Alenta mengeluarkan isi tasnya. Mulai dari ponsel, charger, pouch make up, tissue dan segala macam printilan khas perempuan. Ia mencari jepitan rambutnya. Seingat Alenta, ia memasukkannya ke dalam tas. Tapi, kenapa tidak ada ya? Apa ketinggalan di rumah?
Disambarnya ponsel di atas meja. Ia sedang menghubungi nomor rumah. Tidak diangkat, kemudian teringat pada Tasya. Alenta beralih menelpon ke nomor Kakak iparnya. Dan benar saja, baru berdering sekali, Tasya langsung merespons panggilannya.
"Halo..."
"Sya," sapa Alenta cepat. "Di rumah ada jepitan gue ketinggalan nggak? Boleh tolong cariin di kamar?"
"Hah? Oh, oke. Tunggu ya," gumam Tasya merespons lebih cepat dari bayangan Alenta.
Benda persegi itu masih menempel ke telinga kanan Alenta. Panggilan sambungan telepon masih menyala antara kedua perempuan itu. Terdengar suara langkah Tasya menaiki anak tangga lalu disusul suara pintu yang dibuka. Sepertinya, Tasya sudah sampai ke kamarnya.
"Gimana, Sya?" tanya Alenta lagi.
"Jepitan di kamar lo ada banyak. Yang lo cari yang gimana emang?"
"Jepitan mutiara," jawab Alenta, tatapannya berubah sendu. "Yang dikasih sama Fano, Sya..."
Tasya sama diamnya. Setidaknya selama tiga detik setelah mendengar jawaban Alenta barusan. Ah, baiklah. Sekarang Tasya mengerti kenapa adik iparnya begitu panik hanya karena sebuah jepitan rambut. Ia kira karena harga jepitan itu mahal, tapi, kalau dipikir lagi, Alenta bukan tipikal orang yang suka menghamburkan uang hanya untuk membeli barang mahal, apalagi tidak terlalu penting. Cuma jepitan rambut, gitu... Tasya mengenali Alenta dengan baik. Dan benar saja, alasannya adalah Fano.
"Gue cariin dulu ya, Len," ujar Tasya setelah tiga detik terdiam melamun. "Kalau udah ketemu jepitan lo, ntar gue telepon lo ya."
"Hmm," gumam Alenta, lesu. "Makasih ya, Sya."
"Iya," jawab Tasya.
Sambungan telepon keduanya berakhir. Alenta meletakkan ponselnya ke meja. Orang-orang di belakang sibuk berjalan ke sana kemari. Tanpa jepitan rambut itu, Alenta seperti kehilangan Fano untuk kedua kalinya. Selain kenangan dan foto, jepitan ranbut mutiara itu juga peninggalan lelaki itu. Ia akan membawanya ke mana-mana. Akan ia kenakan selama tidak ada jadwal syuting. Tapi... sekarang jepitan itu hilang. Entah Alenta lupa meninggalkan di rumah, atau malah jatuh di suatu tempat yang tidak ia sadari.
Kalau bukan di rumah, di mana memangnya? Studio rekaman? Ah, tidak. Kalau pun Alenta mengenakannya saat itu, buat apa ia melepaskan jepitan rambutnya? Selama proses rekaman berlangsung, ia sibuk meredam emosinya karena ulah Dami.
"Oh, tunggu." Alenta bergumam pada dirinya sendiri.
Apa tertinggal di rumah Dami? Ah, ya! Pasti ketinggalan di apartemen lelaki itu. Beberapa hari yang lalu ia pergi ke sana dan tidak sengaja melepaskan jepitan rambutnya.
Alenta menyambar ponsel dari atas meja hendak menghubungi Dami. Tapi, tangannya berhenti menyentuh layar ponsel setelah teringat sesuatu. Kan, nomor Dami sudah Alenta hapus! Akh, sialan! Itu artinya ia harus menemui Dami ke apartemennya!
***
"Heh," bisik Naomi menyikut lengan Fano di sampingnya.
Ujung jari Naomi menunjuk sosok perempuan di depan mereka. Oh, ralat. Hantu perempuan lebih tepatnya. Sosok itu sering terlihat beberapa hari terakhir ini. Dilihat dari gerak-geriknya, sih, seperti hantu baru. Mirip reaksi beberapa arwah penasaran yang baru meninggal. Ya, Fano juga sih.
Mereka menghampiri si hantu perempuan. Naomi mengambil duduk di samping, sementara Fano cuma berdiri sembari memerhatikan Naomi mengajak teman baru mereka berbicara. Sosok itu sangat cantik. Kulitnya putih mulus dan ditunjang pakaian mahal yang melekat di badan.
Fano memiliki hobi baru setelah menjadi arwah. Setiap ia menemukan teman baru, ia selalu bertanya, "Lo mati kenapa? Sakit atau dibunuh?" Padahal penyebab orang meninggal bukan cuma karena dua hal itu. Bisa saja karena kecelakaan, overdosis, atau jatuh dari kamar mandi. Bisa saja, kan? Pikiran Fano, tuh, tidak akan jauh-jauh dari dibunuh. Mungkin mengingat dari pengalamannya.
"Lo kenapa nangis? Cerita aja sama kita," kata Naomi menekuk dua lututnya.
Perempuan itu agak mendongak. Selain pucat, wajahnya dibasahi air mata. "Gimana caranya aku bisa balas dendam? Aku nggak terima mereka bunuh aku cuma karena harta warisan!"
"Dibunuh?" Bibir Fano bergerak tanpa mengeluarkan suara.
"Lo inget kenapa lo meninggal?" tanya Naomi hati-hati.
"Gue inget semua! Mana mungkin gue lupa sama orang yang udah bunuh gue!" teriak si hantu perempuan bergaun merah menyala.
Naomi dan Fano jadi saling pandang-pandangan. Hantu perempuan—yang entah namanya siapa, tampak menggebu-gebu menjelaskan kronologi kematiannya secara detail.
Namanya Amora, seorang putri dari keluarga kaya pemilik hotel ternama di Ibu Kota. Amora anak satu-satunya dari keluarga Sandika. Ibunya telah lama meninggal setelah melahirkannya. Ketika Amora duduk di bangku SMP, sang Ayah menikah lagi dengan seorang perempuan yang usianya jauh lebih muda.
Kehidupan keluarga Sandika terbilang harmonis. Walau ia dibesarkan oleh Ibu tiri, tetapi semua anggota keluarga akur, termasuk hubungannya bersama adik tirinya.
"Ibu tiri lo pelakunya?" tanya Naomi.
Amora menangis sesenggukkan. Perempuan itu tampak kecewa. Orang yang telah ia anggap sebagai pengganti ibunya justru malah membunuhnya hanya karena harta. Padahal, jika wanita itu menginginkannya, Amora akan memberinya secara sukarela. Ya, sesayang itu Amora pada Ibu tirinya. Tapi, balasan yang ia terima terlalu kejam!
"Di mana-mana Ibu tiri emang kejam." Naomi ikut berkomentar. "Lo yang sabar ya. Suatu hari Ibu tiri lo bakal dapat karma yang setimpal."
Amora menggeleng. Air matanya meleleh. "Gue nggak bisa diem aja. Gue balas dendam! Kalian bisa bantu gue, eoh? Gue janji. Kalau lo berdua bisa bantu, gue bakal kasih semua harta gue ke kalian!"
Fano mendengkus kasar. "Hei," tegurnya. "Harta bagi hantu kayak kita nggak ada gunanya. Nggak bisa digunakan! Lo pikir kehidupan realita kayak cerita di drama Korea yang mau balas dendam harus ngasih seluruh harta peninggalannya selama masih hidup?"
Amora terdiam. Ia bodoh sekali, sih! Yang dikatakan Fano ada benarnya. Amora saja yang terlalu terbawa perasaan ingin balas dendam!
"Gue cuma mau dapet keadilan." Amora memasang wajah memelas. "Orang kayak mereka nggak boleh dibiarin gitu aja! Karena mereka, gue harus mati!"
Naomi menepuk bahu Amora. "Bukan kita nggak mau bantu," ujar Naomi, kalem. "Tapi balas dendam nggak baik."
Berbeda dari respons Naomi. Fano justru mendukung keinginan Amora untuk melakukan balas dendam pada orang yang telah membunuh perempuan itu. Fano juga ada di posisi seperti Amora. Fano marah kepada orang yang telah membunuhnya. Apa salah Fano dan Amora sampai ada orang yang tega menghilangkan nyawa mereka?
"Kita bantu aja, deh!" celetuk Fano, ikut terpancing emosinya.
"Hah? Lo nggak waras ya?" Naomi berdiri dan menatap Fano.
"Lo nggak ngerti, sih, gimana rasanya mati dibunuh orang!" balas Fano, sengit.
"Fan." Naomi meluruskan pandangan. "Balas dendam itu nggak baik! Lagi pula, apa yang bisa lo lakuin emang? Gue tanya, apa lo bisa nemuin orang yang udah bunuh lo waktu itu? Bisa, nggak?"
"Kasusnya beda, Nom," desis Fano. "Gue emang belum bisa nemuin orang yang udah bunuh gue. Tapi, Amora, dia tahu siapa yang udah bunuh dia!"
Naomi menyibak rambutnya ke belakang, lalu menarik napas panjang. "Emang setelah balas dendam, kalian bakal hidup lagi? Kalian bakal tenang setelah itu?"
Fano pun bungkam. Dalam diamnya, lelaki itu sedang berpikir. Iya, ya. Kalau pun Fano berhasil menemukan orang membunuhnya. Berhasil membalaskan dendamnya. Apakah Fano akan merasa puas dan tenang? Seperti kata Naomi, ia tidak akan hidup lagi. Ia tetap menjadi arwah penasaran.