17

1733 Kata
BERITA TENTANG APA YANG TERJADI padaku menyebar seperti kobaran api yang memanas. Dan seperti dunia tak lagi memiliki air yang cukup, atau pemadam kebakaran yang aktif, gosip ini tak kunjung reda. Pembicaraan tentang Lucas Willow dan aku terus berkobar dari ruang kelas yang satu hingga ruang kelas yang lain. Bahkan aku sering melihat guru-guru melirik aku dari ujung mata mereka untuk melihat seperti apa ‘sih korban yang menjadi objek obsesi seseorang. Bagus. Baiklah. Ini tidak seburuk itu, kan? Oh, siapa yang ingin aku bohongi? Ini seburuk itu! Bukan hanya aku menjadi target obsesif dari seseorang yang tak tahu apa artinya personal space, sekarang aku juga harus menjadi bahan gosip di dalam sekolah. Apa sekolah ini terkutuk? Atau aku yang terkutuk? Aku memutar dua bola mata saat lagi – lagi ada banyak pasang mata yang secara jelas mencoba untuk melirik aku tanpa mencoba menyembunyikannya. Aku membuang napas panjang dan berat. Tidak. Aku yakin sekolah ini yang terkutuk. Memang banyak sih dulu yang bilang kalau Ravenhall High itu sekolah yang punya reputasi mengerikan dan banyak masalah. Bisa dilihat dari banyak penghuninya yang tidak tahu aturan. Aku secara jelas melotot ke arah dua gadis blonda yang berbisik keras seperti sedang mengobrol dengan normal saat aku melewati loker mereka. Jika ini yang mereka sebut berbisik, lalu sekeras apa mereka saat berteriak? Dengan sekuat tenaga, aku mencoba untuk mengabaikan semua hal yang mereka katakan saat aku lewat. Anggap saja itu hanya angin lalu yang menyerbak dengan keras, kan? “Katanya dia dihajar habis-habisan oleh Tiberius Florakis.” “Aku dengar Vanessa dan Ty sedang berada di dalam kamar mandi berduaan.” “Kok’ bisa ya Lucas Willow terobsesi dengannya?” “Apa dia baik-baik saja?” “Dia terlihat sangat terguncang.” “Hei, dia ‘kan adik perempuan Abernathy bersaudara.” “Sayang sekali Valentino dan Vincent harus memiliki adik seperti—“ “Apa ada yang ingin kalian sampaikan pada Vanessa?” suara berat dan serat menggelegar ke seluruh koridor. Aku terdiam. Ketika menoleh, Tiberius sedang berdiri tak jauh di belakang aku, satu ransel terlilit di bahu. Dia maju dan menyamakan langkahnya dengan aku. Saat yang lain sedang terdiam, dia melirik aku seperti mencoba melihat apakan aku baik-baik saja. Kemudian dia melanjutkan, “Jika kalian ada perlu dengannya, maka bicara di depan wajahnya. Kalau tidak, maka aku sarankan kalian tutup mulut.” Dan secepat dia datang, mendadak Ty meninggalkan aku sendiri di lorong sekolah, melangkah penuh percaya diri. Seketika wajahku memanas, merasa malu berdiri sendirian setelah Tiberius berkata bak pemilik sekolah—yang by the way, yah dia memang pemilik sekolah ini. Aku buru-buru ke loker, mengeluarkan buku dan mencari-cari alat tulis agar sibuk dengan kegiatan sendiri. Bisikan tadi menipis, hampir tak terdengar lagi. Namun aku tahu, hanya karena Ty mengancam mereka seperti itu, tidak mungkin remaja ini akan berhenti begitu saja. Jika mereka tak boleh membicarakan aku dari belakang, setidaknya mereka akan melakukan itu secara diam-diam. Lagi pula, siapa yang ingin aku salahkan? Jika ini terjadi pada orang lain, aku juga mungkin akan menjadi mereka yang bertanya-tanya dan memakan gosip. Aku mencibir. Mulai dari sekarang, aku tidak akan pernah mendengarkan gosip jika seperti ini rasanya dibicarakan orang. Ketika aku sudah yakin kalau tidak ada lagi sesuatu yang aneh di dalam loker, aku menutupnya. Theressa mengirimkan pesan singkat padaku kalau dia sudah ada di kelas. Dia juga mengatakan kalau ada sesuatu yang aneh sedang terjadi. Bulu kuduk seketika merinding takut. Hal apa lagi yang akan terjadi? Sesampainya aku di kelas, beberapa murid sudah sibuk duduk di kursi masing-masing. Theressa melambaikan tangan dari barisan kami, lalu wajahnya berubah murung. Aku mengetahui langsung kenapa wajahnya berubah drastis. Dia menunjuk sebuah kotak yang cukup besar berwarna merah darah. Seketika aku teringat kembali apa yang terjadi padaku beberapa waktu yang lalu. Kota besar di dalam loker berisikan tikus mati penuh darah. Aku ingin muntah. Theressa menarik lenganku agar aku duduk. “Apa kita buka?” “Tidak,” aku menggeleng. “Jangan di sini.” “Lalu di mana?” “Kamar mandi,” jawabku yakin. “Ayo.” Karena belum ada guru yang masuk, aku dan Theressa bisa dengan mudah mengeluarkan diri dari kelas dan segera menuju ke kamar mandi wanita lantai tiga. Kami berdua memeriksa setiap bilik yang ada. Kosong. Segera kami mengunci pintu utama kamar mandi dan berdiri diam di depan cermin wastafel. Aku dan Theressa terlihat sedikit ragu untuk beberapa saat sebelum aku memutuskan kalau tidak akan ada yang terjadi jika kami berdua sama-sama diam. Theressa menyenggol lenganku. “Apa yang akan kau lakukan?” “Membukanya, tentu saja.” “Berani?” “Ada pilihan lain?” Theressa berpikir. “Kita bisa menghubungi Vincent?” “Dan apa? Dia hanya akan mengamuk dan mendapat perhatian banyak orang.” “Lalu?” “Biar aku buka saja . . .” Jawabku pasrah. Tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau, aku harus memeriksa apa yang ada di dalam kotak ini. “Kalau sesuatu yang aneh lagi bagaimana?” tanya Theressa, suara mulai bergetar. “Kita teriak.” Aku segera meletakkan kotak itu di samping wastafel. Untuk beberapa saat, aku merasa ragu. Tetapi entah mengapa, pikiran aku langsung menuju Tiberius. Aku terdiam ketika rasa aneh itu muncul lagi. Buru-buru aku sampingkan rasa itu dan membuka kotak tersebut. Yang berada di dalam kotak membuat aku bingung setengah mati. Ini bukan yang aku harapkan. Bukannya aku berharap ada sesuatu yang buruk terjadi padaku, tapi, ini bukan sesuatu yang aku pikir akan berada di dalam kotak tersebut. Begitu banyak cokelat dan makanan ringan, ada permen, ada minuman soda, banyak sekali. Rasanya seperti seseorang baru saja belanja makanan ringan dan menaruhnya di dalam kotak. Apa-apaan ini? Awalnya tikus, sekarang berubah menjadi makanan? Theressa sama terkejutnya. “Makanan ringan? Hei, apa itu Hershey’s Cookies ‘n’ Creme?” mata Theressa berbinar melihat cokelat kesukaannya. “Kit kat? Oh my god, Twix! I love Twix!” Mendadak aku merasa bingung dan heran bercampur menjadi satu. Aku melirik makanan yang lain, apa pun yang ada di dalam kotak lalu tambah heran. Ini semua makanan kesukaan Theressa. Mulai dari Sprite dan permen kesukaannya Nerds. Aku melirik gadis yang seketika menjadi cerah. Ini bukan teror, ini kiriman manis dari seseorang. Dan sepertinya orang itu sudah salah sasaran. “Theressa, sepertinya ini bukan untuk aku . . .” “Maksudmu?” Theressa menoleh penuh tanya. “Aku rasa ini untukmu dari seorang penggemar rahasia.” Mata Theressa terbuka lebar, tak dapat membendung rasa senang. Aku tertawa melihatnya. “Aku punya penggemar rahasia?” “Well. . . apa ada sebutan yang lain lagi?” “Tunggu dulu, tapi siapa yang melakukan ini untuk aku?” Aku hanya menggeleng. Tapi sesuatu memberitahuku, aku tahu siapa pelakunya. *** “Aku dengar karena Lucas Willow belum dewasa, dia akan didakwa sebagai tersangka anak-anak.” Sebuah suara terdengar dari belakang aku berdiri. Aku hampir saja menjatuhkan buku-buku yang aku siap masukkan ke dalam loker. Tiberius berdiri tanpa merasa bersalah. Dia hanya memandangku polos, matanya memantulkan sinar matahari dari jendela Ravenhall High. Aku menahan diri untuk tidak menyumpahi lelaki itu. “Dan dari mana kau mendengar hal tersebut?” “Aku punya banyak telinga dan mata.” “Oh?” Aku tersenyum kecut. “I’m not surprised.” “I wasn’t surprising you.” Aku menenangkan diriku lagi, mengusap kepalaku sendiri dalam imajinasi. Tenang, Vanessa. Orang sabar akan diberikan banyak keajaiban. “Lalu ada masalah apa dengan itu?” “Aku tidak puas,” jawab Ty seperti sedang tidak membicarakan hidup seseorang. “Aku ingin dia hidup selamanya di penjara.” “Dia memang akan masuk ke balik jeruji besi.” “Tapi jika dia disidang sebagai anak-anak dan bukan orang dewasa, ada kemungkinan besar dia akan dilepaskan begitu usianya sudah mencapai batas dewasa.” Konsep Lucas Willow keluar dari penjara membuat aku mual. Aku tidak bisa membayangkan jika lelaki berbahaya sepertinya bisa berjalan bebas di dunia luar, siapa lagi yang akan menjadi korban? Atau lebih parahnya, apa dia akan mendatangi aku lagi? Aku bergidik ngeri. Jika dia melakukan itu, entah apa yang akan aku lakukan. Kemarin aku sangat beruntung karena ada Tiberius. Tunggu dulu . . . sejak kapan kehadiran Tiberius Florakis menjadi sebuah keberuntungan bagiku? Dia hanya kesialan ke mana pun lelaki itu melangkah. “Tenang saja, dia tidak akan melukaimu lagi.” “Dan dari mana kau bisa tahu itu? Mata dan telingamu sanggup melihat dan mendengar masa depan?” “Tidak,” Tiberius tersenyum miring. “Tapi aku sanggup memastikan hal itu.” Hatiku bagaikan bunga yang mekar. Kupu-kupu beterbangan bagian perut bawah. Aku menggigit bibir agar tidak mengatakan sesuatu yang akan aku sesali nantinya. Untung saja seseorang datang karena aku kehilangan kata-kata untuk merespon kalimat yang Tiberius lontarkan dengan santai. “Vanessa,” panggil seseorang bersuara lembut. “Tibeirus . . .” Aku menoleh. Chloe sedang berjalan ke arah kami, namun langkahnya mendadak menjadi ragu begitu Tiberius memberikan dia tatapan tak bersahabat. Aku menyenggol lengan Ty agar dia bersikap lebih sopan. “Halo, Chloe.” “Vanessa, hmh . . . kau terlihat sudah lebih baik sekarang.” Komentar dokter sekolah itu. “Aku harap kau beristirahat banyak.” “Iya, terima kasih, Chloe.” “Pulang?” “Tentu saja,” aku tersenyum tipis. “Aku hanya harus meletakkan beberapa buku dulu.” “Baiklah kalau begitu,” Chloe berdeham canggung. “Aku duluan. Sampai ketemu lagi Venssa, dan Tiberius . . .” Aku tidak melewatkan tatapan yang diberikan Chloe pada Tiberius seperti dia merasa sedih atau semacamnya. Aku segera memalingkan wajah, merasa kalau aku baru saja mengganggu privasi seseorang. Ty tidak memberikan reaksi apa pun. Lelaki itu bahkan tidak melirik Chloe untuk yang terakhir kalinya sebelum gadis yang tidak jauh lebih tua dari kami itu pergi. Aku hanya membiarkan masalah mereka sendiri dan kembali berkutat dengan kunci loker. Setelah beberapa laam, akhirnya loker itu terbuka. Dan aku mulai berpikiran kalau loker yang aku miliki ini terkutuk. Benar-benar penuh sial dan banyak hal negatif yang menanti. Napasku tercekat, buku yang aku pegang berjatuhan. Di balik pintu loker, aku melihat tulisan besar berwarna merah. Tak perlu seorang jenius untuk tahu apa yang orang ini gunakan untuk mengecat lokerku. Bau amis darah langsung menyambut aku. Tiberius menyumpah. Dia menggeser tubuhku ke samping agar bisa melihat lebih jelas. Lelaki itu menghajar loker di sebelahku dengan kesal. “MILIK AKU.” Kenapa harus aku? Kenapa harus Vanessa Flo Abernathy?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN