Kericuhan

1037 Kata
BUGH! Satu lemparan tepat mengenai kepalanya. Alenta terbengong untuk beberapa saat kala sebotol air mineral melayang ke arahnya. Tidak cukup itu. Seseorang, yang entah di mana posisinya melempari Alenta dengan telur busuk. Suasana jadi tidak kondusif. Antara kerumunan penggemar dan pembencinya menjadi satu. Bisa saja ada pembenci yang menyamar menjadi penggemar agar mudah melukai Alenta. Tiara berteriak dari bawah, memanggil staf dan pengawal untuk mencari tahu siapa dalang di balik kekacauan. Tiara menyusuri kerumunan penggemar. Menarik satu per satu bahu dari mereka dan memerhatikan tangannya. "Di situ!" teriak salah satu asisten Alenta. Asisten dan manajer Alenta sibuk mencari dalang. Sementara Alenta, perempuan itu tetap berdiri di panggung dengan tatapan kosong. Seperdetik, Alenta teringat kepada Fano. Andai saja lelaki itu masih hidup, pasti Fano akan segera menolongnya kemudian memarahi orang yang telah melakukan hal buruk kepadanya. "Lo gila, ya!" pekik seseorang dari belakang panggung. Ia merasakan ada sesuatu yang tersampir di kepala dan kedua bahunya. Ketika Alenta mendongak, sepasang matanya mengerjap. Kedua pasang mata itu saling menatap—setidaknya tiga detik, hingga sebuah botol kaca terarah ke arah Alenta lantas ditepis cepat oleh Dami. Ya, Dami... vokalis Missing You. Dengan kedua mata kepalanya sendiri Fano melihat Dami menyelamatkan Alenta sekali lagi. Kali ini bukan karena tidak sengaja. Tapi karena permintaan Fano kepada Dami. Seperti saran Naomi kemarin. Fano mengesampingkan egonya lebih dulu demi Alenta. Lupakan kemarahan Fano pada Dami sejenak. Sebentar saja. Baik Fano dan Dami harus mencari bukti bahwa berita yang muncul di media online hingga akun gosip adalah kebohongan yang diciptakan Nirmala sendiri sebelum menghilang. Selain mencari bukti, mereka juga harus mencari di mana keberadaan Nirmala. Siapa tahu saja pura-pura menghilang ternyata cuma siasat perempuan licik itu. Naomi berada di belakang Fano dan menepuk bahu lelaki itu. "Demi Alenta." Naomi mengingatkan Fano terus menerus. Ada kalimat Naomi yang terus mengganggu pikiran Fano. "Dunia lo sama Alenta udah beda. Kalau lo sayang dan pengin Alenta dapet kebahagiaannya, maka lo harus fokus ke sana aja. Kesampingkan perasaan lo ke dia. Mau berusaha keras kayak gimanapun, selamanya lo sama Alenta nggak akan bisa bersatu." Ini patah hati pertama Fano. Rasanya? Jelas sakit. Jangan kan melihat Alenta berdua bersama Dami. Mendengar keduanya lebih dekat, sama seperti menyakiti perasaannya. Fano diam menunduk. Kesepuluh jarinya ia kepalkan. Ia tidak bisa marah karena tidak berhak. Benar kata Naomi. Jika Fano dan Alenta memang tidak bisa bersama apa pun alasannya. Paling tidak, Fano menepati janjinya untuk selalu menjaga Alenta, memastikan perempuan itu hanya akan menemukan kebahagiaan. Hantu lelaki itu berdeham. Kepalanya sedikit terangkat, lantas menyunggingkan senyum sumringah. "Udah ada Dami yang jaga Alen di sini. Lo sama gue cari bukti lagi aja, gimana?" Kepala Naomi terangguk. "Oke." Keduanya menatap ke arah Dami dan Alenta sekali lagi. Memastikan Alenta sudah dibawa pergi oleh Dami turun ke bawah. Naomi melihat Tiara dan dua orang asisten Alenta berhasil membawa beberapa dalang dari keributan yang terjadi. Naomi menepuk punggung Fano lalu mengerjapkan mata. "Ayo, Fan!" ajak Naomi. Fano tampak enggan meninggalkan tempat. Kedua matanya masih memandangi Alenta yang dirangkul Dami, menuruni satu per satu anak tangga panggung. "Yuk," kata Fano. Dalam sekejap sosoknya ikut hilang menyusul Naomi. *** Harusnya acara hari ini menjadi kebahagiaan bagi penggemar Alenta di mana pun. Kedatangan Alenta ke sebuah acara musik guna mempromosikan lagu barunya. Kemarin sore, lagu baru Alenta telah dirilis. Alenta baru naik panggung dan berdiri di tengah. Sebelum musik menyala, sebelum Alenta membuka mulutnya, seseorang dari kerumunan penggemar melempar sebotol air ke arah panggung dan tepat mengenai kepala Alenta. Tiara sontak beranjak dari kursi lalu meneriaki orang yang melempari Alenta. Tiara bergerak cepat, menunjuk ke orang tersebut lantas memanggil penjaga untuk mengejar. Tidak disangka, pelaku lebih dari satu orang. Sekitar ada tiga orang. Semuanya remaja perempuan yang diperkirakan berusia enam belas hingga delapan belas tahun. Ketiganya telah digiring ke kantor polisi untuk diinterogasi. "Bisa tinggalin kita sebentar?" pinta Dami melirik Tiara. "Ng—" Alenta mengerjapkan mata sebagai isyarat setuju. Tiara menelan kembali suaranya, bergegas pergi meninggalkan Alenta dan Dami hanya berdua. "Kalau terjadi hal kayak gini lagi, mending lo buruan turun! Kenapa malah bengong kayak orang nggak punya nyawa?" omel Dami. Dahi Alenta mengernyit tajam. Dami mulai lagi.... Alenta menggosok rambutnya menggunakan handuk bersih. Masih tetap santai seperti dugaan Dami. Alenta menyahut, "Lo minta Tiara ninggalin kita berdua dengan tujuan cuma pengin ngomel doang?" "Bukan," jawab Dami menahan geram. Astaga! Kenapa Dami harus berurusan dengan perempuan batu seperti Alenta! Bukan hanya ekspresinya yang minim. Tapi juga hatinya sekeras batu! Sulit sekali diberitahu! Seandainya itu terjadi kepada orang lain, Dami yakin orang itu akan segera turun dari panggung! Bukannya malah terbengong seolah pasrah dilempari botol hingga telur busuk! Ya, Tuhan.... Dami jadi senewen sendiri! "Terus... apa?" tanya Alenta. "Apanya?" balas Dami. Alenta menurunkan handuknya ke atas paha. "Tujuan lo minta Tiara pergi itu apa? Ada yang mau lo omongin? Kalau cuma mau ngomel, mending lo pergi. Gue masih ada banyak urusan." "Urusan apa?" tanya Dami lagi. "Bukan urusan lo," sahut Alenta dengan nada sengit. Dami seperti membuang banyak waktu dan tenaga berhadapan di depan Alenta. Bisa tidak, sih, Alenta bersikap seperti manusia sewajarnya? Kalau kesal ya marah saja. Kalau sedih, ya tinggal nangis. Yang Dami lihat, Alenta sengaja menahan emosinya. "Gue mau nanya soal Nirmala ke lo." Alenta melipat handuknya lantas mendengkus. "Lo salah tempat kalau mau nanya soal Nirmala." Kepala Alenta bergerak miring lalu menjilat bawah bibirnya. "Nirmala sama lo sama aja gue rasa. Lo berdua yang ada masalah, kenapa nyeret nama gue yang jelas nggak ada hubungannya. Sekarang, Nirmala hilang, lo mau nuduh gue juga?" Dami menahan geram. "Lo tinggal jawab pertanyaan gue doang!" Alenta menarik napas panjang dan mengembuskannya. "Ya udah. Lo mau nanya apa?" "Bener yang dibilang orang-orang kalau hubungan lo sama Nirmala buruk di lokasi?" tanya Dami tanpa basa-basi. "Ya." Alenta menjawab tanpa ragu. "Kenapa?" timpal Dami. "Ada baiknya lo tanya sama Nirmala setelah dia ketemu." Alenta bersedekap. "Gue nggak merasa kita ada masalah atau pernah ganggu dia. Justru dia yang ganggu gue." Hubungan dingin antara Nirmala dan Alenta memang sungguhan adanya. Tapi, soal Alenta yang mengganggu Nirmala di lokasi syuting itu bohong. Justru sebaliknya, Nirmala-lah yang mengganggu Alenta. "Lo..., sama sekali bukan dalang hilangnya Nirmala, kan?" Kali ini, Alenta tertawa sinis. "Ini tujuan lo? Dateng jauh ke sini cuma mau nuduh gue? Gitu, Dam?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN