17.13

1405 Kata
THERESSA NYARIS menampar dirinya sendiri di wajah saat mendengar apa yang dia pikirkan. Benak itu segera dia hapus dengan teriakan menakutkan di dalam hati. Dia menepuk kepalanya di dalam hati, mengomeli diri sendiri sebab bisa memikirkan hal semacam itu. Dia harus membuang jauh – jauh benak semacam itu. Theressa tahu, pikiran seperti itu hanya akan menjadi besar dan tidak karuan jika tidak cepat dibasmi dari otak. Mutlak, Theressa mungkin sudah hilang akal. Dari segala hal yang bisa dia pikirkan tentang Vincent, masa harus rasa suka yang muncul di dalam kepala? Theressa mengerang keras di dalam hati. Dan akhirnya, dia menampar wajahnya sendiri. Di dalam benak juga tentu saja. Dia tidak ingin terlihat seperti orang bodoh di depan pria yang mampu membuat banyak hati wanita menjadi hangat dengan melihat wajahnya saja. Theressa mengumpat pada dirinya sendiri. Tidak ada suka – sukaan. Apa kau sudah gila? Bentaknya pada diri sendiri. Vanessa adalah sahabat pertama kamu. Teman dekat pertama yang akan terus menjadi teman jika kau tidak mengacaukannya, batinnya pada diri sendiri. Theressa mengangguk kecil dan menepuk pundaknya secara diam – diam. Itu hanya pikiran bodoh. Angin lewat saja. Lagi pula, Vincent ini pria yang sangat mengesalkan. Posesif. Kelewat protektif. Theressa bergidik ngeri. Kalau sama adiknya saja seperti itu, apa kabarnya dengan kekasihnya nanti? Vincent yang tidak tahu apa – apa hanya diam. Dia masih tidak suka dengan label yang diberikan oleh Theressa. Yah, dia tahu sih itu dari Vanessa. Ibu beruang. Entah kenapa dia benci sekali dengan titel itu. Jadi, pria itu mendelik lagi untuk yang kesekian kalinya. Sepertinya dia akan banyak mendelik di depan gadis yang baru dia temui beberapa hari lalu ini. “Jangan banyak bicara, ya. Aku bukan ibu beruang.” Payah. Tapi hanya itu yang keluar dari bibir Vincent. Pria itu memutar dua bola matanya saat melihat gadis di sampingnya malah menunduk dan menatap piring dengan lekat. Dia ini kenapa sih? Lupakan apa yang Vincent katakan tentang dia yang unik. Gadis ini aneh. bukan aneh dalam kategori yang buruk sih, tapi tetap saja. Vincent pun tidak habis pikir bagaimana bisa dia sesantai dan setenang ini ada di dalam rumah orang. Secara tidak langsung, Theressa ini sedang menginvasi rumah Vincent. Theressa yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri tidak mengabaikan Vincent. Ugh, dasar hormon remaja. Bisa – bisanya dia merasa tertarik pada kakak temannya sendiri? Tapi tidak masalah sih. Ketertarikan memang selalu ada di setiap orang, kan? Lagi pula, dengan wajah setampan Vincent Abernathy, siapa saja pasti pernah yang namanya satu detik termangu menatap dia. Laki – laki itu bersungut saat Theressa tidak juga menjawab. “Kenapa kau diam? Cat got your tongue?” “Bisakah kau diam?” balas Theressa balik. Sama payahnya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa sebab terlalu kewalahand dengan benak tipis yang tadi dia pikirkan, namun Theressa masih harus tetap menjaga image – nya yang berani dan tangguh. Gadis itu akhirnya mendongak dan menatap Vincent datar. “Diam, diam.” Vincent bergumam. Dia menghabiskan sisa panekuk di piring dan mengunyah dengan keras dan berisik. “Hanya itu yang bisa kau katakan?” Theressa mendengus keras. “Hey, semua.” Vanessa. Akhirnya gadis itu turun dari atas dengan senyum insoen yang tidak tahu apa – apa. Dia mengenakan kaus dengan tangan panjang yang tipis. Namun, lengan panjang itu dia gulung seperempat. Bawahnya, dia menggunakan celana leggings yang sama tipisnya dan sebuah sepatu olahraga yang nyaman. Berbeda dengan Theressa yang menggunakan kaus hitam longgar bergambarkan nama band favoritnya, BROCKHAMPTON. Dia mengenakan sepatu vans hitam dan celana jeans yang sobek di lutut. Theressa melambaikan tangannya penuh antusias. “Hey, Van.” Vincent mendengus sebab bukan itu reaksi yang di berikan Theressa saat bertemu dengannya tadi. Malah ekspresi terakhir yang dia berikan adalah mimik wajah yang datar. Theressa beradu fist bumps dengan Vanessa yang duduk di sisi sebelah Theressa. Gadis yang duduk di antara dua Abernathy bersaudara itu meraih piring penuh menara panekuk untuk Vanessa dan menyodorkan krim. “Selamat makan.” “Jangan berlaga seperti kau yang membuat makan pagi,” kata Vincent. “Aku yang memasak semuanya.” “Iya, iya. Aku tidak akan mengambil kredit darimua. Ini Van, makan. Ini semua Vincent yang buat.” Theressa berkata manis sembari memberikan Vanessa buah – buahan berries. Gadis itu menawarkan senyum manis juga ke arah Vincent yang mencibir dengki. “Teirma kasih,” jawab Vanessa sembari menahan tawa. Dia berkutat dengan sarapan di depannya jadi tidak melihat kalau dua orang di sebelahnya itu sedang adu tatap dan saling berkata rendah. “Penjilat,” bisik Vincent. “Sirik,” bisik Theressa balik. “Aku yang membuat panekuk,” “Aku tidak pernah bilang aku yang buat,” “Kau bisa pergi saja tidak?” “Aku kan akan pergi bersama Vanessa.” Vincent melotot ke arahnya. “Aku harap kau mendapatkan bagian bantal yang panas seumur hidupmu.” “Aku harap kau tidak pernah mendapatkan bagian bantal yang dingin seumur hidupmu,” balas Theressa. “Itu sama saja, bodoh.” “Ya memang iya. Aku akan menimpali apa yang orang berikan padaku,” kata Theressa dengan kedipan satu mata yang berlebihan. Vincent tidak bisa menahan diri dan akhirnya mengerang kesal. Dia beranjak dari kursinya dan berjalan ke tempat cuci piring. Dia raih piring milik Theressa juga walau sedang jengkel pada gadis itu. Theresse bergerak cepat. “Wait, kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa mencuci piring—“ “Sudahlah,” Vanessa memotong. “Dia suka bergerak begitu. Mungkin ini adalah sebuah obsesi tersendiri. Dia maniak bersih – bersih.” Vincent melempar air ke arah Vanessa dengan jengkel. Gadis itu hanya terkekeh dan mencoba menghindari air dari Vincent. “Hey, apa aku salah?” seru Vanessa. “Tidak sih,” Vincent menggerutu. “Itu karena kau dan Vanno tidak bisa bersih satu detik saja.” “Kau hanya terlalu gila dengan kebersihan.” “Apa aku salah?” balas Vincent dengan gaya yang sama. Dia meneruskan mencuci piring dan mengabaikan dua gadis yang sibuk berbicara di meja konter. “Jadi, kau akan melihat – lihat lokasi kebun binatang terlebih dahulu. Lalu aku akan mengantar kau ke belakang, untuk melihat kantor kecil untuk staff di sana. Kau juga akan aku ajar beberapa hal yang ringan, yang bisa aku berikan dalam waktu yang singkat. Nanti, saat kau sudah masuk, akan aku ajarkan lagi lebih dalam.” Vanessa mengangguk, mendengarkan dengan serius. Dia mengiyakan semua yang Theressa katakan. “Apa Lee akan ada di sana?” Theressa mengangguk dengan mata yang berbinar. Baru saja dia akan berkomentar tentang Lee, tapi Vincent menutup air dengan keras dan membuang napas berat. Dia bersandar dengan bertumpu dua tangan di depan wastafel sambil menatap dua gadis itu bergantian. “Tidak ada yang namanya Lee, Lee, ya. Jangan macam – macam. Kalian kerja di sana, bukan mencari pacar.” “Siapa juga yang mencari pacar?” ketus Theressa. “Tidak ada salahnya mencari sesuatu yang segar untuk menemani hari yang berat. There’s no harm in having an eye candy at work. Jangan sirik.” “Siapa yang sirik?” “Sudah jelas kau.” “Tessa—“ “Whoa, jangan panggil aku begitu. Jangan berikan aku nama panggilan. Rasanya aneh,” Theressa merinding. Bagi orang luar, dia terlihat jijik. Padahal, gadis itu merinding sebab dia merasakan kepakan sayap kupu – kupu di dalam abdomen tubuhnya yang membuat tengkuk gadis itu bergidik. Ada rasa yang aneh saat Vincent menyebut namanya dengan sebutan begitu. Memberikan nama panggilan adalah sifat yang afeksionis. Dan sayang. Dan Theressa tidak ingin berpikir begitu apalagi dia baru saja berhasil menghalangi benak kalau dia sediki tertarik dengan wajah Vincent. Gadis itu melirik Vanessa yang makan dengan santai, tidak memedulikan apa yang sedang terjadi di depannya. Mungkin dia sudah terbiasa dengan sifat yang begini. Vincent yang mengatur dan bossy. Tapi tidak bagi Theressa. “Kenapa sih? Hanya nama panggilan saja.” Vincent mendengus kesal. Dia mengeringkan tangan dengan serbet hitam di pinggir wastafel, lalu kembali duduk di samping Theressa. Gadis itu berubah menjadi patung. “Ada masalah?” “Tidak.” Theressa berdeham. Saat dia melirik Vanessa yang sudah selesai makan pagi, gadis itu langusng berdiri dan menjauh dari Vincent. “Baiklah, sudah selesai kan semua? Sekarang kita berangkat sebelum terlambat!” Theressa berlari keluar dari dapur dengan perasaan yang campur aduk. Dia suka berteman dengan Vanessa. Dan jika dia ingin pertemanan itu berlangsung lama, Theressa tidak boleh punya pikiran seperti ini. Vincent Abernathy itu off – limits.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN