ia menatap wajah tampan di hadapannya itu. Ia memilih untuk diam sejenak setelah menyuarakan ketidakpercayaannya itu. Seolah sedang memberikan waktu yang mungkin saja akan dimanfaatkan oleh lawan bicaranya. Bisa saja ada ralat yang akan dikatakan. Tapi ....
Bahkan setelah satu menit berlalu, tidak ada ralat yang Enka dapatkan. Hanya ada raut yang tampak merasa biasa-biasa.
“Astaga,” desis Enka tak percaya. “Kamu serius?”
Adalah embusan napas panjang yang pertama kali Enka dapatkan dari cowok itu. Yang bernama lengkap Andika Rizal Pratama. Seseorang yang sudah menjadi bagian hidupnya selama lebih dari dua tahun belakangan ini.
“Iya, Ka. Aku serius.”
Kali ini Enka menarik udara dalam-dalam. Rasanya sesak. Tapi, ketika ia akan lanjut bicara, suara Rizal terdengar.
“Aku serius, tapi ini nggak serius. Ini cuma untuk sementara waktu doang kok. Sampe ... ya paling nggak tiga bulan kita kuliah. Gimana? Nggak lama kan?”
Enka menatap Rizal dengan sorot yang tak berubah. Masih menyiratkan kesan tak percaya di maniknya yang bening itu. Dengan satu tanda tanya di benaknya yang juga belum berubah.
Membiarkan waktu berlalu sedetik, Enka mengabaikan sejenak fakta bahwa Rizal menganggap tiga bulan itu adalah waktu yang singkat. Astaga. Saat ini Enka justru tak habis pikir dengan apa yang sedang dipikirkan oleh cowok itu.
“Serius, tapi nggak serius?” Enka mendengkus dengan kesan aneh. Antara ingin tertawa, tapi ia juga terlihat miris. Pun seperti ada keinginan untuk mencemooh perkataan itu. “Maksud kamu apa, Zal? Serius, tapi nggak serius? Ya Tuhan. Please, Zal. Aku nggak ngerti sama sekali maksud kamu ini apa.”
Sejenak, Rizal menahan napasnya di d**a. “Ka, aku bakal jelasin,” katanya kemudian. “Aku serius ngajak kamu ngejomlo dulu. Tapi, ini nggak serius. Maksud aku ... ya kita tetap pacaran. Tapi, kita pura-pura nggak pacaran di depan teman-teman kampus kita. Ya ... untuk sementara waktu ini. Sekitar tiga bulan.”
“Gimana bisa?” tanya Enka kemudian. Tangan cewek itu naik, mengusap wajahnya seraya menarik udara sekilas. “Astaga .... Maksud kamu, kita pura-pura jomlo dulu gitu untuk tiga bulan ini?”
“Iya,” jawab Rizal tanpa keraguan sedikit pun. “Cuma tiga bulan, Sayang. Ini cuma bohongan. Dan yang pastinya ini ... demi kebaikan kamu loh. Bukan demi aku.”
“Demi kebaikan aku gimana ceritanya? Kalau demi kebaikan aku ... justru aku nggak mau kayak gini. Pura-pura jomlo? Ck. Apaan sih?”
Rizal mengulum senyum. Hal yang tentu saja membuat Enka semakin kesal. Hingga satu kemungkinan itu melintas di benaknya.
“Kamu ... main-main kan, Zal? Kamu ... becanda kan?”
Sempat terbersit di benak Enka bahwa saat itu Rizal hanya bercanda. Mungkin, bisa jadi Rizal memang hanya bercanda. Ingin mempermainkan dirinya. Karena sudah jadi rahasia umum kan kalau prank menjadi salah satu candaan terkini?
Namun, Rizal menggeleng. Ironisnya, gelengan itu diiringi oleh satu senyum simpul. Satu senyum yang selalu berhasil membuat Enka terpesona selama ini. Hingga hari ini tiba, di mana Enka justru merasa tidak ingin melihat senyum Rizal untuk sementara waktu dulu.
“Sayang, dengerin aku dulu.”
Rizal berkata dengan lembut. Seperti biasanya. Kali ini dengan tangannya yang lantas bergerak. Demi meraih satu tangan Enka yang kebetulan berada di atas meja. Ia menangkupnya. Sambil sesekali meremasnya dengan pelan.
“Sebenernya aku juga nggak mau kayak gini, tapi mau gimana lagi,” kata Rizal dengan suara yang sedikit lirih. “Kamu tau sendiri kalau kita baru masuk kuliah. Kita bahkan baru bakal mulai ngampus minggu depan.”
Enka mengangguk. Membenarkan perkataan Rizal. “Terus ... apa hubungannya?”
“Tuh kan. Kamu emang nggak kepikiran.”
“Kepikiran apa sih?”
“Jadi gini ....”
Angin bertiup sepoi-sepoi. Berembus masuk melewati kosen jendela. Bersamaan dengan seorang pelayan yang kemudian datang. Dengan membawa satu nampan berisi pesanan Enka dan juga Rizal. Terpaksa, Rizal menelan sejenak kata-kata yang sudah siap meluncur dari ujung lidahnya.
“Permisi, Mbak dan Mas.”
Dengan sopan, pelayan itu menaruh pesanan kedua anak manusia itu di meja. Berupa dua porsi bakso paket lengkap dan dua gelas es teh manis. Perpaduan yang sempurna memang. Tepat sekali menemani akhir pekan yang cerah seperti kala itu.
“Silakan dinikmati.”
Itulah kalimat yang diucapkan oleh sang pelayan sebelum pergi. Perkataan yang dibalas seadanya oleh Enka.
“Makasih, Mbak.”
Tidak langsung menikmati pesanan mereka, Enka memilih untuk menuntaskan pembicaraan itu terlebih dahulu. Ia perlu tau maksud Rizal. Karena saat ini Enka merasa dirinya sudah tidak bisa bersabar lebih lama lagi. Pembicaraan itu pelan-pelan membuat ia menjadi kian tak tenang.
Dan untungnya itulah yang Rizal lakukan kemudian. Ia melanjutkan perkataannya.
“Kamu pasti tau, Ka. Kita ini maba. Untuk awal-awal kuliah ... kita masih buta. Masih butuh bantuan senior gitu.”
Sumpah. Enka masih tidak mengerti hubungannya di mana. Antara keinginan Rizal yang mengajaknya untuk menyembunyikan hubungan mereka dan kenyataan kalau mereka masih berstatus sebagai mahasiswa baru.
“Dan ... kamu tau nggak? Kalau senior itu biasanya baik ke cewek yang belum ada pacar?”
Mata Enka seketika membesar. Terkesiap spontan. “Hah?”
Rizal tersenyum. Seperti memberikan waktu beberapa saat untuk Enka mencermati dengan baik maksud dari perkataannya tadi. Hingga kemudian Enka bertanya.
“Jadi ... maksud kamu biar aku dibaikin senior gitu kalau aku ada perlu apa-apa?”
“Bener banget!” pungkas Rizal.
Kerutan di dahi Enka jelas bukan tanda bahwa cewek itu sepakat dengan pemikiran Rizal. Alih-alih justru sebaliknya. Sepertinya Enka berbeda di jalur yang berbeda dengan pemikiran pacarnya itu.
Enka menggeleng. Ekspresi wajahnya tampak sedikit kacau.
“Nggak deh, Zal. Aku nggak mau. Apa-apaan coba. Masa kita pacaran terus pura-pura nggak pacaran cuma gara-gara kita masih maba? Ini beneran nggak masuk di otak aku. Beneran.”
Rizal kembali meraih tangan Enka yang sempat ia lepaskan tadi. Berkat kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka.
“Sayang ....” Rizal memanggil pacarnya itu dengan lembut. “Ini cuma sementara waktu doang. Ini nggak serius. Kayak yang aku omong tadi, ini tuh cuma pura-pura aja. Ini cuma boongan gitu. Dan jujur aja ... sebenarnya aku juga nggak mau gini. Tapi, mau gimana lagi?”
Pundak Rizal tampak naik sekilas tatkala cowok itu menarik napas dalam-dalam. Dengan lekat, ia melihat pada Enka. Membuat cewek itu tertegun dalam hitungan detik yang teramat singkat.
“Kita beda jurusan. Lebih parahnya lagi kita beda fakultas. Dan itu artinya ... aku nggak bisa bantu kamu setiap saat. Jadwal kita pasti bakal beda banget.”
Enka tau itu. Hal tersebut memang jadi konsekuensi yang harus mereka ambil tatkala memutuskan untuk mengambil minat yang berbeda. Ada Enka yang lebih tertarik pada dunia tanam-tanaman. Sementara Rizal? Entahlah. Enka tidak tau kalau dulu Rizal pernah bermimpi untuk menjadi guru Fisika.
“Zal ....”
“Kamu tau kan kalau aku sayang kamu?” tanya Rizal kemudian. Pertanyaan yang segera mendapatkan anggukan pasti Enka. Hingga membuat cowok itu tersenyum. “Aku beneran nggak rela sebenarnya buat nyembunyiin status kita. Tapi, aku nggak ada pilihan lain. Untuk sementara waktu, aku cuma mau kamu bisa kuliah dengan tenang. Nggak ada masalah. Dan aku mau kalau kamu minta tolong sama siapa gitu di kampus, mereka bakal bantuin kamu.”
Enka tak bersuara. Membiarkan Rizal terus menjelaskan maksudnya, cewek itu memilih untuk diam saja.
“Kayaknya udah jadi rahasia umum deh, Ka,” lanjut Rizal beberapa saat kemudian. “Kalau junior jomlo yang minta tolong sama senior, itu pasti bakal cepet banget ditolongin. Dan coba bayangkan ini. Kalau kamu ada apa-apa dan mereka nggak mau bantuin cuma gara-gara kamu udah pacar, aku yang ngerasa bersalah.” Rizal menarik napas sekali seiring dengan remasannya pada jari-jari Enka yang menguat. “Seharusnya emang aku ngambil jurusan yang sama dengan kamu. Jadi aku bisa ke mana-mana bareng kamu terus. Dan nggak bakal buat kamu susah kalau ada apa-apa.”
Enka mengangkat wajahnya yang entah sejak kapan tertunduk lesu. Ditatapnya wajah Rizal yang tampak tak berdaya. Seperti menyiratkan rasa khawatir yang terpancar nyata di kedua bola matanya.
Sekelumit rasa janggal seketika terbit di hati Enka. Ia seperti bisa menangkap putus asa cowok itu. Yang terjepit antara keinginan dan juga fakta yang sering terjadi. Hingga membuat ia memberikan ide itu. Hal yang membuat Enka tak habis pikir sebenarnya.
“Gimana?” tanya Rizal kemudian. “Ini biar aku bisa tenang, Ka.”
Enka diam.
“Cuma tiga bulan aja.”
*
“Ehm ... sebenarnya ... tanpa bermaksud membela siapa-siapa ... yang dikatakan Rizal ada benernya.”
“Kalau menurut aku sih ... itu nggak bener. Terserah juga mau dibilang mau bela siapa-siapa gitu. Menurut aku yang diomong Rizal ... nggak bener.”
“Kamu pasti mikirnya pake emosi cewek. Bukannya mikir pake logika. Kalau kamu mikir pake logika, kamu nggak bakal ngomong kayak gini.”
“Please deh ya. Ini emang emosi. Ini namanya perasaan. Perasaan itu kaitannya dengan emosi, bukan dengan logika.”
“Ckckckck. Makanya ... jadi cewek itu harus mulai pake logika dari sekarang. Biar nggak membabi buta aja kerjaannya.”
“Eh! Yeay lupa kalau itu sudah dititahkan Agnez Mo kalau cinta itu kadang-kadang tak ada logika?”
“Kadang-kadang, Beibh. Dan tolong fitur underline-nya diaktifkan bentar. Kadang-kadang itu nggak sama dengan setiap saat. Eh, lagian please deh ya. Yang nggak ada logika itu cinta ini. Bukan cinta itu.”
Enka memejamkan matanya. Mencoba untuk menunggu, tapi sepertinya perdebatan itu tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Memang, itu adalah kesalahan Enka sendiri bila mengira Tami dan Grace akan mengakhiri perdebatan mereka dengan sendirinya. Tanpa campur tangan Enka seperti biasanya.
Dan tentunya ... berbicara mengenai kesalahan Enka, sepertinya mencari solusi dengan bertanya pada duo sahabatnya itu adalah kesalahan selanjutnya yang Enka perbuat. Entah mengapa, tapi harusnya ia belajar dari yang sudah-sudah. Tami dan Grace layaknya dua kutub yang berlawanan. Layaknya dua mata angin yang bertentangan. Layaknya siang dan malam yang tak mungkin bisa datang bersamaan. Tami dan Grace ... selalu memiliki pendapat yang berbeda.
Sekarang? Enka justru meminta pendapat mereka? Oh, yang benar saja. Bukannya cewek itu bisa mendapatkan solusi untuk permasalahan yang saat ini tengah ia alami, yang terjadi justru sebaliknya. Perdebatan Tami dan Grace justru membuat ia semakin bingung.
Tami yang selalu mengagungkan filosofi logikanya. Sementara Grace yang selalu berpegang pada perasaannya. Dan ini sebenarnya membuat Enka bingung. Kenapa sih ia bisa berteman dengan mereka berdua? Terutama Tami dan Grace, bagaimana bisa mereka bisa berteman ketika mereka lebih banyak tidak sepakat ketimbang sepakat?
“Cinta ini kek cinta itu kek. Yang intinya semuanya adalah---”
“Oh, my God! Can you guys just focus on my problem?”
Enka tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kepalanya terancam akan meledak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kalau perdebatan antara Tami dan Grace tidak segera ia hentikan. Dan pastinya, Enka tidak ingin ibunya sampai datang ke kamarnya dan mengecek. Apakah sudah terjadi pembunuhan berdarah atau belum.
Ups!
Akhirnya perdebatan antara Tami dan Grace berakhir sudah. Dengan cara yang sama. Yaitu, Enka yang bersuara dengan nada yang lebih tinggi dibandingkan dengan biasanya.
Hening seketika. Suara-suara perdebatan itu lenyap tanpa sisa. Membuat Enka geleng-geleng kepala. Berpikir di benaknya.
Entah bakal sampe kapan coba mereka kayak gini?
Berenti berdebat kalau aku udah mau marah-marah?
Tami dan Grace kompak mengerjap-ngerjapkan matanya. Saling pandang beberapa saat. Untuk kemudian barulah mereka berdua bersama-sama memalingkan kepala. Melihat pada Enka yang sudah berdiri di tengah-tengah kamar itu dengan kedua tangan yang berkacak di pinggang. Enka melihat mereka berdua dengan mata menyipit yang menyiratkan rasa kesal.
“Ehm ... sorry.”
Tami menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Dengan sedikit manyun, cewek yang kemarin baru saja mengecat rambutnya jadi ala-ala blonde itu, mencibir pada Grace. Temannya yang saat itu sedang pura-pura lebih tertarik pada boneka burung hantu di pelukannya ketimbang pembahasan mereka tadi.
“Habisnya si Grace sih. Heran. Cewek ini bawaannya mau ngajak debat aja.”
Grace melotot. “Malah aku yang disalahin. Kan aku cuma ngomong yang bener sih,” belanya. “Lagian ... logika aja deh. Mana ada cowok normal yang mau ceweknya dianggap jomlo di hadapan cowok-cowok lain. Apalagi kalau cowok-cowok lain itu sebangsa senior. Kalian tau sendiri lah. Senior ngelihat junior bening masih jomlo itu kayak pasukan zombi yang lihat lagi ada diskon daging manusia di pasar kaget.”
Perumpaan yang aneh memang. Tapi, Grace merasa amat percaya diri ketika menuntaskan perkataannya dengan satu kalimat pamungkas.
“Pasti langsung pada nyerbu!”
Enka sontak mengembuskan napas panjang. Tangannya pun lantas luruh seketika dari pinggangnya. Tampak sependapat ketika Grace bertanya pada dirinya.
“Menurut kamu aneh nggak sih kalau ada cowok yang minta hubungannya dirahasiakan? Itu ... kayak dia ada melakukan sesuatu gitu deh.”
Tami sontak memutar bola matanya dengan malas. Seraya berdecak dan geleng-geleng kepala.
“Makanya itu aku bilangin ... kita sebagai cewek itu harus mainin logika juga. Kita harus mikir dengan cermat sebelum ngambil kesimpulan.”
Kompak, Enka dan Grace sama-sama melihat pada Tami. Cewek itu tampak penuh percaya diri ketika mengemukakan pendapatnya.
“Aku tau kita pasti bakal mikir buruk kalau sampe cowok kita ngomong kayak Rizal,” kata Tami. “Tapi, coba deh kita bawa mikirnya dengan kepala dingin. Sebenarnya ... yang dilakukan Rizal ini emang ada benernya.”
Ekspresi Grace membuat Tami rasa-rasanya ingin melempar bantal pada sahabatnya itu. Tapi, Tami mencoba sedikit bersabar. Demi mengeluarkan apa yang ada di benaknya.
“Lihat aja deh. Perasaan udah jadi rahasia umum kalau di kampus itu senior cenderung lebih care ke junior cakep yang jomlo. Nggak cewek nggak cowok, nyaris sama semua. Mereka lebih mau nolong kalau junior yang minta tolong itu masih jomlo plus good looking. Okelah! Mungkin ada senior yang nggak gitu, tapi ... pasti persentasenya lebih dikit ketimbang senior yang emang gitu.”
Tami menarik napas sejenak. Guna menciptakan sejenak jeda yang ia maksudkan agar dimanfaatkan oleh kedua orang temannya itu untuk berpikir. Lalu ia kembali berkata.
“Jadi ... menurut aku sih sebenarnya alasan Rizal masuk akal. Dia nggak mau kamu kelimpungan pas kuliah ntar sementara dia nggak ada di dekat kamu.”
*
Enka merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasa empuk yang ditawarkan membuat ia merasa santai seketika. Walau jelas tidak mampu menyingkirkan kekalutan yang saat ini membuat penuh kepalanya.
Permintaan Rizal, perkataan Grace, dan pemikiran Tami membuat Enka berulang kali terpaksa menarik napas dalam-dalam. Cewek itu mencoba untuk tetap tenang. Berusaha untuk berpikir dengan tenang pula. Walau ....
“Ck. Masa gitu sih?”
Enka bertanya pada dirinya sendiri. Menyiratkan kalau cewek itu masih merasa bimbang. Entah mengapa, ia sedikit merasa tidak yakin dengan hal tersebut. Walau Tami pun sudah mengeluarkan argumen logisnya, nyatanya argumen emosinya lebih berkuasa bila itu menyangkut Rizal.
Membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan apa pun di malam itu, Enka tersadar dari lamunan yang membelenggunya ketika ada satu dering terdengar pecah di udara. Berasal dari ponselnya yang kebetulan tergeletak di atas meja belajarnya. Dengan satu kabel pengisi daya yang tersambung di sana.
Enka bangkit dari tidurannya. Beranjak dan duduk di meja belajarnya dan melihat ada satu panggilan yang masuk. Bernamakan Sweetheart, sudah bisa dipastikan, itu tentulah Rizal yang menghubungi Enka.
Tak membuang waktu lebih lama lagi, Enka mengangkat panggilan tersebut. Seiring dengan tangannya yang lantas mencabut kabel pengisi daya dari ponselnya itu. Dan ia menyapa.
“Halo ....”
“Halo, Ka? Udah tidur?”
Suara Rizal terdengar di seberang sana. Langsung menyambut sapaan yang dilontarkan Enka. Berikut melayangkan satu pertanyaan yang segera mengiringinya.
Malas, Enka menjawab seadanya.
“Belum.”
Lalu ... hening sejenak. Mungkin saja saat itu Rizal bisa dengan cepat menangkap perbedaan yang ada di suara Enka. Dan memang itu yang Enka mau.
Biar deh.
Biar Rizal nyadar.
Hingga kemudian, pertanyaan Rizal membuat Enka tau. Cowok itu menangkap isyarat yang ia berikan.
“Kamu marah ya sama aku?”
Tidak menjawab pertanyaan itu secara gamblang, Enka hanya memberikan satu deheman singkat miliknya. Seraya bola matanya berputar sekali dengan malas.
“Maaf, Ka.”
Tidak melakukan pembelaan sama sekali, Rizal meminta maaf pada Enka. Sontak membuat tubuh Enka menegang. Sikap lesu yang sedari tadi ia pertahankan, berubah. Punggungnya seketika menegap. Dan matanya terlihat lebih fokus saat ini, walau tanpa tau apa yang ia lihat dengan pasti.
“Aku nggak tau kalau kamu bakal marah kayak gini. Kalau gitu ... lupain aja deh. Anggap aja aku nggak pernah ngomong kayak gitu sama kamu. Oke?”
Enka terdiam. Tubuhnya terasa membeku. Entah bagaimana ceritanya, mungkin karena ia dan Rizal sudah bersama lebih dari dua tahun lamanya, Enka seolah bisa melihat ekspresi Rizal di benaknya kala itu. Wajah Rizal yang tampan dan menyiratkan rasa penyesalannya.
“Aku cuma mau kamu baik-baik aja walau nggak ada aku. Tapi, kalau kamu emang nggak mau ya ... nggak apa-apa sih. Itu keputusan kamu.”
Kala itu, suara Tami seperti terngiang lagi di benaknya.
“Aku tau sih kalian pasti nganggap ini tuh kayak yang aneh banget. Tapi, coba deh kalian pikir dengan kepala dingin. Rizal tuh harus nerima kenyataan kalau kalian itu beda jurusan. Dikit banyak ya dia pasti kepikiran sama awal-awal perkuliahan kamu, Ka. Dia nggak bisa bantu kamu, nggak bisa nolongin kamu. Dan kalau ada apa-apa, kamu bisanya ya minta tolong sama senior. Nah! Senior ini kan biasanya mau nolong kalau juniornya jomlo. Kalian pasti pahamlah soal ini. Sejujurnya ... aku yakin sih. Rizal nggak mau kayak gini. Tapi, mau gimana lagi coba. Lagian itu kan cuma tiga bulan. Kira-kira pas kamu udah nyaman kuliah, kalian bakal berenti deh pura-puranya.”
Enka menarik napas dalam-dalam. Hingga matanya pun turut memejam sekilas. Lalu ia bertanya.
“Zal, ini beneran cuma tiga bulan doang?”
Hening sejenak. Di seberang sana, Rizal tak langsung menjawab.
“Iya, Ka. Astaga. Kamu tau nggak? Sebenarnya aku nggak mau kayak gini. Apalagi sampe ngebiarin kamu minta tolong sama cowok lain, tapi apa boleh buat. Aku pun awal-awal kuliah ntar pasti juga sibuk. Nggak bisa bantuin kamu kalau kamu lagi butuh.”
Itu persis seperti yang dikatakan Tami pada Enka tadi. Tepat sebelum dia dan Grace pamit pulang dari rumahnya saat hari sudah menjelang malam.
“Sebenarnya ... Rizal ini ngambil risiko deh. Bayangin aja. Kalau mendadak ada senior yang suka sama kamu, gimana? Dia kan yang rugi?”
Kata demi kata yang dilontarkan Tami kemarin membuat Enka menjadi bimbang sejenak. Walau ia tidak menyukai ide untuk pura-pura jomlo ini, tapi lama kelamaan logikanya bisa membenarkan tindakan Rizal. Itu memang terdengar logis sih. Dan setelah Enka pikir-pikir lagi, tiga bulan bukan waktu yang lama kok. Malah bisa dikatakan itu adalah waktu yang singkat. Terutama untuk mereka yang masih disibukkan dengan masa-masa awal perkuliahan. Banyak kegiatan akan membuat mereka melalui hari-hari tanpa terasa.
“Kalau gitu ...”
Enka bisa merasakan lidahnya kelu. Tenggorokannya pun seperti kesat. Tapi, ia tetap melanjutkan perkataannya.
“... oke.”
“Oke? Ehm ... maksud kamu ... oke apa ya?”
Tarikan napas Enka kali ini lebih dalam dibandingkan dengan biasanya. Tapi, seiring dengan masuknya oksigen ke dalam rongga paru-parunya, Enka tersenyum walau tak ada yang melihatnya.
“Oke,” ulang Enka lagi. “Kita pura-pura jomlo untuk sementara waktu ini.”
“Kamu ... serius?”
“Cuma tiga bulan kan?”
“Iya. Cuma tiga bulan.”
Jawaban Rizal terdengar penuh ketegasan. Hal yang membuat Enka lantas langsung berdoa di dalam hatinya. Berharap supaya tiga bulan bisa berlalu dengan cepat.
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.