Rumah Sakit? Kau Sakit?

1123 Kata
Sinar matahari pagi di kawasan elit Jakarta Selatan tak pernah merasa perlu menghangatkan Aru. Cahaya itu hanya menembus kaca kamar utama, menelanjangi wajah pucatnya, tanpa mampu mengusir dingin yang terlanjur menusuk tulang. Tepat pukul enam pagi, Aru terbangun. Tiga tahun menyandang gelar Nyonya Mavendra telah melatihnya menjadi wanita disiplin tingkat tinggi. Bangun lebih dulu, memastikan air shower berada di suhu yang sempurna, menyeduh arabika pekat tanpa gula, lalu menyiapkan setelan kerja Jevas. Namun pagi ini, menegakkan punggung saja terasa seperti memikul beban raksasa. Baru separuh tubuhnya terangkat, dunia terasa berputar. Ngilu yang semalam merajam perut kanannya datang lagi, kali ini lebih buas. Seolah ada sebilah pisau berkarat yang dipelintir pelan di dalam sana. "Sshhh..." Desisnya tertahan. Jari-jarinya mencengkeram seprai sutra hingga buku-bukunya memutih. Matanya bergulir ke sisi kiri ranjang. Rapi. Tak tersentuh. Jevas tidur di kamar tamu semalam. Ingatan tentang suaminya yang memindahkan bantal karena terganggu oleh rintihan sakitnya, membuat pasokan oksigen di dadanya seketika menipis. ‘Bangun, Aru. Jangan menyedihkan,’ batinnya menghardik diri sendiri. Dengan nafas terputus-putus, ia memaksa telapak kakinya menjejak marmer yang membekukan. Setiap langkah adalah peperangan menahan nyeri. Ia terseok menuju walk-in closet, ruangan luas yang didominasi deretan jas mahal dan gaun desainer yang lebih sering berdebu daripada dipakai. Aru berdiri di depan jajaran jas Armani milik suaminya. Tangannya bergetar saat coba meraih setelan ‘navy’ Dug. Jantungnya seakan anjlok. Rasa sakit itu meledak, menyengat buta hingga ke ulu hati. Keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri tengkuk. Pandangan Aru menggelap, dan sepasang kakinya menyerah menopang tubuh yang kian ringkih itu. Ia ambruk. Aru jatuh terduduk di atas karpet tebal, memeluk lututnya erat-erat. Wajahnya dibenamkan dalam-dalam, sementara gigi-giginya menggigit bibir bawah hingga kebas. Ia tidak boleh berteriak. Jevas paling benci pagi yang berisik. "Sakit... Tuhan, sakit sekali..." bisiknya parau. Air mata merembes tanpa bisa ditahan, membasahi kain piyamanya. Ia hanya butuh lima menit. Lima menit untuk menelan gelombang pasang rasa sakit ini sebelum kembali memakai topeng senyumnya. Lalu, pintu closet terdorong lebar. Cahaya lampu menyala terang, tanpa ampun menusuk mata Aru yang basah. Jevas berdiri di ambang pintu, handuk melilit pinggang, butiran air menetes dari rambut ke bahu tegapnya. Pria itu menghentikan langkah. Alis tebalnya bertaut melihat sang istri meringkuk bak pesakitan di antara rak sepatu. Tidak ada gurat panik di wajah pria itu. Tidak ada gestur terburu-buru untuk merengkuh. Jevas hanya menatapnya. Sorot matanya kosong, menyiratkan keheranan yang bercampur sedikit rasa terganggu. Seolah Aru hanyalah pajangan rusak yang merusak pemandangan paginya. "Sedang apa kau di situ?" Suara Jevas membelah hening. Datar. Dingin. Aru tersentak. Adrenalin memaksanya menelan pedih itu bulat-bulat. Ia mendongak, terburu-buru menghapus jejak air mata dengan punggung tangan, lalu memaksakan sebuah senyum yang tampak begitu menyedihkan. "Aku..." Suaranya bergetar hebat. Aru memaksa diri berdiri dengan sisa tenaga, berpegangan pada pinggiran lemari. "Aku mencari kancing mansetmu yang jatuh. Maaf." Sebuah kebohongan yang bodoh. Namun Jevas terlalu abai untuk sekadar mencari tahu kebenarannya. Pria itu melangkah masuk, melewati Aru seolah istrinya itu tak kasat mata. Ia menarik kemeja putih dari gantungan. "Minggir. Kau menghalangi jalan." Aru mundur selangkah. Ia menahan napas saat perutnya kembali berdenyut perih. "Mas mau pakai dasi yang mana hari ini? Biar aku pasangkan." "Tidak perlu," potong Jevas cepat, mengancingkan kemejanya dengan efisien. "Aku bisa sendiri. Kau siapkan saja kopi. Pastikan kali ini tidak terlampau panas seperti kemarin." “Iya." Aru terpaku menatap punggung tegap itu. Ada raungan di dadanya yang ingin memeluk punggung suaminya dari belakang, bersandar barang sejenak dan mengemis, * 'Mas, tolong aku. Rasanya sakit sekali. Aku takut.' Tapi ia tahu persis, pelukan itu hanya akan ditepis kasar. Jevas benci sentuhan yang tidak ia minta. ** Lima belas menit kemudian, ruang makan terasa mencekik. Jevas duduk di ujung meja, sepasang matanya terpaku pada pergerakan grafik saham di layar iPad, sementara sebelah tangannya mengangkat cangkir kopi. Di sisi kanannya, Aru duduk membisu, menatap roti panggang yang sama sekali tak mengundang selera. "Mas," panggil Aru pelan, nyaris seperti embusan angin. Jevas tak repot-repot menoleh. Ibu jarinya terus menggeser layar. "Hm?" Aru meremas serbet di pangkuannya. Jantungnya berdetak tak keruan. "Hari ini... aku izin keluar sebentar. Ada yang harus kuperiksa di rumah sakit." Gerakan tangan Jevas terhenti. Ia akhirnya menoleh, menatap Aru dengan sebelah alis terangkat. "Rumah sakit? Kau sakit?" Pertanyaan itu meluncur bukan sebagai bentuk kekhawatiran, melainkan tuduhan. Seolah 'sakit' adalah sebuah drama yang sengaja Aru ciptakan untuk mengacaukan jadwal Jevas. "Aku... belakangan ini perutku sering sakit, dan rasanya…” Drrt. Drrt. Ponsel di atas meja bergetar keras, memenggal kalimat Aru di udara. Nama "Hana" menyala di layar. Wajah kaku Jevas berubah dalam sekejap. Sinar mata yang tadi begitu redup dan mengintimidasi, kini hidup oleh pendar kewaspadaan. Ia menyambar ponsel itu nyaris tanpa jeda. "Halo? Ada apa?" Nada suaranya berputar seratus delapan puluh derajat. Ada desakan, kekhawatiran yang nyata, dan... kepedulian di sana. Aru membeku. Keluhan tentang rasa sakit yang sudah mengantre di ujung lidah terpaksa ia telan kembali melewati kerongkongan yang perih. Ia menatap nanar bagaimana bahu suaminya menegang saat mendengar suara dari seberang panggilan. "Leo demam lagi? Berapa suhunya?" berondong Jevas cepat. Ia bangkit dari kursi, mengabaikan kopi yang baru diteguk separuh. "Sudah dikompres? Jangan panik, aku ke sana sekarang. Jangan berikan obat sembarangan sebelum aku sampai." Jevas memutus panggilan, langsung menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi. Ia mengambil langkah-langkah lebar menuju pintu, melupakan iPad-nya, melupakan sarapannya, dan melupakan istrinya yang duduk mematung. "Mas..." panggil Aru. Putus asa. Jevas berhenti sebentar hanya untuk membenarkan letak jam tangannya. Tatapannya sudah tak lagi berada di ruangan itu. Pria itu sudah berada jauh di rumah Hana. "Leo demam tinggi, Hana sendirian dan panik," ujar Jevas cepat, tatapannya terarah ke pintu. "Aku harus segera ke sana. Supir akan mengantarku, kau pakai taksi saja kalau mau pergi." "Tapi Mas, aku baru mau bicara soal…" "Nanti saja, Aru!" sentak Jevas. Suaranya meninggi, sarat akan ketidaksabaran. "Ini darurat. Leo butuh aku. Kau bisa mengurus dirimu sendiri, kan? Kau bukan anak kecil." Tanpa repot menunggu jawaban, Jevas berbalik dan melangkah keluar. Pintu tertutup. Rapat. Aru masih terpaku di kursinya. Hening kembali merayap, menyelimuti ruang makan dengan suhu yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. ‘Darurat,’ batin Aru getir. Anak kecil itu demam, dan itu adalah sebuah keadaan darurat. Sementara istrinya sendiri mungkin sedang menyimpan kematian di dalam tubuhnya, dan ia disuruh mengurus dirinya sendiri. "Aku memang bukan anak kecil, Mas," bisik Aru pada kursi kosong di ujung meja. "Tapi aku juga manusia..." Aru mengambil pisau mentega di atas meja. Lewat pantulan logam perak itu, ia bisa melihat wajahnya sendiri. Tiba-tiba, setetes cairan pekat menetes dari hidungnya. Darah menodai bersihnya piring porselen dan roti panggang di depannya dengan warna yang terlalu terang. Aru tidak menyekanya. Ia hanya menatap cairan itu dengan sorot mata yang sepenuhnya hampa. Bersamaan dengan itu, layar ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk dari Rumah Sakit. ‘Aku sekarat’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN